
"Kalian saling kenal?" ucap Santi, membuyarkan rasa keterkejutan antara Zeen dan Yuna.
Yuna yang tadi menatap mata Zeen, kini langsung mengalihkan pandangannya kedepan, begitu pula dengan Zeen.
"Zeen, apa kamu kenal sama Yuna?" ucap Vina yang kini bertanya pada anaknya. Sedangkan Zeen tak tahu harus apa, ia hanya diam saja. Sepertinya rasa terkejutnya belum hilang hingga pertanyaan dari Vina itu tak ia dengarkan.
Vina menepuk bahu Zeen, "Sayang.... Kok diem aja sih!" ujar Vina langsung membuyarkan lamunan Zeen.
Zeen linglung. "Eh! Iya mah... Mama ngomong apa tadi?" tanya Zeen.
Vina menghela nafasnya. "Kamu ini ya, ditanya kok malah ngelamun." tegur Vina, sedangkan Zeen hanya bisa mengaruk kepalanya yang tak gatal. "Mama tadi nanya... Kamu kenal sama Yuna? Kok mama liat tadi, kamu kayak kaget gitu ngeliat Yuna." ujar Vina bertanya pada putranya.
"Emm itu.." gagap Zeen. "Kami hanya pernah bertemu saat Zeen bekerja didesa mah... Kebetulan Yuna bekerja dirumah sakit tempat yang sama saat Zeen bertugas." jawab Zeen, memulihkan kembali wajahnya menjadi datar dan santai.
"Ohhh... Gitu ya... Berarti kalian deket dong.." ujar Vina, sedikit berbinar kala mendengar anaknya dekat dengan Yuna.
"Tidak!" tekan Zeen. "Kami hanya sebatas rekan kerja mah.." lanjutnya.
Degg....
Jantung Yuna berdesir kala mendengar pernyataan dari Zeen, Zeen sepertinya tak menganggap dirinya yang sebelumnya pernah dekat dengannya. Sebegitu kah Zeen membencinya? Hanya karena Yuna pernah mengungkapkan perasaannya, Zeen langsung menganggap Yuna sebatas orang asing yang tak pernah ia kenal.
Vina menganguk-angukan kepala, "Ohhh... Kirain kalian pernah deket, kalau kalian pernah deket dan saling mengenal satu sama lain, itu malah bagus buat kalian. Setelah kalian menikah nanti, kalian tak perlu merasa cangung jika kalian sudah berumah tangga nanti. Tapi kalau kalian belum kenal dekat sih... Mau tak mau kalian harus mendekatkan diri masing-masing." jelas Vina, yang membuat Zeen menatap kearah mamanya.
"Jadi Yuna yang akan Zeen nikahi mah?" tanya Zeen dengan raut terkejutnya.
Vina menganguk. "Iya dong... Siapa lagi kalau bukan Yuna? Masa neneknya Yuna, ya gak bu.." jelas Vina lalu menghadap kearah Santi diselingi tawanya.
"Wah... Nak Zeen demenya yang tua ya... Padahal yang muda lebih menggoda." ucap Santi yang juga tertawa.
__ADS_1
Albaret dan juga istrinya saling melempar tawa, mengabaikan wajah masa dari Zeen. Sedangkan Yuna? Yuna saat ini tengah dilanda rasa kegugupan, jantungnya terus berdegup kencang. Tentu saja ia pun merasa terkejut sekaligus tak percaya jika yang dijodohkan dengannya adalah Zeen, orang yang pernah singgah dihatinya.
'Takdir apa ini yatuhan...' gumam Yuna dalam hati.
🍂🍂
Setelah makan malam dikediaman Albaret, kini Yuna dan juga neneknya. Pamit untuk pulang karena hari yang sudah larut malam.
"Bu... Beneran gak mau nginep aja dirumah kami, ibu juga bisa menganggap rumah ini rumahnya ibu.." kata Albaret yang tengah membujuk Santi.
Santi tersenyum. "Terimakasih sudah menawari nenek dan juga cucu nenek untuk menginap disini, tapi kami berdua memilih untuk pulang... Takutnya anak nenek menunggu nenek dirumah." jawab Santi, menolak Albaret dengan suara halusnya.
Albaret terdiam sejenak. "Ya sudah kalau begitu... Kami tak ingin terlalu memaksa ibu, kalau begitu biar putra kami yang mengantar ibu dan Yuna sampai didepan rumah ibu." ujar Albaret.
"Eh? Ndak perlu nak... Saya bisa menelfon anak saya buat jemput nanti... Saya ndak mau merepotkan nak Albaret dan sekeluarga." tolak Santi.
"Tidak merepotkan kok bu... Biar saya panggil anak saya dulu." kata Albaret.
"Ya pa?" jawab Zeen yang juga berteriak.
"Kemari nak." kata Albaret menyuruh anaknya untuk datang kepadanya.
Zeen berjalan kearah papanya. "Ada apa pah?" tanya Zeen.
"Kamu anterin ibu Santi sama Yuna ya... Sampe karumahnya, sudah malam Zeen ndak baik jika perempuan pulang sendiri." ujar Albaret.
Zeen mengerutkan keningnya. "Kenapa gak sopir aja pah? Kan ada sopir kita."
"Kamu lupa? Sopir kita sudah pulang karena sudah sangat malam. Gak mungkin kan jika papa suruh sopir kita buat datang kesini lagi." jelas Albaret.
__ADS_1
"Zeen capek pah... Papa aja ya..." rengek Zeen seperti anak kecil.
Albaret menatap tajam anaknya. "Kamu kalo disuruh orangtua jangan ngebantah.." tekan Albaret kesal oleh tingkah putranya.
"Sudah... Sudah... Jika nak Zeen ndak mau, kami bisa panggil sopir kami buat jemput kami disini." lerai Santi yang mendengar perdebatan anak dan ayah itu.
Albaret menghela nafasnya. "Tidak bu... Biar anak kami yang mengantar ibu, ayo Zeen." geram Albaret menatap kearah putranya.
"Tapi pah..."
"Udah ya.. Zeen turut apa kata papa kamu." ucap Vina sambil mengelus punggung anaknya itu.
Zeen menghela nafas pasrah, "Yaudah Zeen mau." ucap Zeen pada akhirnya.
Vina tersenyum. "Nah gitu dong, anak ganteng mama kan baik banget. Sekalian nanti kamu bisa ngobrol bareng sama Yuna." terang Vina.
Zeen mengabaikan ucapan mamanya. "Ayo nek... Zeen anterin pulang." kata Zeen sambil tersenyum paksa, ia sebenarnya hari ini tengah bad mood karena ulah papanya itu.
Santi tersenyum. "Nenek gak ngerepotin kan?" tanya Santi.
"Ngak kok nek.." bohong Zeen sambil tersenyum.
"Yaudah kalau begitu, kami pamit pulang dulu ya nak Albaret dan nak Vina." kata Santi berucap pada pemilik kediaman itu.
"Iya bu... Hati-hati dijalan.." jawab Albaret dan istrinya berbarengan.
Santi dan juga Yuna masuk kedalam mobil itu, Zeen duduk paling depan karena ia yang menyupir. Sedangkan Yuna dan juga neneknya duduk dikursi penumpang.
Mobil itu melaju sedang, keluar dari halaman kediaman Albaret, menyusuri jalanan menuju kediaman Bram putra dari Santi.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa tangapannya🦄