
...***...
Zeen yang mendengar perkataan itu, tentu saja dibuat tersenyum, apalagi melihat tingkah malu-malu dari Yuna. Hal itu tambah membuatnya gemas sekaligus ingin segera menerkam gadis bersetatus istrinya itu sekarang juga.
Namun Zeen harus bersabar, karena ia tak ingin membuat Yuna ketakutan dan akan berakhir dengan kata 'Tak siap' lagi jika itu terjadi. Zeen yang memikirkan itu langsung menggelengkan kepalanya, ia tak mau kesempatan itu terbuang dan harus menunggu lagi yang akan menyebabkan dirinya tersiksa ditengah malam yang sunyi.
“Kamu beneran Yuna? Kamu tak bohong kan?” tanya Zeen, ingin mendengar jawaban Yuna sekali lagi, agar dirinya tak salah menafsirkan ucapan itu.
Yuna menghela nafas sejenak, dirinya yang mendapat pertanyaan dua kali itu dibuat mengeleng saja ketika melihat pria yang ada didepannya, masih saja belum mempercayai ucapannya.
“Apa Yuna cabut aja ya, ucapan Yuna barusan?” Yuna berucap sambil mengetuk-ngetuk dagunya seolah tengah berfikir.
“Hah? Kok gitu?” tampak Zeen membulatkan matanya.
“Ya, abisnya mas kayak gak percayaan ....” jawab Yuna terkikik geli ketika melihat ekspresi tak terduga dari Zeen.
Zeen meraih tangan mungil Yuna kedalam gengaman tangannya, lalu ia bawa tangan itu keatas dan mendaratkan sebuah kecupan pada telapak tangan itu.
“Aku hanya ingin mendengar sekali lagi ... jawabanmu, Yuna Saily....” ucap Zeen dengan suara lembut.
Sejenak Yuna menatap Zeen dengan lekat, ia terbuai dengan ucapan itu sehingga membuat dirinya refleks menganggukan kepala, lantas berkata. “Iya mas ... aku sudah siap ....” ucap Yuna masih menatap lekat kedua bola mata Zeen.
Zeen yang mendengar jawaban yang tentu sangat diinginkan, tersenyum lebar sehingga membuat lesung pipinya kembali terlihat.
“Benar ya? Kamu sudah siap?” Zeen menggoda Yuna dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Membuat Yuna yang melihat itu kembali menghela nafas, “Yaampun ma–”
Ucapan Yuna terpotong kala dengan gesitnya Zeen membungkam bibir Yuna dengan menggunakan bibirnya. Hal itu membuat Yuna kembali membelalakan matanya, karena lagi-lagi ia mendapatkan serangan tiba-tiba dari pria yang ada didepannya itu.
Namun saat Zeen tengah sibuk mempermainkan bibir Yuna, tiba-tiba Zeen melepaskan tautan itu dan menatap Yuna kembali dengan kening berkerut.
“Kenapa kamu hanya diam saja?” tanya Zeen secara spontan.
Yuna ikut mengerutkan keningnya. “Maksudnya?” tanya Yuna bingung.
“Kenapa kamu tak membalas ciumanku?” tanya Zeen lagi.
__ADS_1
Yuna mengangkat satu alisnya, “Karena aku tak tahu?” bukanya menjawab pertanyaan, Yuna malah bertanya dengan wajah polosnya.
Hal itu membuat Zeen menepuk jidatnya, “Kamu tak tahu cara berciuman?” tanyanya lagi.
Yuna menjawab dengan gelengan kepala, sambil menggigit bibirnya, tersenyum malu-malu.
Zeen yang melihat itu, ingin sekali menggigit wajah Yuna yang tengah merona karena malu. Ia juga ingin menyembuhkan tawanya karena melihat wajah polos Yuna yang sangat mengemas kan dimatanya.
'Astaga ... ternyata istriku ini sangat polos ... kukira dia hanya tak mengatahui apa itu baju lingerie ... tapi ternyata dia juga tak tahu cara berciuman ....' gumam Zeen dalam hati sambil terkekeh pelan, 'Aku tak tahu apa yang tak diketahuinya lagi ... tapi aku yang memang sudah berpengalaman tentu harus mengejarinya ....'
Tiba-tiba Zeen menundukkan kepala, kala tersadar dengan arti gumamannya itu.
“Kenapa mas?” Yuna bertanya kala melihat tingkah aneh dari Zeen.
Zeen mengganggkat kepalanya dan menatap Yuna dengan lekat, ia lalu membawa tangannya kedalam genggamannya.
“Sebelumnya aku meminta maaf padamu Yuna ... karena aku telah menyakitimu dengan diriku yang bermain api dengan Laura, disaat aku sudah menikah denganmu ....” ucap Zeen dengan penuh penyesalan, dan tersadar jika Yuna sangat berharga bagi dirinya.
Yuna menggenggam balik tangan Zeen, “Mas ... itu sudah berlalu, jadi itu pelajaran untukmu dan jangan pernah mengulanginya lagi,”
Zeen langsung menggeleng, “Ya! Aku tak akan mengulanginya lagi! Aku berjanji padamu!” jawab Zeen dengan tegas. Dan hal itu membuat Yuna tersenyum padanya yang juga dibalas senyuman oleh Zeen.
“Ehem! Apakah kita bisa mulai sekarang?” tanya Zeen dengan senyum kikuk.
“Suka-suka mas suami ....” jawab Yuna dengan terkikik geli.
Hal itu kembali membuat Zeen gemas dan sudah tak tertahankan lagi, karena dibagian penting yang ada pada Zeen sudah sangat mendesak ingin segera dikeluarkan saat ini juga.
“Baiklah, sesuai ucapanmu, suka-suka mas suami ....” Zeen mengulangi ucapan Yuna dengan menyerigai. Dan saat itu juga ia kembali menerjang tubuh Yuna dan membaringkan tubuh itu dikasur, dan membawanya kedalam kung-kunggannya.
Untuk memuluskan malam pertama yang sudah tertunda sejak pernikahan mereka, Zeen memulainya dengan kembali mengecup bibir Yuna dan mempermainkan bibir itu yang masih tertutup rapat.
Memang begitu susah jika seseorang baru mengalami sesuatu yang mereka belum tahu, itu sebabnya Zeen merasakan jika Yuna masih kaku dengan ciuman yang ia berikan, dan itu terbukti ketika Zeen sudah dua kali mengajak Yuna berciuman namun masih belum ada kemajuan dari gadis itu.
Tak kehabisan akal, Zeen memiliki ide agar Yuna bisa terhanyut dalam permainan ciuamannya yaitu dengan menggigit bibir bawah Yuna sehingga membuat gadis itu langsung membuka mulutnya. Tentu hal itu membuat Zeen tersenyum miring karena idenya tak mengalami kegagalan walau harus menyakiti sedikit gadisnya itu.
'Aku akan membuatmu merasakan, apa itu surga dunia Yuna ... dan kau pasti akan memintanya lebih dulu karena ketagihan.' gumam Zeen dalam hati, dengan senyum serigai yang penuh percaya diri.
__ADS_1
Tak mau melewatkan kesempatan lagi ketika melihat mulut Yuna terbuka, Zeen langsung memasukkan lidahnya kedalam ronga mulut itu, kemudian terjadilah belit membelit antara kedua lidah dari dua insan itu yang tentunya Zeen lah pelaku utamanya.
Yuna yang kesusahan dengan permainan Zeen, akhirnya sedikit-sedikit bisa mengimbanggi permainan itu yang membalas ciuman itu dengan mengulum, mengecap bibir atas dan bawah Zeen. Sehingga membuat Zeen yang menyadari itu tentu dibuat kesenangan, karena akhirnya Yuna bisa membalas ciuamannya walau masih terkesan kaku. Namun bagi Zeen hal itu merupakan suatu kemajuan.
Puas dengan permainan bibir itu, akhirnya Zeen berpindah pada leher jenjang milik Yuna dengan menghisapnya perlahan namun pasti, yang tentu membuat Yuna langsung meloloskan lenguhan kecil dari bibirnya. Hal itu membuat jiwa lelaki Zeen membara dan bersemangat kembali melanjutkan aksinya.
Tangannya yang tadinya sempat menganggur itu, langsung ia gunakan untuk membuka kain tipis yang tengah dikenakan oleh Yuna, bahkan Yuna pun tak menyadarinya jika dirinya saat ini hanya mengenakan pakaian dalam yang satu set dengan lingerie yang ia kenakan barusan. Dan lingerie berwarna hitam itu telah dibuang oleh Zeen hingga terjatuh dilantai.
Tak hanya pakaian Yuna, Zeen pun juga mulai melepaskan satu persatu kain yang tengah melekat pada tubuhnya dan kini hanya menyisakan kain ketat yang tentunya hanya menutupi bagian yang paling penting yang ada pada tubuh Zeen.
Puas bermain kecap mengecap pada leher Yuna dan juga pundak gadis itu, kini bibir tipisnya ia arahkan pada bagian sensitif milik Yuna yang saat ini tengah tertutup oleh bera berwarna hitam namun masih bisa terlihat bentuk dari bagian sensitif itu.
Yuna yang merasakan bagian sensitifnya dipermainkan oleh Zeen, kembali mengeluarkan suara lenguhan yang tentunya baru pertama kali Yuna dengar dan hal itu ia dengar langsung dari suaranya sendiri.
“Mas ....” Yuna tak kuat merasakan sensasi itu, sehingga kedua tangannya meremat seprai dengan eratnya.
Zeen kembali bersemangat ketika mendengar suara merdu itu, dan menjadi mengebu untuk semakin mempermainkan tubuh Yuna.
“Mas ...!!” pekik Yuna bersuara serak, ketika merasakan Zeen bukan hanya mempermainkan bagian sensitifnya dengan bibirnya saja melainkan tangannya pula ikut mempermainkannya.
“Panggil namaku sayang ....” ujar Zeen, yang juga besuara serak, tengah menahan sesuatu yang sesak dan tentu. Hal itu sejak tadi ingin segera dikeluarkan.
“Panggil namaku ....” ulang Zeen lagi, namun masih mempermainkan tubuh Yuna.
Yuna menggigit bibirnya, berusaha untuk tak mengeluarkan suara aneh yang membuatnya tentu sangat malu.
“Z-Zeen ....”
Zeen dengan kecepatannya langsung menegakkan tubuhnya dan mulai membuka penutup Yuna dan juga penutupnya yang sejak tadi terus mendesak dibawah sana.
Yuna yang melihat miliknya terpampang itu melotot, “Mas!” pekik Yuna langsung menutup matanya, dengan kedua tangannya.
Zeen tentu tak mengidahkan teriakan itu, ia dengan santainya membuang kedua pakaian dalam yang ada ditangannya. Setelah itu ia mulai memposisikan dirinya, saat ia sudah membuka lebar kedua paha Yuna.
Yuna masih memejamkan matanya, apalagi ia sempat melihat kepunyaan Zeen yang tentunya membuat ia sangat terkejut-kejut sekaligus malu.
“Panggil namaku lagi sayang ....” serak Zeen tersenyum semirk.
__ADS_1
TBC.
Sudah bismillah belom bacanya🧐