Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Merindukan Mama


__ADS_3

"Inilah akibatnya jika berani mencari masalah denganku!!"


Kevin menatap datar beberapa pria yang terkapar di tanah dalam keadaan bersiimbah darah. Diantara kelima pria tersebut, tak ada satupun dari mereka yang masih bernyawa, Kevin membantaii mereka dengan sadis dan brutal.


Harga mahal yang harus dibayar oleh mereka yang berani mencari masalah dengannya adalah kematian. Kevin tidak akan segan-segan menghabisi siapapun yang berani mencari masalah dengannya.


"Tuan, lalu bagaimana dengan mayatt-mayatt ini? Tetap dibiarkan saja atau~"


"Bakar saja!!" Kevin menyela ucapan Frans lalu pergi begitu saja.


Tak seorangpun dari anak buah Kevin turut membantunya, dia melakukan pembanttaian itu sendirian tanpa bantuan siapapun. Tentu saja bukan tanpa alasan dia melakukannya, Kevin paling benci pengkhianatan dan orang-orang itu berani mengkhianatinya.


.


.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Viona dan Aldo. Wanita itu tidak tahu Apa alasan mantan suaminya itu mengajaknya untuk bertemu, sudah hampir 10 menit mereka hanya diam tanpa pembicaraan, dan Hal itu membuat Viona mulai merasa muak.


"Sebenarnya untuk apa kau mengajakku bertemu?" tanya Viona mengakhiri keheningan di antara mereka berdua.


Aldo meraih tangan Viona lalu menggenggamnya. "Vio, aku tahu aku bersalah padamu, tapi apa tidak bisa jika kita kembali seperti dulu?"


Viona menarik tangannya yang digenggam oleh Aldo. "Kenapa Aldo? Apa hidupmu sudah benar-benar hancur sampai-sampai kau frustasi seperti ini?" ucap Viona. Wanita itu menonton mantan suaminya dengan sinis. "Dan maaf-maaf saja, jika untuk memaafkanmu masih bisa aku pertimbangkan, tapi untuk kembali seperti Dulu aku rasa tidak bisa,"


Aldo menatap mantan istrinya itu dengan sendu."Kenapa, Vi? Padahal kita berdua masih bisa menjadi pasangan yang harmonis seperti dulu, asalkan kau mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, maka aku akan berubah untukmu. Dan untuk itu berikan aku kesempatan satu kali lagi," pinta Aldo memohon.


Viona menghela nafas. "Aku sudah muak denganmu, lagipula Apa yang bisa aku harapkan dari pria tidak berguna sepertimu? Kau terlalu mendengarkan ibu dan adikmu, dan itulah yang membuatku tidak tahan denganmu!! Maaf, aku masih banyak urusan, aku harus pergi sekarang." Viona menyambar tasnya yang ada diatas meja dan pergi begitu saja.

__ADS_1


.


.


Kevin memperlambat laju mobilnya ketika tanpa sengaja dia melihat keberadaan Viona di halte bus. Dia tidak tahu apa yang sedang Viona lakukan di sana, namun dilihat dari raut wajahnya dia terlihat kesal. Kevin pun segera menepikan mobilnya dan menghampiri Viona.


"Viona, sedang apa kau di sini?" tanya Kevin sambil melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu.


Sontak Viona mengangkat wajahnya dan dia sedikit terkejut karena kemunculan Kevin yang begitu tiba-tiba. "Paman, sedang apa kau disini?" bukannya menjawab pertanyaan Kevin, Viona malah balik bertanya.


"Aku bertanya padamu, tapi kenapa kau malah balik bertanya padaku?!" ucap Kevin sambil menyentil pelan kening Viona.


"Bajjingan itu tiba-tiba menghubungiku dan mengajakku untuk bertemu, dia meminta maaf yang ingin rujuk kembali denganku," jawab Viona


"Dan kau menyetujuinya?" tanya Kevin memastikan.


Viona menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak, Paman. Mana mungkin aku kembali pada bajiingan itu yang jelas-jelas sudah menyakitiku, lebih baik aku menikahi pria lain daripada harus kembali padanya. Amit-amit deh, jangankan untuk rujuk, memaafkannya saja aku tidak sudi!!" ujar Viona menegaskan.


Viona mendekati Kevin lalu memeluk lengan terbukannya dan menatap ke dalam manik hitamnya yang dingin. "Paman, aku sangat lapar. Ayo, sebaiknya kau traktir aku makan sekarang," ucapnya bersemangat. Ya, jika sudah berurusan dengan perut, Viona selalu semangat.


"Memangnya kau ingin makan dimana?" tanya Kevin.


Viona tampak berpikir, dia mencoba mencari tempat yang recommended. "Aku tidak tau, yang jelas aku ingin sekali makan seafood," jawab Viona.


"Seafood, kau cari mati, ya?!" Kevin menatap Viona dengan tajam. Jelas-jelas Dia alergi dengan semua jenis makanan laut, tapi Viona malah ingin makan seafood.


Viona menggaruk tengkuknya sambil tersenyum tanpa dosa. "Hehehe, coba-coba sedikit aku rasa tidak akan jadi masalah,"

__ADS_1


Kevin menggeleng. "Tidak boleh!! Apapun alasannya, kau tetap tidak boleh makan seafood!!" ucapnya dengan tegas, Kevin tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Viona memakan seafood. "Kita makan yang lain saja," dia kemudian berbalik dan pergi begitu saja.


"Yakk!! Kenapa aku malah ditinggalkan? Paman, tunggu!!" teriak Viona seraya menyusul Kevin yang berjalan menjauh. Viona menarik lengan Kevin lalu memeluknya seperti tadi. "Paman, kenapa kau meninggalkanku? Lalu kita mau makan siang dimana?" tanya Viona.


"Hm, kau akan segera tahu." Jawabnya sambil tersenyum misterius, membuat Viona penasaran dan bertanya-tanya.


Viona memperhatikan jalan yang ia dan Kevin lalui saat ini, jalanan itu sangat tidak asing baginya. Kedua mata Viona membelalak sempurna , sontak ia menoleh pada Kevin yang menatapnya.


"Omo!! Jangan bilang suka Paman ingin mengajakku makan siang di kedai Bibi Jang?" Tebak Viona 100% benar.


"Hm," Kevin menganggukkan kepala. "Sudah lama sekali kita tidak makan di sana, padahal dulu kita sering sekarang makan kedai Bibi Jang ketika Kakak menghukummu karena sering bolos sekolah,"


Viona membulatkan matanya lalu terkekeh. Membayangkan masa lalu membuatnya geli sendiri. Ia sering dihukum oleh ibunya karena bolos sekolah, sang ibu memintanya untuk berlari mengelilingi kota sebanyak dua kali. Bukannya lari seperti yang ibunya minta, Viona malah menghabiskan waktunya untuk makan di kedai pinggir jalan langganannya.


Ibu Viona meminta Kevin untuk mengawasinya dan mengabadikan video ketika dia sedang berlari sebagai bukti jika Viona tidak bermain curang. Bukannya mengawasinya, mereka berdua malah bekerjasama karena Kevin tidak tega jika harus melihat Viona berlari mengelilingi kota dibawah terik matahari yang menyengat.


"Kenapa, Vi?" tanya Kevin kebingungan. Tiba-tiba Viona menghentikan langkahnya membuat Kevin ikut berhenti juga. Viona menoleh dan menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca "Hey, kenapa menangis?" tanya Kevin kebingungan.


"Aku teringat pada, Mama. Paman, Aku sangat merindukannya," bisiknya dengan suara parau menahan tangis.


Kevin menarik bahu Viona lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Paman, tau bagaimana perasaanmu. Jika memang ingin menangis, menangislah tidak perlu ditahan-tahan," ucapnya berbisik. Kevin mengeratkan pelukannya pada Viona sambil menutup rapat-rapat matanya.


Dan seketika Viona merasa tenang, pelukan hangat Kevin memberikan kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan dari mendiang ayahnya maupun Aldo yang merupakan mantan suaminya.


Kevin melepaskan pelukannya lalu menghapus jejak air mata dikedua pipinya. "Sekarang jangan menangis dan bersedih lagi. Ayo masuk, kau bilang sangat lapar," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Memang tidak seharusnya dia bersedih, apalagi menangis sang ibu yang sudah bahagia di surga.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2