Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Ingin Menundanya


__ADS_3

Musim Gugur telah tiba. Musim di mana daun-daun mulai menguning dan berguguran ke tanah. Di beberapa tempat, daun-daun maple membanjiri jalanan. Angin yang berhembus terasa lebih dingin dari biasanya, angin yang bertiup mengawali musim dingin setelah musim gugur berlalu.


Banyak yang membenci musim gugur. Namun tidak sedikit pula yang menyukainya, Viona salah satunya. Di bandingkan musim dingin yang bersalju, Viona lebih menyukai musim gugur. Entah apa alasannya, hanya Viona yang memiliki jawabannya.


"Udara sangat dingin, kenapa kau berdiri disini dengan pakaian setipis ini?" Kevin tiba-tiba muncul sambil membawa mantel hangat yang kemudian dia letakkan di bahu Viona.


"Bukankah ada Paman yang terus memperhatikanku?" ucap Viona sambil berbalik badan. Posisinya dan Kevin saling berhadapan.


Viona mendekati Kevin lalu memeluknya. Kedua tangannya memeluk leher pria itu. "Udara sangat dingin. Bukankah udara semacam ini sangat mendukung untuk kita bercinta?" Viona mengarahkan jari-jari lentiknya pada bibir Kiss Able milik Kevin yang tampak menggoda di matanya.


"Kau menginginkannya?" tanya Kevin sambil membalas pelukan Viona.


Wanita itu mengangguk dengan antusias. "Tentu saja, bukankah semakin sering melakukannya maka akan cepat terlihat hasilnya? Setidaknya saat pulang nanti kita membawa oleh-oleh yang berharga." Ujar Viona.


Kevin menarik tengkuk Viona lalu mencium singkat bibirnya. "Tapi aku masih ingin menundanya. Kau baru saja kehilangan dia, setidaknya tunggu beberapa bulan lagi sampai kondisimu benar-benar stabil. Kita masih memiliki banyak waktu untuk melakukannya." tukas Kevin.


Dia memikirkan kondisi Viona saat ini. Apalagi dokter menyatakan sebaiknya di tunda dulu sampai kondisi Viona benar-benar stabil, bukan hanya fisiknya tetapi mentalnya juga. Dokter menyatakan jika Viona mengalami depresi pasca keguguran, jadi ada baiknya memberi jarak untuk hamil kembali.


"Apa Paman tidak akan kecewa jika kita harus menundanya?" tanya Viona sambil mengunci mata kanan milik Kevin. Dia hanya takut Kevin akan kecewa padanya.


Pria itu menggeleng. "Tentu saja tidak, Sayang."


"Sungguh?" tanya Viona memastikan. Kevin menganggukkan kepala untuk kedua kalinya. "Sebenarnya aku juga ingin mengundangnya, setidaknya sampai aku benar-benar siap untuk memilikinya lagi. Tetapi aku memikirkan dirimu, Paman. Aku hanya takut kau akan kecewa jika tahu diriku ingin menundanya. Apalagi kau sangat mendambakan kelahiran anak itu." tutur Viona.


"Bodoh," Kevin menyentil kening Viona dengan gemas setelah mendengar apa yang dia katakan. "Tentu saja aku tidak akan kecewa padamu. Kita masih memiliki banyak waktu untuk memilikinya lagi. Dan yang terpenting sekarang adalah kondisimu, kita akan memilikinya kembali saat kau benar-benar siap. Bukan hanya tubuhmu, tetapi juga mentalmu." Tutur Kevin.


Viona tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Kevin. Ketakutan yang dia rasakan hilang begitu saja, sekarang dia tidak perlu merasa cemas kevin akan kecewa padanya. Karena dia sendiri yang mengambil keputusan untuk menundanya.


"Terimakasih atas pengertiannya, Paman. Setelah aku benar-benar siap, kita pasti akan memilikinya lagi, dua sekaligus. Ya, aku sangat berharap bisa melahirkan baby twins." Ucap Viona.

__ADS_1


Kevin mengusap kepala Viona dengan lembut. "Apapun keinginanmu, pasti akan aku lakukan jika mampu melakukannya."


Viona tersenyum dan berhambur ke dalam pelukan Kevin lalu memeluknya dengan erat. Betapa beruntungnya Dia memiliki suami seperti Kevin, yang selalu mencintainya dengan apa adanya. Bahkan dia mau menerimanya apa adanya yang sudah pernah menikah dan berstatus sebagai janda.


"Di sini sangat dingin. Ayo masuk," ajak Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan taman belakang Villa.


xxx


"Hwan, Paman memiliki kabar gembira untukmu. Akhirnya Paman menemukan cucuku yang selama ini hilang."


Kata-kata Tuan Lu terus terngiang di pikiran Hwan. Dia menghubunginya dan memberitahu Hwan jika Tuan Lu telah menikah cucunya yang hilang. Muncul kecemasan di hati lelaki itu. Dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah Tuan Lu akan membuangnya setelah ini karena dia telah menemukan cucunya yang selama ini dia cari.


Hwan bangkit dari kursinya. Dia terus berjalan mondar-mandir di ruangannya sambil mengigit ujung kukunya. Kebiasaan yang selalu Hwan lakukan ketika panik dan cemas.


"Hwan, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat pucat, apa kau sakit?" seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dan menghampiri Hwan. Orang itu bertanya dengan cemas.


"Apa kau tidak memiliki tangan untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk kemari? Di mana etika dan sopan santun mu, Bianca Wong?!" ujar Hwan dengan marah.


"Kenapa aku harus mengetuk pintu dulu baru boleh masuk? Memangnya kau siapa bisa mengaturku dengan seenak jidatmu, ini adalah kantor milik Kakek Lu dan aku adalah cucu keponakannya sementara kau hanya orang asing. Tapi kenapa sikap dan lagakmu malah seperti pemimpin?!" ujar Bianca sambil menatap Hwan dengan sinis.


Hwan membalas tatapan wanita itu tidak kalah tajam. Dia menghampiri Bianca lalu mencekik lehernya.


"Jangan macam-macam kau padaku, Bianca Wong. Memangnya kenapa jika kau adalah cucu keponakan, Paman? Apa kau pikir hal itu bisa mempengaruhi posisimu di keluarga ini? Meskipun aku hanya orang luar, tetapi Kakek sangat mempercayaiku di bandingkan dirimu. Karena aku lebih bisa di percaya dari pada keluarga Wong kalian!!" ujar Hwan panjang lebar.


"Kau~" Bianca menunjuk Hwan tepat di depan mukanya. Tanpa mengatakan apapun, dia beranjak dari hadapan Hwan dan pergi begitu saja.


Hwan menghela napas berat. Selalu saja ada masalah yang tidak pantas. Daripada harus memikirkan cucu kandung Tuan Lu yang telah di temukan, lebih baik dia kembali bekerja saja karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


Menyesali pertemuan Tuan Lu dan cucunya tidak ada gunanya. Apalagi Tuan Lu sudah mencarinya selama puluhan tahun lamanya, bukankah seharusnya dia ikut merasa bahagia? Bukannya merasa cemas.

__ADS_1


xxx


Tapp... Tap... Tapp...


Derap langkah kaki seseorang yang datang membuat perhatian Kevin teralihkan dari laptopnya. Pria itu menoleh dan mendapati Viona berjalan menghampirinya. Kevin memperhatikan penampilan wanita itu, ada yang berbeda pada diri wanitanya. Entah apa alasannya sampai-sampai Viona memakai gaun tidur berwarna merah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Paman, cuaca malam ini begitu dingin,bukankah seharusnya kita berbagi kehangatan untuk mengusir rasa dingin yang menyiksa ini?" ucap Viona. Dia mendaratkan pantatnya di pangkuan Kevin sambil memeluk lehernya. Matanya terkunci pada mata hitam miliknya.


Kevin menyeringai liar. "Kau mencoba menggodaku, eh?" tebak Kevin 100 benar.


Viona menggeleng. "Bukan menggoda, lebih tepatnya menawarkan untuk berbagi kehangatan." Jawabnya sambil menggerakkan jari-jarinya di bibir Kiss Able milik Kevin.


"Jika tidak, lalu gaun merah ini apa maksudnya?" ucap Kevin sambil menyeringai lebar.


"Memangnya kenapa jika aku mencoba menggodamu? Memangnya salah ya menggoda suami sendiri?" ucap Viona sambil menangkup kedua pipi Kevin. Wanita itu mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir Kiss Ablenya.


Pandangan Viona lalu bergulir pada lengan kanan Kevin yang terbiasa tribal. Tribal itu menghiasi lengan kanan suaminya sampai sebatas siku, Tribal yang tergambar mulai dari punggungnya. Mata Viona bisa menikmati Tribal itu karena kemeja lengan terbuka yang Kevin menakan.


"Aku sangat menyukai mereka, mereka begitu indah." Ucap Viona lalu mengecup tribal-tribal itu dengan lembut. "Dan aku ingin menikmatinya setiap saat, untuk itu jangan coba-coba untuk menyembunyikannya dari mataku!!" lanjutnya menegaskan.


Kevin memeluk pinggang Viona sambil mengunci manik matanya. Jari-jari besarnya membelai helaian demi helaian rambut panjang Viona dengan lembut. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah seringai di bibir Kiss Able-nya.


"Jika itu maumu, akan aku turuti. Dan karena kau yang memulainya lebih dulu, maka jangan salahkan aku jika tidak akan berhenti meskipun kau memohon padaku." Ucap Kevin lalu mencium bibir Viona.


"Tidak.masalah," jawab Viona sambil tersenyum.


Malam ini mereka akan berbagi cinta dalam alunan melodi yang menggairahkan dengan berselimutkan sinar rembulan yang hangat dan penuh kelembutan. Malam yang terasa dingin bagi orang lain namun terasa panas untuk mereka berdua.


xxx

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2