
...***...
Tak mau terlalu terbawa arus kekesalan, Yuna pun lebih memilih berdiri dari duduknya dan berjalan menuju lemari tanpa mengatakan sepatah kata pun untuk Zeen.
Setelah selesai mengambil sepasang baju untuknya, Yuna pun kembali melangkahkan kakinya, namun saat mendengar suara teriakan Zeen dirinya refleks menghentikan langkahnya itu.
“Kamu mau kemana sayang?” teriak Zeen, begitu bingung dengan gerak-gerik Yuna.
“Mandi ....” setelah mengucapkan itu, Yuna pun kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.
“Apa? Mandi?” gumam Zeen terdiam sejenak, dan ketika tersadar ia langsung berlari berniat untuk menyusul Yuna yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar mandi.
“Yuna ... tunggu suami gantengmu ini!” pekik Zeen berlari. Namun saat dirinya menerjang pintu itu, tiba-tiba ia langsung oleng kebelakang dan terjatuh naas diatas lantai.
“Aww! Pintunya dikunci?” gumam Zeen melongo, tak lupa ia terus memegangi pantatnya yang kembali merasa nyeri, dan itu sudah kedua kalinya.
Zeen langsung berdiri dari duduknya dan berjalan kembali menuju pintu itu. Ia pun langsung mengedor-gedor pintu itu dengan keras, “Sayang ... buka pintunya!! Kenapa dikunci? Mas kan gak bisa masuk jadinya ....” terikat Zeen yang terus memukul pintu itu dengan keras.
“Nanti ya mas! Tunggu Yuna selesai mandi,” jawab Yuna dari dalam kamar mandi yang juga ikut berteriak.
“Apa?! Lama dong sayang ... aku kan juga ingin ikut mandi bersamamu, sayang? Sayang ...?” Zeen kembali mengetuk-ngetuk pintu itu ketika tak ada jawaban dari dalam.
“Sayang ...!! Kenapa gak dibukain?!” teriak Zeen lagi, namun Yuna lagi-lagi tak menjawab teriakan itu.
Zeen pun langsung menghela nafas kasar, ia kemudian mengusar rambutnya sampai mengacak-acak nya.
__ADS_1
“Ampun dah! Aku sudah membayangkan jika kita akan bercinta didalam bak mandi. Tapi dia malah mengunci pintunya, hahh ....” Zeen kembali menghela nafas kasar namun helaan nafas itu terdengar sangat panjang menandakan jika ia sedang frustrasi. Sebab miliknya saat ini sudah sangat tegang akibat dirinya yang terlalu membayangkan jika ia dan Yuna akan bermain kembali disebuah bak mandi.
Namun hayalannya itu tak kesampain, saat Yuna lebih dulu menutup pintu kamar mandi itu dengan menguncinya dari dalam.
“Sial!” Zeen mengumpat, sambil menghempaskan bokongnya disalah satu sofa disana. “Milikku sudah menegang seperti ini padahal.” Zeen menatap kepunyaanya yang sudah berdiri dengan tegak, bahkan miliknya itu begitu terpampang nyata karena dirinya yang tak mengenakan penutup apapun.
Tiba-tiba Zeen tersenyum menyeriga, saat wajah yang tadinya ia tekuk kini berubah menjadi wajah yang penuh arti.
“Baiklah ... aku akan membuatnya kembali lemas dalam kekuasaan ku. Tunggu saja hukumanmu Yuna ....” Zeen kembali tersenyum semirk, saat didalam pikirannya sudah tersusun sebuah rencana menyenakang dan yang pasti, hanya dirinya yang tau.
🍂🍂
Selama lima belas menit lamanya, barulah Yuna menyelesaikan ritualnya didalam kamar mandi. Ia sengaja berlama-lama didalam agar dirinya berharap jika Zeen akan bosan dikasur dan memilih untuk tidur, itulah yang diharap-harapkan oleh Yuna saat ini.
Bukan tanpa alasan Yuna mengharap itu, ia memiliki alasan jika ia tak mau bergumul diatas kasur yang menyebabkan dirinya lemas tak berdaya. Sebenarnya Yuna mau saja melayani suaminya, namun jika suaminya memiliki hasrat yang tinggi seperti itu. Yuna rasanya benar-benar tak kuat untuk mengimbanginya.
Yuna mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, namun yang ia dapatkan ialah tidak adanya Zeen dikasur mau diseluruh ruangan itu.
“Dimana mas Zeen?” gumam Yuna bertanya-tanya.
“Kenapa tak ada dikamar?” gumamnya lagi, kemudian ia melangkah keluar dari kamar mandi itu untuk mencari sosok Zeen yang membuatnya kebingungan.
Yuna terus menolehkan kepalanya kesana kemari, namun yang ia dapatkan lagi-lagi tak menemukan sosok itu.
“Dimana ma–”
“Cari siapa baby?”
__ADS_1
Sebuah suara dari arah belakangnya, sungguh membuat Yona terlonjak kaget. Hingga membuat ia refleks memegangi da-da nya yang terasa berdegup sangat kencang.
“Mas ...!!” pekik Yuna menghela nafas panjang, sambil menatap Zeen yang ada didepanya dengan tatapan tajam.
“Kenapa sampe kaget kayak gitu? Emang aku hantu?” tanya Zeen dengan kening yang dikerutkan.
“Tentu saja aku kaget! Mas aja muncul tiba-tiba dari belakang. Untung jantunku tak copot dari tempatnya!” gerutu Yuna kesal melihat tampang Zeen yang tak merasa bersalah sama sekali.
Zeen yang mendengar gerutuan itu, tak bisa menahan kekehannya, ia pun sedikit mengeluarkan tawanya namun tak terlalu keras disaat Yuna tak sedang melihat kearahnya.
“Kamu sedang mencariku, hemm?” Zeen mencoba mengalihkan tawanya dengan memberikan pertanyaan pada Yuna. Ia pun berjalan mendekat pada wanitanya dengan ekspresi datar.
Yuna yang mendapat tatapan itu, refleks memundurkan dirinya, sehingga dirinya menabrak kasur yang ada dibelakangnya. Lalu terduduk dikasur itu saat Zeen makin mendekat kearahnya.
“Ma-mas?” Yuna kembali merasa gugup, apalagi ditata begitu dalam oleh Zeen.
“Kamu tadi meninggalkanku saat kamu masuk kedalam kamar mandi. Padahal aku juga ingin ikut bersamamu.” Zeen berkata sambil memegang kedua bahu Yuna.
“Kan biar cepat mas ....”
“Aku tak ingin alasan lagi. Karena kamu sudah meninggalkan ku ... maka aku akan menghukumu sebagai balasannya.”
“Hukuman?” tampak Yuna mengerutkan keningnya bingung.
“Ya ... sayang ....” Zeen kembali tersenyum miring. Tak lupa mengelus dagu wanitanya dengan lembut, karena ia ingin melihat, wajah ketakutan yang sangat mengemaskan dari istrinya itu.
TBC.
__ADS_1