
...°°^°°...
Setelah acara puncak telah selesai tanpa bersisa lagi dan para tamu sudah pulang semua. Kini tinggalah para keluarga yang tengah masuk satu per satu kedalam kamar mereka masing-masing, karena malam yang semakin larut juga lelah yang melanda membuat mereka semua ingin segera naik keatas kasur dan merebahkan tubuhnya siap untuk mengapai alam mimpi.
Lain hal dengan Yuna, wanita anak dua itu sepertinya masih betah berlama-lama didalam kamar dua putranya. Tampak tak ada rasa lelah dari wajah wanita itu, malah kebalikannya. Yuna malah nampak memancarkan wajah cerahnya yang sangat bahagia. Bahagia karena sudah memiliki dua jagoan didalam hidupnya.
Yuna seakan tak ingin mengalihkan pandangannya kearah lain, ia seperti sangat betah menatapi wajah-wajah tampan dua putranya.
“Kalian ini mirip banget sama daddy kalian ya? Masa gak ada yang mirip sama mommy? Padahal mommy loh yang mengandung kalian selama tujuh bulan lebih!” monolog Yuna sambil tersenyum lembut menatap wajah putra-putranya yang sudah memejamkan matanya dengan lelapnya.
Saat Yuna sedang asyik sendiri, ia bahkan tak tau jika Zeen sang suami tengah berjalan kearahnya. Namun langkah Zeen berhenti kala melihat wajah istrinya yang tersenyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa sayang? Mas tungguin dikamar kok gak datang-datang malah asik senyum-senyum sendiri disini?”
Yuna tentu terlonjak kaget saat mendengar suara suaminya, ia refleks bangun dari baringnya dan menatap wajah sang suami dengan mimik yang terlihat terkejut.
“Mas ini kalo dateng gak ketik-ketik dulu ... kan akunya jadi kaget ....” gerutu Yuna sambil mengelus menenangkan detak jantungnya yang masih berdisko.
“Udah aku ketuk loh sayang, tapi kamunya aja gak dengar.” Jawab Zeen sambil mengelengkan kepalanya.
“Hah? Beneran?” Yuna nampak loading sendiri.
“Sebenarnya kamu ngelamunin apa? Kok sampe gak nyadar kalo suami tampanmu ini dateng? Jangan bilang kamu mikirin cowok lain ya?” ucap Zeen penuh selidik.
Yuna seketika menghela nafasnya. Kemudian wanita itu beranjak dari tempat tidur tak lupa ia menciumi kening dua putranya.
“Good ninght swityy!” gumam Yuna sambil tersenyum manis. Setelah itu ia kembali menghadap suaminya.
“Iya mas, aku tadi lagi mikirin cowok ganteng yang lebih ganteng dari mas!” terang Yuna yang membuat Zeen seketika melongo, melebarkan matanya dua kali lipat.
Yuna bahkan mengacuhkan rasa keterkejutna dari suaminya, ia malah nyelonong begitu saja meninggalkan suami sami tertawa geli.
Zeen yang tersadar itu langsung mengejar langkah istrinya, “Kamu gak bohong kan sayang? Siapa laki-laki itu ha? Bilang pada mas biar mas tendang sampai terpental keplanet jupiter!” sarkas Zeen mengebu-gebu.
Sepertinya pria itu sudsh tersulut emosi.
Diam-diam Yuna semakin tertawa mendengarnya.
Yuna pun menghentikan langkahnya, kemudian ia membalikkan tubuhnya yang kini berhadapan langsung dengan sang suami.
“Kamu mau tau siapa orangnya mas?” tanya Yuna sambil memicingkan matanya, seolah menantang Zeen.
Zeen menganggukan kepalanya dengan langsung. “Iya, mas pengen tau siapa orangnya!” jawab Zeen mengebu-gebu.
Yuna sekamin tertarik mengerjai suaminya yang reaksinya sungguh sangat mengemaskan dimatanya. “Asal mas tau ya! Pria tampan yang aku pikirkan itu ada dua loh....” ucap Yuna mulai memancing.
Zeen kembali membeo dan menganga. “Ada dua? Siapa orangnya sayang? Siapa? Siapa? Siapa? Siapa?”
Zeen semakin tak sabar, ingin sekali ia menghanjar dua pria itu yang sudsh berani menganggu pikiran istri tercintanya.
“Coba mas tebak dulu deh, siapa kira-kira orangnya?”
Nampaknya Yuna makin mengulur waktu untuk memberitahu siapa orang tersebut, dirinya masih ingin menikmati wajah lucu Zeen sampai beberapa menit lamanya.
Nampaknya Zeen semakin terpancing, terlihat sekali wajah serius Zeen yang tengah memikirkan pertanyaan dari istrinya.
Namun hanya ada dua nama didalam pikirannya, tapi ia merasa tak yakin dengan orang satunya.
“Apa itu Firo sayang? Gak mungkin kan? Bocah tengik yang suka mempermainkan wanita itu?”
Yuna yang mendengar itu seketika menghela nafasnya. “Ya gak mungkin lah mas? Aku bahkan tak menganggap dia tampan, malah aku menganggap jika sepupumu itu masih sangat kecil dan masih butuh bimbingan atau arahan dari orang dewasa.” Jawab Yuna yang membuat Zeen seketika menghela nafasnya dengan perasaan lega.
“Iya benar apa kata kamu sayang, Firo itu tak ada kata gantengnya sama sekali! Yang paling ganteng disini tuh aku!” timpal Zeen dengan percaya dirinya.
“Narsis banget ya? Suaminya siapa sih dia?” gumam Yuna menatap malas suaminya.
“Trus? Siapa lagi mas? Apa ada lagi yang mas pikirkan?”
“Hem, ada sih. Tapi aku malas mengakuinya!”
__ADS_1
Yuna nampak terkekeh melihat raut murung suaminya. “Kenapa mas? Takut kesaing?” tanya Yuna dengan nada meledek.
Zeen seketika menegakan tubuhnya. “Ngak gitu ya? Aku gak akan merasa tersaingi dengan pria manapun! Karena aku memang yang paling tampan diantara pria-pria lain!”
“Dih? Makin narsis aja, suami siapa sih ini?” lagi-lagi Yuna bergumam.
“Ya terus? Siapa mas?”
Zeen nampak ragu-ragu mengatakannya, “Aku masih tak percaya sih, apakah kamu sedang memikirkan Fadli?”
Mendengar pertanyaan itu Yuna terdiam, hal itu tentu disalah artian oleh Zeen.
“Beneran sayang? Kamu beneran memikirkanya?” tanya Zeen mulai geram, dan nampak kedua tangannya yang digengam erat seperti siap meninju seseorang.
Yuna lalu menatap sang suami dengan gelengan kepala, “Mas ini ada-ada aja ya? Tebakan mas itu salah semua loh!”
“Trus siapa sayang? Jangan buat mas mu ini semakin penasaran?”
“Coba mas liat kebelakang!” pinta Yuna.
Mau tak mau Zeen menuruti ucapan itu, lantas ia melihat dua babynya yang tertidur pulas disana.
“Udah lihat kan mas? Nah itu jawabanya!” ujar Yuna lalu kembali melangkahkan kakinya. “Jangan lupa ditutup lagi ya mas pintunya....”
Sedangkan Zeen yang masih berada dikamar sang putra, melongo saja sambil mencerna apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Seketika ia bertambah melongo saat mengerti arti ucapan Yuna.
“Astaga? Aku bersaing sama dua putraku sendiri? Jadi yang dibilang istriku yang paling tampan itu baby twin?”
Ya! Terjadilah Zeen semakin tercengoh-cengoh, lalu kemudian ia menggelengkan kepala saat menyadari jika ia bertingkah bodoh saat dikerjain oleh istrinya.
Zeen lalu tersenyum semirk, “Mulai nakal dia!” kemudian ia melangkahkan kakinya dan tak lupa menutup kembali pintu itu.
“Eh? Kayak kelupaan!” lalu ia teringat sesuatu dan berjalan masuk kembali kekamar para putranya.
Kemduain ia menciumi kening putranya seperti yang dilakukan oleh sang istri tadi. “Good ninght jagoan-jagoan daddy!” gumam Zeen tersenyum sejenak menatap baby twin. Kemduain setelah puas ia segera keluar dari kamar itu dan menutup pintu itu dengan rapat.
°°°
Sesampainya dikamar, Zeen tak melihat keberadaan istrinya. Ia menyibak selimut tebal itu karena ia kira jika sang istri bersembunyi dibalik selimut. Namun ketika ia mengeceknya ranjang itu malah kosong dan hanya dua guling yang ia kira adalah istrinya.
“Kemana my darling?” gumam Zeen kemudian ia mulai mencari lagi keberadaan istrinya, dengan melangkahkan kakinya menuju balkon. Namun balkon itu juga nampak sepi tak ada tanda-tanda keberadaan istrinya.
“Lah? Apa Yuna lagi makan ya? Kok gak ada dimana-mana?” gumamnya bertanya-tanya, padahal masih ada satu tempat yang belum ia kunjungi.
Ketika Zeen tengah menghadap tepat didepan pintu kamar mandi, bersamaan dengan itu tiba-tiba pintu terbuka yang mana membuat Zeen sedikit kaget karena dirinya yang setengah melamun.
Dan lagi-lagi ia dibuat terkejut saat melihat kain putih dan rambut panjang yang ia mengira jika itu adalah mak lampir.
“Hahhh... kukira dedemit! Ternyata istriku sendiri....” gumam Zeen sambil mengelus dadanya yang terasa berdetak kencang akibat terkejut untuk kedua kalinya.
“Mas Zeen kenapa begitu?” tanya Yuna dengan polosnya, karena ia tak tau jika Zeen terkejut akibat melihat dirinya.
“Kamu sendiri kemana aja sayang? Aku cariin kok malah nongol dari balik pintu kamar mandi.”
Yuna yang tadi tengah mengelap rambutnya itu, seketika menghentikan pergerakannya. Kemudian menatap wajah Zeen dengan memutar bola matanya malas.
“Ya kalau aku keluar dari kamar mandi, itu berarti aku habis mandi dong mas. Masa gitu aja mas pake nanya? Padahal aku keluar pake handuk mandi loh?” Yuna mengeleng melihat tingkah laku suaminya yang menurutnya sangat aneh.
“Yah mas kira kamu diculik sama mak lampir yang rambutnya panjang,”
Yuna mendengus mendengar itu, kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya menuju lemari untuk mengambil baju yang akan ia kenakan.
“Yang rambutnya panjang itu ya namanya kuntilanak mas! Nanti mas kira kuntilanang lagi?”
“Bukankah kutil lanak, dan kutil lanang sama aja ya sayang?” tanya Zeen seperti orang bodoh.
“Kuntilanak mas! Bukan kutil lanak!” pekik Yuna membenahi perkataan suaminya. Entah menagap sepertinya akhir-akhir ini suaminya itu selalu membuatnya kesal tiba-tiba, seperti saat ini. Ia yang ingin pakai baju saja harus terjeda-jeda akibat ulah suaminya itu.
“Eh? Itu toh yang bener?” timpal Zeen yang lagi-lagi merasa bodoh didepan sang istri.
__ADS_1
“Sudahlah mas! Mending aku tidur saja, rasanya lelah banget apalagi dihadapin sama kamu.”
Kemudian Yuna berjalan kearah kasur dan tanpa terjeda-jeda lagi, ia segera membaringkan tubuhnya dengan nyaman dan menyelimuti dirinya sampai keatas leher.
Bahkan Zeen yang ingat ingin membalas perbuatan sang istri akibat membodohinya itu, menjadi lupa. Dirinya pun lagi-lagi dibuat bodoh didepan sang istri.
“Hanya Yhna saja yang membuatku seperti ini! Dan hal itu entah menagap semakin membuatku tergila-gila!” gumam Zeen sambil tersenyum-senyum sendiri. Kemudian ia pun segera merangkak naik keatas kasur dan membaringkan tubuhnya tepat disamping istrinya.
Tanpa bertanya, ia melingkarkan tangannya dipingang ramping milik Yuna, kemudian menelusupkan kepalanya tepat dileher belakang Yuna.
Hal itu membuat Yuna menjadi kegelian, dan membuatnya terusik karena tadi ia sempat sudah terlelap.
“Mas Zeen jangan ganguin gitu dong... aku jadi kebangun kan? Aku ngantuk banget ini....” rengek Yuna yang juga sedikit mengerak-gerakan tubuhnya agar Zeen segera melepas pelukannya itu.
“Ya tidur lagi dong sayang, tinggal begitu apa susahnya?”
“Mas ini benar-benar buat kesal!” sungut Yuna lalu menghentikan gerakan tubuhnya dan memilih pasrah saja, karena ia yang sudah mengantuk tak ingin mengajak berdebat lagi dengan sang suami.
Zeen tersenyum semirk saat tak merasakan pergerakan lagi dari sang istri, ia lalu mengangkat kepalanya untuk menatap sejenak wajah istrinya.
“Nah? Udah tidur lagi,”
Tak ingin membuat tidur istrinya kembali terusik, Zeen lebih memilih untuk ikut memejamkan matanya dan ingin menyusul kealam mimpi istrinya.
“Semoga didalam mimpi aku bertemu Yuna, dan semoga Yuna hanya memimpikan aku!” gumam Zeen berdoa.
Namun baru beberapa menit ia memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara tangisan dari sebelah kamarnya, siapa lagi kalau bukan tangisan dari dua baby twinnya?
“Ternyat begini rasanya kalo punya anak dan mengurus mereka tengah malam.” Gumam Zeen, lalu diam-diam ia bangkit dari baringnya dan sejenak menatap istrinya yang masih terlelap.
Namun Zeen ternyata tak membangunkan sang istri, karena ia berniat untuk mengurus dua babynya sendiri.
Zeen berjalan mengendap-edap untuk keluar dari kamar, padahal ia berjalan biasa saja pasti juga tak akan terdengar oleh Yuna karena lantai dikamarnya itu begitu bersih dan tak akan ada yang menghalangi langkahnya.
Saat sudah mencapai ga gang pintu, ia dengan cepat keluar dari kamar dan langsung menuju kamar para dua putranya.
Ya! Saat ia masuk ia langsung disuguhi tangisan bayi yang memekikan disepenjuru ruangan itu.
“Ututut... kenapa sih anaknya daddy? Hem? Kenapa menangis?” ucap Zeen sambil melihat kedua putranya yang menangis secara bertahap, seperti si sulung yang sejenak diam langsung diganti dengan si bungsung yang langsung menangis tersedu-sedu. Dan begitulah seterusnya saling bergilir-gilir seperti pemain sepak bola.
Zeen menatap si sulung yang ternyata celananya basah, Zeen pun dengan sigap langsung mengendong bayinya dan membersihkan pipis si sulung didalam kamar mandi.
Kemudian setelah selesai, Zeen kini berganti pada si bungsu yang masih menangis tersedu-sedu.
Saat Zeen tengah mengamati si bungsu, tiba-tiba terdengar suara kentut yang agak keras.
Dut! Bruuuuuuuttt....
Dan alhasil, baunya sangat menyengat seperti bau kebakaran jengkol campur pe'te.
Hal itu membuat Zeen susah bernafas akibat menghirup gas oksigen yang sangat estetik baunya. “Astaga si bungsu? Kenapa kentutnya bisa bau jengkol? Apa nenek dan kakek kalian yang memberikan makanan itu?” tanya Zeen yang tentu tak ada yang menanggapi.
“Ah sudahlah! Biar daddymu ini yang akan membantu membersihkan e'ek mu itu!” dengan cara yang sama, Zeen segera mengendong babynya menuju kamar mandi dan mulai telaten membersihkan si bungsu yang ternyata buang air besar dipopoknya.
Zeen mencincing popok yang tadi dipakai oleh si bungsu. “Pantesan nangis, ternyata udah penuh kayak gini?” ucap Zeen sambil mengamati popok itu yang sudah sangat berat akibat terlalu penuh terisi dengan kotoran dan kencing si baby.
Zeen meletakan popok itu ditong sampah, ia kemudian menatap si bungsu yang menatapnya dengan tatapan pupy eyes dan tersenyum-senyum kearahnya seolah melupakan dirinya yang tadi menangis?
“Abis nangis terus tertawa? Kamu ini mirip banget mommy mu ya?” ucap Zeen menatap putranya dengan tatapan gemas.
TBC.
—–—
Part paling panjang 2000k🎉😀
Maaf jika monoton isi chapter ini☺️
Dan selamat tahun baru untuk kalian semua🙏 happy New year 2023🎉 semoga kita semua dalam lindungan dari yang maha kuasa amin.... Dan semoga rejeki semakin dilancarkan aminn....
__ADS_1