Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Frans Frustasi


__ADS_3

Pesawat Kevin telah tiba di Beijing Airport. Dia langsung terbang ke China setelah mendapatkan serangan tidak terduga dengan orang bernama Sonny Li. Tentu saja Kevin tidak hanya sendirian, dia membawa Viona untuk ikut bersamanya karena tidak mungkin juga Kevin meninggalkannya sendirian di Korea.


Kevin mengutak-atik ponselnya dan mencari kontak nomor Frans lalu menghubunginya. Tetapi panggilannya sulit sekali tersambung, sekalinya tersambung Frans malah tidak mengangkatnya.


"Bagaimana, Ge? Apa.masih tidak bisa di hubungi juga?" tanya Viona memastikan. Kevin menggeleng."Coba hubungi Kakek, mungkin saja bocah itu sedang sibuk."


Kevin mengangguk. "Akan ku coba." Jawabnya.


Panggilan kali ini langsung tersambung dan Tuan Lu mengangkatnya. Kevin pun memberitahu jika dia sedang berada di China dan sudah sampai di Beijing Airport. Dan Tuan Lu mengatakan akan segera mengirimkan jemputan untuk menjemputnya dan Viona.


"Bagaimana, Ge? Kakek bilang apa?" tanya Viona.


"Dia akan mengirim jemputan untuk menjemput kita," jawab Kevin.


"Jadi kita harus menunggu? Ge, aku capek dan lapar." Rengek Viona sambil menggoyangkan lengan Kevin. "Cari makan dulu yuk, perutku sudah ngajak ribut terus dari tadi."


Kevin mendengus dan menatap Viona dengan geli. "Sebenarnya perutmu terbuat dari apa. Sebelum berangkat kita sudah makan. Dan sekarang kau sudah lapar lagi? Sebenarnya itu perut atau karet?!"


"Berhenti berkomentar, Ge. Aku benar-benar lapar," rengek Viona untuk kedua kalinya.


"Jemputan kita akan segara tiba. Jadi tahan dulu saja lapar mu, kita cari makan setelah keluar dari bandara."


Viona memanyunkan bibirnya dan merenggut kesal. "Huh, kau sangat menyebalkan. Tapi okelah, daripada tidak sama sekali." Ucapnya menimpali. Lagi-lagi Kevin mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Viona yang terlalu kekanakan.


Lagipula mana mungkin Kevin bisa menolak keinginan Viona. Apalagi jika sudah berurusan dengan perut, pasti akan Kevin utamakan. Karena Kevin tidak ingin membuat wanitanya sampai kelaparan.


Lima belas menit kemudian mobil jemputan mereka pun tiba. Viona tampak excited, bukan karena dia tidak sabar untuk segara bertemu dengan Frans dan Tuan Lu. Tetapi karena Viona tidak sabar untuk segera pergi ke restoran ataupun cafe. Perutnya sudah tidak bisa untuk diajak kompromi lagi, viona benar-benar kelaparan.


"Nona, Tuan Muda silahkan." sopir itu membukakan pintu untuk kevin dan Viona, mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam.


"Apa di sekitar sini ada Cafe?" tanya Kevin.


Sopir itu mengangguk. "Ada Tuan Muda, tidak jauh dari sini ada Cafe yang cukup terkenal di kota ini."


"Kita mampir dulu sebentar,"


"Baik, Tuan Muda," sopir itu mengangguk.


Ponsel milik Kevin tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk. Hanya melihatnya sekilas tanpa berniat untuk mengangkatnya, dan membiarkan ponsel itu terus berdering untuk kesekian kalinya. Tentu saja hal itu membuat Viona kebingungan dan bertanya-tanya.

__ADS_1


"Ge, sampai kapan kau akan membiarkan ponselmu terus berdering? Memangnya siapa yang menghubungimu?" tanya Viona.


"Frans, giliran aku sudah tidak membutuhkannya dia malah menghubungiku. Jadi aku biarkan saja," jawab Kevin menimpali.


Sopir itu memperhatikan mereka dari spion depan. Dan dia tahu betul jika yang dijemputnya ini adalah cucu sulung dari majikannya.


Meskipun Kevin dan Frans bersaudara, namun mereka memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda. Frans adalah orang yang hangat dan humoris, sementara Kevin adalah orang yang dingin dan minim ekspresi. Sehingga sopir itu menjadi canggung untuk bertanya ataupun berbicara padanya.


"Ge, ternyata China tidak kalah maju dari Korea, ya. Lihatlah gedung-gedung pencakar langit itu, sama persis seperti yang ada di Korea." ucap Viona dengan pandangan terkagum-kagum.


Ini pertama kalinya Viona menginjakkan kakinya di China. Meskipun sudah sering pulang-pergi luar negeri, namun sekalipun dia belum pernah mendatangi negeri tirai bambu ini. Padahal dia sering sekali menyaksikan drama-drama kolosal China.


"Ge, Aku ingin bertemu dengan aktor-aktor laga China . Di dalam drama mereka begitu tampan dan cantik membuat aku gemar sendiri melihatnya. Bagaimana jika kapan-kapan kau temani aku jalan-jalan dan menyaksikan syuting drama? Siapa tahu aku bertemu dengan Guli Nazha dan aktris-aktris yang lainnya, kau setuju kan Ge?" Viona menatap Kevin dengan pandangan memohon, berharap Kevin mau mengabulkan permohonannya.


"Malas, kau pergi sendiri saja." Jawab Kevin singkat jelas dan padat.


Viona mempoutkan bibirnya mendengar jawaban Kevin. "Ge, jangan menyebalkan. Kalau kau tidak mau, sebaiknya aku pergi dengan pria lain saja. Aku ini kan cantik dan menarik, jadi mana mungkin mereka menolak." Viona mengeluarkan jurus andalannya supaya Kevin kau mengerti keinginannya. Viona memberikan ancaman pada pria itu.


"Jangan macam-macam kau, Viona!! Baiklah , kita pergi." Kevin akhirnya memberikan keputusan dan dia setuju untuk pergi bersama Viona.


Sang sopir pun hanya bisa melongo mendengar dan melihat perdebatan mereka berdua. Dan di luar dugaannya, Kevin yang notabenenya adalah pria dingin malah tunduk hanya dengan satu ancaman kecil saja. Benar-benar pria bucin, gumam supir itu membatin.


xxx


"Aish, kenapa tidak di angkat juga? Jangan-jangan Gege kesal dan marah padaku lagi, bagaimana ini?"


Frans tampak begitu panik Karena Kevin tidak mengangkat satu pun panggilan darinya. Puluhan pesan yang ia kirim pun tidak ada satupun yang dibaca olehnya, dan hal itu membuat Frans menjadi sangat frustasi. Sikap Frans yang aneh membuat Hwan kebingungan dan bertanya-tanya.


"Frans, sebenarnya ada apa? Kenapa kau terlihat sangat panik?" tanya Hwan penasaran.


"Aku tidak tahu jika Kevin Gege menghubungiku sampai berkali-kali. Dan saat aku menghubungi dia balik. Gege, malah tidak mengangkat satupun telfon dariku. Dia juga tidak membaca apalagi membalas pesan-pesanku, dan itu membuatku frustasi. Aku takut jika Gege kesal apalagi sampai marah padaku. Ge, aku harus bagaimana sekarang?" tanya Frans pada Hwan.


"Tidak perlu panik, mungkin saja Kakakmu sedang sibuk makanannya dia tidak sempat menerima panggilan darimu ataupun membalas pesanku. Positive thinking saja dan tidak perlu berpikir yang tidak-tidak." Ucap Hwan menasehati.


Frans mengangguk. "Ya , mungkin saja. Tapi aku tetap tidak bisa tenang, Ge. Bagaimana jika dia benar-benar kesal dan marah padaku? Kau saja bagaimana kakakku jika sudah marah, dia akan sangat mengerikan." Ujar Frans.


Hwan menghela napas. "Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Pikirkan saja sendiri!!" ucapnya dengan sewot. Hwan kesal sendiri pada Frans. Tanpa menghiraukan Frans, Hwan melenggang pergi untuk kembali ke ruangannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


"Yakk!! Kenapa aku malah di tinggalkan? Ge, tunggu aku!!"

__ADS_1


xxx


Kevin dan Viona tiba di kediaman Lu. Dan kedatangan berbuat tentu saja disambut baik oleh Tuan Lu. Apalagi lelaki tua itu sudah menunggu kedatangan mereka berdua sedari tadi.


Dan jika dihitung perjalanan dari bandara, seharusnya mereka berdua sudah tiba sejak 1 jam yang lalu, tetapi mereka malah baru tiba. Dan Tuan Lu sendiri tidak tahu mereka berdua mampir ke mana dulu.


"Kakek, kami datang." Seru Viona sambil menghampiri Tuan Lu.


"Kalian mampir ke mana dulu? Kenapa baru tiba? Kakek, Kakek menunggu kalian sejak tadi." Tuan Lu menatap Kevin dan Viona bergantian.


"Kami mampir ke cafe dulu. Seperti Kakek tidak mengenal Viona saja, dia kan paling tidak bisa menahan lapar." Jelas Kevin.


Tuan Lu menghela napas. "Padahal Kakek sudah menyiapkan banyak makanan lezat untuk kalian. Tapi tidak apa-apa , ya sudah ayo masuk." Tuan Lu merangkul mereka berdua dan mengajaknya masuk ke dalam.


Kediaman Lu ternyata satu kali lebih besar dan Mansion keluarga Zhang. Kevin dan Frans benar-benar memiliki latar belakang yang besar. Terlahir sebagai keturunan bangsawan dan Kakek mereka dari pihak ibu adalah orang yang kaya raya.


"Kek, di mana Frans? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya? Bahkan dihubungi berkali-kali pun tidak diangkat, apa sekarang dia menjadi manusia yang super sibuk?" tanya Viona.


"Frans, masih ada di kantor dan belum pulang. Sejak kedatangannya Minggu lalu, dia memutuskan untuk membantu Hwan di perusahaan. Frans, menjadi asisten pribadinya." jelas Tuan Lu.


"Pantas saja dia tidak mengangkat telfon dari Kevin Ge, ternyata dia sekarang menjadi manusia yang super sibuk ya." Ujar Viona. "Kek, dimana toiletnya? Aku ingin ke belakang."


"Di sebelah kanan. Tinggal lurus saja. Jika tetap tidak ketemu, kau bisa meminta bantuan pada pelayan untuk mengantarkanmu ke sana," ucap Tuan Lu dan di balas anggukan oleh Viona.


Selepas kepergian Viona. Di ruang tamu hanya menyisakan Kevin dan Tuan Lu. Sebenarnya Viona tidak benar-benar ingin pergi ke toilet. Tapi dia ingin memberikan ruang pada mereka berdua untuk berbincang. Agar mereka bisa lebih leluasa, itulah kenapa Viona beralasan ingin pergi ke toilet.


Kevin pun memberitahu Tuan Lu tentang maksud kedatangannya ke China yang tanpa ada perencanaan sebelumnya. Kevin juga memberitahunya jika dia telah mendapatkan ancaman pembunuhan dari orang-orang keluarga Li. Dan ternyata bukan Kevin saja, karena Frans juga mengalami hal yang sama.


"Lalu apa rencanamu, Key?" tanya Tuan Lu.


"Menemui orang itu dan memberikan peringatan keras padanya. Dia sudah mengancam keselamatan Frans, dan untuk itu aku tidak bisa diam saja. Frans, adalah adikku dan sebagai seorang Kakak aku memiliki tanggung jawab untuk melindunginya." Jelas Kevin.


"Kakek, setuju denganmu. Tapi Key, kau harus tetap berhati-hati karena dia adalah orang yang berbahaya. Kakek, mengenalnya dengan baik. Li Sonny, adalah orang yang nekat. Dia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai tujuannya, jadi sebelum bertindak buatlah perencanaan yang matang." Tutur Tuan Lu.


Banyak informasi yang sudah Kevin dapatkan tentang orang itu. Dan Kevin sudah menemukan cara untuk menghadapinya. Dan bulan Kevin namanya jika melakukan sesuatu tanpa ada pertimbangan dan perencanaan yang matang.


"Kakek, tenang saja. Karena aku sudah memiliki rencana untuk menghadapinya. Jadi kau tidak perlu cemas dan khawatir, cepat atau lambat aku akan memberikan kejutan manis untuknya."


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2