Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 67


__ADS_3

'Fadli! Fadli! Fadli... Kenapa laki-laki satu itu selalu muncul, apa dia jelmaan jin?'


Itu yang ada dibatin Zeen, pria tampan itu saat ini tengah memasamkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya didada. Matanya terus melirik kearah Yuna yang saat ini tengah sibuk pada ponselnya, padahal baru lima menit Yuna menerima panggilan itu, tapi entah mengapa yang dirasakan oleh Zeen seperti, Sangat begitu lama.


Dirinya yang diliputi rasa kekesalan itu, sampai tak menyadari jika perilakunya mencerminkan orang yang sedang cemburu pada kekasihnya.


Zeen mencoba menajamkan telinganya untuk mendengar percakapan itu, ia sangat kepo apa yang sedang mereka bicarakan, sampai-sampai ia melihat Yuna yang mengerutkan alisnya.


"Emm, sebenarnya saya tak bisa datang kerumah sakit hari ini..." ucap Yuna yang menjeda percakapnnya sejenak.


"Tidak, tidak ada masalah... Hanya ada urusan penting dirumah, jadi saya tak bisa datang kerumah sakit." Yuna tengah menjawab pertanyaan dari Fadli.


"Dokter Zeen? Iya dokter Zeen juga tak bisa datang kerumah sakit, karena beliau sedang tak enak badan."


Diam-diam Zeen tampak mencibir ketika mendengar percakapan itu. "Cih! Gak ada yang penting gitu aja pake nelfon, nanya-nanya aku segala lagi." dumelnya. Entah kenapa suasana hatinya sejak tadi terus saja dilanda kekesalan.


Lagi-lagi Zeen mencibir sinis ketika melihat Yuna yang tengah tersenyum.


"Iya... Saya akan sampaikan salam anda pada dokter Zeen... Apa? Bertemu?"


Zeen menajamkan telinganya lagi ketika mendengar ucapan akhir itu.


"Hah? Sekarang dokter?" bola mata Yuna membulat ketika Fadli mengucapkan jika dokter itu ingin bertemu dengannya, bahkan dokter muda itu mengatakan jiki dirinya saat ini tengah didepan gerbang kediaman Albaret, mertuanya.


Mata Yuna melirik Zeen sejenak, ia tertegun ketika mendapati Zeen yang juga tengah menatapnya. Buru-buru Yuna langsung mengalihkan pandangannya, begitu pula dengan Zeen yang tercyduk ketika memandanggi Yuna, ia pun juga langsung memalingkan pandangannya, merasakan malu seketika.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya akan segera kesana." sambungan telfon dimatikan sepihak oleh Yuna, karena dirasa percakapan dirinya dengan dokter muda itu telah selesai.


Yuna berdehem sebentar, lalu kembali menghadapkan dirinya kearah Zeen. "Dokter Fadli tadi menelfon saya, jika ia ingin bertemu dengan saya sebentar dan beliau tak lupa menitipkan salam untuk anda, mas..."


Lagi-lagi Zeen terhenyak ketika mendengar ucapan akhir dari Yuna, 'Mas' satu kata itu yang mampu membuat bulu kuduknya merinding, karena merasa asing dengan panggilan itu, ia pun jadi belum terbiasa ketika mendengar kata itu. Ia bahkan tak mendengarkan kalimat pertama yang diucapkan oleh gadis itu.


"Mas...?" Yuna memanggil Zeen ketika melihat pria itu tak menjawab ucapannya dan malah melamun sendiri.


"Eh?" Zeen terkaget. "Apa yang kau ucapkan tadi?" tanyanya.


"Tadi beliau menitipkan salam untuk anda, dan beliau mengajak saya untuk bertemu sebentar. Sepertinya beliau ingin mengatakan sesuatu hal yang penting." jawab Yuna, menjelaskan.


Tiba-tiba ia terkekeh sinis. 'Beliau? Gadis desa ini kelewatan sopan.' gumam Zeen dalam hati, sambil menatap Yuna dan mengeleng-geleng kepala sejenak.


"Emang segitu pentingnya?" tanya Zeen, terselip nada tak suka.


"Kenapa kau meminta izinku? Memangnya izinku penting bagimu?" tanya Zeen tampak bingung.


Sejenak Yuna tertegun mendengar pertanyaan dari Zeen, diam-diam senyum tipis terbit dibibir pinknya. "Sepertinya anda melupakan satu fakta! Jika saya disini, tinggal disini karena mengikuti anda! Sebagaimana anda adalah suami sah saya. Tentunya sebagai seorang istri, saya harus menghargai keputusan dari anda kan?" ia melempar pertanyaan balik kepada Zeen, sehingga membuat pria itu terdiam seribu bahasa.


Zeen tak tau lagi harus menjawab ucapan Yuna seperti apa, kepalanya berputar-putar sehingga membuatnya bertambah pening. "Yasudah! Yasudah, kau pergilah saja. Toh, aku juga tak perduli jika kau ingin pergi, kemanapun dimanapun aku tak perduli." Zeen langsung memjamkan matanya. 'Apa yang kau katakan mulut sialan!' gerutu Zeen kesal, dalam hati.


Zeen ingin sekali memukul mulutnya yang asal jeplak itu.


"Oh... Yasudah jika memang anda mengizinkan, kalau begitu saya permisi. Dan jangan lupa sarapannya dimakan sebelum makanannya dingin." setelah mengucapkan itu, Yuna langsung pergi dari hadapan Zeen, dan berjalan pelan menuju pintu kamar itu.

__ADS_1


Zeen mengangga ketika melihat pintu kamarnya kembali tertutup rapat. Ia lalu melirik nampan yang berisi makanan dengan perasan aneh, seperti ada kekosongan didalam dirinya.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Setelah meminta izin pada mertuanya dan akhirnya mertuanya mengizinkanya. Ia pun langsung bergegas pergi dan berjalan sedikit tergesa menghampiri mobil putih yang sudah terparkir didepan gerbang.


Yuna mengetuk kaca mobil itu saat ia sudah sampai disana. "Dokter Fadli?" ucapnya memanggil dokter muda itu yang tengah menunggu didalam mobilnya.


Pintu mobil itu tiba-tiba dibuka oleh Fadli. "Yun... Masuklah..." ucap Fadli, sambil tersenyum agak lebar kearah Yuna.


Yuna mengangguk, lantas langsung masuk kedalam mobil itu. "Iya dok..."


"Dokter sudah menunggu lama?" tanya Yuna ketika ia sudah duduk dikursi kemudian, disamping dokter muda itu.


"Tidak... Tidak begitu lama kok, hanya beberapa menit saja." jawab Fadli cengegesan.


Disis lain, tampak wanita paru baya namun penampilannya yang begitu seksi dan anggun tengah mengamati gerak-gerik Yuna sedari tadi. Bahkan Yuna pun sampai tak tau, karena wanita itu mengamatinya dari balok atas.


Wanita yang tak lain adalah Lena itu tersenyum miring. Ia lalu mengambil benda pipih mewahnya.


"Halo... Laura sayang.... Kemarilah, kekasihmu sekarang tengah terbaring sakit." ucapnya dengan senyum senang.


TBC.


Haduh.... Mak lampir sedang beraksi gaes.....

__ADS_1


Jangan lupa komen ya readers-readers tercinta๐ŸคŽ eh! Jangan lupa juga untuk sematkan like and vote ya? See you....๐Ÿ˜‰


__ADS_2