Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 20


__ADS_3



Setelah selesai dari sarapannya, Yuna bangkit dari duduknya. "Mah... Aku kekamar dulu ya. Mau anterin makan buat dokter Zeen." ucap Yuna.



"Yuna... Yuna sudah menikah kan?" tanya Vina.



Yuna menautkan kedua alisnya merasa bingung. "Iya mah?" jawab Yuna. Walau pertanyaan dari mertuanya itu terasa ambigu.



"Trus itu tadi kenapa? Kok panggil suami kamu malah dokter Zeen." Vina mengeleng sambil terkekeh pelan. "Zeen bukan dokter kamu Yuna... Zeen itu sekarang suami kamu. Jadi jangan panggil dokter lagi ya? Pake sebutan apa saja yang penting jangan dokter Zeen, nanti orang yang denger ngiranya kamu pasiennya." jelas Vina masih dengan tawa kecilnya.



Yuna menganguk paham, dan menunduk malu."Iya mah... Nanti Yuna coba ganti panggilan lain." cicit Yuna.



Vina tersenyum. "Nah gitu dong.."



"Mah.. Papa berangkat dulu ya, papa udah selesai makannya." ucap Albaret bangkit dari duduknya.



"Iya pah... Ini tasnya."



Albaret menerima tasnya, setelah itu Vina mengecup punggung tangan sang suami dibalas kecupan dahi oleh Albaret.



"Papa berangkat dulu ya Yun.." ujar Albaret berpamitan pada menantu barunya itu, namun hal tak terduga baginya membuat ia sedikit terkejut. Pasalnya Yuna dengan beraninya mengecup punggung tangannya, seperti apa yang dilakukan sebelumnya oleh sang istri.



"Iya pah... Hati-hati dijalan." jawab Yuna dengan senyum manis yang terbit dibibir mungilnya itu.



Hati Albaret tiba-tiba menghangat mendapat sambutan yang tak terduga dari menantunya itu, kemudian ia tersenyum membalas senyuman Yuna. Dan mengusap kepala Yuna dengan pelan.



"Putri papa." gumam Albaret, ia merasa seperti punya anak perempuan dikeluarganya. Dan itu, entah mengapa membuat Albaret sangat bahagia.



Yuna yang mendapat elusan kepala itu, mengembangkan senyumnya kembali.



"Yaudah papa berangkat ya... Assalamualaikum." salam Albaret, lalu melangkah pergi untuk menuju rumah sakit.


__ADS_1


"Waalaikum salam!" jawab Yuna dan Vina berbarengan.



"Yaudah mah... Yuna tinggal keatas dulu ya, abis nganterin sarapan buat mas Zeen biar Yuna yang cuci piring-piring ini." ujar Yuna yang tanpa sadar menyebut Zeen dengan sebutan mas.



Vina yang mendengar itu pun tersenyum. "Yaudah... Sana keatas! Nanti cuciannya biar bibi yang beresen, Yuna gak perlu lagi cuci piring karena itu sudah ada yang kerjain." jelas Vina.



"Tapi kan mah.."



"Udah... Dengerin apa kata mama hemm? Udah, kamu kekamar sana. Mungkin suami kamu udah kelaparan disana." upa Vina menyuruh Yuna untuk menghampiri Zeen.



Yuna menghela nafas sejenak, "Yaudah ma... Yuna tinggal ya."



Setelah itu Yuna melangkah menuju kamarnya yang juga merupakan kamar Zeen, tak lupa ditangannya sudah ada sepiring nasi beserta lauk dan air minum. Diletakkan dalam satu nampan.



Vina terus menatap punggung menantunya, dengan senyum yang terus mengembang. "Huh... Entah kenapa rumah ini berasa hidup. Mungkin berkat Yuna ya?" gumamnya sambil mengeleng-gelengkan kepala.



🍂🍂




Tanpa mengetuk pintu Yuna langsung saja masuk kedalam kamar itu, dan ia lihat Zeen yang sudah rapi dengan tubuhnya yang berbalut kemeja berwarna biru nafi disertai dasi yang bermotif biru putif. Membuat seorang Zeen yang sudah tampan, kini ketampananya pun makin bertambah.



Yuna sejenak tertegun melihat penampilan Zeen, sehingga suara bariton tiba-tiba membuatnya buyar dari lamunnya.



"Kenapa kamu?" ya, suara itu berasal dari Zeen yang menatap Yuna melalui pantulan cermin.



Yuna sejenak meneguk salifanya, dan berusaha menertalkan rasa gugupnya. Ia kemudian berjalan mendekat kearah Zeen, dan meletakkan nampan berisi nasi itu dimeja kecil yang memang sudah disediakan disana.



"Ini sarapan, buat mas Zeen. Aku tau mas pasti belum sarapan." ucapnya, tak lupa senyum manis yang masih mengembang dibibirnya itu.



Zeen tertegun mendengar kata 'mas' yang terucap keluar dari bibir Yuna. Zeen membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Yuna, kembali! Ia dibuat tertegun ketika melihat senyum Yuna yang memang begitu manis dimata Zeen, senyum itu yang ia lihat waktu sebulan yang lalu. Ketika ia mendapat tugas menjadi dokter didesa dan bertemu Yuna disana, Zeen tak menyangka jika dirinya bisa melihat senyuman itu kembali.



"Mas! Sarapannya dimakan dulu ya, biar pas kerja dirumah sakit nanti gak kelaparan." tutur Yuna dengan suara lembut, sepertinya Yuna telah melupakan kejadian waktu malam. Saat Zeen dengan lantangnya, mencemoh dirinya, menghinanya dan meninggalkan dirinya begitu saja.

__ADS_1



Zeen kembali menetralkan dirinya. Dan kembali menatap Yuna dengan tatapan datar seolah sedang malas menghadapi wanita yang ada dihadapannya itu.



"Aku tak butuh sarapan! Melihat wajahmu saja membuatku mual. Gimana jadinya jika aku makan dihadapanmu? Mungkin nasinya akan keluar lagi melalui mulutku." ucap Zeen dengan melirik sinis kearah Yuna.



Yuna menghela nafas, "Yasudah.. Jika memang begitu, saya akan keluar dari kamar ini. Biar mas bisa menikmati sarapannya." ucap Yuna yang ingin berlalu pergi, namun suara Zeen menghentikan langkahnya.



"Hei, gadis kampungan! Aku tak butuh sarapan dari mu. Bawa itu kembali, aku tak akan berselera jika makanan itu dari mu." ucapnya dengan angkuh.



Lagi-lagi Yuna menghela nafas, namun helaan nafasnya terasa begitu panjang. Yuna pun akhirnya menuruti perkataan Zeen, ia mendekat kearah meja dan mengambil nampan itu. Saat ia ingin berjalan menuju keluar tiba-tiba suara Zeen menghentikannya lagi.



"Kenapa kau memangilku dengan sebutan mas? Heh... Kau merasa jika kau sudah mulai dekat dengan ku ya?" ucap Zeen sambil berdecih sinis.



Yuna membalikkan tubuhnya menghadap kearah Zeen. "Lantas saya harus memanggil mu apa? Saya memanggil dokter Zeen, dengan sebutan mas itu semua karena mama yang menyuruh." jelas Yuna.



Zeen kembali berdecih, "Jangan membawa-bawa mama, dengan dalih alasan mu itu."



"Hahhh... Terserah apa kata kamu saja. Saya akan tetap memanggil dokter dengan sebutan mas, karena ini semua demi mama." ucah Yuna, kemudian melanjutkan langkahnya.



"Kau tak akan bertanya tentang dimana aku semalam?" tanya Zeen dengan sedikit berteriak.



Kali ini Yuna tak membalikkan tubuhnya kembali, ia memejamkan matanya sejenak. "Saya tidak tau kemana semalam mas pergi.... Tapi asal mas tau, jika mas ingin pergi kemana pun, dan dimana pun saya tak akan mencampurinya, sekalipun! Jika mas menemui kekasih yang mas sangat cintai itu, saya tak akan berkomentar apa pun. Karena saya hanya gadis kampungan yang asing dimata mas!" setelah mengatakan itu, Yuna benar-benar melangkah pergi dari kamar itu. Ia bahkan tak menengok sekalipun kearah Zeen, bahkan melirik saja tidak.



Zeen yang mendengar ucapan dari Yuna sedikit tercengang. Pasalnya baru kali ini Yuna berkata panjang lebar dan mampu menusuk keuluh jantungnya.



"Sialan aku merasa terhina." umpat Zeen merasa kesal.



Tiba-tiba senyum miring terbit dibibirnya, "Kita lihat saja Yuna.... Seberapa kuat kau mempertahankan rumah tangga ini." gumam Zeen tersenyum sinis.



**TBC**.



**Jangan lupa terus dukung author ya🐭☺️ biar author ini tambah semangat..... Oh iya jangan lupa sematkan Vote, like dan komen. Atau kirimkan bunga mawar seiklasnya saja🐨🦥**

__ADS_1



**See you next time**....


__ADS_2