
Laura kembali berjalan mendekat kearah Zeen, yang tengah terdiam dipintu ruangan itu. Ia pun kembali merangkul lengan Zeen dan menaruh kepalanya dipundak kokoh itu.
"Ada apa si, Zeen... Kenapa kamu mendorongku tadi..." Laura berkata lirih nan menggoda tepat didaun telinga Zeen.
"Laura... Sebaiknya kita bertemu nanti saja, aku masih ada pekerjaan ini. Jadi aku tak bisa menemanimu lebih lama..."
"Tapi kan Zeen, kita kan baru saja bertemu.... Kemarin malam kita tak bertemu, dan itu membuatku merindukanmu..." Laura berucap, tapi masih betah pada posisnya dengan bergelayut manja dilengan berotot itu.
"Selamat pagi dokter Zeen!"
Saat Zeen ingin menjawab ucapan dari Laura, ia dikejutkan dengan dua suster yang lewat didepannya, dan menyapa dirinya.
Zeen menangapinya dengan mengangukan kepala, tak lupa juga tersenyum.
"Itu pacarnya dokter Zeen? Gila cantik banget kayak model... Minder gue sebagai wanita."
"Bener, mereka berdua cocok banget. Kita yang remahan ini, mundur aja alon-alon." jawab suster itu terkikik geli.
Bisikan itu tentu dapat didengar oleh Laura dan Zeen. Zeen yang mendengar ucapan kedua suster itu hanya bisa mengusap kepalanya sambil menghela nafas panjang, sedangkan Laura berkebalikannya. Ia sungguh sangat senang jika sebagian dari pekerja dirumah sakit itu, sudah mengetahui hubungan antara dirinya dan juga Zeen. Bahkan orang-orang dirumah sakit besar itu, belum mengetahui jika dokter tampan itu sudah menikah, dan bahkan istrinya adalah asistennya sendiri.
Semakin senang pula, Laura memikirkan hal itu.
Zeen melirik jam tangan yang ia kenakan itu sudah menunjuk angkat sembilan lewat tiga puluh, yang artinya jam kerjanya sudah sangat lewat. Biasanya dijam delapan ia akan langsung menangani pasien, dan bahkan dijam itu pasti ia sudah dapat dua pasien sekaligus.
Tapi kali ini ia sungguh sangat terlambat, bahkan ia membiarkan Yuna menangani pasiennya sendiri.
Zeen mendesah sejenak, ia lalu melirik Laura. "Laura... Aku harus kerja sekarang, kamu bisa kembali keapartemen atau mau dimana itu terserah kamu. Soalnya aku sekarang tak bisa menemanimu, aku sungguh banyak jadwal cek up sekarang." jelas Zeen pada Laura.
Laura mempoutkan bibirnya, "Engak Zeen! Aku nunggu kamu disini aja, aku mau makan bareng sama kamu disini." kuekeh Laura.
Zeen pun menghela nafas panjang. "Yasudah suka-suka kamu aja, aku tau kamu pasti gak akan betah nungguin aku. Soalnya aku pasti selesainya sampai enam jam." jelas Zeen lagi.
"Aku pasti betah kok." santai Laura, lalu menyadarkan dirinya pada dinding ruangan itu.
"Yaudah kalau begitu, aku kerja sekarang..." pamitnya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Laura yang hanya tersenyum semirk melihat punggung Zeen yang telah menghilang dari pintu itu.
__ADS_1
Zeen berjalan dikoridor sambil mengelengkan kepala, "Aku tau kamu Laura... Kamu itu orangnya tak akan betah jika harus menunggu terlalu lama." ucap Zeen seolah sangat percaya diri.
🍂🍂
Jam sudah menunjuk 14:24 yang artinya jadwal mengecek kesehatan para pasien telah usai, kini Zeen dan juga Yuna tengah berjalan bersama tak lupa sebuah map agak ketebalan selalu ditangan mereka.
Kini koridor rumah sakit terlihat sangat ramai, karena para perawat, suster dan dokter-dokter, juga telah usai pada pekerjaan mereka dan diganti dengan jam istirahat, yang akan disambung kembali pada jam kerja mereka ketika usai istirahat.
Yuna dan Zeen saat ini tengah berjalan menuju ruangan mereka, Yuna yang bertujuan untuk meletakkan mapnya dan sekaligus mengambil bekal yang ia siapkan untuk ia makan. Sedangkan Zeen juga bertujuan untuk menyimpan berkas pentingn pada meja kerjanya itu.
Ketika berjalan berdampingan, keduanya saling diam. Tak ada yang memulai percakapan diantara mereka berdua.
Otak Zeen yang sejak tadi tengah memikirkan tentang, apakah Yuna melihat dirinya yang tengah bermesraan pada kekasihnya, atau Yuna belum sempat masuk kedalam ruangan. Itu terus yang menagnggu pikiran Zeen.
Seolah bibir Zeen ingin mengucapkan pertanyaan, namun terus ia urungkan kala ia terus menekan dirinya bahwa ia tak butuh asumsi dan jawaban dari Yuna. Bukankah dirinya merasa senang jika hal yang ia lakukan pada Laura diketahui oleh Yuna? Namun mengapa saat ini hatinya terus menyangkal? Bahkan ia yang dulu tak pernah seperti ini.
Mulut Zeen sudah sangat gatal ingin melontarkan sebuah pertanyaan.
Ia pun mengalihkan pandangannya pada Yuna yang saat itu mereka sudah sampai pada tujuan, dan pas juga Yuna tengah berhenti didepan ruangan itu untuk membuka pintu.
Namun entah mengapa Yuna tak merespon ucapan dari Zeen itu, Yuna bahkan terdiam ditempatnya. Namun pandangannya menatap lurus kedepan.
Zeen mengerutkan keningnya, "Ada apa-" ucapan Zeen terhenti kala ia juga mengalihkan pandangannya kedepan dan mendapati Laura yang sudah berada dikursi tempat ia kerja selama ini.
"Laura?" gumam Zeen, lalu mendekati Laura yang berada dimeja kerjanya tengah sibuk bermain ponsel.
"Laura, kenapa kamu masih ada disini?" tanya Zeen.
Laura mendongak ketika mendengar Zeen. "Aku kan sudah bilang padamu sayang... Jika aku akan menunggumu disini, untuk makan bersama." jawabnya, tak lupa tersenyum manis pada Zeen.
Zeen tercengoh mendengarnya, ia tak mengira jika ucapan Laura itu betul-betul serius. Dia kira, Laura akan pergi usai ia meninggalkan Laura selama enam jam, namun perkiraanya salah.
"Ehem,"
Suara deheman membuat Zeen tersadar dari lamunya, ia pun kembali mengalihkan pandangannya menatap Yuna yang bahkan dirinya sampai lupa untuk meneruskan pertanyaannya itu pada Yuna.
__ADS_1
Yuna tak menatap Zeen, ia hanya menundukkan kepalanya. "Kalau begitu saya permisi dulu dokter, saya akan sarapan dikantin bersama perawat lain." ucap Yuna langsung meninggalkan tempat itu, tanpa mendengar jawaban dari Zeen.
Zeen pun melongo ketika Yuna pergi begitu saja dengan membawa sebuah rantang ditangan gadis itu. Ia bahkan bertambah melongo ketika melihat Fadli yang berpapasan dan tersenyum pada Yuna ketika berada tepat didepan pintu ruangannya. Setelah itu Yuna benar-benar pergi meninggalkan tempat bersama dokter Fadli, yang sempat menyepa sejenak ketika mereka saling bertemu pandang.
"Kenapa sayang? Yuk kita makan sekarang, aku udah laper banget sambil nungguin kamu lama disini." ucap Laura dengan nada manja, bergelayut pada lengan Zeen.
Zeen menghela nafas, kemudian ia memijit pangkal kepalanya. "Yaudah kita makan disini aja ya..."
Laura kembali merengek. "Ngak mau Zeen, mending kita makan dikantin. Sekali-kali kita makan disana, selama ini kan kamu gak pernah ajak aku makan dikantin....."
"Tapi kan Laura..."
"Ayolah Zeen, sekali aja hemm?" Laura terus memohon dengan menunjukan wajah manisnya, yang membuat Zeen yang melihat menghela nafas kembali.
"Yasudah..."
"Gitu dong," Laura tampak senang ketika keinginannya dituruti.
Mereka berdua pun berjalan bersama keluar dari ruangan itu, dengan Laura yang terus mengandeng tangan Zeen hingga sampai kekantin. Bahkan orang-orang yang melihat mereka pun saling berbisik-bisik membicarakan mereka.
"Kita duduk aja disini ya?" ajak Laura, ketika ia menemukan bangku kosong tepat disamping bangku dimana Yuna dan Fadli berada.
Fadli dan Yuna tengah makan berdua, tak ada orang lain yang bergabung pada mereka.
Zeen pun baru sadar jika bangkunya dan bangku Yuna saling bersisihan, pandangannya dan pandangan Yuna pun sempat bertubrukan saat Yuna yang lebih dulu memutuskan kontak, pandangannya itu.
"Dokter Zeen!" sapa Fadli dengan sopan, dan dijawab anggukan oleh Zeen.
Zeen kembali menatap Yuna yang tengah fokus pada makannya, namun yang ia herankan. Makanan yang Yuna makan itu bukanlah sebuah kotak bekal yang sempat ia lihat, ia bertanya-tanya kemana kota itu pergi?
Barulah ia sadar, jika kota bekal yang ia yakini milik gadis itu, ternyata tengah berada tepat didepan Fadli. Dan untuk kedua kalinya, ia melihat jika Fadli yang memakan bekal yang Yuna bawa.
'Apa dia sengaja membawa bekal, hanya untuk diberikan pada pria itu?' batin Zeen, yang merasa hatinya sedikit kesal.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa Vomen🐸 Vote and Komen🤞