Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 190


__ADS_3

...***...


Saat para keluarga masuk kedalam ruangan, mereka nampak memancarkan raut kesedihan saat melihat Zeen yang tengah membasuh tangan Yuna menggunakan kain dan tak lupa jika kain itu dicelupkan pada air yang berada dibaskom kecil.


'Masih kah kamu ingat Yuna? Dulu saat aku sakit kamu yang merawatku, sekarang giliranku yang akan merawatmu dan menjagamu sampai kamu sembuh!' gumam Zeen dalam hati.


Zeen bahkan tak melihat jika keluarganya sudah berada tepat disampingnya.


“Zeen ....”


Suara panggilan dari Vina membuat Zeen tersentak kaget, dan langsung tersadar dari lamunnya.


“Oh? Kalian semua ada disini? Maaf aku tak menyadari,” ucap Zeen langsung bangkit dari duduknya.


“Nak ....” Vina berjalan mendekati putranya, kemudian ia memeganggi kedua bahu putranya itu. “Bukankah kamu belum makan sejak kemarin hem? Sekarang kamu cepatlah makan dan istirahat sejenak. Biar kamu yang akan menjaga Yuna sekarang!” lanjutnya.


Zeen nampak mengelengkan kepalanya, “Engak Mah, Zeen gak mau pergi dari sisi Yuna. Zeen takut jika istri Zeen bangun terus nyariin Zeen!”


Vina yang mendengar itu langsung menepuk kedua pipi Zeen, dan mencubit gemas pinggang anaknya.


“Kamu kepedean sekali, Yuna sadar pasti bukan kamu yang dicariin! Tapi pasti dua putranya yang akan Yuna cari.” Jelas Vina sambil mengelengkan kepalanya.


Zeen nampak mengerutkan bibirnya. “Tapi tetap saja Mah, aku masih pengen disini bersama Yuna ....”


“Zeen ....” Vina berkecak pinggang menatap tajam putranya, “Kalo kamu begini terus, bisa-bisa kamu juga yang sakit loh! Trus kalo kamu sakit yang jagain baby baby kamu siapa? Pasti kedua putramu membutuhkan perhatian dari orangtuanya, kan?” tanya Vina terdengar sangat meyakinkan.


Zeen merenung mendengar itu.


“Iya Zeen! Lebih baik kau cepat berbesih, setelah itu makan dan istirahat, kemudian setelah selesai kamu bisa datang lagi untuk menjaga istri dan putra-putramu!” timpal Yudas dengan sangat bijak.


“Nah bener Zeen! Itu yang namanya sikap dewasa ... khawatir boleh! Tapi ya jangan terlalu berlebihan dan sampai lupa sama kondisimu. Apa kau tak malu sama jabatanmu sendiri? Seorang dokter yang selalu menasihati pasiennya saat sakit. Tapi menasihati dirinya sendiri tak bisa?”


Kata-kata Albaret sungguh sangat memojokan diri putranya. Bahkan Zeen sampai kehabisan kata-kata.


“Nah, masih mau ngebandel lagi, hem?” ucap Vina sambil menaik turunkan alisnya menatap sang putra.

__ADS_1


Zeen kemeduan mendesah pelan, lantas ia menundukkan sedikit kepalanya.


“Yaudah iya! Zeen akan melakukan apa yang kalian mau,”


Vina yang mendengar itu langsung senang, “Nah gitu baru anak ganteng!”


Zeen hanya mendengus saja mendengar itu. Lantas kemudian pandangannya ia alihkan pada sosok istrinya yang masih terbaring lemah dan setia memejamkan matanya.


Zeen berjalan mendekati istrinya, kemudian ia mengecup singkat kening Yuna dan turun kebibir.


“Aku harap setelah aku kasi kamu kecupan, dialam bawah sadar sana kamu merasakannya dan berniat untuk segera membuka matamu karena sudah sangat kangen sama suami tampanmu ini.” Gumam Zeen penuh percaya diri.


“Sudah Zeen, bukannya Yuna akan cepat sadar istrimu itu pasti sangat enggan membuka mata karena mencium bau kecurutmu itu! Huh busuk!” Albaret mengibas-gibaskan angin yang berada dibawah hidungnya. Seolah sangat tak ingin menghirup bau keringat putranya.


“Dasar Papa ini! Buat malu saja,” gumam Zeen yang tanpa sadar mencium ketiaknya, kemudian ia langsung mengerutkan dahinya saat mencium bau yang menyengat.


“Aku seperti mencelupkan diriku didalam tumpukan sampah, ternyata bauku benar-benar tidak enak sekali!” gumam Zeen bermonolog pada dirinya sendiri.


“Nah? Bau kecurut kentut kan?” celetuk Albaret langsung mengeluarkan tawanya nan terbahak-bahak, kemudian diikuti para keluarga yang menatap Zeen dengan tatapan menghina. Hal itu membuat Zeen malu sungguh kepalang.


Bahkan sampai membuat para suster wanita merasa keheranan, karena baru melihat tingkah Zeen yang seperti itu. Dimana sebelumnya Zeen sangat menjaga imagenya didepan semua orang.


“Bukanlah itu dokter Zeen? Menagao beliau seperti tengah dikejar setan?”


“Entahlah! Mungkin beliau sedang menahan bokernya,”


Begitulah ucapan mereka, sampai Zeen yang sudah tak terlihat bahkan bayangannya saja tak terlihat.


Mereka tak tau saja, jika Zeen cepat menghilangnya karena pria itu membelokan langkah kakinya pada ruangan khusus bayi.


Zeen yang berada disana menempelkan dirinya tepat ditembak yang terbuat dari kaca, ia terus melihat kedua anaknya yang saat itu masih berada didalam inkubator.


“Bahkan saat Mama kalian tak sadarkan diri, kalian juga ikut membuat daddy khawatir ... kalian tak menangis sejak tadi ....” Gumam Zeen menatap sendu kedua putranya.


“Baiklah, daddy izin pulang dulu sebentar. Daddy akan mandi parfum biar kalian bisa melihat ketampanan daddy ini!” ucap Zeen lantas melambai-lambaikan tangannya, seolah berdadah-dadah ria kepada bayi-bayinya.

__ADS_1


Kemudian setelah puas, Zeen benar-benar beranjak dari sana.


°°°


Dua minggu sudah berlalu, namun tanda-tanda kepulihan dari Yuna belum nampak sampai sekarang. Bahkan bayi-bayinya terpaksa diberi susu formula. Selain itu juga, dua twin tak pernah menangis saat kelaparan dan tak menangis saat buang air kecil dan air besar.


Hal itu membuat Zeen frustasi, karena jika tak mendengar tangisan mereka, entah mengapa sungguh sangat menyayat hatinya. Bahkan saat melihat bayi orang lain menangis dirinya benar-benar dibuat iri saat itu.


“Dokter! Yang kakaknya sudah buang air besar dok!”


“Dok! Sepertinya adiknya sedang kelaparan.”


Begitulah ucapan suster-suster yang saat itu membantu dirinya untuk merawat kedua anaknya, namun tak begitu sering karena Mamanya dan mertuanya juga sering membantunya untuk mengurus baby twin.


“Tinggal menyuapi makan adek, setelah itu selesai.” Ucap Zeen yang dengan telaten memberi makan anaknya dengan bubur khusus untuk bayi.


Zeen melirik anak pertamanya yang sedang mengerak-gerakan tubuhnya, pertanda jika bayinya juga kelaparan.


“Hahhh ... kenapa kalian tak menangis sih?” desah Zeen benar-benar merasa frustasi.


Bahkan keluarganya yang saat itu baru saja datang, dibuat bersedih. Lantaran melihat Zeen yang begitu memprihatinkan, karena tubuh Zeen mulai mengurus.


Vina, Eva dan Winda berjalan mendekati Zeen.


“Sudah Zeen! Biar para ibu-ibu ini yang akan membantumu mengurus kedua putramu! Kau beristirahat saja dulu, melihat wajahmu saja sungguh langsung membuat Mama ikut kecapean,” ucap Vina langsung mengambil alih bayi yang ada digendongan Zeen.


“Iya Zeen! Biar Mama, Mama mu ini yang mengurus dua jagoanmu!” timpal Eva.


“Karena mereka adalah malaikat-malaikat kecil bagi kami,” jelas Winda yang ikut bergabung membantu mengurus baby twin.


Zeen yang mendengar itu merasa terharu, “Terimakasih oh, Mama! Mama! Mama!” kemudian ia menyeka air mata yang menetes diujung matanya.


TBC.


———

__ADS_1


Hikss😢😳 Yuna cepet melek dong matanya... You know Yuna😱


__ADS_2