
...***...
Saat ini Yuna tengah berada dirumah sakit, tepatnya dirumah sakit milik Papa mertuanya. Untungnya keberadaan dirinya tak jauh dari rumah sakit dan lebih muda membawa Zeen untuk cepat ditangani. Tentu ia dibantu oleh para orang-orang pejalan kaki, dirinya tak mungkin membawa Zeen sendiri apalagi ia tak bisa mengendarai mobil sendiri dan lebih meminta bantuan kepada salah satu orang yang menolong suaminya untuk menyetirkan mobilnya.
Ia juga sudah menghubungi orang rumah, karena menutur dirinya keluarganya harus tau tentang keadaan suaminya.
“Mas Zeen ... Bismillah ... semoga tak terjadi hal serius pada suamiku.”
Begitulah Yuna yang sejak tadi tak tenang terus berjalan ditempat sambil sesekali melirik pintu ruangan, dimana suaminya ditangani.
Bahkan ia sampai tak menyadari jika rombongan keluarganya sudah tiba.
“Yuna!”
Yuna membalikkan tubuhnya kearah sumber suara, dimana disana ia melihat keluarga suaminya dan juga paman dan tantenya datang menghanpirinya, tak hanya itu Rima dan juga Firo pun ikut serta disana.
“Yuna bagaimana kondisi Zeen? Kamu tak apa-apa kan?” tanya Vina yang sudah berada dihadapan Yuna.
Yuna tak menjawab, ia malah menangis karena air mata yang tahan itu sudah tak tahan ingin dikeluarkan. Para keluarga pun dibuat panik melihatnya.
“Sayang kenapa menangis?” buru-buru Vina mendekati menantunya. Begitupun dengan Winda yang juga ikut mendekat karena merasa khawatir dengan kondisi keponakannya.
“Iya nak, kenapa menangis? Apa ada yang sakit? Jika iya kita periksakan sekarang ya nak? Takutnya kondisi janin kamu kenapa-napa.” Winda begitu kalut sehingga membuat wanita paru baya itu terus mengecek tubuh Yuna dari sisi kesisi lain.
Yuna mengeleng dalam tangisannya. “Engak Mah, tante, Yuna gak papa. Yuna takut mas Zeen kenapa-napa Mah ... ini semua salah Yuna soalnya Yuna tadi bawa mas Zeen kewarung pinggir jalan. Coba saja–”
“Ssst ... sudah ya sayang jangan menyalahkan diri sendiri, itu semua bukan salah kamu. Itu hanya sebuah musibah sayang jadi jangan menyalahkan diri sendiri.” Tutur Vina yang langsung membawa menantunya kedalam pelukannya. Tentu Yuna membalas pelukan itu tak kalah erat dan menumpahkan tangisan itu didalam pelukan. Entah kenapa Yuna akhir-akhir ini berubah menjadi cengeng mungkin karena hormon kehamilannya yang membuat dirinya menjadi seperti itu.
“Iya sayang ... jangan berpikir macam-macam ya ... kasihan nanti baby baby kamu lihat mommy nya menangis nanti babynya ikut menangis.” Timpal Winda ikut menenangkan Yuna dengan mengelus surai rambut panjang itu.
“Aku takut Mama ....” suaranya nampak lemah dan tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut rasa sakit menjalar dikepalanya.
“Astaga Yuna!” pekik Vina terkejut saat merasakan tubuh Yuna yang merosot didalam pelukannya.
Semua yang mendengar teriakan itu nampak panik sekaligus dibuat bingung. Akhirnya pun mereka membawa Yuna keruangan pemeriksaan, agar tubuh Yuna yang lemah dapat diistirahatkan.
__ADS_1
°°°
“Bagaimana keadaan putri saya dokter?” tanya Vina ketika melihat dokter tersebut menyelesaikan pemeriksaannya.
“Kondisi pasien baik bu, pasien hanya merasa kelelahan saja apalagi pasien sedang hamil, itu sebabnya pasien mengalami drop sehingga membuat pasien tak sadarkan diri.”
Penjelasan dokter itu membuat para keluarga menghela nafas lega.
“Untuk sekarang biarkan pasien istirahat dulu, bapak dan ibu. Jadi kita harus memberikan ruangan bagi pasien agar merasa nyaman.”
Semua keluarga mengangguk paham, lantas kemudian mereka semua keluar dari ruangan itu sesuai anjuran dari sang dokter.
“Istirahat dulu ya sayang, kami menunggumu diluar, dan jangan mengkhawatirkan lagi tentang kondisi suamimu. Karena kami semua pasti akan menjaganya untukmu.” Vina mengecup singkat kening Yuna. Kemudian dirinya ikut menyusul keluar dari ruangan itu.
Beberapa menit sudah berlalu, kini Yuna mulai mengerjabkan kedua matanya. Ia pun segera bangkit dari baringnya dan sesekali memijit kepalanya yang terasa sedikit berdenyut.
“Apa aku tadi pingsan?” gumamnya sedikit linglung.
“Oh astaga mas Zeen!” pekik Yuna yang ingin turun dari brangkar itu terhenti saat mendengar suara familiar yang memanggil dirinya.
Yuna menoleh kesamping dimana ada suaminya yang tengah tersenyum kearahnya, dan jangan lupa jika lelaki itu tengah duduk dikursi roda.
“Mas Zeen!” teriak Yuna dengan cepat ia langsung memeluk Zeen dari depan, membuat Zeen yang mendapati itu tentu membalas pelukannya dan dengan lembut mengusap punggung istrinya.
“Mas Zeen ....” kini Yuna mulai terisak didalam pelukan itu.
“Kok nangis sayang? Jangan nangis sayang aku gak apa-apa kok, mas cuman terkikir aja jadi gak terlalu serius.” Zeen kembali mengusap punggung istrinya dengan sangat perhatian agar istrinya itu dapat menghentikan tangisannya.
“Sudah ya? Jangan nangis lagi,” dengan perhatian Zeen menyeka air mata itu kemudian mencubut hidung kecil Yuna dengan gemasnya. “Kamu gemesin deh.” Ujar Zeen menggoda.
“Mas ihhh!” Yuna mulai merengek seperti anak kecil. “Aku kan khawatir mas, aku takut kamu ninggalin aku dan aku jadi menjanda, padahal anak kita saja belum lahir.” Yuna mulai mengerucutkan bibirnya.
“Loh? Loh? Kok ngomongnya jelek gitu? Jangan ngomong gitu kamu! Mas juga gak mau kali ninggalin istriku trus diambil sama laki-laki lain, mas gak rela itu terjadi.” Zeen menarik pinggang Yuna perlahan. Lalu membawa tubuh wanita itu diatas pahanya atau pangkuannya.
Kemudian Zeen mengusap perut buncit Yuna dengan sayang. “Mas juga gak rela ninggalin baby-baby kita, mas masi pingin melakukan sesuatu hal bersama keluarga kecil kita.” Ucap Zeen dengan tulus dan kasih.
__ADS_1
“Kalo gitu janji ya mas jangan pernah ninggalin aku,” Yuna merangkul leher Zeen dengan kedua tangannya, ia menatap suaminya dengan tatapan serius.
Zeen yang sudah kepalang gemas itu, mulai mengecupi seluruh wajah Yuna, kemudian terakhir kecupan itu jatuh dibibir menggoda itu. Namun untuk beberapa detik kecupan itu berubah menjadi ******* yang menuntut namun masih dikatakan lembut.
Zeen melepaskan ciuman diantara mereka saat merasakan nafas Yuna yang terengah-engah. “Mas jadi pengen makan kamu,” bisik Zeen tepat ditelinga Yuna sambil sesekali menjilat telinga itu guna untuk menggoda sang wanitanya.
Yuna yang merasakan itu sedikit menjauhkan kepalanya. “Jangan mas geli tauk!” rengek Yuna namun tak didengarkan oleh Zeen. Zeen malah semakin gencar dan malah mengecupi diarea leher putih milik Yuna sehingga membuat Yuna semakin keresahan menahan gejolak panas yang ada pada dirinya.
“Ehem!”
Tiba-tiba suara deheman keras membuat mereka langsung menghentikan kegiatannya.
Keduanya pun saling menoleh kesamping dimana ada keluarganya yang saat itu sudah berada diruangan, dan tentu menyaksikan mereka yang tengah bermesraan.
“Sudah dulu mesra-mesraannya, ini dirumah sakit kalian bisa melakukannya ketika sudah dirumah.” Tegur Vina yang membuat kedua sepasang insan itu tersenyum kikuk.
“Ya begitulah tante, pasangan cabul tak tahu tempat!” celetuk Firo mendengus sebal, yang mana membuat Zeen melotot kearahnya namun ditanggapi pandangan acuh tak acuhnya dari Firo.
Vina hanya mengeleng saja mendengar itu. Lantas kemudian ia berjalan mendekati Zeen dan Yuna dengan raut yang serius.
“Yuna ....” panggil Vina.
“Iya mah,” Yuna mulai turun dari pangkuan itu walau rasa malu masih mendominasi pada dirinya.
Vina nampak ragu saat ingin melanjutkan ucapannya. Hal itu tak luput dari pandangan Zeen dan Yuna yang merasa bingung dibuatnya.
“Ada apa mah?” tanya Yuna yang sudah merasa penasaran.
Vina sejenak menghela nafasnya, lalu menatap menantunya dengan pandangan sendu.
“Mama dan Papamu sekarang sedang dirawat dirumah sakit ini Yuna, mereka berdua mengalami kecelakaan!” terang Vina yang seketika membuat Yuna syok dan hampir saja limbung jika saja tangan Zeen tak segera menangkapnya.
TBC.
Nah loh😆🤭 konfliknya segera dimulai ya guys🤫
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu komen disetiap chapter♡