Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 129


__ADS_3

...***...


“Untungnya tidak ada keluarga saya yang sakit dokter,” jawab Mita sambil tersenyum.


“Lantas? Kenapa kau ada disini?” tanya Zeen lagi.


“Saya disini, karena saya akan mulai bekerja dirumah sakit ini, dokter.” Jelas Mita.


“Suster? Perawat?”


Mita terkekeh mendengar pertanyaan itu. “Saya bekerja disini sebagai dokter kandungan, dokter Zeen!” timpalnya.


“Oh ... dokter baru ternyata, semoga betah disini.” Dengan wajah cuek dan tak perdulinya Zeen kembali melanjutkan langkahnya tanpa pamit pada wanita muda itu.


Tanpa disadari, Mita terus saja tersenyum ketika melihat punggung Zeen yang sudah menjauh dari jangkauannya, “Oh yaampun?! Aku sampai lupa jika dia sudah jadi suaminya orang? Oh astaga Mita ....” Mita langsung menepuk-nepuk pipinya dengan gemas.


Namun sedetik kemudian, wanita itu kembali tersenyum. “Sepertinya aku tak bisa dengan mudah melupakan wajah pria itu, mungkin karena baru pertama kali aku ditolak ya? Apakah hal itu terasa menantang bagiku?” ia bermonolog sendiri dengan senyuman yang masih belum pudar.


“Oh ayolah Mita ... dia kan sudah memiliki istri? Kenapa seleramu jadi berubah?” gumamnya bertanya-tanya. “Aku ingin melupakan dia tapi tetap tak bisa, wajahnya terus terbayang-bayang dikepalaku.”


“Apa aku coba dekati dia ya?” gumamnya lagi tampak berfikir.


🍂🍂


Zeen sudah kembali keruangan kerjanya, saat ini dirinya tampak menyandarkan kepalanya dikursi empuknya itu.


“Hari ini benar-benar sangat melelahkan ....” gumam Zeen lalu melirik sebuah meja kerja yang merupakan meja kerja milik Yuna.


“Saat tak ada Yuna disini, semuanya nampak hambar ....” Zeen menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu kemudian ia mengambil hpnya dan melihat walpaper seorang wanita manis yang tak lain adalah Yuna. Ya! Tanpa sepengetahuan Yuna dirinya memoto wanita itu saat berada di Bali. Tepatnya saat mereka tengah berada dipantai.


Menurut Zeen foto itu sangat indah dipandanganya, dengan tampilan wanita itu yang mengenakan baju dres selutut dengan motif bunga berwarna biru, serta rambut Yuna yang tergerai indah membuat Zeen betah mentapa foto itu dengan perasaan yang tak menentu.


Diusapnya foto itu dengan perasaan sayang dan juga senyum yang tersunging indahnya, “Ah ... aku benar-benar merindukanya, entah mengapa satu hari saja tak bertemu dengannya hari-hariku terasa sangat kurang dan malas jika harus melakukan aktivitas tanpa wanitaku itu ....” gumam Zeen sambil mesem-mesem.


Ia melirik sebentar jam yang tertera dihpnya itu, lalu kemudian ia mencari kontak istrinya dan tak lama kemudian memencet nomor itu dengan perasaan tak sabaran ketika telfonnya masih belum diangkat.


Zeen menggigit kukunya ketika istrinya tak menjawab telfon darinya, padahal sudah lima belas menit lamanya.


“Ah! Aku coba telfon Mama aja, kan tadi Mama ngajakin Yuna keluar rumah?”


Ya, sesuai ucapan Zeen. Yuna saat ini tengah bersama mertuanya atau Mama kandung Zeen, itu sebabnya wanita itu tak ikut bekerja bersamanya karena Mamanya itu ngotot ingin mengajak menatunya jalan-jalan keluar atau yang tepatnya ingin memperkenalkan Yuna pada teman-teman sosialitanya atau teman sesama arisanya.


“Halo Mah!” Zeen sangat senang ketika Mamanya mengangkat telfonnya.

__ADS_1


“Ada apa Zeen? Kenapa kamu menelfon Mama?” tanya Vina dengan suara tak sabaran.


“Zeen mau tanya, Yuna ada sama Mama kan?”


“Iya dong sayang, menantu Mama tentu ada pada Mama.”


Zeen yang mendengar itu tampak bernafas lega, “Kalau Yuna ada sama Mama, kenapa Yuna tak mengangkat telfonku?”


“Oh! Hpnya mati kali sayang, soalnya sekarang istri kamu sedang berkumpul dengan anak teman sosialita Mama,”


Zeen tampak mengerutkan keningnya, “Apa anak teman-teman Mama ada yang laki-laki?” tanya Zeen dengan nada penuh selidik.


“Oh! Tentu saja gak ada sayang, soalnya disini anak teman-teman Mama perempuan semua ....”


Zeen tampak bernafas lega ketika mendengar jawaban Mamanya.


“Eh? Sebentar sayang, sepertinya Mama sampai lupa, jika ada satu anak laki-laki dari salah satu teman Mama.”


Saat itu juga Zeen langsung berdiri dari duduknya, “What?!” pekik Zeen mengema.


“Kata Mama gak ada anak laki-laki disana? Mama bagaimana sih?” Zeen sudah mulai emosi.


“Iya sayang, Mama lup–”


“Buat apa sayang?”


“Udah Mah! Jangan tanya dulu, sekarang Mama saherlock sekarang juga, Zeen akan segera kesana!” tekan Zeen tak sabaran. Karena dirinya saat ini tengah menahan emosinya ketika wanitanya bersama dengan seorang lelaki lain selain dirinya. Padahal disana tak hanya Yuna saja.


“Oke-oke Mama sudah saher lokasinya sama kamu, sebenarnya–”


Belum sempat Mamanya melanjutkan ucapannya, Zeen langsung mematikan sambungan telfon itu dengan perasaan tak menentu dan kalang kabut.


°


°


°


°


°


“Ada apa jeng Vina?” tanya Retna yang merupakan salah satu teman arisan Vina.

__ADS_1


Vina yang tadinya tampak menahan kesal akibat putranya yang mematikan telfonnya secara sepikah itu, segera menetralkan ekspresinya ketika menyadari jika ia masih berkumpul bersama teman-temannya.


“Oh? Enggak kok jeng, tadi hanya ada anak tekus yang kecedot pintu, makanya aku kesal sendiri.” Jawab Vina ngasal sambil memperlihatkan senyum paksanya.


“Oh ... begitu ya jeng?”


Semua orang disana tampak melirik-lirik, karena mendengar jawaban yang aneh dari istri tuan Albaret itu.


“Oh ya jeng-jengku, sebenarnya anakku Zeen akan datang kesini, entah kenapa tiba-tiba anak laki ku mau datang kesini. Jadi gak papa ya? Jeng-jeng jika kita nambah satu orang lagi.” Jelas Vina pada teman sosialitanya itu.


Kumpulan ibu-ibu sultan itu tampak saling tertawa ketika mendengar ucapan Vina.


“Oh tentu saja boleh dong jeng, malah itu bagus sekali jika anak jeng Vina mau datang kesini mungkin karena sudah merindukan istrinya yang ada disini?”


“Ah, jeng Lela bisa aja.” Tampak Vina menyungingkan senyumnya dan mencolek-colek tangan temannya yang bernama Lela.


“Iya jeng ... kita juga belum pernah lihat secara langsung wajah anak jeng itu, kita semua penasaran ingin melihat wajah yang tampan anak jeng itu ....” ucapnya sambil melengak-lengokan tangannya.


“Hahaha, jeng-jeng ini, sebentar lagi anak itu akan datang kok. Jadi ... rasa penasaran kalian akan tero–”


“Mama!”


Kumpulan ibu-ibu arisan itu tampak saling mengalihkan pandangannya pada sosok pria tegap yang baru saja datang ketempat itu.


“Wah? Sepertinya ini anaknya jeng ya? Tampan sekali ....”


Semua tampak berbisik-bisik sambil bergosip ria membicarakan wajah tampan putra dari pasangan tuan Albaret dan nyonya Vina Albaret.


“Oh, iya tentu dong, ini anak saya namanya Zeen Albaret!” tampak Vina membanggakan putranya dan juga menyombongkan anaknya didepan para teman-teman arisanya itu.


Vina menatap putranya yang masih berdiri disebelahnya, “Zeen sayang, ayo kenalan sama teman-teman Mama.” Ujar Vina pada Zeen.


Zeen menatap Mamanya sekilas, lalu mengalihkan pandangannya pada sekumpulan ibu-ibu disana. Dirinya hanya menyapa dengan membungkukan badannya pada teman-teman Mamanya itu. Lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Mamanya.


“Sekarang dimana istriku Ma?” tanya Zeen tak sabaran.


“Hahaha, ternyata banar tujuannya cuma cari istrinya saja ya? Aduh ... yang pengantin baru,”


Para ibu-ibu kembali berceluk ria dan tertawa bersama.


“Anak ini!” Vina melototi Zeen dengan tajamnya. Ia tak menyangka jika anaknya itu bersikap tak sopan didepan teman-temannya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2