Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 173


__ADS_3

...***...


Kini para keluarga Albaret sudah berjalan untuk kembali kerumah, kecuali sang pemilik rumah sakit yaitu Albaret tak bisa ikut pulang karena pekerjaannya yang belum ia selesaikan.


“Kalian pulanglah dulu, aku tak bisa ikut karena pekerjaanku disini masi banyak,” Jelas Albaret lalu pandangannya ia alihkan kepada putranya yang saat ini masih duduk dikursi roda dan yang mendorongnya adalah Firo sang sepupu yang suka sekali mengusili kakak sepupunya sendiri.


“Dan kau bocah nakal! Setelah kau pulih dari sakitmu itu jangan harap kau memperpanjang cutimu! Pekerjaanmu tetap kau selesaikan sendiri. Dan ya, walau kau izin cuti pun kau harus membawa pekerjaanmu sebagian dan mengerjakannya dirumah!” tegas Albaret dengan sorot mata tajam.


“Yaampun Pah ... kan Zeen lagi sakit, gak bisa apa pekerjaan rumah sakit Zeen kerjakan saat Zeen sudah sembuh?” rengek Zeen memelaskan wajahnya.


Albaret langsung mengelengkan kepalanya, “No Zeen! Dirumah pun kau tetap harus bekerja! Biar pekerjaanmu itu tak menumpuk. Sudahlah Papa tinggal sekarang.”


Setelah mengucapkan itu, Albaret beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Zeen yang semakin melesukan wajahnya menatap punggung sang Papa yang sudah menghilang dari pandangan.


Firo yang melihat tentu dibuat tertawa cekikikan, “Sabar ya kakak sepupu ... ini ujian ....” ucapnya dengan nada dibuat meledek sehingga membuat Zeen terusul kesal, dan akhirnya pria itu mengeplak tangan Firo dengan keras.


“Awws! Sialan kakak sepupu kurang ajar! Tak tahu terimakasih! Sudah dibantuin malah ngelunjak!” begutulah sumpah serapah Firo, walau terkesan ngasal bicara namun pria itu kalau sudah kesal maka semua isi pikirannya akan ia keluarkan begitu saja.


Zeen acuh dan tak merasa berdosa sama sekali. “Cih! Siapa juga yang minta bantuanmu itu, kau sendiri kan yang menyodorkan diri?”


Firo melototi Zeen dari belakang, walau Zeen tak melihat ia tetap saja melakukan itu. “Lihatlah dia nek! Cucu kesayanganmu begini sifatnya! Tak mau menghargai usaha orang yang sedang berbaik hati.” Adunya pada sang nenek yang hanya bisa menghembuskan nafas lelah melihat tingkah kedua cucunya.


“Sudahlah! Buang-buang waktu saja aku berada dirisini. Lebih baik aku pergi bersenang-senang bersama teman-temanku, rugi aku datang kesini.”


Firo benar-benar beranjak dari tempatnya mungkin karena sangking kesal terhadap sang sepupu, dan memperdulikannya teriakan sang nenek yang memanggil namanya.


“Yaampun bocah itu ....” gunam Rima sambil memijit pangkal kepalanya yang sedikit berdenyut.


“Sudahlah nek, biarkan saja bocah itu! Paling juga dia pergi menemui para wanita-wanitanya. Kan cucu nenek itu terkenal playboy! Itu sebabnya sampai sekarang bocah itu tak juga menikah.” Ucap Zeen dengan wajah angkuhnya.


Seketika Vina menonyor kepala putranya. “Jaga omonganmu Zeen! Jangan membuat nenek kamu bertambah pusing. Kamu juga seharusnya nyadar! Jika kamu tak dipaksa nikah, mungkin sampai sekarang kamu masih sendiri dan tak nikah-nikah.” Jelas Vina sambil menggelengkan kepala merasa heran.


Yuna sampai dibuat terkikik geli saat melihat wajah suaminya yang langsung tertekuk.

__ADS_1


Vina yang melihat putranya terdiam, langsung memilih menghampiri sang mertua dan kemudian ia langsung merangkulnya, takut jika mertuanya itu akan jatuh pingsan. Itu sebabnya ia akan langsung siaga.


“Lebih baik kita pulang saja bu ... tidak perlu memikirkan keadaan Firo lagi. Anak itu sekarang sudah besar bu! Biarlah dia mengurus urusannya sendiri, kita disini hanya bisa mendukung dari belakang saja.” Jelas Vina yang langsung dipahami oleh sang mertua.


“Yasudah, kita pulang sekarang! Punggungku sudah merasa sakit, aku ingin segera merebahkan diriku dikasur. Lama-lama disini membuatku ingin muntah karena kebanyakan bau obat-obat disini.” Timpal Rima sambil sesekali menutup hidungnya dengan tangannya.


“Yasudah kita pulang,” kini pandangannya ia arahkan kepada menantunya. “Yuna, kamu bisa dorong kursi rodanya Zeen tidak sayang?”


“Oh? Bisa kok Mah,” timpal Yuna.


“Kalau begitu kamu bawa dulu ya sayang. Nanti kalau kamu lelah biar Mama yang gantian. Mama akan membantu memapah nenek takutnya nanti nenek jatuh.” Jelas Vina sambil terkikik.


“Aku bisa berjalan sendiri Vina, biarkan kau saja yang mendorong kursi roda cucuku. Cucu menantu kan lagi hamil jadi tak boleh membawa hal-hal yang berat.”


Yuna pun tersenyum mendengarnya. “Tidak perlu khawatir nek, kadunganku ini sangat kuat! Jadi hanya mendorong kursi roda mas Zeen aja aku akan tetap kuat!” ucap Yuna dengan penuh percaya diri.


Rima mengamati Yuna sejenak, lalu menghela nafasnya perlahan. “Yasudah terserah kamu saja cucu menantu.” Timpal Rima dan segera melangkahkan kakinya untuk menyusul Firo yang sudah lebih dulu keluar dari rumah.


Kemudian disusul Zeen dan Yuna yang juga mengikuti mereka dari belakang.


“Tidak apa kok mas, ini malah membuatku merasa segar karena akhirnya aku bisa bekerja walau hanya dorong kamu dari kursi roda.”


“Oh ya?”


“Iya ....” Yuna mengangguk polos dan membuat Zeen yang melihat itu hanya bisa tersenyum samar saja.


Namun sedetik kemudian pergerakannya terhenti saat tiba-tiba saja perutnya berbunyi sampai membuat kedua wanita yang berjalan mendahului mereka menoleh kearahnya.


“Wah, sepertinya cucu menantu sedang lapar. Bagaimana kalau kalian makan dulu dikantin ini? Bukankah makanan disini terjamin kesehatannya?”


Zeen seketika mendongak keatas dan menatap wajah istrinya dengan tatapan sedih. “Kamu lapar sayang? Kenapa tak bilang! Sebaiknya kamu isi perut kamu sekarang, biar  yang didalam tak berdisko minta untuk dikasi asupan.”


Yuna tersenyum kikuk mendengar itu. “Maaf Nek, mah, mas. Yuna baru sekarang kerasa laparnya.” Jelas Yuna.

__ADS_1


“Yasudah kita putar balik dan menuju kantin disini.” Ajak Zeen.


“Iya, kalian makanlah dulu disini. Kami akan disini menunggu kalian. Dan kalian langsung kemobil ya? Kami menunggu kalian berdua disana.” Timpal Vina, tanpa mendengar jawaban ia langsung membawa Rima pergi dari sana menyisakan kembali Zeen dan Yuna yang hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa.”


°°°


“Mas, sepertinya aku mau ketoilet dulu. Tiba-tiba aku merasakan kebelet dan ingin segera pipis!”


“Mau mas anter?” tanya Zeen saat kini mereka berdua sudah duduk dibangku kantin rumah sakit dan sedang menunggu makanan yang mereka pesan.


Yuna langsung menggeleng. “Tidak usah mas, lagian toiletnya gak jauh. Nanti aku akan cepat kesini lagi.” Jelas Yuna. “Kaki mas kan sakit! Jadi mas tak boleh banyak bergerak dulu.”


“Tapi sayang ....”


Yuna sudah berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh tanpa mendengarkan jawaban dari sang suami. Mungkin karena wanita hamil itu sudah sangat kebelet ingin segera membuang hajatnya.


“Yaampun istriku itu ....” Gumam Zeen tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya karena merasa gemas dengan tingkah Yuna. Yang semakin hari semakin membuat Zeen tak tahan ingin langsung mengurung istrinya dan segera menerkamnya.


°°°


Saat Yuna sudah selesai dari toilet, ia pun berjalan menuju cermin besar disana guna untuk melihat penampilannya.


Namun yang mengherankan ia merasa aneh pada cermin itu, karena ada bercak-bercak berwarna merah disana. Ia pun segera mendekat karena merasa penasaran.


“Astaga!”


Alangkah terkejutnya ia saat melihat warna merah itu seperti menyerupai darah dan membentuk pola gambaran, seperti gambaran orang yang tersenyum namun terkesan menyeramkan.


Kemudian, Yuna tanpa sengaja menginjak sesuatu yang menganjal pada kakinya. “Apa ini?” gumamnya saat melihat gulungan kertas yang dihiasi menggunakan pita berwarna pink.


Karena merasa penasaran Yuna pun membukanya, walau ada rasa takut didalam hatinya.


Sudah ku bilang kan? Jika kau tak segera menjauh darinya! Maka hidupmu tak akan tenang!

__ADS_1


Begitulah isi dari kertas kecil itu. Yang mana membuat Yuna semakin bergetar ketakutan dan merasa menyesal ketika membuka gulungan kertas itu.


TBC.


__ADS_2