
...***...
“Baru pulang mas?” tanya Yuna yang melihat keberadaan suaminya, ia pun langsung bergegas menuju suaminya berniat untuk mengambil tas kerja yang ada pada tangan Zeen itu.
Zeen seketika melongo, ia begitu dibuat keringatan setengah mati ketika melihat tubuh molek Yuna yang sangat jelas ketika wanita itu tengah berjalan kearahnya.
Zeen refleks memundurkan tubuhnya sedikit, “Eh? Kenapa mendekat?” tanya Zeen gugup.
Yuna menghentikan jalannya, lantas mengerutkan keningnya binggung. “Maksudnya mas?” tanya Yuna.
“Maksudnya, kenapa kamu berjalan mendekatiku?” jawab Zeen dengan wajah cengoh terlihat seperti seorang pria bodoh.
“Hah?” Yuna pun semakin dibuat kebingungan. “Aku mendekati mas karena mau salim mas? Sama ambil tas kerja mas itu?” jelas Yuna dengan wajah penuh tanda tanya.
Zeen seketika tersadar, ia pun langsung menepuk keningnya karena menyadari tingkah bodohnya itu. “Astaga! Maaf ya sayang, nih salim.” Ucap Zeen meminta maaf sekaligus mengulurkan tangan kanannya pada Yuna.
Yuna yang masih terbingung-bingung itu menerima uluran tangan Zeen, kemudian mengecup singkat telapak tangan sang suami.
“Assalamualaikum bu istri.” Ucap Zeen.
“Waalaikum salam pak suami.” Jawab Yuna tersenyum kecil lantas kemudian ia mengambil tas kerja yang ada ditangan Zeen. Lalu membawa tas itu untuk ditaruh didalam lemari.
“Mas kenapa kok tadi kayak gitu?” tanya Yuna yang masih berada dilemari berniat untuk berganti baju.
“Kayak gitu gimana?” ucap Zeen bertanya balik.
“Itu tadi, kayak orang linglung didekati istrinya kok malah bertanya?”
Zeen membeku ditempat, lantas mendekati sang istri kemudian memeluk istrinya itu dari belakang.
Yuna yang mendapati serangan dadakan itu memilih diam tak jadi mengganti bajunya.
“Aku tadi kaget sayang liat kamu pake handuk doang, itu sebabnya aku tanpa sadar mengucapkan kata itu.” Jelas Zeen sambil mengendus-endus leher Yuna yang sangat wangi karena habis mandi.
Yuna sedikit kegelian mendapati endusan itu. “Kenapa kok bisa kaget mas? Emang mas kira aku ini hantu?” seloroh Yuna sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap mata Zeen.
Zeen mengeleng langsung mendengar ucapan itu. “Engak lah sayang. Mana ada istilah hantu cantik nyasar kekamar suamimu? Hem?” ucap Zeen menggoda istrinya.
“Trus? Apa alasannya kok bisa kaget?” tanya Yuna lagi mengabaikan godaan dari Zeen.
__ADS_1
Zeen seketika menghela nafas, lalu membawa istrinya kekasur dan langsung mendudukan dirinya dan juga Yuna dikasur itu. Bedanya Yuna saat ini duduk diatas pahanya.
“Aku kaget karena gak bisa menahan diri pas lihat kamu cuman pake handuk sayang ....” jelas Zeen dengan nada merengek dan juga semakin mendekap pingang istrinya sehingga Yuna masuk kedalam pelukannya.
“Hah? Menahan diri?” beo Yuna.
Zeen langsung mengangguk, “Iya sayang. Suamimu ini gak bisa menahan diri ketika melihat istri cantiknya yang sangat **** saat habis mandi. Apalagi kalau tanpa busana, uhhhh! Makin mantep mah itu.” Celetuk Zeen ngasal. Sambil tersenyum kegirangan.
Namun senyuman itu langsung diganti dengan sebuah ringisan dibibir tipis Zeen, ketika pria tampan itu merasakan sebuah cubitan kecil dipingangnya.
“Yaampun sayang ... sejak kamu hamil, hobi kamu sekarang suka nyubitin aku ya?” ucap Zeen menahan kesalnya sambil mengelus pinggangnya yang masih terasa panas dan sedap.
“Itu baru mantep mas! Udah mau jadi bapak kok ngomongnya ngawur gitu?” Yuna seketika berdiri dari duduknya dan menatap tajam Zeen sambil berkecak pinggang.
“Ngawur gimana sih sayang? Kan malah bagus kan? Kalau kita berbicara romantis dengan pasangan kita sendiri?” pungkas Zeen dengan raut wajah tanda tanya.
“Mana ada yang namanya romantis kalo bicaranya mesum gitu?” sarkas Yuna masih menatap tajam suaminya.
Mendengar kata 'Mesum' yang keluar dari bibir sang istri, Zeen langsung menyunggingkan senyumnya.
“Malah senyum-senyum?” sungut Yuna merasa heran.
“Mas ... kaget tauk ....” rengek Yuna mengerucutkan bibirnya sambil menatap kesal suaminya itu.
“Utu tu tu tut ... kaget ya sayang? Hem?” dengan rasa gemas Zeen langsung menempelkan pipi kirinya pada pipi kanan milik Yuna, kebetulan pipi yang semula agak tirus itu sekarang menjadi tembam. Entah mungkin karena hormon nafsuh makan Yuna yang semakin bertambah dan hal itu pasti disebabkan oleh baby twin mereka yang masih berada didalam kandungan.
“Mas ... jangan gitu ... aku gerah ini pengen pakai baju, nanti kalau masuk angin gimana?”
“Oh? Yaudah sinih mas pakein bajunya,” tanpa mendengar jawaban dari Yuna, Zeen pun langsung mengambil baju yang tadi dipegang oleh Yuna dan kemudian ia memakaikan baju itu pada sang istri. Zeen pun kemudian dibuat tersenyum kembali saat melihat wajah imut dari sang istri yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kesal.
“Sebenarnya mas lebih suka kalau kamu gak pake baju ....” bisik Zeen terdengar sangat menggoda.
Plak!
Yuna kali ini mengeplak tangan Zeen dengan sedikit keras.
“Tuh kan? Habis cubit, sekarang mukul ...? Lama-lama aku laporan sama pak RT kalau istriku ini sedang melakukan tindakan Kdrt.” Ucap Zeen sambil mengeleus tangannya.
“Hilih, gitu aja pake ngelapor, orang gak sakit kayak gitu. Kalo sakit kan mas tinggal obati sendiri. Kebetulan mas kan seorang dokter terkenal.” Sungut Yuna mengebu-gebu.
__ADS_1
Zeen mencubit pelan bibir Yuna, kemudian ia mengecupnya sejenak. “Ihhh, pinter banget deh ngomongnya. Rasanya mas mu ini gak bisa nahan lagi pengen makan kamu.” Ujar Zeen sambil mengecupi seluruh wajah Yuna.
“Enak aja mas. Gak boleh main makan aja, soalnya tadi aku baca artikel, kalau berhubungan intim disaat istri masih hamil muda itu gak boleh ... katanya mengandung resiko ....” jelas Yuna dengan bijaknya. Sehingga membuat Zeen menghentikan aksinya.
Wajah Zeen pun kembali murung, “Tadi aku udah denger soal itu dari teman kerja mas dan buat mas jadi lesu. Sekarang mas denger kata itu lagi dari kamu? Makin lemas lah mas mu ini ....” ujar Zeen dengan nada frustrasi sekaligus wajah memelas yang mendominasi.
Yuna yang mendengar itu dibuat tertawa cekikikan, hingga sampai membuatnya memegangi perutnya karena merasakan nyeri pada perutnya itu.
“Aduh, aduh mas ... hahaha, kamu ini bikin aku sakit perut aja deh.” ucap Yuna masih diselingi tawanya.
Zeen mengusap lembut perut agak membuncit istrinya, “Makanya jangan diketawain! Gitu kan jadinya, bahagia diatas penderitaan suaminya.” sungut Zeen yang masih mengeleus perut Yuna.
“Sabar ya mas ... kamu butus nunggu dua bulan lagi ....” ucap Yuna sambil mengelus rambut Zeen dan tak lupa bibirnya yang terus menahan tawanya.
Zeen kembali mendesah panjang. “Padahal aku lagi pengen jengukin baby, baby ku ... pasti mereka sudah merindukan dady nya yang super tampan ini.” Monolog Zeen merengutkan bibirnya.
Hal itu hanya bisa membuat Yuna menghela nafas sambil memutar bola matanya malas.
“Anaknya dady ... kalian sehat-sehatkan disana?” tanya Zeen kepada perut Yuna dan sesekali mengecupi perut sedikit buncit itu.
“Baik, baik dady ....” jawab Yuna dengan menirukan suara anak kecil, lantas kemudian hal itu mengundang gelak tawa bagi mereka berdua.
“Aws ....” Yuna tiba-tiba meringis saat ia masih didalam mode tertawa, ia tiba-tiba merasakan nyeri pada bagian perutnya.
“Sayang ...?” Zeen menatap Yuna dengan tatapan tak percaya. “Sayang? Mereka merespon kita?” tanya Zeen dengan wajah sumringah.
Yuna mengangguk sambil tersenyum, “Iya mas, mereka dengerin kita se– aww!” lagi-lagi Yuna meringis kala merasakan kedua kalinya pada bagian perutnya.
Yuna dan Zeen saling memandang dengan pacaran bahagia.
“Mereka nendang dua kali!” ucap mereka berbarengan. Kemudian tanpa sadar kembali dibuat tertawa.
Zeen yang merasa terharu itu terus mengecupi perut Yuna dengan sangat bahagia.
“Tadi mungkin yang nendang kakaknya ya? Trus yang kedua adiknya.” Monolog Zeen berbicara sendiri sambil tersenyum-senyum manis.
Yuna yang ikut senang itu mengelus lembut rambut suaminya. 'Semoga kebahagiaan ini terus utuh sampai maut memisahkan kita.' Gumam Yuna dalam hati.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa komen ya kakak² 😙