
Viona menatap pria paruh baya itu dengan sinis. Pria itu terlihat besar dan cemas, kekhawatiran terlihat jelas dari sepasang biner matanya yang tajam.
Bukan mencemaskan Viona yang tidak akan selamat dari tangannya karena Kevin tidak kunjung datang. Tapi karena dia takut semua rencananya akan sia-sia, apalagi dia telah bersumpah kepada mendiang istrinya untuk membalaskan dendamnya.
"Percuma saja kau menunggu seperti anjing gila, karena sampai kapanpun juga Paman tidak akan datang." ucap Viona meremehkan.
Lantas pria itu menoleh. "Dia pasti akan datang. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam saat mengetahui wanitanya berada dalam bahaya, jadi sebaiknya kau diam saja dan Tunggu dia dengan tenang." Ucap pria itu menimpali. Dia sangat yakin bila Kevin akan datang untuk menyelamatkan Viona.
Biar bisa saja dia menghabisi Viona sejak tadi. Tetapi menurutnya itu tidaklah seru, lebih seru lagi bila dia menghabisi keduanya sekaligus.
"Meskipun dia datang, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhkan sedikit pun!!" ucap Viona menegaskan.
Sebisa mungkin Viona akan melindungi Kevin. Dia tidak akan membiarkan Kevin berada dalam bahaya hanya karena dirinya, apalagi dia tidak ada hubungannya dengan dendam pria itu pada keluarganya.
"Kita lihat saja!!" jawab pria itu menimpamu.
Viona mengepalkan tangannya dengan kuat. Jika saja keadaannya tidak seperti ini, mungkin saja dia bisa melepaskan ikatan itu dengan mudah. Tetapi Viona juga tidak bisa mengambil resiko dan membahayakan janin di dalam perutnya, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menunggu Kevin dengan sabar. Karena di dalam hati kecilnya, Viona sangat yakin jika Kevin akan datang menolongnya.
Brakk...
Dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian mereka berdua. Viona dan pria itu lantas menoleh dan mendapati salah satu anak buah pria setengah baya itu memasuki ruangan sempit tersebut.
"Tuan, dia sudah datang dan tidak sendirian. Banyak anak buah kita yang mati di tangannya." Lapor salah satu anak buah pria paruh baya tersebut.
__ADS_1
Pria itu menghafalkan tangannya. Dengan marah dia bangkit dari kursinya dan melenggang pergi. Dia keluar untuk memastikannya lalu kembali lagi pada Viona, Kevin tidak akan berani macam-macam karena wanita itu ada di tangannya.
"Apa aku bilang, dia benar-benar datang. Dan persiapkan dirimu, tidak lama lagi aku akan segara mengirim kalian berdua menuju neraka... hahaha!!" ujar paruh baya itu diiringi tawa di akhir kalimatnya
Kevin benar-benar datang. Dia datang untuk menyelamatkan istri dan calon anak mereka. Mana mungkin Kevin akan diam saja saat sadar nyawa istri serta janin di dalam perutnya berada dalam bahaya.
"Paman, kau benar-benar datang untuk kami?"
Pria paruh baya itu terkejut saat salah seorang anak buahnya tersungkur di bawah kakinya dalam keadaan babak belur. Siapa lagi pelakunya jika bukan Kevin. Kevin datang bersama anak buahnya yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang.
Pupil mata kanan Kevin membulat sempurna melihat tubuh Viona yang terikat kuat pada sebuah kursi tua dan usang. Lalu pandangan Kevin bergulir pada pria setengah baya itu yang sedang menodongkan senjata padanya. Kevin menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan ,begitu pula dengan pria itu. Ini adalah pertemuan pertama mereka berdua.
Baik Kevin maupun pria paruh baya itu sama-sama merasa familiar ketika mereka melakukan kontak mata. Postur tubuhnya mengingatkan Kevin pada seseorang, namun saat melihat wajahnya membuatnya sadar jika mereka adalah dua orang yang berbeda.
Pria setengah baya itu menyeringai dan menatap Kevin dengan dingin. "Melepaskannya, bermimpi saja!! Aku tidak akan melepaskannya!!" ucapnya menegaskan.
Viona menggelengkan kepala. Memberi kode pada Kevin supaya dia tidak melakukan kebodohan yang nantinya bisa membahayakan keselamatannya. Namun sayangnya kode itu tidak dihiraukan olehnya. Kevin adalah tipe pria yang keras kepala dan tidak peduli.
"Lepaskan dia atau aku tidak akan segan-segan untuk meledakkan kepalamu!!" ucap Kevin mengancam.
"Coba saja jika kau bisa. Karena sebelum kau berhasil membunuhku, nyawa wanita itu aku pastikan sudah melayang!!"
"Paman, jangan dengarkan dia dan jangan hiraukan diriku. Jangan pedulikan ancamannya, aku mohon!!" pinta Viona dengan berurai air mata. Wanita itu terus menggeleng, memohon supaya Kevin tidak termakan oleh ucapannya.
__ADS_1
Lalu pandangan Viona bergulir pada pria yang berdiri di sampingnya. "Dendammu tidak ada hubungannya dengannya, jadi lepaskan dia dan jangan melibatkannya dengan masalah ini." pinta Viona memohon. Sungguh, dia tidak ingin melihat Kevin terluka apalagi celaka karena dirinya.
Pria paruh baya itu menyeringai sinis. "Sungguh sebuah kisah cinta yang sangat mengharukan. Sama-sama saling melindungi dan tidak ingin kehilangan. Benar-benar kisah cinta yang sangat luar biasa,"
"Paman, aku mohon jangan melakukan kebodohan hanya demi diriku. Kau harus pergi , dendam ini antara dia dan aku. Jadi aku mohon pergilah," pinta Viona memohon.
"Omong kosong apa yang kau katakan, Viona?! Bagaimana bisa kau mengatakan masalah ini tidak ada hubungannya denganku?! Sejak aku menginjakkan kakiku di keluarga Zhang, aku sudah menganggap diriku sebagai bagian dari kalian. Dan aku memiliki peran penting untuk melindungi kalian, terutama dirimu. Karena kau adalah tanggung jawabku." tutur Kevin panjang lebar.
Air mata Viona semakin deras setelah mendengar apa yang Kevin katakan. Dan mendengar kata-kata Kevin membuatnya semakin tidak ingin melihatnya terluka karena dirinya. Tidak, Viona tidak akan membiarkan Kevin berkorban lagi demi dirinya.
"Wah wah wah,sungguh romantis sekali. Kalau begitu aku akan mengirim kalian berdua secara bersamaan ke neraka. Tidak!! Lebih dia dulu, karena aku ingin melihatmu hancur saat melihat wanita yang paling kau cintai mati di depan matamu!!" ujar pria paruh baya itu.
"JANGAN!!" Kevin berseru dengan lantang. "Jangan menyentuhnya apalagi menyakitinya atau aku tidak akan segan-segan padamu!! Lepaskan dia sekarang juga sebelum aku hilang kesabaran," ucap Kevin memperingatkan.
Bisa saja Kevin langsung menembak mati pria itu. Namun itu akan sangat beresiko pada Viona. Nyawanya sedang terancam dan Kevin tidak bisa mengambil resiko. Dia tidak boleh gegabah karena ada dua nyawa yang harus dia selamatkan.
"Jangan menyakitinya. Kau boleh lakukan apapun padaku, asal jangan menyentuhkan sedikit pun, bahkan hanya seujung kuku sekalipun!!" ucap Kevin menegaskan. Dia mencoba bernegosiasi dengan paruh baya itu, hanya itu satu-satunya cara yang bisa Kevin lakukan untuk saat ini.
Paruh baya itu menyeringai sinis. Dia memanggil beberapa anak buahnya yang masih hidup untuk masuk ke dalam. Mereka mendekati Kevin dan berdiri di belakang pria itu. Baik Kevin maupun Viona sama-sama tidak ada yang tahu apa yang sedang di rencanakan olehnya.
"Hajar dia sampai matii!!"
xxx
__ADS_1
Bersambung