Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 123


__ADS_3

...***...


Disepanjang pejalanan, Zeen terus saja tertawa. Bahkan Yuna yang melihat itu dibuat bingung. Pasalnya ia tak tahu apa yang ditertawai oleh pria itu.


Sedangkan Zeen yang sejak tadi mengingat kejadian beberapa menit yang lalu itu, dibuat kesenangan, dirinya seperti memenangkan sebuah undian yang membuat dirinya sungguh sangat bahagia. 'Entah kenapa aku senang sekali hari ini.' Bathin Zeen masih diselingi tawanya.


“Mas ....”


Zeen tak mendengar suara Yuna karena terlalu fokus pada pikirannya.


“Mas Zeen!” ucap Yuna sedikit kencang namun masih saja tak ditanggapi oleh pria itu. Ia pun memiliki inisiatif memukul lengan pria itu dengan sedikit kencang. Alhasil idenya itu langsung membuat Zeen terlonjak kaget dengan tangannya yang memegang dada bagian jantungnya.


Zeen menghembuskan nafasnya pelan-pelan, lalu melihat Yuna yang ada disampingnya, “Yuna ... kamu hampir membuat nyawaku melayang.” Zeen mencoba menahan kekesalannya. “Sepertinya kamu berbakat jadi seorang mafia.” Lanjutnya.


“Mas sendiri yang salah, bukanya menyahut pas aku panggil malah asik senyum-senyum sendiri. Emang mas lagi mikirin apa sih? Sampai ngelamun segitunya?”


Rasa kesal yang tadinya ada, kini berangsur-angsur hilang dan berganti dengan senyum manis dibibirnya. “Tadi mas sedang memikirkan sesuatu, gaya apa lagi ya? Saat kita bercinta dikasur nanti?” seloroh Zeen sambil mengerlingkan matanya pada Yuna.


“Astaga mas Zeen!” Yuna kembali menimpuk lengan Zeen dengan keras, bahkan lebih keras yang sebelumnya.


“Sudah mas, kita turun sekarang. Takutnya Mama, Papa dan nenek nungguin kita.” Ajak Yuna yang sebenarnya beralasan karena dirinya saat ini tengah menahan malu akibat ulah dari Zeen suaminya.

__ADS_1


“Loh? Kita udah nyampe?” beo Zeen melongo sekaligus terkejut, karena dirinya tak menyangka jika kendaraan yang ia tumpangi sudah masuk digaransi kediamannya.


“Kenapa begitu cepat sekali?” gumam Zeen yang sudah turun dari mobil itu.


Yuna yang melihat wajah cengoh dari Zeen hanya bisa menghela nafas panjang, “Karena mas sejak tadi asyik sama dunia sendiri. Sehingga istrinya sendiri pun diabaikan.” Timpal Yuna, lalu berjalan cepat masuk kedalam rumah dan meninggalkan Zeen yang masih belum hilang dari terkejutannya.


“Loh? Dia marah?” gumam Zeen bingung, lantas kemudian ia langsung berlari masuk dan menyusul Yuna yang sudah mendahuluinya.


🍂🍂


“Sayang kamu ngambek?” tanya Zeen setelah sampai diruang utama.


Yuna tak menjawab, ia masih terus melangkahkan kakinya tanpa berniat untuk menanggapi ucapan Zeen.


“Wah ... pengantin baru udah pulang dari bulan madu nih!” celetuk Vina yang saat ini berjalan kearah dua insan itu. Bahkan Vina tak sendiri, dirinya saat ini tengah bersama suami dan neneknya yang sudah duduk disalah satu kursi sofa disana.


“Apa kabar mas?” tanya Yuna, yang langsung berpelukan pada mertuanya ketika mertuanya itu lebih dulu memeluknya.


“Kabar baik sayang ... kalau kamu bagaimana? Aman-aman aja kan disana?” ucap Vina yang juga bertanya dan membawa Yuna untuk ikut bergabung duduk dikursi sofa, tepatnya diruang keluarga.


“Alhamdulillah ... baik mah,liburan di Bali segar banget!” jawab Yuna dengan gembira.

__ADS_1


Zeen yang sejak tadi masih berdiri ditempatnya itu merasa kesal. Bagaimana tak kesal jika keluarganya itu terang-terangan menganggapnya hanya manusia transparan. Terbukti jika Yuna saja yang diperhatikan sedangkan dia tidak.


“Kalian ini! Aku disini kok gak ditanyai? Aku ini keluarga kalian juga gak sih? Kok aku merasa terasingkan!” kesalnya sambil memajukan bibirnya beberapa senti.


“Hahaha, kan kemarin udah Papa bilangin. Kami itu sudah bosen lihat muka kamu Zeen, jadi itu sebabnya kami lebih perhatian dengan Yuna ... yang sudah kami anggap putri kita sendiri.” Jawab Albaret yang langsung meletakkan korannya dan menatap putra satu-satunya dengan tawa meledak.


“Dasar aki-aki menyebalkan,” gerutu Zeen dengan suara yang dikecilkan. Kemudian berjalan menghampiri mereka dan mendudukan bokongnya dikursi sofa, tepat disamping Yuna. Dan kini posisi Yuna tengah dihinpit oleh dua orang siapa lagi kalau bukan mertuanya dan putra mereka.


“Kamu mengumpati Papamu sendiri Zeen?” selidik Albaret dengan tatapan penuh ancaman.


“Siapa yang nyumpahin Papa? Yang ada Zeen selalu mendoakan Papa disetiap sholat agar rejeki Papa semakin lancar dan makin awet muda biar cewek-cewek pada nempel pada Papa,” ucap Zeen santai. Lalu menyeruput teh yang ada didepanya. Padahal teh itu milik neneknya.


“Wah ...! Kalau didoain seperti itu mah, Papa aminin langsung,” celetuk Albaret kesenangan, namun senangnya itu hilang ketika melihat wajah garang dari istrinya. Sedetik kemudian ia langsung tersadar jika ia sedang dikerjain oleh putranya sendiri.


“Zeen Albaret!” geram Albaret menatap tajam anaknya.


“Mas ...!! Apa kamu berniat untuk memiliki istri baru lagi? Hem?”


Gleg!


Albaret langsung meneguk ludahnya dengan kasar, ia begitu kalut melihat raut wajahnya istrinya seperti sedang ingin memakannya.

__ADS_1


Zeen yang melihat adegan itu, tentu dibuat kesenangan dan tanpa sadar ia terus tertawa terbahak-bahak. Merasa sangat senang saat mengusili Papanya berjalan dengan sukses.


TBC.


__ADS_2