
Pintu ruangan itu terbuka, dan memperlihatkan dokter yang menangani Santi itu keluar dari ruangan itu. Semua orang yang tengah menunggu itu langsung menghadang sang dokter untuk dimintai keterangan tentang kondisi Santi.
"Bagaimana dengan kondisi ibu saya dok?" tanya Bram langsung pada intinya.
Dokter itu tak langsung menjawab, ia menghela nafas sejenak. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf untuk ucapan saya ini. Sebenarnya kondisi nenek Santi bisa dikatakan tidak begitu baik, kesehatannya saat ini benar-benar drop!" jelas dokter itu, membuat Yuna yang mendengarnya tertegun, tengorokannya tercekat tak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Apa maksudnya ini dok?" tanya Bram yang sudah sangat kalut saat ini, Winda yang berada disamping sang suami itu mencoba menenangkannya.
"Sebelum itu, saya mau menyamai pesan dari nenek Santi. Cucunya yang bernama Yuna dipersilahkan untuk menghadap pada beliau, beliau menyampaikan itu." jelas dokter itu. Yuna yang mendengar namanya, tak mau berlama-lama langsung masuk kedalam ruangan dimana sang nenek berada.
"Dokter, tolong jelaskan apa maksud anda barusan?" tanya Bram lagi, yang sepertinya masih sangat penasaran.
Dokter itu menghela nafas, "Mohon maaf pak sebelumnya, saya hanyalah manusia biasa. Saya memang seorang dokter yang diperuntukkan untuk menyelamatkan penyakit manusia." Dokter itu menjeda perkataannya. "Namun untuk menyelamatkan nyawa manusia... Itu bukanlah keahlian saya. Saya tak sehebat itu, jadi dari inti yang saja jelaskan... Saya tak bisa menyembuhkan penyakit usia yang diderita oleh nenek Santi, ini sudah takdir pak... Jadi bapak tabahkan lah hati bapak, nyawa nenek Santi tak akan lama lagi."
Dungg... Seketika dua inti dari keluarga itu, tercekat ketika mendengar ucapan terakhir dari dokter itu.
"A-apa maksudnya dok? Itu gak benarkah?" tanya Winda sambil membekap mulutnya, merasa tak percaya atas ucapan dari dokter itu.
"Itu semua benar bu..." jawab dokter itu.
Seketika hati Winda luruh, ia tak kuat menompang tubuhnya yang terasa lemas. Ia terduduk disalah satu bangku yang ada disana.
"Ibu..." lirih Winda, air matanya menetes begitu saja.
Vina tak mau diam saja, ia menghampiri Winda dan mencoba menenangkannya. "Yang tabah Winda.."
Sedangkan Bram, putra dari Santi itu tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Ia terdiam dan menompang kepalanya yang terasa begitu berat.
🍂🍂
Disisi lain, Yuna yang sudah masuk kedalam ruangan itu berjalan pelan menghampiri sang nenek, yang masih terbaring lemah dibrangkar kasur itu. Dan Zeen? Zeen masih tetap disana, ia berada tepat disamping Santi dengan raut wajah yang tak bisa dibaca.
Santi melihat cucunya, ia tersenyum menyambutnya. "Cucu nenek.... Sini..." ucap Santi sambil mengangkat satu tangannya, menyuruh Yuna lebih dekat kearahnya.
Yuna langsung mempercepat langkahnya, dingengamnya tangan sang nenek dan tak lupa dengan ia yang berhambur memeluk neneknya.
__ADS_1
"Nenek...." lirik Yuna diiringi sesegukan, menunpahkan tangisnya begitu saja didalam pelukan Santi.
Santi mengelus suraiy rambut Yuna. "Sssst.... Cucu nenek jangan nangis... Udah besar kamu itu. Kamu gak malu dilihatin sama suami kamu?" ucap Santi masih dengan mengelus kepala Yuna. Sedangkan Zeen hanya diam memperhatikan interaksi mereka.
Yuna mengangkat kepalanya, dan menatap neneknya. "Nenek kalo sakit... Bilang sama Yuna, biar nanti langsung Yuna pijitin... Kalo nenek gak bilang kayak gini, Yuna jadi khawatir... Nenek kalo ada merasa sakit dikit aja, nanti langsung bilang sama Yuna ya? Biar Yuna pijitin." ujar Yuna, yang begitu memperhatikan kondisi neneknya.
Santi tersenyum mendengar itu."Nenek sudah tua Yuna... Nenek kan kadang-kadang emang sakit-sakitan begini, jadi cucu nenek jangan terlalu khawatir ya sayang..." jelas Santi.
Yuna hanya diam, ia terus memandangi Santi dengan raut Sendu.
Tanpa aba-aba, Santi mengambil tangan Yuna dan tangan Zeen, kemudian ia membawa kedua tangan bertemu dan saling menyentuh.
"Yuna...." panggil Santi.
"Ya nek.."
"Apa Yuna mau berjanji satu hal sama nenek?"
"Janji apa nek?" tanya Yuna.
"Berjanjilah pada nenek... Untuk selalu bahagia bersama dengan keluarga kecilmu, dan jangan pernah menyerah jika ada badai menghampiri... Temanilah suamimu walau suka dan duka. Apakah cucu nenek bisa menepati janji itu?" ucap Santi pada Yuna.
"Yuna?" panggil Santi lagi. "Bagaimana... Apakah Yuna bisa berjanji pada nenek..."
"Insya allah nek... Yuna akan berusaha menjalankan ucap nenek barusan." jawab Yuna.
Santi tersenyum mendengarnya, kini ia beralih menatap Zeen.
"Nak Zeen... Nenek ingin meminta satu hal pada nak Zeen."
"Apa itu nek?" tanya Zeen.
"Nenek minta..." Santi menjeda ucapannya, ia menghirup dalam-dalam oksigennya. Membuat Yuna yang melihat itu merasa khawatir.
"Nek... Tolong jangan dipaksakan nek.." ujar Yuna.
__ADS_1
"Nenek minta pada nak Zeen, untuk selalu menjaga cucu nenek. Dan buat ia bahagia bersama nak Zeen, apa nak Zeen bisa melakukannya?"
Zeen terdiam sejenak mendengar perkataan itu, ada keraguan didalam dirinya. Namun ia tak mau membuat Santi menunggu jawabannya.
"Iya nek.." jawab Zeen seadanya.
Senyum Santi kembali merekah, senyum tulus itu selalu menenangkan Yuna ketika Yuna merasa gundah.
Satu tangan terangkat dan mendarat dipipi Yuna, dielusnya pipi itu dengan lembut. "Cucu nenek... Apa Yuna sayang sama nenek hemm?"
Yuna menganguk, "Iya nek... Yuna sayang banget sama nenek." jawab Yuna sambil mengengam erat tangan sang nenek yang berada dipipinya.
"Jika Yuna sayang nenek... Iklaskan lah nenek untuk pergi ya.."
Degg... Jantung Yuna mulai memacu.
"Apa maksud nenek?" tanya Yuna.
"Nenek ingin istirahat Yuna... Sudah saatnya nenek menyusul kakek mu..." lirih Santi masih dengan senyumnya.
Yuna mulai menangis, ia mengeleng keras. "Engak nek... Nenek jangan bilang begitu..." lirih Yuna.
Tiba-tiba Winda datang dan merengkuh tubuh Yuna yang masih dibalut dengan pakaian pengantinnya. "Ssst Yuna.... Biarkan nenekmu pergi ya sayang... Nenek tak akan tenang jika Yuna seperti ini, tambahkanlah hatimu Yuna." tutur Winda berisik ditelinga Yuna.
Yuna memejamkan matanya, ia mulai mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian ia menyeka air matanya yang tengah menetes, mencoba menguatkan diri dan tersenyum dihadapanku sang nenek.
"Baiklah nek, istirahatlah..." ucap Yuna mencoba mengiklaskan walau didalam hatinya belum bisa mengiklaskan.
Santi tersenyum menatap wajah sang cucu tercinta, ia terus mengelus wajah Yuna. "Semoga cucu nenek bahagia..." lirih Santi, menjatuhkan tangannya yang tadi tengah mengelus pipi Yuna. Dan matanya mulai terpejam tak lupa dengan senyum damainya yang masih melekat dibibirnya itu.
Sosok Santi yang begitu sabar dan penyayang, kini telah beristirahat, sosok Santi yang pernah berjaza pada keluarga Albaret, kini telah memejamkan matanya. Sosok Santi yang pernah merawat Bram sampai menjadi pemuda sukses, kini telah terbaring dengan tenangnya, Sosok Santi.... Yang begitu dicintai oleh sang cucu, Yuna... Kini tak akan pernah memberikan senyuman hangat dan damai pada gadis malang itu.
Yuna tersenyum getir, tubuhnya terduduk begitu saja dilantai. Tangisnya pecah menandakan jika ia sangat terpukul kehilangan sang nenek tercinta.
Ruangan yang berbalut khas warna putih itu, menjadi saksi kesedihan yang begitu mendalam. Bagi keluarga yang ditinggalkan itu untuk selamanya-lamanya.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa komennnnnnn.....