Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kena Mental


__ADS_3

Belum genap satu Minggu Daniel tinggal kediaman Viona, tapi sudah lebih dari 10 kali dia terkena mental ketika berhadapan dengan Kevin. Tak jarang Kevin membuatnya seperti berada di rumah hantu, pernah sekali Daniel sampai terkencing di celana karena membawa Viona pulang sampai larut malam.


"Kapan kau akan pergi dari rumah ini?" pertanyaan itu menghentikan langkah Daniel yang baru kembali dari taman belakang , dia membantu paman tukang kebun memotong bunga yang layu dan mati.


"Saya belum tahu, Paman. Karena rumah saya belum selesai direnovasi," jawab Daniel dengan suara bergetar.


"Memangnya sejak kapan aku menjadi Pamanku?" Kevin mengangkat wajahnya dan menatap Daniel dengan tajam, sampai-sampai dia harus menelan ludah.


"Tu..Tuan," ucap Daniel terbata-bata.


"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan, Viona. Untuk itu jangan terlalu dekat dengannya, apalagi berusaha membuat dia sampai jatuh cinta padamu. Karena jika hal itu sampai terjadi, maka Aku adalah orang pertama yang akan menentang hubungan kalian berdua. Dan jika kau tetap nekat, maka aku tidak akan segan-segan mengirim dirimu ke neraka!!" ujar Kevin panjang lebar.


Daniel kembali menelan salivanya setelah mendengar apa yang Kevin katakan.


Baru juga mendengar ancamannya sudah membuatnya ketakutan setengah mati, berhadapan dengan Kevin benar-benar membutuhkan mental yang kuat, dan Daniel lebih memiliki mengikuti acara uji nyali daripada harus berhadapan dengan pria dingin itu.


"Sa..Saya dan Viona hanya berteman, jadi mana mungkin kami berdua akan saling jatuh cinta apalagi Viona bukan gadis yang saya inginkan." ucapnya terbata-bata.


"Aku pegang ucapanmu, jika kau berani mengingkarinya akan ku pastikan kau hanya tinggal nama!!" Kevin kembali menatap Daniel dengan tajam.


Peluh sebenar biji jagung mengucur deras dari pelipis Daniel, kesalahan terbesarnya adalah menyetujui usulan Viona untuk tinggal sementara di kediaman Zhang.


Padahal Daniel masih bisa menemukan rumah sementara dipinggiran kota, tapi karena Viona terlalu memaksa dia jadi tidak memiliki pilihan lain selain menerima dan setuju dengan usulannya.


"Paman, apa-apaan kau ini? Kenapa kau membuat Daniel sampai ketakutan? Daniel, kau tidak apa-apa kan? Jangan diam saja ketika Paman Kevin mengintimidasimu, lawan dan jangan mau kalah, kau ini bodoh sekali!!" Viona menghampiri kedua pria itu dan langsung melayangkan protesnya pada Kevin, dia juga memarahi daniel habis-habisan.


Bagaimana bisa Daniel melawan, jangankan untuk melawan Kevin baru melihat tatapannya saja sudah membuatnya ketakutan setengah mati. Apa Viona ini mengantarkannya pada kematian, sampai-sampai dia memberikan saran menyesatkan seperti itu.

__ADS_1


"Daniel, ayo temani aku jalan-jalan. Aku ingin membeli gaun dan sepatu baru, Paman kami pergi dulu." Viona memeluk lengan Daniel dan membawanya beranjak dari hadapan Kevin.


"Viona berhenti!! Memangnya siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?!" Kevin mengangkat kepalanya dan menatap Viona dengan tatapan dinginnya. "Serahkan dompetmu, kau tidak boleh menggunakan credits card lagi!!"


"Kenapa?" Viona menatap Kevin dengan bingung.


"Karena kau terlalu dekat dengan belalang jelek itu, kau bisa mendapatkan kembali card ini setelah putus hubungan dengannya!! Sekarang kalian boleh pergi, ini uang cash untukmu." Kevin memberikan puluhan lembar won pada Viona dan pergi begitulah saja.


Viona menghentakkan kakinya dengan kesal. "Paman kau benar-benar menyebalkan!!" teriak Viona dengan frustasi. Dia benar-benar tidak mengerti dan tak habis pikir dengan Kevin, kenapa tiba-tiba dia menjadi sangat kejam dan menyebalkan seperti itu.


"Tidak apa-apa, Viona. Lain kali saja kita perginya, Pamanmu tidak mengijinkannya. Dan sepertinya aku harus pindah dari sini, dia tidak menyukaiku sama sekali. Viona, berhadapan dengan Pamanmu benar-benar membuatku merasa uji nyali," ujar Daniel.


Bukannya merasa kasihan, Viona malah tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang Daniel katakan. Tapi lucu juga melihat Kevin yang sok jagoan dan sok preman ketika di luar negeri, malah menciut dihadapan Nathan. Sepertinya Daniel benar-benar telah menemukan pawangnya.


"Hahaha... Ternyata seorang preman dan berandalan sepertimu bisa takut juga, tapi memang sih Paman Kevin sangat mengerikan. Tapi tidak perlu diambil hati, dia memang seperti itu. Ayo pergi, kau harus mentraktirku makan siang." Viona merangkul Daniel dan menyeretnya meninggalkan kediaman Zhang.


Dan satu-satunya orang yang bisa membantunya memecahkan masalahnya tersebut hanya Miranda, sahabatnya yang sangat-sangat pengalaman dalam urusan percintaan.


.


.


Jimmy terus mengetukkan jari-jarinya diatas di depannya. Pandangannya bergulir pada pria yang baru saja memasuki ruangannya, tatapannya dingin dan datar.


"Bagaimana dengan persiapannya?" tanya Jimmy pada orang itu.


"Tuan, semua persiapan telah selesai. Kira-kira kapan Anda akan melakukan penyerangan ke kediaman Zhang?" orang itu balik bertanya.

__ADS_1


"Secepatnya. Untuk itu segera kumpulkan anak buahmu, kita akan melakukan penyerangan dalam waktu dekat. Bantai semuanya dan jangan sisakan satupun, mengerti!!" ucapnya dan dibalas anggukan oleh pria itu.


"Baik Tuan, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu," dia membungkuk lalu melenggang pergi meninggalkan Jimmy sendiri di kamarnya.


Jimmy akan mengirim semua orang-orang terbaiknya untuk menghancurkan Black Devil. Dia akan menghabisi siapapun yang ada hubungannya dengan kelompok Mafia yang diketuai oleh Kevin tersebut , tak akan dia sisakan satupun dari mereka, Jimmy akan menghabisi semuanya.


"Kevin Zhang, kali ini kau akan mati di tanganku!!"


.


.


Deggg...


Viona menghentikan langkahnya saat sekelebat bayangan tiba-tiba melintas begitu saja pikirannya. Tubuhnya terhuyung dan nyaris saja terjatuh jika saja Daniel tidak menahannya dengan cepat.


"Viona, kau kenapa?" tanya Daniel sambil menatap Viona dengan cemas.


Viona menggelengkan kepala. "Aku tidak apa-apa, kepalaku hanya sedikit pusing saja," jawabnya meyakinkan. "Daniel, ayo pulang saja, aku merasa kurang enak badan." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Daniel.


"Tapi benarkah kau tidak apa-apa?" tanya Daniel memastikan. Menganggukkan kepala , meyakinkan pada Daniel Jika dia baik-baik saja.


Viona terdiam. Otaknya sedang berpikir keras. "Apa itu tadi? Kenapa aku tidak mengingat apapun tentang kejadian itu? Mungkinkah apa yang terjadi pada mata Paman ada hubungannya dengan kejadian malam itu?!"


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2