Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 191


__ADS_3

...***...


Zeen dengan setia menemani istrinya yang masih saja memejamkan matanya, bahkan ia sampai meminta izin cuti kepada sang Papa hanya karena ingin terus berada disisi istrinya. Tentu saja sang Papa langsung menzinkannya dengan dalih harus mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk sebelumnya.


Zeen terus menatap lekat wajah istrinya, berharap jika kedua bola mata itu segera terbuka. Ia begitu sangat merindu dengan suara istrinya, dan sebutan 'Mas' dari istrinya saja ingin sekali ia dengar sekarang juga.


“Kapan kamu akan sadar sayang? Kamu butuh berapa lama lagi untuk menjadi putri tidur?” ucap Zeen yang sesekali mengelus rambut Yuna.


Saat Zeen tengah termenung, tiba-tiba suara pintu diketik dari luar.


“Masuk!” teriak Zeen langsung menolehkan kepalanya kearah pintu.


Terlihat dua orang perawat wanita masuk kedalam ruangan, dengan mengendong baby twin yang saat itu tengah rewel didalang gendogan. Pasalnya dua bayi yang masih kecil itu terus mengerak-gerakan tubuhnya dengan tangan kecil yang dilambai-lambaikan.


“Maaf dokter Zeen jika kita menganggu, kami terpaksa menuju kemari karena baby twin sulit sekali ditenangkan dokter! Entah karena apa, tapi kami sejak tadi sudah berusaha menenangkannya selama setengah jam lamanya!” jelas salah satu perawat wanita itu.


Zeen berjalan mendekat, dan menatap kedua putranya. “Apakah sudah diberi susu?” tanya Zeen.


Dua perawat itu saling mengangguk.


“Hemm,” Zeen nampak berfikir, “Apakah sudah diberi makan dan diganti popoknya?” tanyanya lagi.


“Sudah dokter! Kami sudah melaksanakan tugas itu semuanya! Kami juga sudah memandikan mereka sampai harum semerbak, bahkan para pengunjung pasien saja sampai terpangling dari baby twin yang sangking harumnya! Begitu juga ketanpanan baby twin yang sangat memikat dari para mata pengunjung. Bahkan mereka ingin menculik baby twin karena sangking lucunya!” jelas perawat itu dengan panjang lebar sampai membuat Zeen mengangga mendengarnya.


Saat sadar dari terkejutnya, Zeen segera menetralkan wajahnya dengan berdehem keras. “Saya tau jika gen saya sangat kental pada putra-putra saya. Kecuali mata mereka yang mirip dengan Mamanya!” ucap Zeen dengan penuh percaya diri.


“Oleh sebab itu, bagaimana kita berdua menenangkan baby-baby tampan ini dokter?” tanya perawat itu lagi.


Zeen tak langsung menanggapi, ia terdiam sejenak namun matanya terus menatap kedua putranya.


“Berikan kepada saya, biarkan saya yang akan menenagkan mereka! Mungkin mereka rindu pada daddynya yang tampan ini.” Ucap Zeen yang langsung mengambil kedua anaknya dari gendogan kedua perawat itu. Sehingga kini kedua lengan Zeen dijadikan tumpangan bagi kedua putranya. Bahkan Zeen tak merasa berat sama sekali saat mengendong dua bayi itu sekaligus.


Bahkan dua perawat wanita itu sama terpangling melihat aura ke daddy an Zeen yang sungguh terpancar ketika mengendong kedua anaknya. Bahkan banyak para wanita dirumah sakit itu menjuluki Zeen 'Si Hot daddy!' karena sejak sudah mempunyai anak. Zeen bukanya menua, tapi pria itu malah semakin tampan dan gagah dengan wajahnya yang sungguh sangat dewasa.


Dua perawat itu saling berbisik-bisik.


“Ya Tuha ... jika ada duplikatnya pasti langsung kujadikan suami ... benar-benar deh dokter Zeen! Idaman banget ....” pekik perawat itu meronta-ronta.

__ADS_1


Kemudian temannya ikut nibrung. “Benar banget! Apalagi kalo dijadiin baby sugarnya, pasti aku langsung mau bangetttt!”


Mereka terus terpekik-pekik, namun pekikan itu sedikit dibisik-bisikan.


Tapi semua itu tak ada gunanya, karena Zeen yang memiliki telinga tajam itu tentu mendengar suara bisik-bisik itu.


“Lebih baik kalian segera beranjak dari sini! Kalian lanjutkanlah tugas kalian yang lain,” ujar Zeen yang berniat mengusir kedua perawat itu yang sungguh membuatnya terganggu.


“Begitukah dokter? Tapi jika dokter membutuhkan kami berdua bagaimana dokter?”


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terlihat dibuka dan tampaklah kedua wanita paru baya namun masih terlihat awet muda itu masuk kedalam ruangan. Siapa lagi kalau bukan Vina, Eva dan Winda?


“Kalian tak perlu khawatir, karena masih ada yang menjaga kedua putraku nanti! Jadi kalian bisa pergi sekarang!” ucap Zeen dengan nada pengusiran.


Kedua perawat itu nampak melesukan wajahnya, mereka berdua benar-benar tak ingin beranjak dari ruangan itu.


“Yasudah dokter, kalau begitu kami pamit pergi dulu!”


Zeen mengangguk, “Ya ....”


“Oh ya tunggu sebentar!” Zeen menghentikan langkah kedua perawat itu.


“Ya dokter? Apakah kami tak jadi disuruh pergi?” tanya salah satu perawat itu dengan percaya diri.


“Tidak, saya hanya mau bilang jika keluar jangan lupa menutup kembali pintunya. Takutnya ada tuyul masuk nanti!” jawab Zeen dengan gamblangnya.


Hal itu tentu membuat kedua perawat wanita itu kembali melesukan wajahnya.


“Baik dokter! Kami permisi ....” ucap keduanya yang langsung keluar dan menutup pintu dengan rapat sesuai perintah Zeen.


Zeen nampak cekikikan saat berhasil mengusili kedua perawat itu. Dirinya sedikit ingin membalas dendam karena kedua perawat itu dengan mudahnya, menjadikan dirinya sebagai kehaluan yang hakiki.


“Susah memang kalo jadi tampan kayak aku ini,” gumam Zeen sambil menyugar rambutnya keatas dengan gaya sok coolnya.


Hal itu membuat ketiga wanita paru baya yang melihat kelakuan Zeen langsung mengelengkan kepala secara bersamaan.


“Anak kamu jeng ... ternyata usil banget ya,” celetuk Eva kepada Vina.

__ADS_1


Vina mendengus sejenak, “Memang bener-bener miri bapaknya tuh anak! Seandainya aku diberi keturunan lagi, aku ingin sekali memiliki anak perempuan! Tapi anday-andayku itu tak terjadi jadi aku hanya mengharapkan kepada cucu-cucuku kelak! Jika semoga cucuku ada yang perempuan. Tapi lagi-lagi harapan tingalah harapan aku malah diberi dua cucu laki-laki semua sekaligus!” curhat Vina menampakkan wajah sangat sedihnya.


Winda dan Eva langsung menenagkan Vina dengan mengelus punggung teman mereka.


“Sabar jeng, ini juga takdir kita yang mendapatkan dua cucu lelaki. Tapi walau mereka laki-laki menurut aku mereka cantik-cantik loh jeng ... wajahnya mirip seperti Yuna ....” celetuk Eva.


“Iya jeng Eva, bener banget aku juga berpendapat seperti itu loh ....” timpal Winda mengebu-gebu.


“Oh ya? Begitukah? Wah ... berarti kita sehati dong,” pekik Eva gembira.


Hal itu membuat Zeen yang melihat interaksi mereka lagi-lagi menghela nafasnya. “Ibu-ibu kalo sudah kumpul-kumpul pasti langsung bergosip,” gumamnya kemudian beralih kembali kepada dua putranya yang masih terlihat rewel didalam gendonganya.


“Anaknya daddy kenapa sih kok gak bisa diem? Minta ***** mommynya ya? Tapi sayangnya mommymu gak mau buka matanya sejak dua minggu yang lalu ....” menolog Zeen terus berbicara pada kedua anaknya.


Vina, Eva dan Winda yang mendengar gumaman itu langsung mendekati Zeen.


“Sabar ya sayang ... mungkin Yuna butuh istirahat dikit lagi, Sini! Biar Mama yang gendong anak kamu,” Vina menatap sendu putranya dan beralih ingin mengendong salah satu cucunya. Namun tiba-tiba saja Zeen langsung menolaknya.


“Gak papa Mah, biar Zeen yang menenagkan mereka. Zeen tau apa yang harus Zeen lakukan bair merek berdua bisa tenang.”


“Tapi Zeen ....”


Zeen mengabaikan panggil Mamanya, ia pun mendekati kasur milik istrinya dan kemudian ia meletakan kedua putranya didua sisi ranjang yang didekatkan dan dipepetkan disamping Yuna.


Kini kedua bayinya tengah menghimpit tubuh Mommynya dengan bayi pertama berada disisi kiri Yuna dan yang sisi kanan adalah bayi keduanya.


“Apa yang kamu sedang lakukan Zeen?” tanya Vina bingung dengan jalan pikiran putranya.


“Sstttt, Mama bisa lihat sendiri. Dua cucu Mama langsung diam saat berada didekat Mommnya ....” ucap Zeen terus menatap pergerakan kedua putranya.


Ketiga wanita paru baya itu lantas juga ikut mengarahkan pandangan mereka pada dua baby twin itu. Dimana mereka dapat melihat jika dua bayi laki-laki itu tengah bergerak-gerak mengerayai dua bukit penghasil asi milik Yuna. Nampak dua bayi itu ingin melepas baju Yuna namun tak bisa, sepertinya baby twin ingin meminum asi dari sumbernya langsung.


“Lihatlah cucu kita jeng! Cucu kita sudah sangat pintar, ini tak bisa dibiarkan! Aku harus mengambil momen ini biar tak melewatkanya!” pekik Vina kesenangan, dan langsung mengelurkan hp aipon terbarunya didalam tasnya.


Tanpa basa-basi lagi, Vina pun langsung mengambil foto sebanyak yang ia inginkan. Hal itu tentu ditiru oleh Winda dan Eva yang tak ingin kalah mengambil momen itu.


Maklum saja, mereka baru merasakan punya cucu sendiri. Jadi mereka bertiga begitu katrok saat mengambil momen-momen dua cucu mereka. Walau pengambilan momen mereka biasa tak tahu tempat.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2