
Viona terhuyung ke belakang setelah tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pria, yang berjalan berlawanan arah dengannya. Beruntung pria itu segera menangkap tangannya sebelum Viona jatuh tersungkur di tanah. Alhasil wajah Viona berbenturan dengan dada bidang pria tersebut.
Kemudian pria itu melepaskan pelukannya. "Nona, kau tidak apa-apa kan?" tanya orang itu memastikan.
Viona menggeleng. "Aku tidak apa-apa," jawabnya meyakinkan.
"Tunggu dulu, sebelumnya kita sudah pernah bertemu? Nona, apa kau masih mengingatku? Namaku Marco, dan jika tidak sengaja namamu Viona kan?" ucap orang itu yang ternyata adalah Marco.
"Em," Viona tampak berpikir. Dia rasa memang pernah bertemu dengannya, tetapi Viona tidak ingat kapan dan di mana. "Mungkin saja, aku sudah lupa," jawabnya menimpali.
"Tidak apa-apa meskipun Nona Viona lupa, tetapi aku tidak lupa. Memangnya Nona mau ke mana? Bagaimana jika aku antar saja?" tanya Marco memberi penawaran .
Viona menggeleng. "Tidak usah, aku pergi sendiri saja." Jawabnya dingin dan acuh tak acuh.
Marco mengangguk. "Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa. Oya, bagaimana kalau kita saling bertukar nomor ponsel?" ucap Marco memberi usul.
"Aku rasa itu tidak perlu," sahut seseorang dari belakang. Keduanya menoleh dan mendapati Kevin menghampiri mereka berdua. "Kita pergi sekarang," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
Tanpa menghiraukan Marco sedikitpun, Viona melewatinya begitu saja. Tangan kanannya memeluk lengan Kevin dengan mesra, bahkan ekspresi wajahnya bahkan berubah 180°. Karena saat berhadapan dengan Marco tatapan Viona dingin dan datar, namun ketika berhadapan dengan Kevin full senyum.
Marco menatap kepergian mereka berdua dengan Tatapan yang sulit dijelaskan. "Sepertinya dia adalah halangan terbesarku untuk mendapatkannya. Aku tidak memiliki pilihan lain selain menyingkirkannya, karena tidak akan aku biarkan siapa pun menggagalkan Rencanaku termasuk orang itu," ujar Marco bergumam.
Pertemuan yang sudah dia atur dengan matang, ternyata hancur berantakan. Viona bukanlah orang yang mudah untuk didekati, tetapi Marco tidak akan menyerah begitu saja karena sudah pasti dia bisa mendapatkan Viona bagaimanapun caranya, meskipun harus dengan cara yang curang.
xxx
Viona menatap Kevin dengan bingung, pasalnya sedari tadi dia terus saja diam dan tidak bicara sama sekali. Membuat Viona bertanya-tanya, dia menatap bingung pamannya.
"Paman, apa pagi ini kau salah Minum obat lagi? Apa sih kamu jadi sedingin ini kepadaku? Memangnya kali ini kesalahan apalagi yang sudah aku perbuat kepadamu?" Viona menghentikan langkahnya tetap di depan Kevin dan menatap pria itu dengan bingung.
"Jangan banyak tanya, sudah cepat jalan lagi. Bukankah kau bilang lapar? Bisa-bisa cacing dalam perutmu menangis minta segara diisi." Ucapnya lalu membalik badan Viona dan mendorongnya supaya jalan lagi.
"Paman, kau belum menjawab pertanyaanku!! mengapa tiba-tiba kau dingin dari tadi mendiamiku?!" tanya Viona sekali lagi.
"Ck, kau terlalu banyak tanya." Ucap Kevin menimpali. Viona memanyunkan bibirnya dan menghentakkan kakinya dengan kesal. Kevin benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Rasanya Viona ingin sekali menjitak kepalanya saking keselnya.
Mereka berdua memasuki sebuah cafe , dan kedatangan disambut oleh seorang pelayan yang kemudian mengantarkan mereka menuju meja dekat jendela yang memang dipilih langsung oleh Viona. Viona memang paling suka duduk di dekat jendela , karena dengan begitu dia bisa menikmati pemandangan di luar cafe.
"Kau mau pesan apa?" tanya Kevin pada Viona yang sibuk melihat buku menu.
"Aku mau pesan yang ini, ini, ini dan ini." Ucapnya sambil menunjuk beberapa menu yang paling recommended dan banyak diminati oleh pelanggannya. "Kalau Paman?"
"Samakan saja denganmu," jawabnya datar.
Pelayan meninggalkan meja mereka berdua setelah mencatat pesanan Kevin dan Viona. Sambil menunggu pesanannya datang, Viona menyibukkan diri dengan ponselnya. Dia sedang menyaksikan salah satu donghua favoritnya 'Soul Land' Viona sangat mengagumi kisah percintaan sang MC dan Heroine-nya, yang penuh perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan serta persahabatan yang begitu kental.
__ADS_1
Padahal ada beberapa karakter wanita cantik dalam cerita itu yang menyukainya, tetapi sang MC tetap setia pada cinta pertamanya. Dan itulah yang membuat Viona sangat menyukainya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lihat? mengapa serius sekali?" tanya Kevin penasaran.
"Donghua," Viona mengangkat ponselnya lalu menunjukkannya pada Kevin. "Dibandingkan drama ataupun telenovela, aku lebih menyukai donghua karena kisahnya yang sangat menginspirasi." Ujarnya.
"Letakkan dulu ponselmu, kita makan dulu." Ucap Kevin saat melihat pesanan mereka datang. Viona mengangguk patuh. Kemudian dia meletakkan ponselnya di atas meja.
Selanjutnya makan siang mereka lewati dengan tenang. Namun tetap diselingi dengan obrolan-obrolan ringan , mereka membahas tentang janji Kevin yang ingin membawa Viona ke Jerman. Viona menagih janji itu dan meminta supaya Kevin menepatinya.
"Memangnya kapan Paman mau membawaku terbang ke Jerman? Jangan bilang jika Paman lupa?" tebak Viona.
Kevin menggeleng. "Tidak, Paman tidak lupa. Setelah kondisimu benar-benar pulih dan lukanya kering, kita langsung berangkat ke Jerman. Apa kau lupa dengan pesan dokter sebelum meninggalkan rumah sakit?" tanya Kevin memastikan, Viona menggeleng. "Nah, makanya kita tunda dahulu saja."
"Tidak masalah, kapan pun itu yang penting jadi pergi." Ucap Viona menimpali.
Kembali mereka berdua menyantap makan siangnya dengan tenang. Setelah obrolan mereka , tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan
xxx
"Pa, aku gagal mendekatinya."
Sontak pria setengah baya itu menoleh setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putra angkatnya. "Kau mengalami kegagalan? Bodoh!! Kau benar-benar tidak berguna Marco, mendekati satu wanita saja tidak bisa!!"
"Itu bukan sepenuhnya salahku, Pa. tetapi salah pria yang tiba-tiba datang dan mengacaukan segalanya, dan Viona memanggilnya dengan sebutan 'Paman' aku tidak tahu siapa dia tetapi sepertinya mereka sangat dekat." ujarnya.
Benar apa yang ayah angkatnya itu katakan. Pria itu memang penghalang terbesarnya untuk membuat semua rencananya berhasil. Dan dia harus memikirkan cara untuk mengatasinya. Karena jika Kevin masih ada, bisa-bisa semua rencananya dan sang ayah angkat akan gagal total.
"Lalu Apa rencana Papa? Apa yang akan Papa lakukan untuk mengatasi pria itu?" tanya Marco , dia mendaratkan pantatnya pada sofa di kamar ayahnya.
"Mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisinya. Karena hanya dengan menghabisi dia, rencana kita bisa berjalan dengan mulus. Dengan susah payah aku sudah menyingkirkan dua cacing dan mengorbankan banyak hal. Dan aku tidak ingin siapa pun menghancurkan rencana yang sudah aku susun dengan sangat matang." ujar paruh baya itu panjang lebar.
"Apa yang membuat Papa sangat membenci mereka , dan sepertinya dendammu pada orang-orang ini sudah mendarah daging." Ucap Marco.
Pria itu menutup matanya dan menghela napas. ",Papa, sedang tidak ingin membahas apa pun tentang mereka. Apalagi tentang masa lalu, sebaiknya sekarang kau pergi istirahat. Papa, masih ada urusan." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Pria itu mengepalkan tangannya. Secepatnya, dia akan menuntaskan dendam masa lalunya. Dia akan memberikan pelajaran pada orang-orang itu karena telah membuat dia kehilangan hal paling berharga di hidupnya. Karena nyawa harus dibayar dengan nyawa, dan itu sudah menjadi hukum alam.
xxx
Kevin menghentikan Mobil mewahnya di sebuah bangunan yang tampak menghitam seperti bekas terbakar. Sebagian bangunannya sudah runtuh dan rata menjadi tanah, dan sebagian lagi masih kokoh berdiri dengan noda-noda hitam bekas amukan si jago merah.
Dia menutup kelopak matanya ketika sekelebat bayangan masa lalu melintas di ingatannya.
Flashback:
__ADS_1
Suara gaduh yang berasal dari luar membuat sepasang suami-istri itu terbangun dari tidur nyenyaknya. Mereka terkejut bukan main saat melihat asap tebal memenuhi kamarnya. Di luar sana orang-orang berteriak menyerahkan kata 'Kebakaran' dan kata-kata itu diulangi berkali-kali.
"Kebakaran, Roy rumah kita kebakaran." seru wanita itu dengan panik.
"Alexa, cepatlah keluar dan bawa pergi Baby Zhi, aku akan pergi membangunkan Luis. Kalian pergilah terlebih dahulu, kami akan segera menyusul." Ucap Roy. Dia memberikan putrinya yang masih bayi pada istrinya dan meminta Alexa supaya keluar lebih dahulu.
"tetapi, Roy."
"Tidak ada tetapi-tapian, cepat pergi sekarang. Aku dan Luis akan segera menyusul kalian kedua," ucap Roy.
Di depan kamar mereka, api berkobar dengan sangat besar. Si jago merah mengamuk dan melahap apa saja yang dilewatinya. Tanya memikirkan kondisinya sendiri, Roy berlari ke kamar putranya dan mendapati bocah laki-laki itu masih tertidur pulas.
Roy mengangkat tubuh mungil Luis lalu membawanya keluar menerjang api yang sangat besar. Sementara itu, Alexa terjatuh karena kakinya tersandung balok yang tiba-tiba jatuh. Dia mendekap bayi di dalam pelukannya itu dengan erat.
"Nak, apa pun yang terjadi, Mama pasti akan melindungimu." Ucapnya sambil memeluk putri kecilnya. Alexa melihat seseorang datang dan menghampirinya. Wanita itu tersenyum lebar , karena dia pikir bantuan datang. "Tolong kami, selamatkan kami berdua." ucapnya sambil menyerahkan bayinya yang masih merah pada orang itu.
Orang itu mengambil bayi Alexa lalu memeluknya. Dia mengulurkan tangannya pada Alexa , namun ketika wanita itu berhasil berdiri dengan bantuannya, pria misterius itu justru mendorongnya ke dalam kobaran apii yang sedang mengamuk.
"Aaahhhh..." Alexa berteriak histeris, dia kesakitan namun tak ada yang menolongnya.
Sementara pria misterius itu pergi meninggalkan Alexa begitu saja dengan membawa bayi dalam pelukannya.
Roy yang baru tiba terkejut bukan main ketika melihat tubuh Alexa terpanggangg. Dengan histeris dia berteriak.
"ALEXA!!" masih sambil memeluk putranya, Roy menghampiri Alexa namun terlambat. "Alexa..." teriak Roy lagi.
Dia berteriak meminta pertolongan, namun tak satu pun orang yang datang menyelamatkannya. Semua orang pasti ketakutan , sedangkan petugas Damkar masih belum datang.
Dan di tengah kepanikan itu, dia melihat siluet seorang pria yang sedang menyeringai kearahnya dengan membuka tangannya yang sebelumnya tertutup, seakan-akan memberikan sebuah isyarat.
"Jordan.....!! Aku pasti akan membalasmu!!" ucapnya setengah bergumam.
Dengan sekuat tenaga dia membawa keluar putranya. Setidaknya dia harus selamat, namun belum dia sampai depan pintu. Tubuhnya roboh dan putranya terlempar keluar, Roy mengulurkan tangannya mengisyaratkan supaya Luis pergi. Beberapa orang menarik Luis menjauh dari kobaran api, anak itu terus berteriak sambil menangis, meronta dan tidak mau dibawa pergi.
"Papa, Papa, Papa...!!"
"Nak, setidaknya kau harus tetap hidup!!" ucapnya dan mata itu akhirnya tertutup sepenuhnya.
Flashback End:
Kevin membuka matanya. Cairan-cairan bening berjatuhan dari pelupuk matanya, meskipun puluhan tahun telah berlalu, tetapi kenangan buruknya masih membekas di dalam ingatan Kevin. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat nyawa kedua orang tuanya terenggut, sementara sang adik... entah, Kevin tidak tahu bagaimana nasibnya.
Dan sejati diselamatkan oleh nenek Viona kemudian diangkat sebagai anak. Luis mengganti namanya menjadi Kevin. Dan Kevin tidak akan pernah bisa melupakan tragedi malam itu , di mana dia harus kehilangan segalanya untuk selama-lamanya.
Kemudian Kevin mendongakkan kepalanya menatap langit malam bertabur Bintang. "Ma, Pa. Aku merindukan kalian berdua."
__ADS_1
xxx
Bersambung