Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 79


__ADS_3

“Kalau begitu, Zeen susul Yuna ya mah ... jika nenek sudah sadar tolong beritahu Zeen,” ucap Zeen.


Vina mengangguk tersenyum, “Iya sayang kamu tenang aja. Gak usah khawatirin itu dulu. Ada Mama disini yang jaga nenek kamu ... sekarang kamu hanya perlu fokus pada Yuna! Susul dia, ajak Yuna kembali ... tebus semua kesalahanmu pada istrimu.” tuturnya sambil mengelus bahu Zeen.


“Iya Mah ... itu pasti,” jawab Zeen dengan semangatnya.


“Kalau begitu Zeen pergi sekarang,”


“Tunggu Dulu Zeen!” teriak Vina.


Zeen membalikkan tubuhnya, “Iya Mah? Ada apa?” tanya Zeen dengan kening berkerut.


“Ingat kata-kata Mama ini, jika kamu belum berhasil membawa Yuna kembali, maka kamu tak boleh kembali kerumah. Ingat itu! Bawa mantu Mama kembali!” ucap Vina dengan penuh ketegasan.


Zeen melihat Mamanya sambil mengulum senyum, “Baiklah mah ... Zeen akan berjuang, jika memang Yuna menolak kembali pada Zeen.” jawabnya percaya diri.


“Harus itu! Yasudah, cepat pergi sana ... Mama mengusirmu, hus! Hus! Hus!” Vina mengibas-ngibaskan tangannya, layaknya seseorang yang sedang mengusir ayam.


Zeen memberengutkan bibirnya, “Dasar! Mamanya siapa sih itu,” gumam Zeen yang sudah berjalan menjauh dari Mamanya.


Sekelebat bayangan wajah Yuna, muncul dikepalanya. Tanpa sadar ia tersenyum, “Tunggu aku Yuna ....”


🍂🍂


Disisi lain, Saat ini Laura dan Lena tengah berada dikantor polisi. Mereka berdua duduk bersebelahan, namun tak ada percakapan lagi diantara mereka.


Lena yang sejak tadi menggigit kuku tangannya sambil mengoyang-goyangkan kakinya, sedangkan Laura hanya diam tenang seperti tak terjadi masalah pada dirinya.


Brak!!


Tiba-tiba Laura mengebrak meja yang ada didepannya, untung saja tak ada polisi disana. Jika ada mungkin dia sudah kena marahan. “Diamlah nenek tua! Kau membuatku tambah pusing saja!” benak Laura dengan emosi yang sudah memuncak.


“Apa kau bilang? Nenek tua? Hei! Dimana sifat sopanmu itu? Biasanya kau juga bermanis-manis padaku, apa kau sekarang begini gara-gara Zeen memutuskanmu? Hah?” teriak Lena. Tak kalah emosinya.


“Ya!! Sejak awal aku hanya berpura-pura bersikap manis didepanmu! Jika saja kau tak membuat Zeen putus dariku. Pasti aku masih bermain sandiwaran didepanmu.” Tekan Laura dengan wajah jengah.


Urat-urat yang berada dileher Lena tiba-tiba saja keluar, kepalan yang ada pada tangannya semakin menguat.


“Dasar kau wanita jal*ng!”


Hampir saja Lena menjambak rambut Laura, tiba-tiba saja seorang berbaju jas masuk kedalam ruangan itu.


“Ada apa ini? Kenapa kalian malah buat ribut diruangan saya?”


Polisi itu berjalan mendekat kearah meja, setelah sampai ia langsung mendudukan dirinya tepat didepan dua wanita itu. “Ibu! Silahkan duduk kembali!” titahnya, pada Lena yang masih saja berdiri ditempatnya.

__ADS_1


Lena tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia yang tak jadi menjambak rambut Laura menjadi kesal, terlihat sekali dengan wajah yang menahan emosi.


“Ibu ... apakah anda hanya akan berdiri disana? Jika memang iya, Yasudah terserah anda.” ucapnya sambil menggelengkan kepal.


“Iya, iya pak! Saya juga mau duduk ini!” ketus Lena dengan wajah malasnya.


Polisi itu kembali menghela nafas sambil menggeleng.


“Yasudah! Langsung saja pada intinya,” menjeda perkataannya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Laura. “Saudara Laura. Anda bisa keluar ruangan sekarang. Anda bebas karena ada yang menembus anda! Tapi ... jika hal ini terjadi kembali, maka saya tak akan membebaskan anda. Ingat itu saudara Laura ....” jelas polisi itu.


Laura tak menanggapi, ia hanya memutar bola matanya malas. “Ya, ya, ya. Terserah apa yang anda katakan. Saya boleh keluar sekarang kan?”


“Ya! Silahkan, anda boleh keluar sekarang.”


Laura berdiri dari duduknya, kemudian mengibas-ngibaskan tangannya. “Thanks pak polisi, dada nenek lampir ....” tak lupa ia memberikan senyum meremeh pada Lena.


Lena semakin terbakar emosi, ia kembali mengepalkan tangannya dengan erat.


“Pak! Kenapa hanya dia saja yang keluar? Saya bagaimana?” tanya Lena, mengebu-gebu.


“Maaf bu ... tidak ada keluarga anda yang datang kesini untuk menembus anda! Jadi ... sepertinya anda harus tinggal disini.”


“Dibalik jeruji?” tanya Lena.


“Yap! Anda betul sekali.”


“Tapi pak!! Saya juga mau keluar! Saya tak mau menginap disini.” Teriak Lena mengema.


“Tapi bu ... semua itu sudah sesuai prosedur kantor ini! Jika ada kejahatan. Maka sangsinya anda harus dihukum, dengan dipenjara selama bertahun-tahun.”


“Apa? Bertahun-tahun?! Bukan sehari? Tapi tahunan?” pelik Lena dengan wajah syoknya.


Pria berseragam itu mengelus telinganya yang terasa berdenggung, “Haduh ... ibu ini suka sekali berteriak ya? Ibu sepertinya cocok sekali menjadi penonton sepak bola, beuh ... pasti suara ibu yang paling mengema diantara penonton.” ucapnya bercanda.


Brak!!!


Tiba-tiba Lena mengebrak meja itu sambil berdiri, “Saya tak mau jadi penonton pak polisi!! Saya ini cocoknya jadi Miss model internasional!” pekik Lena lagi, tak terima.


“Hahhh ....”


Polisi itu menghela nafas lelah, lalu mengambil telepon yang ada dimejanya.


“Sandi! Bisakah kamu kesini, secepatnya ya!” ucapnya, setelah itu meletakkan teleponnya kembali.


Beberapa detik pintu ruangan itu kembali terbuka, dan memperlihatkan sosok berseragam yang sama dengan pria yang sedang duduk tenang dihadapan Lena.

__ADS_1


“Selamat siang pak!”


“Siang ....”


“Apa ada hal penting yang bisa saya bantu pak?” tanya pria itu, yang tak lain adalah Sandi.


“Iya Sandi. Tolong bawa ibu ini keluar dari ruangan saya, dan bawa dia kedalam sel penjara.” jelasnya.


Sandi menunduk hormat, “Baik pak! Laksanakan.”


“Mari bu ... ikut saya keluar.”


Lena memberontak kala tangannya dicekal oleh Sandi, polisi muda itu.


“Apa! Apa yang kau lakukan? Kau mau membawaku kemana? Hah?”


Sandi tak menjawab, ia dengan ketegasannya menyeret Lena keluar dari ruangan itu.


“Hei!! Jangan masukan aku kepenjara!!” teriak Lena lagi.


Polisi yang sebagai pimpinan itu, mengeleng. “Ibu-ibu cerewet memang selalu bikin pusing.”


🍂🍂


Saat ini mobil Zeen telah terparkir digaransi kediamannya sendiri. Ia mulai mencari keberadaan Yuna mulai dari rumahnya, ia berharap-harap jika Yuna ada didalam rumah dan tidak pergi kemanapun.


Klek!! Pintu rumah ia buka, dan langsung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Dari mulai ruang tengah, dapur, hingga kedasar kolam berenang dan taman rumahnya.


Namun dari tempat-tempat itu, ia tak menemukan sosok yang ia cari. Ia pun mulai mencari lagi dari ruangan terakhir, yaitu kamarnya.


Ia menampaki anak tangga berharap-harap lagi, jika Yuna ada didalam kamarnya. “Semoga kamu ada didalam ....” gumam Zeen penuh harap.


Namun ternyata harapannya pupus, saat melihat kamarnya yang kosong tak ada sosok Yuna didalamnya.


Ia pun langsung menuju kamar mandi yang ternyata pintu itu tak terkunci, ia pun kembali mendesah kasar ketika melihat kamar mandi yang juga kosong.


“Kemana kamu Yuna ... aku bahkan tak tahu harus menghubungi siapa? Kau bahkan tak pernah menampakkan dirimu bersama seorang teman,” gumam Zeen frustrasi.


Zeen teringat sesuatu, ia pun melangkahkan kakinya menuju Lemari. Berdoa penuh harapan, jika isi lemari itu tak akan kosong seperti ruangan yang kosong tak ada sosok Yuna.


“Semoga! Semoga! Semoga ....!”


Zeen membuka pelan-pelan lemari itu dengan penuh kehati-hatian, matanya yang terpejam, ia sipitkan sedikit dan melihat isi lemari itu.


“Hahhhh ....” Zeen menghela nafas dengan penuh hayatan, “Syukurlah, bajunya masih ada disini. Itu berarti Yuna tak berniat untuk meninggalkan rumah ini.” Ucap Zeen dengan penuh rasa kelegaan.

__ADS_1


“Baiklah! Aku akan melanjutkan mencari gadis itu! Aku tak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya Yuna. Aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya.” Ujarnya, dengan perasaan yang mengebu-gebu.


TBC.


__ADS_2