Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 115


__ADS_3


...***...


“Baiklah, kita tinggal putar balik aja,” ucap Zeen santai sambil menarik tangan Yuna kembali. Membuat Yuna mau tak mau menghela nafas kembali, dan mengikuti kemana langkah pria itu pergi.


Saat Yuna tengah fokus melihat kearah sekitar dan sesekali melirik punggung lebar milik Zeen. Tiba-tiba ia terkejut ketika pria yang ada didepanya itu menghentikan langkahnya. Dan alhasil, dirinya menubruk punggung itu agak kencang dan menyebabkan hidungnya terasa ngilu akibat tubrukan itu.


“Aw! Mas, kenapa berhenti mendadak?” pekik Yuna langsung mengusap hidungnya.


Zeen yang terdiam sejenak itu, langsung membalikkan tubuhnya kearah Yuna, dan dengan rasa khawatirnya ikut mengusap wajah Yuna dengan perasaan halus.


“Maaf ya sayang? Mana yang sakit, coba mas lihat?” Zeen menangkup kedua pipi Yuna, dan mengarahkan wajah itu untuk menatap dirinya.


“Waduh, bisa merah kayak gini,” Zeen berucap sambil mengusap hidung Yuna. Yang memang sangat merah dilihatnya. “Sakit gak?” tanyanya masih dengan raut khawatir.


Refleks Yuna menggeleng, lalu meraih tangan Zeen agar menyudahi acara usah-mengusap itu. “Sudah gak sakit kayak tadi kok mas.” Jawab Yuna seadanya.


“Beneran? Maafin aku ya sayang ... gara-gara aku kamu jadi kesakitan,” cicit Zeen yang memang merasa bersalah.


“Yaampun mas ... cuma masalah kecil kok, jadi gak usah dilebih-lebihkan ya?” Yuna menatap Zeen dengan senyum manis dibibirnya.


“Emang mas tadi kenapa kok, berhenti tiba-tiba?” tanya Yuna penasaran.


Zeen yang baru ingat itu, langsung tersadar. “Eh! Iya tadi–”


“Permisi?”


Sontak keduanya langsung mengalihkan pandangannya, dan menatap seseorang yang menyela ucapan Zeen.


“Ooo, ini tadi yang bikin aku berhenti.” Timpal Zeen menatap seorang wanita yang ada didepanya itu, dengan tatapan kesal.


“Hem?” Yuna mengerutkan keningnya, menatap wanita asing itu didepannya.


“Oh? Apakah saya tadi membuat anda terkejut?” tanya wanita itu dengan raut bersalah.


“Ya! Gara-gara kau menghadang jalanku, kau membuat sayangku ini jadi kesakitan!” Zeen menekan ucapannya, dengan emosi yang mengebu. Dan merangkul Yuna dengan segala posesifnya.

__ADS_1


“Yaampun, maafkan saya!” wanita itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, lalu kemudian ia mengarahkan pandangannya menatap kearah Yuna.


“Dek ... maaf ya? Kakak gak sengaja buat kamu kesakitan.” Ucap wanita itu sambil menatap Yuna dengan pandangan iba.


'Kakak?' Yuna mengerutkan keningnya merasa bingung. Ia bingung dengan ucapan wanita itu yang memanggilnya dengan panggilan 'Dek' bahkan terdengar akrab dipendengaranya. Ia mengamati wanita itu dengan teliti dan dapat Yuna tebak, jika wanita itu sepertinya seumuran dengannya. Namun kenapa seolah wanita itu menganggap dirinya lebih muda darinya?


“Kamu gak papa kan?” tanya wanita itu lagi, dan sesekali mengusap bahu Yuna.


Yuna yang masih merasa kebingungan itu, hanya bisa menampilkan senyum cangungnya. “Iya, saya tak apa-apa.” Jawab Yuna seadanya.


Wanita itu tersenyum seketika, ketika mendengar jawaban dari Yuna, “Syukurlah ....” ucapnya dengan tersenyum manis.


“Hei! Sebenarnya kau siapa? Kenapa kau sok kenal kami begitu?” ucap Zeen ketus. Dan merasa jengkel melihat wanita asing itu.


Wanita itu kembali mengalihkan pandangannya menatap Zeen, dan kembali menampilkan senyum terbaiknya.


“Apa anda tak mengingat saya?” tanyanya dengan suara ramah. Bahkan tatapan matanya tak bisa ia sembunyikan jika ia sangat mendamba dengan sosok lelaki yang ada dihadapanya.


“Apa maksudmu?” Zeen tampak bingung.


“Saya ini adalah orang yang ada tolong sebelumnya, apa anda ingat?” tanyanya lagi.


Sedangkan Yuna yang berada diantara mereka, hanya diam mengamati.


“Begitukah?” kata wanita itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


“Jika tak ada hal penting. Kami permisi dulu,” ucap Zeen dengan wajah datar sambil menggenggam tangan Yuna kembali, berniat untuk segera beranjak dari sana.


“Tunggu dulu! Saya belum selesai berbicara,” cegahnya menghentikan langkah Zeen dan Yuna.


Zeen membalikkan tubuhnya, “Maaf, tapi saya benar-benar tak mengenal anda. Saya tak ada waktu untuk sekedar berbasa-basi.” Ucap Zeen yang menahan kekesalnya.


“Apa anda benar-benar tak mengenal saya? Saya ini orang yang anda tabrak kemarin. Dan sekaligus yang anda obati akibat tabrakan anda yang membuat saya terluka.” Jelasnya, lalu menunjukkan telapak tangannya yang pas sekali terdapat plaster ditangan itu. “Apa anda mengingatnya? Ini buktinya. Plaster yang anda berikan masih menempel ditangan saya.” Ujarnya sambil tersenyum menatap tangannya.


“Tak hanya itu, kita juga sudah saling bertemu untuk kedua kalinya. Yaitu tepat berada ditokoh pakaian,” jelasnya lagi.


Zeen masih terdiam, ia tampak mengingat-ingat wajah wanita itu yang ada didepanya. Dirinya memang sedikit merasa familiar ketika melihat wajah wanita itu kembali.

__ADS_1


“Siapa namamu?” tanya Zeen, yang bukan tanpa alasan dirinya bertanya, karena ia merasa mengingat nama seseorang.


“Nama saya Mita tuan,” jawabnya seadanya sambil tersenyum.


Zeen mengangkat kedua alisnya seketika, “Oh! Betul ternyata, kau ya? Yang mengirim bungkusan makanan dipenginapan kami?”


“Oh? Anda mengingatnya ternyata,” ucapnya terkekeh sejenak. “Ya! Saya yang mengirim makanan itu sebagai rasa terimakasih saya untuk anda.”


“Oh ... tapi lain kali tak perlu repot-repot memberi saya makanan, karena soal tolong-menolong sudah biasa bagi saya. Apalagi hanya luka sekecil itu, menurut saya hal itu tak perlu dikasi imbalan. Aku melakukannya dengan ikhlas sebagai manusia dan tak menginginkan sebuah balasan.” Jelas Zeen masih dengan raut datarnya.


“Tapi saya hanya ingin memberi anda makanan, sebagai ucapan terimakasih.” Kuekeh Mita.


“Hem,” Zeen menatap wanita itu dengan pandangan malas, lalu kemudian pandangannya jatuh pada Yuna. “Maaf kami permisi sekarang.” Pamit Zeen.


'Aku malas sekali berlama-lama disini, apalagi dihadapkan dengan wanita aneh kayak gitu.' Zeen menghela nafas dalam diam.


“Yuk sayang!” ajak Zeen pada Yuna, yang sedari tadi hanya diam tanpa menyahut.


Saat mereka berdua berjalan bersama, tiba-tiba wanita bernama Mita itu juga ikut berjalan dan mengikuti langkah mereka. Dan dengan santainya wanita itu berjalan disamping Zeen, tak lupa dengan mulut yang terus mengoceh tak jelas.


“Memang anda sekarang mau kemana? Apa anda mau berjalan-jalan? Jika iya, apakah saya boleh ikut? Saya akan mentraktir anda berdua jika mau?” Mita bertanya secara beruntun. Namun tak ada jawaban sama sekali dari Zeen, pria itu lebih memilih acuh sambil terus merangkul pundak Yuna.


Tak mendapat respon pada pria yang dikagumi, tentunya semangat itu tak mudah luntur, ia masih punya seribu cara untuk mendekati pria yang ada disampingnya yang sayangnya dirinya tak tahu siapa nama pria itu.


Wanita itu tiba-tiba berjalan memutar, dan kembali berjalan berdampingan, namun bedanya ia berjalan disamping Yuna.


“Adik manis ... namamu siapa? Kamu manis banget kayak kakakmu. Bolehkah aku tau? Siapa namun kamu ... dan kakakmu?” tanya Mita dengan raut cerianya.


Yuna tiba-tiba menghentikan langkahnya, begitupun dengan Zeen yang refleks ikut menghentikan langkahnya.


“Kakak?” Yuna menoleh kearah wanita itu dengan kening mengerut.


“Ya? Bukankah kalian kakak beradik? Wajah kalian sedikit mirip,” Mita seolah percaya diri dengan ucapan dan penglihatannya.


“Apa katanya? Dia mengatakan kami kakak beradik? Apa matanya sedang katarakan?” gumam Zeen bersuara lirih dan menatap wanita bernama Mita itu dengan tatapan semakin jengkel.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa Komen, Vote dan Like nya ya😁 selipkan juga poin sesuka kalian☺️


__ADS_2