
"Dia siapa Zeen?" ucapnya mengulangi pertanyaannya.
Zeen pun berbalik melihat kearah Yuna yang berada tepat dibelakangnya, ia pun kembali menatap Lena tantenya. Ibu kandung dari Firo. "Dia Yuna tante-"
Ucapan Zeen terpotong, kala Vina tiba-tiba ikut nibrung.
"Yuna istrinya Zeen, Lena..." Vina berjalan mendekat kearah meja dan meletakkan nampan berisikan gelas teh yang ia buat sendiri.
"Istrinya Zeen?" ulang Lena bertanya.
"Iya Lena dia istrinya Zeen." kali ini Albaret yang menimpali.
Lena tampak mengangguk-aggukan kepala, lantas menatap Yuna dari atas sampai bawah.
Yuna memberanikan diri untuk mendekati wanita berpakaian gelamor itu, "Halo tante... Saya Yuna." Yuna dengan kesopanannya memperkenalkan diri pada wanita itu.
Wanita itu tampak tersenyum kepada Yuna, lalu mengelus rambut Yuna yang membuat gadis desa tersentak kaget.
"Yuna ya? Nama yang cantik secantik parasnya..." ucapnya dengan suara lembut.
Yuna yang mendapati pujian itu tersenyum malu-malu. "Terimakasih tante."
Lena mengangguk menanggapi, lalu kembali duduk disofa dan menyandarkan tubuhnya dibadan sofa itu. "Maaf ya... Tante gak bisa menghadiri acara pernikahan kalian, soalnya tante waktu itu bener-bener sibuk banget." ucapnya dengan senyum yang dibuat menyesal.
"Gak papa tante!" jawab Yuna dan Zeen bersamaan.
Menyadari ucapan mereka, mereka berdua pun saling berpandangan. Kemudian mengalihkan pandangannya kembali merasa cangungg.
"Aduh! Tante ketumpahan teh.... Yaampun... Tante cerobih banget..." entah sengaja atau memang benar, Lena saat ini tengah bingungg kala tangan mulusnya terkena air teh saat ia ingin mengambil gelas teh itu.
"Mana ya... Kok gak ada?" Lena tampak mencari sesuatu ditasnya.
"Mama cari apa?" tanya Firo, yang tengah menyandarkan tubuhnya dibadan sofa sambil melipat kedua tangannya didada.
"Mama lagi cari sapu tangan mama, kayaknya ketinggalan dimobil deh..." jawab Lena masih terus mencari.
"Hemm, Yuna!"
"Iya tante?" Yuna mendekat kala wanita itu memanggilnya.
"Tante boleh minta tolong gak? Tolong kamu ambilin sapu tangan tante dimobil, oh! Atau kalo gak, kamu ambilin tisyu aja." ucapnya menyuruh Yuna. Dengan senyuman.
__ADS_1
"Oh, biar bibi aja yang ambilin. Kebetulan bi Minah lagi didapur." usul Vina.
"Yaampun kan ada Yuna... Ngapain harus manggil orang lain lagi?" timpal Lena.
"Loh, Yuna kan mau kerumah sakit sebentar lagi. Jadi biarkan Yuna dan Zeen sarapan terlebih dahulu, biar nanti bi Mina yang ambilin kamu tisyu. Atau kamu cuci tangan aja?" jelas Vina pada Lena.
Lena tampak menghela nafasnya.
"Tidak apa-apa kok mah... Biar Yuna yang ambilin, cuman ambil tisyu saja yang pasti tak akan lama." nampaknya Yuna merasa tak enak ketika melihat perubahan raut dari wanita glamor itu.
"Nah, mantu kamu aja mau. Kak!" Lena tersenyum senang.
Vina menghela nafasnya, "Yasudah kalau begitu Yun, tolong kamu ambilkan tisyu buat tante kamu ya."
Yuna mengangguk, "Iya mah, kalau begitu Yuna ambilin dulu tisyunya. Tolong ditunggu dulu ya tante, Yuna tak akan lama." ujarnya.
"Iya Yun, minta tolong ya.."
Yuna mengangguk, setelah itu ia berlalu dari ruang tengah itu dan mengarahkan kakinya menuju dapur, karena kebetulan semua tisyu diletakkan didapur.
"Loh? Non Yuna ada apa? Apa ada yang dibutuhkan?" tanya bi Minah ketika melihat Yuna yang baru masuk didapur itu.
"Iya bi, Yuna lagi cari tisyu. Tisyunya dimana ya bi? Yuna seperti melihat kalo ada tisyu disini, tapi Yuna lupa letaknya." jelas Yuna.
"Oh.. Disitu toh rupanya..." gumam Yuna mengangguk paham.
"Ini non, tisyunya." ujar bu Minah menyerahkan sebungkus tisyu pada Yuna.
"Makasih ya bi!"
"Sama-sama non."
Yuna pun kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan area dapur itu. Ia pun membawa langkahnya kembali menuju ruang tengah, dimana keluarga inti berkumpul disana.
"Tante gak nyangka Zeen, kalo kamu sudah menikah secepat ini."
Terdengar suara percakapan diruang tengah membuat langkah Yuna terhenti, entah kenapa langkah kakinya berhenti tepat dibalik tembok yang membatasi ruang keluarga itu.
"Zeen kan dijodohkan sama papa tante, kalo gak dijodohin pasti Zeen masih melajang sampe sekarang."
Terdengar suara Zeen yang tengah membalas ucapan dari Lena, sang tante.
__ADS_1
Tak seharusnya Yuna mendengar percakapan itu dari balik tembok, seharusnya ia melanjutkan langkahnya dan menuju ruang tengah untuk memberikan tisyu itu pada Lena. Namun kakinya sepertinya tak mau diajak kompromi.
"Emang benar-benar kakakku itu, masih ketinggalan jaman. Inikan bukan lagi jaman siti nur aya, seharusnya kakak membiarkan putranya untuk memilih pasangannya sendiri." suara itu terdengar sinis sekaligus merasa kecewa.
"Loh? Biasanya pilihan orang tua itu lebih baik dari pada pilihan anaknya."
Terdengar suara papa mertua ya membalas ucapan dari adik perempuannya.
"Alah... Papa mah jodohin Zeen hanya karena ingin berbalas budi." timpal Zeen membuat Yuna mengerutkan alisnya.
'Balas budi?' Yuna bertanya dalam hati.
"Balas budi karena neneknya gadis itu berjasa pada kakak ya? Seharusnya balas budinya itu memberikan uang, atau apalah terserah tapi yang penting jangan korbanin anakmu sendiri kak..."
Tampak Lena tertawa diakhir ucapannya.
"Sudahlah tante, nasi sudah menjadi bubur. Zeen sudah menikah jadi gak bisa ditawar-tawar lagi."
Terdengar Zeen yang juga ikut tertawa disana, membuat hati Yuna entah mengapa terasa nyeri ketika mendengar kenyataan itu.
"Tapi Zeen! Bukanya kamu dulu berpacaran dengan Laura?" tanya Lena namun tak ditanggapi oleh Zeen, "Berarti kamu putus dong sama Laura? Padahal tante sangat menyukai pacarmu itu, tante itu sangat cocok sama dia sejak pertama kali bertemu. Laura seperti artis papan atas, bintang top! Cantik dan seksi, apalagi cara selera berpakaiannya sama dengan tante."
Lena tampak mengebu-gebu menceritakan kekasih Zeen, satu hal yang Yuna ketahui lagi, jika keluarga Zeen sudah tau bahwa putra sematawayangnya pernah menjalin kasih dengan seorang wanita cantik bernama Laura.
"Sudah-sudah, jangan membahas tentang masalalu. Jalani aja masa yang kini, hormati Yuna yang sekarang sudah menjadi anggota keluarga ini." Vina tampak mengalihkan pembicaraan itu.
"Tapi ngomong-ngomong, mantu kakak kok belum dateng ya dari tadi? Kan cuman ngambil tisyu doang."
Yuna yang mendengar percakapan itu sudah teralihkan, mulai menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan. Ia menetralkan rasa gundah yang tadi menyerang pada dirinya. Dan mencoba mengatur ekspresinya menjadi tenang.
Setelah dirasa sudah tenang, Yuna pun kembali melanjutkan langkahnya yang tadinya tertunda. Lalu berjalan mendekati ruang tengah itu.
"Maaf tante, Yuna agak lama tadi, ternyata tisyunya terselip dilemari, jadi agak susah ngambilnya." ucapnya berbohong.
Zeen sedikit terkejut ketika melihat Yuna yang tiba-tiba datang itu, dirinya tak tahu apakah Yuna mendengar ucapan antara dirinya dengan tantenya atau tidak. Kepala Zeen pun mulai bertanya-tanya.
"Eh, iya Yun. Makasih ya... Tapi tante gak jadi pake tisyunya Yun, soalnya tante sudah lap tangan tante pake sapu tangan tante... Ternyata udah ketemu... Maaf ya Yuna..." Lena tampak menunjukkan senyum manisnya pada Yuna. Yang padahal senyum itu adalah senyum palsu.
TBC.
Agaknya konflik rumah tangga akan segera dimulai gaes.... Nantikanlah keseruan ceritanya.
__ADS_1
Note : Mohon maap, jika banyak typo bertebaran ya gaes... Atau kesalahan kata disetiap bacaan🙏