Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 87


__ADS_3

...***...


“Lantas? Aku harus berbuat apa, untuk mengembalikan kepercayaanmu Yuna?” tanyanya.


“Cukup berjanji pada saya, jika mas tak akan melakukan hal bodoh hanya karena saya.” Jawab Yuna.


Zeen mengeleng keras, “Aku tak bisa jika itu permintaannya, aku akan terus konsisten dengan ucapan ku itu.” Tegas Zeen.


“Maka jika memang begitu, untuk selamanya saya tak akan percaya lagi pada mas! Dan mungkin tak ada lagi jawaban dari pertanyaan mas itu.” Ucap Yuna yang tak kalah tegasnya.


Zeen terbelalak, lalu ia menggenggam tangan Yuna dengan erat, “Tidak Yuna ... pikirkan lah dulu, jangan terburu-buru mengambil keputusan.”


Yuna terdiam, mengalihkan pandangannya kesamping.


“Aku hanya meminta satu permintaan saja mas ....” cicit Yuna berusia lirih.


Zeen menatap Yuna dengan tatapan rumit, akhirnya pun ia menghela nafas panjang, “Baiklah jika memang itu permintaanmu. Aku akan menurutinya.” Jawab Zeen. Mengalah pada akhirnya.


Yuna langsung menatap Zeen kembali, “Betulkah?”


Zeen mengangguk, “Ya ... hanya demi dirimu Yuna,”


“Syukurlah ... berjanjilah mas, jika mas akan menepatinya dan tak akan mengingkarinya.”


Zeen tampak ragu, namun saat melihat raut wajah yang berharap dari Yuna ia jadi merasa tak tega untuk menolak.


Zeen lalu mengelus rambut Yuna sambil mengangguk, “Baiklah ... aku berjanji, Yuna Saily ....” ucapnya sambil tersenyum.


'Tapi aku akan tetap pada pendirianku Yuna ... aku sudah bersumpah, jika aku akan terus menjagamu, walau nyawaku yang akan jadi taruhannya. Aku akan rela hanya demi dirimu ....' batinnya bersungguh-sungguh.


“Terimakasih mas ....” Yuna menundukkan kepalanya, ia yang merasakan elusan dari kepalanya menjadi malu, karena hal itu baru pertama kali bagi Yuna. Untuk pertama kalinya Zeen memperlakukannya dengan lembut dan mampu membuat hatinya kembali berdebar.


“Hemm, lantas, apa jawabanmu Yuna?” tanya Zeen.


Yuna mendongak, “Jawaban?”


“Ya, jawaban atas pertanyaanku tadi ....”


“Emmm, apa ya ...?” Yuna tampak memutar matanya, bak orang yang sedang berfikir.


“Bagaimana, hemm?” Zeen tengah berharap dan tak sabar.


Melihat ekspresi Zeen yang seperti itu, membuat Yuna mencoba menahan senyumnya, ia beranggapan jika wajah yang seperti benar-benar lucu menurutnya. Hal itu membuat kesenangan tersendiri bagi Yuna.

__ADS_1


“Ngak tau deh!”


Hanya tiga kata saja, mampu membuat Zeen melongo.


“Apa? Apanya yang gak tau?” tanyanya bingung.


“Ngak tau harus jawab apa,” jawab Yuna sambil terkikik geli melihat raut kebingungan dari Zeen.


“Kok gitu sih ... jangan buat aku penasaran dong ....” Zeen mempoutkan bibirnya, seperti seseorang yang tengah merajuk.


“Ya aku memang gak tau ....” Yuna merapatkan bibirnya, berusaha untuk menahan tawanya.


“Aku? Wah ... tadi saya sekarang aku, cie ... main aku kamu nih ....” Zeen mengeriling-gerlingkan matanya beberapa kali kepada Yuna, dan memberikan sebuah siulan untuk menggoda gadis itu.


“Apasih ....” Yuna yang malu, langsung beranjak dari tempat itu, dengan langkah yang sedikit cepat.


“Heh? Loh? Kok malah kabur ... jawab dulu pertanyaanku ... tadi kamu bilang aku kamu, itu berarti kamu sudah menerima aku kembali dong?” tanyanya yang sudah menyamakan langkah Yuna, yang tengah ikut-ikutan berjalan cepat.


“Aku tak tahu ....”


Yuna tiba-tiba berlari, membuat Zeen terkejut melihatnya.


“Hei! Mau lari kemana!” teriak Zeen, lalu ikut berlari mengejar Yuna.


“Jangan mengejarku, aku tak kuat lari!” teriak Yuna, disela-sela larinya.


“Gak mau! Jika aku berhenti, maka kamu akan tambah berlari dan meningalkanku!” jawab Zeen yang juga berteriak.


“Aku tak akan kabur, jika kamu menghentikan larimu!”


“Kamu dulu berhenti! Maka aku juga akan berhenti!” balas Zeen.


Dibalik balkon rumah besar itu, terdapat pasutri yang saling merangkul tengah melihat pemandangan anak muda yang tengah dimabuk asmara.


“Kayak waktu kita jaman muda dulu, ya mas?” kata Winda bertanya pada suaminya.


Bram tersenyum, seraya mengelus rambut istrinya dengan sayang. “Iya mah ... persis, seperti kita dulu.”


“Jadi bernostalgia aku mas ... kapan putra kita menikah ya ....” renungnya.


“Loh? Kok jadi Yudas yang dibawa-bawa mah?” Bram tampak bingung.


Winda terkekeh, “Abisnya anak kamu itu udah tua mas, mama kan kepengen cepet nimang cucu.” Cicit Winda.

__ADS_1


Bram nampak menghela nafas, “Entahlah mah ... mas juga gak ngerti jalan pikiran putra kita, apa dia gak merasa iri melihat teman-teman sebayanya sudah punya anak? Bahkan ada yang sudah punya cucu lagi.” katanya sambil menggeleng kepala.


“Ya, kalau pengen punya cucu. Ya tinggal bikin aja lah mah! Pah! Kalian kan cuman punya anak satu, nambah lagi kek!”


Kedua pasutri itu saling berpandangan, lalu menolehkan kepala kebelakang secara bersamaan.


“Eh, anaknya nongol. Baru aja dibicarain ya kan mah?” celetuk Bram tertawa.


Yudas hanya bisa mengeleng melihat tingkah papanya.


“Kebetulan kamu ada disini Yudas! Mama pesenin sama kamu, besok bawa cewek ya? Jadiin dia mantu mama. Trus nikah dan berikan mama cucu.” Ucapnya santai.


Yudas melongo, “Ya gak bisa gitu dong mah, ngomongnya itu mudah. Cari yang setia dan benar-benar tulus itu susah mah! Andai aja ada duplikat Yuna. Pasti sudah aku bawa pulang mah.” Sungutnya merasa kesal dengan jalan pikiran mamanya.


“Ya makanya Yudas ... kalo pengen cepet dapat cewek ya, jalan-jalan dong! Siapa tau dapat sesuai kriteriamu! Kalo kamu dirumah terus ... mana bisa dapet cewek kalo begitu?” timpal Winda mengebu-gebu.


“Kamu ini bukan anak perempuan Yudas! Kamu ini anak cowok, yo mbo gantelmen to jadi lelaki, kok ngandang ae neng omah kayak anak perawan!” ucapnya lagi sambil mengeleng.


“Ah! Mama mah ....!” tak ingin mendengar ocehan lagi dari mamanya, Yudas pun berlalu pergi dari hadapan mereka, sambil mengerutu dan juga menghentak-hentakan kakinya.


Bram mengelus-elus punggung istrinya, “Sudah mah ... jangan terbawa emosi terus ... kasian anak dimarahin. Nanti jadi gak betah dirumah.” Tuturnya.


“Ya emang begitu tujuan mama mas! Biar dia gak betah dirumah dan jalan diluar, biar cepet dapet cewek,” ucap Winda ketus.


Bram tak menjawab, ia hanya mengeleng saja. Jika ditanggapi maka istrinya ini akan terus mengoceh.


“Sudahlah mah, lebih baik kita fokus lagi pada Zeen dan Yuna, sepertinya mereka sudah rujuk. Kalau memang mereka sudah baikan itu malah bagus kan mah?”


Winda mengangguk membenarkan, “Iya mas, kalo mereka dah rujuk. Mama mau minta mereka buat bikinin cucu buat mama. Percuma kalo mama berharap sama Yudas. Pasti jawabannya itu-itu mulu!” gerutunya.


'Kasihan sekali kamu Yudas ....” batin Bram, tertawa pelan.


Kembali lagi dengan sepasang insan yang tengah dimabuk asmara.


Kali ini Zeen berhasil menangkap Yuna, dirinya tersenyum semirk, lalu membawa Yuna ketempat yang sepi agar tak ada orang yang mengganggu mereka. Apalagi ia menyadari. Jika paman dan tantenya Yuna tengah mengawasi mereka.


“Loh? Mereka mau kemana mas? Kok main sembunyi-sembunyi?” tanya Winda, heran.


“Mungkin, lagi pingin berdua-duan mah, kayak kita ini.” Jawab Bram terkekeh.


“Bisa aja kamu mas,” Winda ikut tertawa, tak lupa memeluk pinggang suaminya dengan mesra.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2