
...***...
Zeen yang mendapatkan tepukan bahu dari Yuna itu langsung tersadar. Dan mengalihkan pandangannya pada Yuna dengan tatapan lembut.
“Ehem! Soal kedua bungkus makanan ini, kita pikirin aja nanti, soalnya makanan yang mas pesen sebentar lagi sampe–”
Ding, dong!
Belum sempat Zeen menyelesaikan ucapannya, sudah terdengar bunyi bel dari luar pintu.
“Permisi ... pesanan makanan ...!!”
Zeen tampak cengegesan, “Nah! Udah nyampe tuh!” nampak Zeen berdiri dari duduknya, “Biar mas aja yang ambil ....” berjalan meninggalkan Yuna. Yang hanya bisa menghela nafas pasrah.
🍂🍂
“Karena hari sudah mau menjelang sore, bagaimana kalau kita jalan-jalan kepantai lagi? Sambil melihat matahari terbenam? Mau gak?” usul Zeen kepada Yuna, yang saat ini mereka tengah santai menonton tv setelah selesai makan.
Dan bagaimana dengan dua bungkus makanan itu? Nah, tentu saja seorang Zeen Albaret tak akan kehabisan ide. Pria itu dengan sikap santainya memberikan dua bungkus makanan itu kepada orang yang tak sengaja melewati tempat penginapannya, atau pejalan kaki yang memang penginapannya itu berdampingan dengan tempat penginapan orang-orang di Bali.
Sebenarnya bisa saja Zeen menyewa sebuah vila yang lokasinya privasi. Tapi karena Mamanya dan nenenya yang menyiapkanya, mau tak mau Zeen harus menghargai dan mengajak Yuna tinggal dipenginapanya sekarang.
“Oh! Mau mas!” jawab Yuna dengan sangat antusias. Hal itu membuat Zeen senang melihatnya.
“Yaudah baby! Yuk kita berangkat sekarang, sebelum mataharinya bersembunyi dengan malu-malu karena melihatmu yang sangat cantik dan lebih bersinar darinya,” timpal Zeen yang masih sempat-sempatnya menggoda Yuna.
Tiba-tiba sebuah cubit kecil mendarat pada paha Zeen, hal itu membuat Zeen berjingkrat kaget karena belum siap menerima serangan kembali dari Yuna, karena sebelumnya wanita itu telah mencubit telapak tangannya namun tak kerasa sama sekali baginya. Namun yang kedua ini berbeda karena rasanya sangat kerasa dan sedap-sedap ngilu dirasa Zeen. Mungkin karena paha terasa lembek? Berbanding terbalik dengan telapak tangannya yang keras?
“Kamu belajar begini dari mana sih sayang? Sebelumnya kamu kan tak pernah seperti ini, kamu tau gak? Ini tuh namanya kekerasan dalam rumah tangga.” Ucap Zeen sambil mengerucutkan bibirnya yang sekarang sudah maju, hampir lima senti panjang. Bisa dibayangkan panjangnya seperti apa?
Yuna yang mendengar ucapan lebay dari pria yang dihadapannya itu, lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang.
“Mas niat ngajak aku ke pantai apa ngak?” tanya Yuna dengan suara lembut.
__ADS_1
“Ehem! Ya jadi dong, Yuk! Kita healing sekarang!” jawab Zeen yang mengerti dengan pengalihan topik yang dilakukan oleh Yuna, karena Zeen tau jika wanitanya saat ini tak ingin diajak bercanda lagi olehnya. Mungkin karena Zeen keseringan menggoda Yuna? Sehingga membuat wanita itu merasa bete dibuatnya.
Yuna hanya mengangguk, dan berdiri dari duduknya bersiap untuk keluar dari kamar penginapan itu.
“Eits! Baby!” Zeen menghentikan langkah Yuna.
Yuna menengok kearah Zeen dengan kening mengerut, “Kenapa lagi mas?”
“Mana tangannya?” Zeen mengangkat telapak tangannya didepan Yuna.
“Hem?” Yuna yang agak bingung itu, mau tak mau menyerahkan tangannya pada telapak tangan Zeen.
“Tangan ini akan aku genggam selama kita keluar. Aku tak akan melepas tangan ini biar sedetik pun! Karena aku tau, jika para pria hidung belang diluar sana akan mengincarmu lagi,” ucapnya ngasal. Namun masih menggunakan gaya nada ketegasan.
'Terutama si biang kerok bernama Fadli itu. Entah mengapa sekarang aku menganggap laki-laki itu sebagai rifalku! Mungkin karena dia terlalu dekat dengan Yunaku, ya?' gumam Zeen dalam hati sambil memejamkan matanya, tampak mengetuk-ngetuk dagunnya.
Refleks, Yuna yang mendengar ucapan konyol itu tertawa dibuatnya. Ia tak mengira jika didalam pikiran Zeen bisa seperti itu, entah Yuna merasa senang karena diperhatikan, atau merasa miris dengan kata-kata Zeen yang mengatai pria diluar sana dengan sebutan pria hidung belang.
“Yaampun mas ... bisa-bisanya kamu bilang begitu sama orang yang tak kamu kenali?” ucap Yuna mengeleng.
“Hem? Itu berarti dokter Fadli dan Papa juga dong?” tanya Yuna mengerutkan alianya.
Zeen terhenyak seketika, namun itu hanya sementara karena dirinya mampu memperbaiki eksperesinya.
Zeen berdehem pelan, “Kalau papa tidak? Kalau dokter Fadli, ya ....” jawab Zeen sengaja digantungkan.
“Ya apanya mas?” selidik Yuna.
“Hem, entahlah? Udah ya sanyang, mending kita healing sekarang! Dari pada kita telat dan ketinggalan matahari terbenamnya?” Zeen sengaja mengalihkan perkataannya kembali.
Yuna sejenak memicingkan matanya kearah Zeen, tentu saja Zeen dibuat tersipu malu karena menganggap, jika tatapan dari Yuna itu adalah tatapan mendamba padanya. Padahalkan tak seperti itu dan malah sebaliknya.
“Kenapa sayang? Kamu kembali terpesona ya? Dengan ketampananku ini?” ucap Zeen, dan seketika jiwa narsisnya telah kambuh.
Tampak Yuna kembali menghela nafasnya, “Ayok kita pergi sekarang. Nanti terlambat,” dengan langkah cepat. Yuna pun langsung menarik tangan Zeen dan membawanya pergi dari penginapan itu.
__ADS_1
“Aih~ sayangku ternyata lagi malu-malu kucing ya ...?” celetuk Zeen sambil terkikik geli.
🍂🍂
Kini duo pasangan itu telah sampai pada tujuan, yaitu tepat dipingir pantai dan sekarang tengah duduk santai hanya beralasan sandal mereka saja.
“Angin disini sejuk sekali ....” tampak Yuna menikmati suasana damai itu. Dengan sesekali memejamkan matanya.
“Wah ...? Mataharinya besar sekali mas?!” pekik Yuna kesenangan sambil menarik-narik lengan baju Zeen.
“Lihat mas! Warnanya jinga banget!!” Yuna menunjuk-nujuk matahari yang hampir tenggelam itu dengan raut cerahnya.
Sedangkan Zeen? Apakah kalian tahu, apa yang sedang dilihat oleh pria itu? Ya! Jawabannya ada pada Yuna, lelaki itu bukannya melihat matahari yang akan terbenam. Malah menatap wajah Yuna dengan diamnya. Bahkan lelaki itu tak menyahuti ucapan Yuna saat wanita itu dengan antusiasnya memberitahu Zeen bahwa matahari itu sangat indah dipandangnya.
“Mas? Kamu lihat–” ucapan Yuna terhenti kala dirinya langsung menengok kesamping dan mendapati Zeen tengah menatap dirinya. Alhasil, sekarang mereka beruda saling beradu pandang dan bertatapan dengan perasaan berkecamuk.
“Mas sejak tadi tak melihat matahari ya?” tanya Yuna yang masih bertatapan dengan Zeen.
Zeen mengulas sebuah senyuman dibibirnya. “Alam ... memang ciptaan yang sangat indah, tapi entah mengapa ... ciptaan yang ada disampingku ini lebih indah dari itu. Bahkan dirimu lebih bersinar dari matahari!” Zeen berucap dengan hati dan ketulusannya.
Yuna dibuat melongo ketika mendengar sebuah syariat gombalan itu, pipinya dibuat merona seketika.
Yuna pun langsung membalikkan pandangannya kedepan, tak kuat lagi menatap mata yang membuat jantungnya terus berdisko.
“Mas jangan gombal gitu ya, lebih baik lihat saja kedepan. Tujuan kita kesini kan ingin melihat matahari terbenam? Dan mataharinya hampir saja terbenam sekarang,” timpal Yuna dengan mencoba menghilangkan rasa panas dipipinya.
Zeen tampak mengabaikan ucapan itu, dan malah tersenyum-senyum aneh menatap wajah Yuna, “Ey~ kamu malu ya ...? Lihat wajah–”
“Kalian berdua juga ada disini?”
Tiba-tiba seseorang datang, dan mampu menghentikan aksi Zeen yang ingin menggoda Yuna. Hal itu membuat Yuna tersenyum lega dan dalam hati, ia berterimakasih pada seseorang yang datang tiba-tiba itu.
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak, komen♡like♡vote♡
__ADS_1