Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 83


__ADS_3

... —☘️Selamat Membaca☘️—...


...***...


“Mas gak tidur dari tadi?” tampak Yuna yang sedikit terkejut.


Zeen terkekeh sebentar, ia lalu mencoba bangkit dari baringnya walau agak kesusahan dirasa.


Yuna dengan sigap langsung membantu pergerakan Zeen, “Mas istirahat aja, jangan bergerak dulu. Mas lagi demam tinggi sekarang.” Ujarnya.


“Tidak papa, aku hanya ingin bersandar dulu,” jawab Zeen, lalu berhasil menyadarkan tubuhnya dibadan kasur itu.


“Yuna ....” Zeen langsung menggenggam tangan Yuna, lalu mengelusnya dengan penuh kelembutan. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang begitu dalam, bukan tatapan yang seolah-oleh benci pada gadis itu.


“Kenapa mas? Apa ada yang dibutuhin? Jika iya, coba bilang sama saya.”


“Ya! Sebenarnya ada yang aku butuhin,” jawab Zeen.


“Apa itu?”


“Kamu ....”


“Saya? Maksudnya gimana?” Yuna tampak bingung.


“Aku hanya butuh kamu disisiku, itu semua sudah cukup bagiku. Apalagi sakitku langsung hilang ketika melihatmu disini,” jelas Zeen sambil tersenyum manis.


Yuna menunduk, lalu melepas tangannya perlahan, “Sebaiknya mas istirahat dulu. Biar mas cepat sembuh dari demamnya.” Katanya lalu mulai melangkahkan kakinya.


“Tunggu dulu Yuna ... aku mohon, temani aku untuk malam ini. Kamu tau kan? Aku sedang sakit. Jika aku kenapa-kenapa, aku hari memanggil siapa?” tanya Zeen. Tak lupa dengan raut wajah yang dibuat-buat merengkek bibir yang dimajukan seperti anak kecil.


Yuna terdiam merasa aneh dengan tingkah manja Zeen.


“Hahh ... yasudah kalau begitu, saya akan disini menemani mas ....” jawab Yuna yang pada akhirnya pasrah saja.


Diam-diam Zeen tersenyum kemenangan, didalam hatinya bersorak gembira. Sebenarnya ia melakukan itu hanya ingin melancarkan suatu rencananya.


“Sebaiknya mas makan dulu, habis itu makan obat dan bisa langsung istirahat,” ujar Yuna, lalu membawa mangkuk berisi bubur yang sengaja ia letakkan pada meja. Yang letaknya dekat dengan tempat tidur Zeen.


Zeen mengangguk antusias seperti anak kecil, “Siap! Siap.”


“Ini, mas makan dulu buburnya,” Yuna memberikan mangkuk itu pada Zeen. Yang membuat Zeen menatapnya dengan tatapan kecewa.


Yuna mengerutkan alisnya, “Kenapa mas? Kok gak dimakan? Gak suka sama bubur?” tanyanya secara beruntun.

__ADS_1


Zeen langsung mengeleng.


“Lantas? Apa ada hal lain yang dibutuhkan?”


“Aku maunya kamu suapin aku ... aku jadi gak selera makan jika kamu gak suapin aku,” jawabnya dengan raut wajah yang dibuat merengek.


“Hah? Bukanya mas gak nyaman jika disuapin? Mas kan tipe orang yang memang begitu?”


Zeen merasa syok, “Hah? Dari mana kamu tau soal itu? Aku bahkan tak pernah mengatakan itu?”


“Memang mas gak pernah bilang sih ... tapi saya berfikir jika mas tak merasa nyaman dengan saya ....”


Zeen kembali merasa bersalah, dirinya seperti telah merusak kepercayaan diri Yuna terhadap dirinya.


“Aku tak seperti itu kok Yuna ... aku malah senang jika kamu suapi aku. Emang kamu gak mau menyuapi suamimu sendiri?” tanyanya sambil menatap Yuna dengan lekat.


'Sejak kapan mas Zeen menganggap ku sebagai istrinya? Dan mengapa sifatnya jadi berubah seperti ini?' gumamnya bertanya-tanya.


“Apa kamu gak mau Yuna ....” tanyanya lagi, dengan raut wajah berharap-harap.


Yuna menatap Zeen sejenak, berfikir sebentar.


“Baiklah ... kemari, saya akan menyuapi anda ....”


Dengan penuh semangat, Zeen pun menyerahkan mangkuk bubur itu pada Yuna. Ia pun memposisikan dirinya agar lebih mendekat pada Yuna.


Zeen membuka mulutnya agak lebar ketika melihat sendok makan yang dipegang oleh Yuna diarahkan padanya. “Nyamm ... Lezyat ....” celetuk Zeen dengan keriangan.


“Enak banget ... pasti ini bubur bikinan kamu!” tebak Zeen.


“Bukan mas, ini bubur yang Yuna pesan dari tokoh online, untung saja warungnya masih buka pada jam begini.” jawab Yuna apa adanya.


Zeen agak kecewa mendengar jawaban Yuna, “Ohh ... kukira buatanmu ....” ucapnya agak lesu.


“Sebenarnya saya ingin membuatkan bubur untuk anda, tapi saya berfikir lagi, nanti anda tak ingin memakannya.” ucapnya, lalu menyuapi Zeen kembali.


“Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu? Aku pasti memakannya, jika itu buatan kamu,” Zeen berujar jujur.


Yuna menundukkan kepalanya sejenak melihat bubur yang ada ditangannya, “Sebenarnya saya pernah melihat anda. Memberikan bekal yang saya buat pada orang lain. Itu sebabnya saya berfikir jika anda pasti kurang berselara jika memakan dari hasil masakan saya.” Jelasnya, yang seketika membuat Zeen tertegun.


“Maafkan aku Yuna ....”


Yuna refleks langsung mendongakan wajahnya ketika mendengar perkataan itu.

__ADS_1


“Maafkan aku yang selama ini bersikap acuh dan kurang ajar padamu. Maafkan semua atas kesalahan ku yang selama ini kuperbuat untukmu, maafkan aku yang tanpa sadar menyakiti hatimu, maafkan jika aku tak menghargai masakan buatanmu.” Zeen berkata sungguh-sungguh. Rasa bersalah langsung menghantam dan berkumpul pada dirinya.


Zeen kembali mengambil tangan Yuna, lalu ia genggam tangan itu. Ia mencoba membangkitkan semangatnya lalu menatap Yuna dengan lekat.


“Maafkan aku yang tak bisa menjadi suami yang baik untukmu, sepertinya aku sungguh tak pantas jika bersanding dengan gadis baik sepertimu. Tak entah mengapa aku tak ingin melepaskanmu? Egois bukan? Ya! Seperti itulah diriku. Zeen Albaret yang bisa dikatakan pria bajingan yang mempermainkan istrinya sendiri, dan sebuah penyesalan selalu ... datangnya diakhir.”


Zeen menundukkan kepalanya.


“Aku tau jika maaf saja tak cukup untuk kesalahan yang sudah ku berikan padamu, kamu boleh tak memaafkan ku selama seumur hidupmu. Aku terima itu, tapi Yuna ... aku masih berharap jika kamu memberiku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua keselahan ku padamu.”


Hening saat Zeen menghentikan ucapannya, dan itu membuat Zeen bertambah gugup, menantikan jawaban dari Yuna.


Matanya ia pejamkan lalu berkata, “Jika kamu masih berat untuk menjawab perkataanku sekarang. Maka kamu boleh menjawab kapanpun yang kamu mau, dan aku pasti akan terus menunggunya.”


“Baiklah,”


Zeen langsung melek seketika, ia kembali melihat Yuna.


“Baiklah?”


“Baiklah ... saya akan menjawab perkataan anda kapan pun yang saya mau.” Tegas Yuna.


Zeen mengangga mendengarnya, ia seperti menyesal dengan ucapannya barusan. “E-em, yah ... jawablah sesuai kapan pun yang kamu mau ....”


'Bodoh kamu Zeen! Kau kan tau sendiri, kau orangnya tak tahanan jika disuruh menunggu,' makinya didalam hati.


“Ehem, kalau begitu ... kamu masih mau menemaniku malam ini kan?”


“Tidak!”


“Hah?” beo Zeen.


“Sepertinya saya tak bisa menemani anda saat ini, maaf jika saya ingkar ucapan saya. Tapi saya masih butuh waktu sendiri untuk merenungkan jawaban saya untuk anda.” tegasnya.


“Ta-tapi ....”


“Maaf saya akan kembali ke kamar saya, jangan lupa untuk meminum obat anda agar demamnya menurun. Kalau begitu saya pamit,”


Setelah mengatakan itu, Yuna benar-benar beranjak dari sana dan meninggalkan Zeen yang kembali mengangga.


Zeen menjambak rambutnya agak kencang, “Sialan kau Zeen! Bodoh banget ...!! Kenapa kau harus mengatakan itu sih? Pake acara siap untuk menunggu selama mungkin. Kan Yuna nya jadi pergi ....” gerutunya, sambil menendang-nendang selimutnya.


“Dasar, bodoh! Bodoh! Bodo ...!”

__ADS_1


TBC.


__ADS_2