Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Pertemukan Kami Dengan Papa


__ADS_3

"Apa kau yang bernama, Terasa?" tegur Kevin pada seorang wanita berusia pertengahan empat puluh tahunan. Wanita berkacamata berhelaian hitam pendek.


Lantas wanita itu menoleh dan menatap Kevin penuh tanya. "Ya, memangnya kau ini siapa dan bagaimana kau bisa mengetahui namaku?" Teresa balik bertanya sambil menatap Kevin penasaran.


"Tidak penting siapa aku, tapi ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dan dia sudah menunggu selama lebih dari tiga puluh tahun hanya untuk bertemu denganmu!!"


Teresa menatap Kevin penasaran. "Siapa?" dia bertanya dan menatap Kevin penasaran.


"David Lu, ayahmu!!"


Gerakan tangan wanita itu terhenti setelah mendengar nama yang baru saja di sebut oleh Kevin. Teresa menoleh dan menatap Kevin dengan tatapan dingin. "Jadi kau adalah suruhan pria itu? Katakan saja padanya jika aku tidak sudi untuk bertemu dengannya, karena aku menganggapnya sudah lama mati!! Pergilah karena aku masih banyak kerjaan!!" Teresa mengusir Kevin dan memintanya untuk pergi.


"Tapi bagaimana jika sebenarnya Ayahmu tidak bersalah dan dia hanyalah korban, apa kau tetap tidak mau bertemu dengannya?!" tanya Kevin. Kevin tidak akan pergi begitu saja tanpa membawa kedua anak David Lu ikut bersamanya.


Teresa mengangkat kepalanya dan menatap Kevin dengan pandangan menyelidik. "Apa maksudmu?" dia membutuhkan penjelasan dari apa yang Kevin katakan.


"Ya, ayahmu memang tidak bersalah dan dia hanyalah korban dari keegoisan orang lain. Demi menjaga nama baik keluarga dan Kakaknya, dia rela kehilangan segalanya termasuk kalian bertiga, harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini."


Teresa menggeleng. "Aku masih tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Sebenarnya untuk apa aku mengatakan semua itu padaku? Aku pikir aku akan mempercayai semua kata-katamu itu? Aku adalah putrinya, dan aku jauh lebih mengenal dia!! Jadi jangan mengatakan omong kosong lagi di depanku!!" ujar Teresa dengan nada bicara kurang bersahabat.


Kevin menyeringai dan menatapnya dengan sinis. "Benarkah? Benarkah yang kau katakan itu jika kau benar-benar mengenalnya dengan baik? Sebenarnya omong kosong apa yang kau katakan ini? Jika kau memang benar-benar mengenalmu dengan baik, pasti kau akan ingat dengan semua kasih sayang dan perhatian yang dia berikan padamu di masa lalu."


"Aku yakin saat itu kau sudah dewasa dan bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Tapi aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai apa yang aku katakan ini, semua terserah padamu, kau mau percaya aku ataupun tidak, aku tidak peduli. Jika kau memang percaya dan ingin bertemu dengannya, temui aku di bandara malam ini jam 11. Mungkin saja ini adalah kesempatan terakhirmu untuk bertemu dengannya, karena kita sama-sama tidak tahu kapan Tuhan akan memanggilnya pulang!!" Ujar Kevin panjang lebar. Kemudian dia beranjak dan pergi begitu saja.


Tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang dan menatap wanita itu dari ekor matanya. "Jangan lupakan semua kasih sayang dan pengorbanan yang telah dia berikan untukmu. Aku akan menunggumu!!" ucapnya dan pergi begitu saja.


Teresa mau ikut dirinya kembali ke China ataupun tidak, Kevin tidak peduli, yang terpenting adalah dia telah menyampaikan apa yang harusnya dia sampaikan. Dan tujuan Kevin selanjutnya adalah anak kedua David Lu yang hidup sebagai gangster, mungkin meyakinkannya jauh lebih sulit daripada Teresa.


xxx


Belum genap satu hari Kevin meninggalkannya, namun Viona sudah merasa kesepian. Dia benar-benar merasa kosong tanpa ada di sisinya. Rasanya Viona ingin karena merindukannya. Semenjak diketahui hamil, Viona menjadi sangat sensitif dan tidak pernah mau jauh dari Kevin, bahkan hanya satu detik saja, tapi sekarang Kevin malah meninggalkannya ke luar negeri selama beberapa hari.


Berkali-kali wanita itu menghela napas. Dia benar-benar merasakan bosan yang amat sangat luar biasa.


"Vi, kau kenapa?" teguran itu sedikit menyita perhatian Viona. Wanita itu menoleh dan mendapati David Lu berjalan menghampirinya.


Viona menghela napas lalu menggelengkan kepala."Tidak apa-apa, Kakek, sedikit bosan saja. Mungkin karena anak ini merindukan papanya, jawab Viona sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.


David Lu tersenyum. Kemudian dia mengambil tempat di samping Viona. "Itu adalah hal yang wajar dan umum bagi wanita hamil. Kakek, jadi teringat pada mantan istri, ketika mengandung anak-anak kami dulu dia begitu manja dan tidak pernah mau kejauhan dari Kakek, bahkan ketika Kakek pergi bekerja dia juga ikut. Meskipun itu sangat merepotkan tetapi kakek tetap mengijinkannya yang tidak tega untuk melarangnya." Ujar David Lu.


Pandangan pria itu menerawang, Dia teringat kembali pada masa lalunya ketika membahas tentang kehamilan, dia jadi merindukan istri dan anak-anaknya.


Viona meraih tangan David Lu lalu menggenggamnya. "Kakek, kau tidak boleh bersedih lagi. Aku yakin sebentar lagi kau pasti bertemu dan berkumpul kembali dengan mereka,Gege pasti menepati janjinya untuk membawa kedua anakmu kemari." Ucapnya sambil menatap lelaki tua itu dengan sendu.


David Lu mengangguk. "Ya, lagipula siapa yang bersedih? Kakek, tidak sedih kok, hanya sedikit merasa kurang nyaman saja. Viona, kau sedang hamil muda jadi jangan banyak berpikir apalagi banyak beban pikiran. Pikirkan mu harus relaks dan enjoy, kau mengerti?!" ucap David Lu menasehati. Viona menganggukkan kepala.


"Ya, Kakek. Aku mengerti."


xxx


Kevin tiba di tempat tongkrongan putra kedua David Lu biasa berkumpul dengan teman-temannya. Namun sayangnya mereka sedang tidak ada di sana, tempat itu kosong dan tidak ada seorang pun.

__ADS_1


"Sepertinya kita kurang beruntung. Apa kau tahu tempat lain yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul-kumpul?" tanya Kevin pada Neo.


Neo mengangguk. "Stasiun kereta bawah tanah, selain di sini stasiun bawah tanah adalah tempat umum yang biasa digunakan berkumpul oleh para preman, karena di sana mereka biasanya bisa mendapatkan banyak keuntungan dari para penumpang kereta." Ujar Neo.


"Jangan membuang-buang laki-laki, kita pergi ke sana." ajak Kevin pada Neo.


Kevin harus menemukannya malam ini juga. Waktunya hanya tersisa 4 jam, belum jam 11.00 malam dia sudah harus sampai di Bandara. Bagaimana pun hasilnya yang terpenting dirinya sudah berusaha.


Dua puluh satu menit berkendara. Akhirnya mereka tiba di stasiun kereta bawah tanah. Dari jarak 5 meter, Kevin melihat segerombolan anak muda dan pria dewasa yang sedang berkumpul di satu titik menikmati minuman keras berbagai jenis dan merk. Dan salah satunya adalah putra kedua David Lu, Jackie.


Tanpa rasa takut sedikitpun, Kevin menghampiri gerombolan itu. "Apa kau yang bernama Jackie?" dan pertanyaan Kevin mengalihkan perhatian orang-orang itu. Sontak mereka menoleh dan menatap Kevin dengan pandangan bertanya.


Jackie berdiri dan menatap Kevin dengan bingung. "Kau siapa? Untuk apa mencari ku?" tanya Jack dengan tatapan kurang bersahabat.


Tiba-tiba teman-teman Jack berdiri dan mengelilingi Kevin, mereka semua bersenjata lengkap sedangkan Kevin dengan tangan kosong. "Jangan coba-coba untuk mencari masalah di sini jika tidak ingin hidupmu berakhir mengenaskan. Lebih baik berikan uangmu pada kami dan semua harta yang kau miliki!!" pinta salah seorang dari mereka bertujuh.


Jack mengangkat tangannya dan mengisyaratkan supaya temannya itu diam. "Katakan untuk apa kau mencari ku? Jika bukan untuk hal serius silahkan pergi," pinta Jack.


"Aku datang untuk membawamu kembali ke China, seseorang ingin bertemu denganmu." Ucap Kevin dan membuat Jack semakin penasaran.


Pria itu memicingkan matanya dan menatap Kevin dengan pandangan bertanya. "Siapa?" tanya Jack.


"Ayahmu!!" Kevin menjawab singkat.


Meskipun hanya sekilas, Kevin melihat keterkejutan di mata pria itu ketika dia menyebut kata 'Ayahmu' tangan Jack terkepal kuat di sisi tubuhnya. Dia berbalik badan dan memunggungi Kevin. "Pergilah, aku tidak memiliki urusan lagi dengannya. Dan beri tahu dia, jika putranya sudah tidak menginginkannya lagi, karena bagiku dia telah mati!!" Jack meminta Kevin untuk pergi sekaligus menyampaikan apa yang dia katakan.


Alhasil sebuah pukulan mendarat mulus di wajahnya. Kevin menarik pakaian yang Jack kenakan dan tanpa basa-basi langsung memukul wajahnya dengan keras hingga membuatnya tersungkur ke tanah. Teman-temannya yang tidak terima dengan apa yang Kevin lakukan mencoba mencoba menyerangnya namun di hentikan oleh Kevin.


"JANGAN IKUT CAMPUR!!" pintanya menuntut. Tatapannya dingin dan tidak bersahabat. "Ini masalahku dengan anak durhaka ini, jadi sebaiknya kalian mundur!!" pintanya menuntut.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Sebenarnya kau ini siapa, dan apa hubunganmu dengannya? Sampai-sampai kau mencari ku dan mengajakku untuk ikut pulang ke China bersamamu?!" Jackie menatap Kevin penasaran.


"Tidak penting siapa aku. Aku hanya ingin memberitahumu jika ayahmu bukanlah penjahat seperti yang kau pikirkan selama ini, dia hanyalah korban keegoisan orang lain. Selama ini dia sudah hidup menderita, bahkan di hari tuanya dia masih harus menanggung beban penderitaan yang cukup berat." Ujar Kevin.


"Memangnya kau siapa? Tahu apa kau tentang pria itu? Dia adalah ayah dan suami terburuk sepanjang masa. Demi kepuasannya sendiri, dia menghayati Mama dan berselingkuh dengan banyak wanita di luar sana, menelantarkan kami anak-anaknya dan membiarkan kita hidup menderita selama bertahun-tahun. Jangan sok tahu kau, dan jangan coba-coba untuk menjadi pahlawan kesiangan. Lagipula tidak ada gunanya kau membantu seorang penjahat!!" ujar Jackie dengan emosi.


Tangan Kevin terkepal kuat. Dia menarik pakaian yang Jack kenakan dan kembali melayangkan sebuah pukulan pada wajahnya, membuat sudut bibirnya robek dan berdarah. Lagi-lagi tindakan Kevin memancing emosi teman-teman Jackie. Mereka hendak menyerang Kevin secara bersamaan namun di hentikan olehnya.


"AKU BILANG JANGAN IKUT CAMPUR!!" bentak Kevin emosi. "Aku tidak akan segan menghabisi kalian semua jika berani ikut campur apalagi melindungi bajingan ini!!" lanjutnya emosi.


Mereka pun tidak berkutik sama sekali setelah mendengar ancaman Kevin yang tidak main-main. Kevin tidak akan segan-segan menghabisi mereka semua jika mereka berani ikut campur dan membantu Jackie.


Pandangan Kevin lalu bergulir pada Jackie. "Kau bisa menilai sendiri bagaimana Ayahmu setelah mendengar rekaman ini. Kau bisa menyimpulkan apakah dia benar-benar bersalah atau tidak. Aku memberi waktu untuk berpikir, jika kau benar-benar menganggapnya sebagai ayah dan mengingat semua kebaikan yang telah dia lakukan padamu di masa lalu, temui aku di bandara pukul 11.00 malam ini!! Aku menunggumu!!" Kevin beranjak dan pergi begitu saja.


Kevin memang ingin mereka ikut kembali ke China bersamanya. Tetapi Kevin tidak ingin terlalu mengharapkannya mengingat kebencian yang mereka miliki untuk David Lu yang sepertinya sudah mendarah daging. Dia hanya berharap mereka segera sadar dan tahu jika ayahnya bukanlah penjahat seperti yang selama ini mereka pikirkan. David Lu berhak bahagia di masa tuanya dan berkumpul bersama anak-anaknya.


xxx


"Teresa, anak Papa yang cantik. Selamat ulang tahun sayangku, semoga kau panjang umur dan sehat selalu. Kau adalah Putri kebanggaan Papa dan permata hati, Papa."


"Jangan menangis lagi, Sayang. Cup Cup Cup, ada Papa di sini, Papa akan memelukmu seperti ini terus sampai kau menua nanti."

__ADS_1


"Luka ini tidak sebanding dengan jika Papa harus kehilanganmu. Jangan menangis lagi, Papa baik-baik saja."


Kenangan demi kenangan masa lalunya bersama David Lu kembali berputar di kepala Teresa. Tanpa sadar dia sudah menangis mengingat semua kenangan indahnya bersama sang ayahnya. Yang Teresa tahu, Ayahnya adalah pria yang sangat baik dan penuh kasih sayang, perhatian dan dia menyayangi keluarganya.


Bagaimana bisa dia begitu bodoh mempercayai rumor jika Ayahnya adalah seorang penjahat, penghianat keluarga dan tukang selingkuh? Teresa menyeka air matanya, dia bangkit dari kursinya dan melenggang pergi meninggalkan ruangannya. Dia akan kembali ke China.


xxx


"Papa, mereka semua jahat padaku. Mereka memukulku..."


"Cup Cup Cup. Anak Papa yang baik, pintar dan tampan, jangan menangis lagi Sayangku. Biar papa nanti yang memberi mereka hukuman supaya tidak berbuat jahat lagi padamu. Berani-beraninya mereka membuat jagoan Papa ini menangis."


"Papa, harus menghukum mereka dan memberi mereka pelajaran supaya tidak menggangguku lagi."


"Baik, Nak. Pasti papa akan memberi mereka pelajaran, mana bisa Papa diam saja dan membiarkan Putra kesayangan Papa dilukai begitu saja. Sekarang jadi tidak boleh menangis lagi, ayo kita membeli permen, tapi diam-diam saja jangan beritahu Mama, bisa-bisa dia menghukum kita. Tutup mulut, oke..."


"Oke, Pa."


Jackie menangis tersedu-sedu saat mengingat semua kenangan masa lalunya Bersama sang ayah. Iya yang selalu memperlakukannya dengan hangat hal penuh kasih sayang, melindunginya dan tidak membiarkan apapun dan siapapun menyakitinya.


Dengan menahan semua rasa sesak yang menghimpit dadanya. Jackie berlari meninggalkan teman-temannya dan bergegas pergi ke bandara, dia telah mengambil keputusan akan ikut pulang ke China bersama Kevin. Dia ingin bertemu ayahnya, Jackie ingin bertemu dengan pahlawannya. Selagi masih ada kesempatan, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Papa, tunggu aku..."


xxx


Kevin melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah jam sebelas lebih, namun kedua anak David masih belum juga terlihat batang hidungnya. Kevin menghela nafas, dia sudah menduga jika mereka berdua tidak akan datang apalagi ikut bersamanya kembali ke Korea.


Dia memerintahkan Min Yung, pilot yang mengudarakan pesawat untuk segera menutup pintu pesawat. Namun ketika Min Yung akan menutup pintu tersebut. Tiba-tiba dia mendengar seseorang berteriak dari kejauhan. Lalu pandangan Min Yung bergulir pada Kevin.


"Tuan Muda, ada yang berlari ke sini. Satu orang, bukan... Tetapi dua orang,"


Kedua mata Kevin yang sebelumnya tertutup rapat terbuka seketika setelah mendengar apa yang Min Yung katakan. Dia menoleh dan dua orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kevin tersenyum lebar. Ternyata mereka masih menyayangi ayahnya.


"Buka kembali pintunya, mereka berdua adalah orang yang aku tunggu." Ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Min Yung.


Keduanya sudah berada di dalam pesawat. Kakak beradik itu menatap Kevin dengan nafas naik turun tak beraturan, mereka berlari supaya tidak tertinggal pesawat. Melewatkan kesempatan emas seperti ini akan membuat mereka menyesal seumur hidup.


"Bawa dan pertemukan kami dengan, Papa."


"Baiklah, masuklah dan segera pasang sabuk pengaman kalian. Kita berangkat sekarang," ucap Kevin.


Baru saja pintu pesawat mau ditutup. Tiba-tiba sebuah tangan terulur ke depan dan menahan pintu tersebut. Pintu pun di buka kembali dan wanita itu masuk ke dalam pesawat. Dan kemunculannya membuat terkejut Teresa dan Jacky. "Mama!!" berdua berseru dengan keras memanggil wanita itu dengan sebutan 'Mama'


Dalam hati Kevin berbisik. "Jadi dia mantan istri, David Lu,' Kevin menatap wanita itu dengan pandangan bertanya. "Apa yang anda inginkan, Nyonya?" tanya Kevin dengan nada dingin dan datar.


"Pertemukan aku dengannya. Ada hal yang harus aku selesaikan dengannya!!" ucap wanita itu 'Barbara'


Barbara mendengar dari suami Teresa jika putrinya itu akan pergi ke China untuk bertemu dengan Ayahnya. Apa yang terasa ceritakan pada suaminya diceritakan kembali olehnya pada sang ibu mertua. Dan kebenaran yang baru saja terungkap membuat Barbara merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.


"Baiklah, kita akan berangkat sekarang juga!!"

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2