Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 110


__ADS_3


...***...


Setelah mengarungi kenikmatan yang tiada taranya, kini dua insan itu masih berlanjut diatas kasur. Tentu setelah mereka sudah membersihkan diri dan menjeda sejenak permainan mereka.


Hingga permainan itu berjalan sampai dua jam lamanya dikasur baru mereka menghentikannya, setelah pelepasan entah keberapa kalinya hanya merekalah yang tahu.


Yuna yang sudah lemas tepat berbaring didalam pelukan Zeen, menggeleng samar. Ia merasa heran sendiri, untuk apa mereka berdua mandi kalau ujung-ujungnya berolahraga lagi? Dan berkeringat lagi? Bukankah hal itu hanya sia-sia saja? Sudah bersih dan wangi malah bikin keringat bercucuran sehingga membuat tubuh menjadi lengket dan lepek.


“Kenapa sayang? Kok kamu geleng-geleng kepala? Apa masih kurang? Kalau iya, kita main lagi saja,” ucap Zeen dengan antusias dan mulai mengerakan tubuhnya bersiap untuk mengarungi kenikmatan permainan mereka lagi.


Namun Yuna tak ingin diam saja, ia segera menarik Zeen dengan cepat dan membuat lelaki itu kembali berbaring disampingnya.


“Mas ini! Geleng-geleng kepala kok diartikan kayak gitu. Isi kepala mas kayaknya mesum terus ya?” Yuna sedikit merasa kesal dan menatap Zeen dengan tatapan selidik.


Zeen yang mendengar ucapan itu tergelak, “Yaampun sayangku ... kamu bilang aku mesum? Tapi kamu juga menikmatinya kan ...?” Zeen mulai menggoda Yuna dengan menaik turunkan alisnya dan sesekali mengerlingkan sebelah matanya. Membuat Yuna hanya bisa menghela nafasnya.


“Udahlah mas, kamu apa gak capek? Kita sudah melakukannya selama empat jam loh! Dua jam lebih dikamar mandi, dan sekarang dikamar?” Yuna menggeleng saja ketika mengingat hal itu. Tentu selama mereka bermain Yuna sempat menyuruh Zeen untuk berhenti. Namun pria itu susah sekali diberitahu membuat Yuna pening dibuatnya.


Zeen terkekeh mendengarnya, lalu melingkarkan tangannya dipingang Yuna dan membuat wanita itu semakin erat menempel padanya. Bahkan hidung mereka saat ini sudah saling bersentuhan.


“Kenapa haru capek? Orang aku malah ketagihan kok.” Zeen berucap dengan santainya sambil menatap Yuna dengan intens.


Yuna yang melihat tatapan itu seketika bergidik ngeri, ia mengerti dengan arti tatapan itu, karena berawal dari tatapan itulah yang membuatnya lemas tak berdaya seperti sekarang.


Yuna yang tak tahan ditatap seperti itu langsung bangkit dari baringnya walau tubuhnya masih sedikit lemas akibat aktivitas panas yang mereka lewatkan beberapa menit yang lalu itu. Ia langsung turun dari kasur kemudian berlari menuju kamar mandi.


“Yuna! Hei! Mau kemana kamu?!” teriak Zeen yang terkejut melihat Yuna melepas pelukan diantara mereka dan malah berlari tanpa mengatakan apapun. Ia pun refleks bangkit dari baringnya dan menatap nanar pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


“Sial! Aku kecolongan!” umpat Zeen, namun sedetik kemudian ia langsung tertawa terbahak ketika menyadari tingkah konyol Yuna, yang tengah berlari bersamaan dengan tubuhnya yang polos tanpa mengenakan pakaian apapun.

__ADS_1


Zeen terkikik geli mengingat itu, dan sesekali memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terlalu kencan tertawa. “Yaampun istriku itu!” ucap Zeen mengeleng kepala.


Sementara itu, Yuna yang sudah berada didalam kamar mandi menghela nafas panjang, menghirup pasokan oksigen secara dalam-dalam karena merasa lega, bisa berlari dan terlepas dari kunkungan Zeen Albaret.


“Mengapa tenaga pria itu masih saja tak terkuras? Dia malah dengan santainya ingin mengajakku kembali melakukan hubungan itu, padahal kita baru saja istirahat beberapa menit yang lalu.” Yuna bergumam sambil sesekali menggelengkan kepala.


Ia pun tak ingin ambil pusing memikirkan hal itu, dan memilih untuk berendam kembali didalam bathtub. Karena berendam didalam air hangat lah yang membuat tubuhnya seketika rileks dan rasa lelahnya secara perlahan berangsur hilang.


“Ah ... segarnya ....” ucap Yuna merasakan kelegaan, dan tanpa sadar ia memejamkan matanya didalam bathtub itu.


🍂🍂


Setelah selesai dari acara berendamnya dan sudah membersihkan keseluruhan tubuhnya. Kini Yuna berjalan mengambil handuk yang memang sudah tersedia didalam kamar mandi itu.


Yuna melilit salah satu handuk kecil itu dikepalanya, agar rambutnya tak menetes terlalu banyak dilantai ketika berjalan nanti.


Namun entah mengapa pikirannya seperti merasa kebinggunggan, seperti ada yang yang kurang dan terus menganggu pikirannya.


“Apa ya? Aku kayak lupa sesuatu?” gumam Yuna mencoba mengingat-ngingatin sesuatu.


Yuna hanya bisa menghela nafas saja, ia pun mau tak mau mengambil salah satu handuk disana dan mulai melilitnya untuk membungkus, menutupi tubuhnya yang saat ini tengah polos tak mengenakan pakaian apapun. Dan terpaksa akan memakai handuk berukuran sedang itu ketika keluar untuk mengambil pakaiannya didalam lemari.


Setelah selesai melilit tubuhnya dengan handuk, Yuna mulai berjalan perlahan-lahan dan membuka pintu kamar mandi itu sedikit, guna untuk melihat keberadaan sosok pria itu disana.


Yuna melirikan matanya kesana kemari, merasa tak mendapati sosok yang ia cari didalam kamar itu. Ia pun mengerutkan keningnya saat ruangan itu kosong dan tak ada sosok Zeen disana.


“Dimana mas Zeen?” gumam Yuna bertanya.


“Ah! Bukankah bagus jika tak ada dia? Lebih baik aku cepat keluar dan berganti baju. Mumpung tak ada dia.”


Yuna mulai melangkah keluar dari kamar mandi, dan berjalan santai ketika memang tak melihat sosok Zeen disana. Ia pun mulai mencari bajunya dilemari dan saat sudah menemukan yang pas, Yuna pun langsung membuka handuknya yang semula terlilit kini sudah tergeletak dibawah kakinya.

__ADS_1


Yuna mulai mengenakan pakaian dalamnya, setelah itu ia mengambil bra berwarna hitam pekat untuk dipakainya. Namun belum sempat ia memakainya, tiba-tiba suara seseorang yang baru masuk kedalam ruangan itu langsung mengangetkan dirinya. Dan refleks dirinya langsung menjatuhkan bra berwarna hitam itu kelantai. Alhasil ia saat ini hanya mengenakan ****** ******** saja dan tak memakai penutup atasnya.


“Astaga!!” pekik Yuna langsung mengambil kembali bra itu, dan segera menutup miliknya dengan menyilangkan kedua tangannya.


“Yuna? Kenapa kamu?” Zeen yang baru masuk saat kembali cari angin sembari menunggu Yuna itu, berjalan mendekat kearah wanitanya. Dan mengerutkan keningnya ketika melihat Yuna yang membelakangi dirinya.


“Kenapa kamu sayang?” Zeen langsung memegang kedua pundak Yuna dari belakang saat sudah mendekat kearah wanitanya.


Sedangkan Yuna langsung tersentak merasakan hangat pada kedua pundaknya, “Mas Zeen kenapa disini?” Yuna yang semula tenang dan santai, kini berganti gugup dan merasa malu ketika melihat Zeen berada didekatnya.


“Loh? Ini kan juga kamarku? Aku sedari tadi menunggumu Yuna ... kamu mandinya agak lama, jadi aku keluar sebentar sekedar mencari angin,” Jelas Zeen.


Yuna menggigit bibir bawahnya, ia merasa malu ketika tersadar dengan pertanyaan konyolnya, “Oh! Kalau memang begitu, mas mandi aja dulu. Mas kan belum mandi tadi.”


Yuna mengucapkan itu, karena ingin pria itu segera pergi dari sana, agar ia tak merasa kecanggungan ketika mengenakan pakaiannya.


Namun agaknya Zeen lagi-lagi tak mendengarkan ucapan Yuna, pria itu malah mendekat tubuh Yuna dari belakang dan mengendus aroma sampo dari leher Yuna.


Yuna yang merasa kegelian itu, secara refleks mendorong kepala Zeen untuk menjauh dari lehernya. “Mas ... cepatlah mandi.”


“Aku tak mau mandi, aku tadi sudah mandi bersamamu. Jadi tak perlu mandi lagi.” Jawab Zeen acuh dan kembali melakukan aksinya, yang semula mengecup leher. Kini mulai mengerayai bagian perut Yuna dengan mengelusnya secara sensual.


“Mas! Jangan lagi!” pekik Yuna.


“Tapi Yuna–”


Kruyukk ....


Ucapan Zeen terjeda, saat tangannya tak sengaja merasakan getaran pada bagian perut Yuna. Ia pun sampai terbengog, begitupun dengan Yuna yang langsung terdiam dan menundukkan kepalanya merasakan malu yang bertubi-tubi.


Semenit kemudian saat keheningan terjadi, tiba-tiba terdengar suara tawa dari Zeen, “Astaga ... kamu lapar ya sayang?” Zeen menggeleng seketika.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa komen disetiap bab ya💓🐈


__ADS_2