
Disebuah kamar nan luas dan mewah, dengan dominasi warna cat coklat dan hitam. Disitulah ada seorang pria yang saat ini tengah mondar-mandir tak jelas, sambil mengerutu disetiap jalanannya, membuat orang lain jika saat melihatnya pasti akan menyebut dirinya sebagai orang aneh. Atau orang tak waras?
Bagaimana tak beranggapan aneh? Jika pria itu terus saja berjalan memutari meja sambil melirik jam dinding, lalu setelah beberapa detik berlalu, ia melirik jam lagi. Namun bedanya ia melirik jam hpnya bukan jam dinding. Bukankah hal itu aneh?
"Sialan! Kaki.... Berhentilah melangkah..... Jangan membuat kepalaku bertambah pusing.....!!" Zeen mengerutu, sambil membungkukan tubuhnya dan mencekal kedua kakinya, alasannya agar kakinya itu tak terus melangkah dan membuat dirinya kecapean.
Masih dengan posisi yang sama, mulutnya masih terus berkomat-kamit. "Dasar gadis desa itu! Katanya pergi sebentar? Tapi ini? Sampai satu jam lewat dia belum juga pulang? Apakah dia tak mengkhawatirkan suaminya yang lagi sakit? Dasar istri durjana..." sungutnya merasa kesal.
Ceklek... Pintu kamarnya terbuka, dan otomatis membuat dirinya mengalihkan pandangannya menatap kearah pintu dengan posisi sama yang masih membungkukan badan dengan pantatnya yang menjulang keatas.
Mata Zeen melotot ketika melihat sosok Firo tengah berada ditengah-tengah pintu kamarnya.
"Puffttt.... Bhahahaha, kau sedang apa kak? Kenapa posisimu seperti itu?" Firo tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata disudut matanya, tentu hal itu membuat Zeen marah sekaligus kesal secara bersamaan.
"Kauu!!" geram Zeen, namun lagi-lagi mata melebar ketika melihat sosok Vina yang berjalan masuk kedalam kamarnya.
Hampir saja segelas susu yang tengah dibawa Vina terjatuh, jika saja refleksnya itu tak kuat.
"Yaampun sayang.... Kenapa kamu begitu?" Vina langsung berlari menghampiri putranya, tak lupa meletakkan gelas berisi susu putih itu pada meja.
"Kenapa sayang? Apa perutmu lagi sakit? Apa kamu butuh sesuatu? Ah! Apa kamu kebelet buang air besar sayang?"
"Buahahahaha, yaampun.... Kak Zeen mau pup dicelana ternyata? Wah... Memalukan sekali..." Firo kembali tertawa sampai memeganggi perutnya.
Zeen yang sudah memulihkan posisinya itu berjalan cepat kearah Fadli, dengan wajah mengeras dan juga kepalan tangan yang menguat.
Saat sudah sampai tepat didepan adik sepupunya, ia langsung mencengram kearah bajunya dan menatap sepupunya dengan tatapan tajam. "Berani kau menertawakanku! Maka aku akan menghancurkan seluruh tubuhmu!" tekan Zeen dengan wajahnya yang sudah memerah.
Masih dengan sisa-sisa tawanya, Firo menatap Zeen dengan tatapan meremeh, lalu kedua tangannya yang diangkat diudara. "Wow! Wow! Santai kak.... Hanya begitu saja kakak sudah mengancamku saja." ujar Firo terkekeh sinis.
"Begitu saja katamu? Kau meremehkanku, bangsat!" teriak Zeen, yang hendak memukul wajah Firo namun terhenti, ketika Vina berhasil memisahkan mereka.
__ADS_1
"Yaampun sayang.... Jangan seperti itu dong sama sepupumu, kenapa anak mama emosi terus sihh?" Vina membawa putranya sedikit menjauh dari Firo.
"Iya tante, coba bilang sama kak Zeen, jaga emosinya. Hanya begitu saja dikit-dikit langsung meledak emosinya." ucap Firo santai, tak lupa dengan pandangannya yang terus tertuju pada Zeen.
"Sudah, sudah Firo... Lebih baik kamu kembali aja dikamar, dari pada kamu cari masalah lagi sama kakakmu." ucap Vina, mengusir Firo dengan tak kalah santainya, membuat pria muda itu mendengus lalu meninggalkan tempat itu tanpa pamit.
Zeen menatap raut kekesalan Firo dengan perasaan puas. 'Rasain kau biang kerok!' sungutnya mengebu-gebu dalam hati.
"Kamu juga Zeen, kalo ada apa-apa ya jangan emosi mulu yang dibawa. Cobalah untuk bersabar sedikit." terang Vina sambil melihat putranya dengan gelengan kepala.
Zeen mendengus, lalu melangkahkan kakinya menuju sofa dan memdaratkan bongkongnya disana. Ia memejamkan matanya tak ingin menjawab ucapan Vina.
Sejenak Vina menghela nafasnya, lalu berjalan mendekat kearah Zeen tak lupa ditangannya yang sudah ada susu untuk diberikan kepada putranya.
"Sudah ya... Mama kesini cuma mau kasi susu buat kamu, nih diminum." ujarnya sambil memberikan segelas susu itu.
Zeen menerimanya. "Makasih mah.."
Baru saja ia melangkah, suara Zeen tiba-tiba menghentikannya.
"Tunggu dulu mah, Zeen mau tanya sesuatu." cicit Zeen sambil melihat mamanya dengan raut wajah ragu-ragu.
"Iya sayang? Mau tanya apa?" tanya Vina berbalik kembali menghadap putranya.
"Emmm, itu....."
"Apa sayang? Ngomongnya yang jelas dong..." Vina mulai penasaran.
"Itu mah... Itu... Emm..."
Vina yang sangking penasarannya itu mulai kesal. "Apa sih Zeen! Jangan ita itu aja, jangan bikin mama penasaran dong!" gerutunya.
__ADS_1
Wajah Zeen terlihat memelas dan lesu, ia tiba-tiba saja menarik nafasnya lalu membungnya dengan hembusan yang panjang.
Vina yang melihat itu tentu saja merasa aneh. "Kamu kenapa sih Zeen? Kok buang nafasnya panjang kayak gitu, kayak mau kentut aja." kepalanya ia gelengkan dan melihat anaknya dengan tatapan aneh.
Zeen yang tadinya sudah merasa tenang itu kembali berdecak, lalu menatap mamanya dengan pandangan kesal. "Ituloh mah! Si gadis desa itu, apa belum pulang?"
Vina terbengong. "Makasud kamu Yuna?" ulangnya.
"Iya dong mah! Siapa lagi." dengus Zeen lagi-lagi.
"Yaampun nyebut nama istrinya sendiri kok begitu sih.... Panggil namanya dong..." ia mengomeli putranya sambil melototkan matanya.
Zeen tak menjawab ia hanya diam saja.
"Yuna belum pulang Zeen, mungkin masih ada urusan." jelas Vina seadanya.
"Telfon aja mah! Suruh dia pulang, masa sudah dua jam belum pulang-pulang. Apa gak mikirin suaminya lagi sakit disini." sungut Zeen mengebu-gebu.
"Lah? Yah telfon sendiri dong, kamu kan juga punya hp?" Vina tampak bingung dengan tingkah putranya.
Ditanya seperti itu, Zeen malah menundukkan kepalanya menatap meja yang ada didepannya. "Gak punya nomornya mah..." cicit Zeen, sambil memejamkan matanya merasa malu.
"Hah?" Vina melongo. "Yaampun anak ini! Suami macam apa kamu Zeen? Nomer istrinya saja gak tau?" pekik Vina, dibuat mengeleng sambil menepuk keningnya dengan keras.
"Yah... Mau bagaimana lagi mah...."
Zeen melirikkan matanya pada sang mama, ia lalu kembali mengalihkan pandangannya kesamping menatap bingkai lukisan dengan menggigit kecil bibir bawahnya. 'Sebenarnya sih ada, tapi aku malu....'
TBC.
Maaf ya gaes, jika ceritanya terkesan monoton🙏 Author masih terus berusaha lagi dan lagi, biar cerita ini tambah seru. Namun yang namanya usaha pasti membutuhkan waktu ya😊 jadi maafin Author kalau kisah antara Zeen dan Yuna belum ada kemajuan saat ini, atau terkesan jalan ditempat🙏
__ADS_1