Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 152


__ADS_3

...***...


Setelah memikirkan tentang apa yang ia katakan pada Yuna tadi malam, Zeen pun hari ini berniat untuk menanyakan pasal ucapannya tadi malam, kepada dokter kandungan yaitu dokter Andre teman sekaligus rekan kerjanya.


Zeen memasuki ruangan tempat dimana temannya berada, ia masuk begitu saja keruangan itu tanpa mengetuknya.


“Andre!!” teriak Zeen saat sudah masuk kedalam ruangan. Dan ia bahkan tak menyadari jika temannya itu sedang kedatangan pasien.


Andre tentu dibuat berdecak kesal melihat tingkah sembrono temannya itu. Namun sekuat tenaga ia menahan kekesalannya karena tak ingin membuat pasiennya merasa tak nyaman didalam ruanganya, namun sepertinya hal itu sudah terjadi ketika kedatangan Zeen yang mengangetkan mereka berdua.


“Oh? Sory ... aku kira kau tak ada pasien, ternyata aku salah.” Kata Zeen sambil membungkam mulutnya dengan tangannya. Lantas ia membungkukan badannya mengisyaratkan jika ia meminta maaf kepada pasien itu.


Andre lebih memilih acuh dan beralih kembali kepada pasiennya. “Karena semuanya tampak baik-baik saja, sekarang ibu bisa pulang dengan rasa tak perlu khawatir lagi. Jika memang ada keluhan lagi, ibu bisa datang kemari dan mengeceknya.” Jelas Andre dengan ramah.


Orang yang dipanggil ibu oleh Andre itu tersenyum menggangguk. “Terimakasih dokter, berkat dokter saya tak merasa khawatir lagi.” Ucapnya.


“Ya ... sama-sama ibu,” jawab Andre yang juga ikut tersenyum.


“Saya permisi ya dokter.”


Andre berdiri dari duduknya dan mengantar ibu hamil itu sampai didepan pintu. “Hati-hati dijalan ya ibu ....”


“Ya dokter ....”


Setelah melihat ibu hamil itu berjalan menjauh dari jangkauannya. Andre pun segera masuk kembali keruanganya dan mendudukan dirinya kembali dikursi kerjanya.


“Ya dokter Zeen pembuat onar. Apa keluhan anda kali ini? Apa anak diperut anda sudah menendang?” tanya Andre ngasal dengan raut datarnya.


Zeen dibuat cengegesan mendengar itu. Ia kemudian mendudukan dirinya juga tepat dihadapan dokter Andre.


“Hehe, maaf ya dokter bro! Aku lupa mau mengetuk pintumu. Soalnya sudah kebiasaan sih.” Ujar Zeen sambil tertawa renyah.


“Seelenye edeh kebeeseen seh!” Andre mengikuti kata-kata Zeen dengan memonyongkan bibirnya kedepan. “Kau kuberitahu seribu kali pun tak akan pernah kau dengarkan. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.” ejek Andre menatap sinis kawan sekaligus rekan kerjanya.


“Hehehe, sory bray!” ucap Zeen kembali cengegesan.


“Sudahkan berbasa-basinya. Aku ingin bertanya, ada apa kau datang kesini? Pasti ada maunya kan?” selidik Andre.


Zeen melipat kedua tangannya dimeja, kemudian ia mulai memasang wajah seriusnya. “Bukan ada maunya, tapi disini aku ingin bertanya padamu.” Ujarnya.


Andre mengikuti gaya Zeen, “Sama saja mas bro! Ada maunya atau mau bertanya pun itu sama bagiku.” Jelasnya.


“Terserah saja deh. Disini ada yang ingin aku tanyakan padamu, dan ini sangatlah penting, menyangkut hidup dan matiku!”

__ADS_1


Andre yang mendengar itu dibuat bingung sekaligus penasaran. “Emang ada apa? Apakah ada yang lebih penting dari istrimu?”


“Ya! Hal ini juga menyangkut tentang istriku!”


Seketika Andre dibuat serius saat mendengar itu. “Emang kenapa? Apa ada masalah dengan kandungannya?”


“Tidak! Tidak, bukan itu.” Zeen mengeleng langsung, “Ini tentang diriku tahu!”


“Ya ada apa sih? Jangan berputar-putar deh.” kesal Andre memberengutkan bibirnya.


“Oke, oke aku akan langsung keintinya. Aku ingin bertanya padamu, apakah aku dan Yuna diperbolehkan melakukan hubungan suami istri? Disaat istriku sedang hami?”


Seketika Andre dibuat menganga, dia kira pertanyaan apa yang akan diajukan oleh Zeen. Ternyata pertanyaan yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta, karena seumur-umur ia tak pernah melakukan hubungan terlarang itu dan hanya mampu mendengarnya saja dari orang-orang yang sudah beristri.


“Aduh Zeen! Zeen, kukira apa ternyata buaya darat lagi kepanasan toh?” ledek Andre tersenyum sinis.


“Aku serius Andre keongnard!” pekik Zeen sambil memukul meja kerja itu.


“Bukan keongnard hei! Tapi Le-o-nard! Andre Leonard!” pungkasnya memperbaiki ucapan Zeen.


“Terserah lah apa yang kau katakan, sekarang cepat jawab pertanyaanku, sebelum kau menjawabnya aku tak akan pernah beranjak dari tempat ini.” Ancam Zeen.


Seketika Andre dibuat menghela nafas panjang. “Benar-benar tuan pemaksa!” sungut Andre.


“Ya! Ayo cepat! Aku akan mendengarnya!” Zeen mulai memposisikan dirinya dengan nyaman guna untuk mendengarkan dengan serius penjelasan dari Andre, tentang seputar pertanyaan itu.


“Kau bertanya tentang, apakah boleh kalian melakukan hubungan suami istri, ketika istrimu saat ini tengah hamil kan?”


Zeen menjawab dengan mengangukan kepalanya.


“Jawabannya yaitu ... karena usia kandungan istrimu masih terbilang sangat muda, maka kalian dianjurkan tidak boleh berhubungan badan terlebih dahulu karena jika usia kandungan ibu masih terbilang muda atau berada pada trimester pertama. Sebaiknya tunda dulu melakukan hubungan intim, pasalnya pada usia kehamilan tersebut sangat rentan terjadi kontraksi selama sebulan.” Jelas Andre secara rinci walau agak berputar-putar.


“Jadi? Intinya tidak boleh?” tanya Zeen mengaga.


“Yap, betul sekali.”


Seketika Zeen menghela nafas panjang, lalu membuat tubuhnya menjadi sangat lesu. Hal itu membuat Andre tertawa terbahak-bahak.


“Jangan tertawa kau!” ancam Zeen dengan mata dilirikkan dengan sinisnya.


“Hehehe, sory bray!” balas Andre cengegesan.


°

__ADS_1


°


°


°


Zeen baru saja keluar dari ruangan Andre dengan raut yang tampak lesu dan sedikit tak bersemangat. Pasalnya saat mendengar pernyataan itu tiba-tiba membuat semangatnya menjadi drop dan lemas tak berdaya jika harus melanjutkan pekerjaannya kembali.


“Selamat siang dokter Zeen!”


Sapa seseorang dari arah depan Zeen, dan hal itu membuat Zeen mengalihkan pandangannya kedepan dan langsung melihat Mita yang tengah tersenyum kearahnya.


“Ya pagi,” jawab Zeen seadanya dan kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah tak acuh se acuhnya.


“Kenapa dengan dokter Zeen? Kenapa malah jawab pagi? Ini kan sudah siang?” gumam Mita bingung menatap punggung Zeen yang sudah berjalan menjauh darinya.


Mita mengedikan kedua bahunya dan lebih memilih abai, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.


°


°


°


Malam harinya, Zeen sudah pulang dari rumah sakit, dan kini ia tengah berjalan lunglai menuju kamarnya.


“Baru pulang Zeen?” tanya Rima sang nenek yang kebetulan baru keluar dari kamarnya.


“Yaahhh ....”


Zeen menjawab pertanyaan itu tanpa menolehkan pandangannya, dan malah berjalan sambil membungkukan badannya serta kepalanya yang tundukan.


Rima sampai dibuat terheran-heran melihat tingkah aneh dari cucunya itu.


“Kenapa dia?” gumam Rima menyatukan kedua alisnya.


Klek!


Zeen membuka pintu kamarnya dan pemandangan yang pertama ia lihat adalah, Yuna yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang masih dibalut dengan handuk putih itu langsung mengundang gelora kelelakian didalam diri Zeen meronta kembali.


“Oh astaga! Ini yang membuatku lemas sejak tadi. Bagaimana mungkin aku bisa menahannya?” gumam Zeen frustrasi setengah mati.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2