
Sejenak, wanita tua itu menghela nafasnya. Setelah itu ia menatap Vina sang menantu. "Baiklah, aku akui! Jika menantumu pandai memasak, dan aku pun suka itu." jelas Rima, yang langsung membuat Vina tersenyum senang. Menatap Yuna, menantunya.
Yuna pun membalas senyuman itu.
"Tapi nek, kita kan tak tahu. Bagaimana dengan rasanya? Siapa tau, tampilan diluarnya saja yang bagus. Trus saat dimakan, tak sesuai dengan tampilan." Firo berucap, sambil melirik Yuna dengan tatapan meremeh.
"Iya, aku tau itu. Kalau begitu kita cicipi makanannya, apakah tampilan yang mewah ini bisa memanjakan lidah, sesuai dengan ucapan Yuna." Rima, mulai menyendokan makanan itu dan memasukanya didalam mulutnya.
Rima masih terdiam, sambil sesekali mencicipi dari satu per satu makanan dimeja itu. Ia mengunyahnya dalam diam, tak ada raut yang ia perlihatkan. Membuat para manusia yang ada disana menatapnya dengan tatapan menanti.
Rima meletakkan sendoknya dipiringnya itu, kemudian ia menatap Yuna yang ada disampingnya.
"Apakah kau ini.... Mantan seorang chef?" tanya Rima kepada Yuna.
Semua orang dibuat melongo, saat mendengar ucapan dari Rima itu.
Yuna pun langsung tersenyum. "Saya saja tak pernah bekerja sebagai chef, bagaimana mungkin nenek menanyakan saya sebagai mantan seorang chef?" jawab Yuna, dengan senyuman yang masih terbit dibibirnya.
"Hemm, lantas. Kenapa masakanmu ini sangat enak, dan sama persis dengan makanan yang dibuat oleh, chef dikediamanku?"
Firo yang mendengar ucapan neneknya itu, langsung dibuat melotot. Ia pun langsung memakan masakan yang dibuat oleh Yuna, dan ingin membuktikan apakah ucapan dari neneknya itu benar adanya, atau lidah neneknya yang tengah bermasalah.
Firo pun mengunyah makanan itu, dan memang benar adanya. Ternyata lidahnya langsung dibuat cocok ketika memakan makanan itu, padahal dirinya termasuk orang yang suka pilih-pilih makanan.
"Ini tidak benar. Mana mungkin bisa begini?" gumamnya masih belum percaya.
__ADS_1
Zeen yang melihat itu, dibuat tersenyum miring. Ia lalu menatap wajah polos Yuna. 'Sebenarnya, gadis ini berasal dari mana? Kenapa orang yang baru bertemu dengannya, langsung dibuat kagum olehnya? Aku memang mengakui, jika aku sempat terjetar oleh pesonanya. Tapi... Yang membuatku heran, nenekku sendiri yang susah ditaklukan itu. Langsung dibuat diam olehnya?' Zeen terus menerka-nerka didalam hatinya.
'Sebenarnya, kau itu berasa dari mana Yuna? Apa kau memiliki kekuatan super, dari seorang dewi?'
Zeen hanya mampu bertanya dalam hatinya, dan tak mampu melontarkan pertanyaan didepan gadis desa itu. Hatinya pun, entah mengapa selalu dibuat gundah.
Yuna kembali tersenyum, saat mendengar lontaran pertanyaan dari wanita tua itu. "Saya sudah sempat bilang pada nenek, jika saya akan membuat lidah nenek dimanjakan oleh masakan yang saya buat. Dan sepertinya saya memang berhasil, bukankah begitu?"
"Hemm," Rima memejamkan matanya sambil tersenyum tipis. "Albaret putraku, sepertinya kau memang tak salah memilih menantu."
Ucapan itu, tentu membuat kedua orangtua Zeen langsung berpandangan. Mereka pun langsung tersenyum senang, dan memberikan acungan jempol pada Yuna. Yuka yang melihat, hanya bisa terkekeh sambil mengelengkan kepalanya.
"Ekhem, tentu saja mah... Aku tak akan pernah salah memilih menantu. Menantuku ini memang sangat hebat." ucap Albaret, dengan penuh percaya diri.
Rima mengeleng saja, "Ya, ya, ya... Terserah apa kata kamu saja, aku akan melanjutkan makanku. Masakan menantumu, benar-benar membuatku kangen dengan masakan dari desa. Aku jadi mengenangnya sekarang." wanita tua itu, langsung melahap kembali makan yang dibuat oleh Yuna. Yuna yang melihat itu, akhirnya bisa bernafas lega, dan tak mengecewakan mama mertuanya sesuai yang ia bilang tadi.
"Iya Yuna, ayo makan jangan berdiri saja disana." timpal Albaret.
Yuna masih diam, dan malah melirikan matanya kepada Rima yang sibuk pada makanannya.
Rima menghentikan sendoknya sejenak, "Kau ikutilah makan.... Jangan berdiri saja disitu. Jangan membuatku merasa tak nyaman, melihatmu disana." ucapnya.
Yuna pun langsung tersenyum cerah, kemudian matanya menatap sang mertua yang juga tengah menatapnya dengan tatapan hangat, kemudian memberikan angukan kepala kepada Yuna.
Yuna pun langsung menagguk membalas, setelah itu ia berjalan kesalahan satu kursi kosong disana dan mendudukinya. Yuna terdiam sejenak, dan melirikan matanya menatap Zeen yang duduk bersebelahan, dengan papa mertuanya. Yuna dapat melihat, jika Zeen juga menikmati masakannya, lagi-lagi hal itu membuatnya tersenyum senang. Dan mulai mengambil piring untuk ikut makan, bersama mereka.
__ADS_1
'Alhamdulillah... Nikmat mana lagi, yang engkau dustakan.' gumam Yuna dalam hati, dan sesekali terkekeh pelan.
Setelah acara makan itu usai, mereka kemudian memilih untuk istirahat dikamar. Sedangkan Yuna, memilih untuk membereskan semua piring dibantu oleh bi Mina dan juga mertuanya.
"Mamah... Mama istirahat aja, biar semua ini. Yuna yang bereskan." ucap Yuna pada mertuanya.
"Gak papa Yun... Mama juga mau ikut bantu, kamu kan tadi udah susah-susah masak sendiri. Jadi mama bantu biar kamu gak tambah capek." jawab Vina.
Yuna seketika menghentikan dirinya, saat tengah mencuci piring. "Mamah... Dengerin Yuna ya? Mama istirahat aja, mama juga pasti capek. Disini Yuna juga dibantu sama bi Mina." keukeh Yuna.
"Tapi kan Yun..."
"Mah..." Yuna menatap mertuanya, sambil berkecang pingangg.
Bi Mina yang melihat perdebatan antara menantu dan mertua itu, tersenyum. "Iya nyonya... Bener apa kata non Yuna, nyonya istirahat aja."
Vina menghela nafas seketika. "Yaudah deh, mama kalah. Mama nyerah, mama akan istirahat sekarang." kata Vina, menatap menantunya dengan gelengan kepala.
"Nah, gitu dong..." seru Yuna tersenyum senang.
"Dasar kamu, yaudah, mama tinggal ya? Kamu kalo udah selesai cuci piringnya, langsung kekamar dan istirahat ya."
"Siap nyonya!" jawab Yuna, dengan satu tangan yang dibuat hormat.
Vina hanya bisa mengelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian ia berjalan meninggalkan dapur itu untuk masuk kekamarnya karena Yuna menyuruhnya untuk istirahat.
__ADS_1
TBC.