
Keesokan harinya, Yuna hari ini sudah bersiap-siap karena Santi mengajaknya pergi kejakarta untuk mengunjungi omnya. Yaitu Bram putra Santi, neneknya.
Bukan hanya itu, selain mengunjungi rumah omnya, Santi juga mengajak Yuna, kerumah calon besannya atau bisa disebut calon suami Yuna yang akan dijodohkan dengannya.
"Yuna... Kamu sudah siap nduk?" tanya Santi.
"Iya nek.." jawab Yuna.
"Yaudah kalau gitu kita berangkat sekarang ya, om mu sepertinya sudah menunggu kita dibandara." ujar Santi.
"Oke nek!"
Kemudian mereka pergi dengan Yuna membawa satu koper, berisi pakaiannya dan juga pakaian Santi.
ππ
Dikediaman Albaret, kini semua pelayan tengah disibukan oleh tugas mereka. Dikarenakan tuan rumah tersebut menyuruh mereka untuk membersihkan semua ruangan yang ada, mereka mendapat perintah jika ada tamu penting yang akan datang dikediaman itu.
Vina yang tengah sibuk menyuruh pelayannya itu, melihat Zeen yang tengah menurun tangga dengan pakaian rapinya.
"Loh Zeen? Kamu mau kemana?" tanya Vina.
"Zeen ada urusan sebentar mah.." jawab Zeen.
"Jangan bilang kamu mau ketemu sama Laura?" selidik Vina pada anaknya itu.
Zeen menyengir, "Mama tau aja.. Emang debes deh.. Mamanya Zeen ini." ucap Zeen, lalu memeluk mamanya itu.
Vina mengelus rambut Zeen. "Tapi nanti kamu pulangnya gak lama kan? Kamu tau sendiri, hari ini calon istri yang dijodhkan papa kamu, mau dateng kesini." jelas Vina.
Zeen mengurai pelukkannya, ia lalu memasang wajah malasnya. "Gak tau deh mah... Sebenarnya Zeen males banget kalo dijodoh-jodohin. Mama tau sendiri kan? Zeen udah punya pacar, dan Zeen sangat mencintainya. Zeen tak tega menduakan pacar Zeen mah..." ujar Zeen sedikit merengkek.
"Iya Zeen mamah tau itu... Tapi mama juga gak bisa bantu kamu nak, kamu tau kan papa kamu kayak gimana? Papa kamu keras kepala banget. Mama aja yang mohon-mohon gak didengerin, susah tau gak bicara sama papa kamu itu."
"Hahhh... Papa ini kok tega banget sama Zeen, masa anaknya dijadiin sebagai balas budi. Kan papa bisa pake cara lain buat balas budi...." gerutu Zeen frustrasi.
"Sabar ya sayang... Kamu turuti aja apa kata papa kamu, dari pada nanti kamu diusir sama papa kamu dirumah ini, kan? Lebih baik kamu nurut aja ya.." ucap Vina menatap anaknya dengan wajah kasihan.
Zeen hanya bisa menghebus nafasnya pasrah, "Yaudah deh mah... Zeen pergi dulu ya, takutnya Laura ku! Nungguin aku kelamaan." ujar Zeen.
__ADS_1
"Kamu ini, yaudah sana pergi. Tapi nanti sebelum jam tujuh kamu langsung pulang ya... Soalnya calon besan kamu mau dateng jam tujuh nanti." jelas Vina.
"Iya-iya deh... Makin bad mood Zeen dengerin calon mertua." gerutu Zeen, ia pun langsung melangkah pergi meninggalkan Vina yang hanya bisa mengelengkan kepala itu.
ππ
Malam hari, jam sudah menuju pukul 19:55 dan saat ini tamu penting dari keluarga Albaret sudah datang sedari tadi. Dan tengah menunggu sang calon yang akan dijodhkan itu.
"Maaf ya.. Ibu Santi, anak saya sedikit telat saya akan coba hubungi dia dulu." kata Albaret bangkit dari duduknya.
Ya, bisa dikatakan jika tamu penting itu adalah Santi nenek Yuna. Yang artinya Zeen yang akan dijodohkan oleh Yuna.
"Mongo.. Gak usah terlalu terburu-buru, kami juga baru datang disini." ucap Santi.
Vina tersenyum ramah menangapinya. "Maaf kan anak kami bu Santi... Anak kami mungkin sedang sibuk, jadi mungkin dia lupa." ucap Vina, ia terpaksa berbohong jika ia jujur maka ia sama saja mempermalukan anaknya.
"Iya... Ndak apa-apa." jawab Santi dengan senyum ramahnya.
Albaret ayah Zeen, saat ini tengah mencoba menghubungi Zeen yang sudah beberapa menit tak cepat mengangkat telfonya.
Sedangkan disuatu tempat, Zeen saat ini tengah berada dibar tempat yang sering ia kunjungi jika ia tengah lelah atau saat ia bosan. Tentu saja ia saat ini tak sendiri, ia saat ini duduk bersama dengan Laura kekasih pujaan hatinya yang sudah tiga tahun lamanya ia menjalin kisa cinta itu.
Laura merangkul kedua tangannya dileher milik Zeen, ia begitu menikmati ******* yang dilakukan oleh Zeen itu.
Drrrtt... Drtt..
Hanpone Zeen bergetar, sebenarnya sudah dua kali seperti itu. Namun Zeen terus mengabaikannya, mungkin karena ia tengah asyik dengan aktifitasnya itu.
"Ughmm.." Laura melenguh disela-sela ciuman mereka, Ia lalu mendorong tubuh Zeen sedikit menjauh.
"Sayang.. Kenapa kamu melepaskanya? Aku belum puas sayang..." rengek Zeen dengan wajah yang sudah memerah menahan hasratnya.
Laura tersenyum manis kearah Zeen, "Kamu tau kan sayang? Dari tadi hp kamu terus berbunyi... Dan itu membuat telingaku terganggu..." ujar Laura.
Zeen menatap handphonenya yang masih bergetar itu, ia menghela nafas. "Yasudah aku angkat dulu ya sayang... Kamu tunggu disini." ucap Zeen lalu bangkit dari duduknya.
Zeen mengangkat telfonya. "Ya pah.." jawab Zeen.
"Kamu ini! Dasar anak keras kepala. Dimana aja kamu hah? Papa kan sudah bilang hari ini calon besan kamu dateng dirumah kita! Kamu ini malah kelayapan, cepat pulang sekarang!" teriak Albaret membuat telinga Zeen langsung berdengung.
__ADS_1
Zeen sedikit menjauhkan hpnya, dan membawanya kembali didekat telinganya."Yahh... Pah.. Hari ini gak bisa ditunda apa? Zeen lagi sibuk ini." alibi Zeen.
"Gak bisa Zeen! Cepat pulang sekarang! Jika kamu sampai terlambat dan tak mau pulang. Maka selamanya kamu tak usah datang kerumah ini, dan semua aset papa yang ada pada kamu, papa akan cabut semua itu. Ingat itu Zeen!" tekan Albaret dan langsung mematikan sambungan, tanpa mendengar jawaban dari Zeen.
Zeen menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia mengusar wajahnya."Males banget sih.." ujar Zeen, ia lalu melangkah kembali menghampiri kekasihnya itu.
"Sayang..." panggil Zeen.
"Kenapa Sayang?" tanya Laura.
"Malam ini, aku gak bisa nemenin kamu lebih lama ya.. Soalnya papa aku yuruh aku cepet pulang..." ucap Zeen memasang wajahnya memelas.
"Soal perjodohan itu?" tanya Laura dengan wajah datarnya. Sebenarnya Laura sudah tau hal itu karena Zeen yang sudah menjelaskannya, tentu saja Laura awalnya sangat marah, namun Zeen terus membujuknya dan akhirnya Laura luluh dan tak marah pada Zeen. Tentu Zeen memberikan alasan pada Laura. Entah alasan apa itu, hanya mereka berdualah yang tau.
"Iya... Maaf ya sayang, aku juga terpaksa kok ngelakuin ini." ujar Zeen menatap kekasihnya itu dengan perasaan bersalah.
"Yaudah deh.. Mending kamu pergi sekarang aja, dari pada nanti papa kamu ngamuk." jawab Laura.
"Hemm aku anterin kamu pulang dulu ya? Habis itu aku baru pulang."
Laura menangkup pipi Zeen, dan mengecup pipi itu sekilas. "Ngak usah.. Aku bisa pergi sendiri kok, kamu pergi aja... Lagian aku juga mau ketemu temen-temen aku disini." ucap Laura tersenyum manis kearah Zeen.
"Beneran? Gak mau dianter..." tanya Zeen.
"Beneran sayang.."
"Hemm yaudah kalau gitu, aku pulang ya..." setelah itu Zeen mengecup tangan Laura, tak lupa dengan bibirnya yang ia tempelkan pada bibir kekasihnya itu.
"Beyyy..."
Laura melambaikan tangannya saat Zeen sudah menjauh darinya. Ia lalu mengubah rautnya datar dan berbalik kearah samping yang dimana sudah ada lelaki yang tengah menunggunya itu.
Laura tersenyum kearah lelaki itu, "Hai, udah nungguin lama ya.."
Lelaki itu beralih menatap Laura, ia pun mendekat dan merangkul pinggang Laura. "Aku sudah menunggu mu begitu lama... Apakah kita langsung saja kehotel sayang?"
Laura mendekat kearah telinga pria itu, ia pun membisikan sesuatu. "Tentu saja... Mari kita bersenang-senang.. Beby.. " ucapnya dengan nada menggoda.
TBC.
__ADS_1
Satu kata buat Lauraπ€¨ jangan lupa komen....