
"Katakan dengan jujur atau aku akan menembak mati dirimu!!"
Keringat dingin membanjiri di sekujur tubuh pria tersebut. Dia ketakutan setengah mati dengan ancaman Kevin yang jelas tidak main-main. Ujung pistol milik Kevin menempel di kening orang itu.
"Tu...Tuan, apa yang Anda lakukan?" tanya orang itu berkeringat dingin.
"Aku tidak suka jika harus mengulangi kata-kataku, sebaiknya katakan dengan jujur sebelum aku benar-benar lepas kendali dan menembak mati kau di sini!!" Kevin kembali memberikan ancamannya pada pria tersebut. Dia menginginkan jawaban dan kejujurannya orang itu.
Tiba-tiba dia berlutut di depan Tuan Lu dan meminta ampun padanya. "A..Ampun, Presdir. Jangan hukum saya, karena saya juga hanya menjalankan perintah. Seseorang membayar saya dan memberi perintah agar saya mencuri data-data penting perusahaan ini. Dan orang itu memberikan imbalan yang sangat besar pada saya."
"Siapa orang yang memberimu perintah?" tanya Kevin. Sorot matanya tajam dan berbahaya.
"Seorang wanita bernama, Agnes. Dialah yang memerintah dan membayar saya untuk mencuri data-data penting perusahaan ini lalu menjualnya pada saingan bisnis Anda." Jelas orang itu mengungkapkan.
Tuan Lu memicingkan matanya. "Agnes, memangnya siapa dia dan apa hubungannya dengan perusahaan ini?" tanya Tuan Lu penasaran. Dia memang tidak mengenal Agnes itu siapa dan masalah apa yang dia miliki dengan perusahaan miliknya.
"Dia adalah wanita simpanan, Sonny Li. Sepertinya wanita itu ingin balas dendam padaku melalui perusahaan ini. Karena beberapa hari yang lalu aku membuatnya keluar dari kediaman Li dengan paksa," sahut Kevin menimpali.
Sontak Tuan Lu menoleh. "Wanita simpanan, Sonny? Key, apa kau sudah bertemu dengan pamanmu dan mengetahui tentang keluarga ayahmu?" tanya Tuan Lu tak percaya.
Kevin mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
"Bagaimana mungkin, sementara Kakek tidak pernah memberitahumu tentang keberadaan mereka? Bagaimana kau bisa menemukannya?" tanya Tuan Lu penasaran.
__ADS_1
"Kek, itu artinya kau tidak mengenal Kevin Ge dengan baik. Asal kau tahu saja jika dia adalah orang yang lebih dengan misteri dan sulit untuk ditebak."Sahut Frans menimpali.
Pandangan Tuan Lu kembali pada Kevin. "Lalu bagaimana dengan Sonny Li, dia tidak berbuat macam-macam apalagi berusaha untuk mencelakai kalian bukan?" Tuan Lu menatap Kevin dengan cemas, iya takut Sonny akan melakukan sesuatu pada Kevin.
"Ketika aku masih berada di Korea, beberapa kali dia mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi ku. Dan karena alasan itu pula aku langsung terbang ke sini untuk mencari keberadaannya. Frans, apa selama di sini kau pernah diikuti dan berusaha untuk dicelakai oleh seseorang?" tanya Kevin memastikan.
Frans menganggukkan kepala. "Ya, saat itu aku dan Hwan Gege pernah diikuti oleh sebuah Van hitam. Karena aku malas berkelahi dan takut babak belur, aku langsung saja berlindung ke kantor polisi. Van itu pun langsung pergi dan tidak mengikuti lagi. Omi!! jangan-jangan yang hari itu mengikutiku adalah orang suruhan pria bernama Sonny Li tersebut?" tebak Frans 100% benar.
Kevin mengangguk "Ya, itu memang suruhan dia." jawab Kevin membenarkan.
"Dia sudah bertindak sejauh itu. Apa perlu Kakek mencari bodyguard untuk menjaga dan melindungi kalian?"tanya Tuan Lu memberikan penawaran. Dia benar-benar macam-macam kedua cucunya.
Kevin menggeleng. "Itu tidak perlu. Toh dia juga sudah tidak bisa berbuat macam-macam lagi karena aku sudah memasukkan Sonny Li ke dalam rumah sakit jiwa." Jawab Kevin dengan santainya.
Bukan hanya Tuan Lu yang terkejut, tapi Hwan juga. Sedangkan Frans memberi reaksi biasa saja karena dia sudah mengenal Kevin dengan sangat baik. Bagus hanya di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa, bukan neraka.
BRAKK...
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan semua orang di dalam ruangan termasuk Kevin. Semua orang menoleh dan menatap sosok perempuan yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi Marah dan kesal.
"Ge, kenapa aku malah di tinggal? Apa kau tahu berapa lama aku untuk bisa sampai di ruangan ini?!" amuk perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Viona.
Kevin bergumam pelan, dia merutuki kebodohannya yang telah meninggalkan Viona begitu saja. dia pergi dengan terburu-buru setelah mendapatkan telepon dari Frans tanpa menghiraukan Viona yang juga ikut bersamanya.
__ADS_1
"Maaf, Vi. Tadi aku terburu-buru sampai-sampai melupakanmu. Urusanku di sini sudah selesai, ayo pulang." Kevin meraih tangan Viona dan membawanya pergi meninggalkan perusahaan milik kakeknya.
Viona menoleh dan menatap Kevin tak percaya. "Ge, cuma begini saja? Ge, aku masih capek dan belum istirahat. Lihat saja kakiku sampai lecet setelah berputar-putar mencari ruangan tadi." Protes Viona di tengah langkahnya.
Kevin menoleh. Tanpa mengatakan apapun dia mengangkat tubuh Viona bridal style, seketika rona merah muncul di kedua pipi Viona. Sadar atau tidak, sekarang mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian .
"Ge, apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!!" pinta Viona menuntut. "Lihatlah kita menjadi pusat perhatian. Semua mata sedang menatap kita," ujar Viona sambil memperhatikan sekelilingnya. dia benar-benar malu setengah mati.
Kembali padangan Kevin tertuju pada Viona."Kenapa memangnya? Apa itu masalah? Kau bilang kakimu sakit dan lecet, jadi aku membantumu supaya tidak kesakitan lagi." Ujar Kevin.
Viona terkekeh. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Kevin yang tersembunyi apik di balik kemeja hitamnya. Kedua tangannya memeluk leher Kevin. Meskipun tubuh Viona jelas tidak ringan, namun Kevin tidak terlihat kesulitan sama sekali saat membopongnya. Dia seperti tidak membawa beban apapun.
"Ge, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan siang dulu?" usul Viona.
"Sepertinya tidak buruk. Aku juga lapar. Memangnya kau ingin makan malam di mana?" tanya Kevin.
Viona menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tahu. Terserah kau saja. Mau di mana pun aku tidak peduli yang penting perutku kenyang." Tutur Viona.
Soal tempat makan. Viona tidak pernah mempermasalahkannya. Mau restoran mewah ataupun kedai kaki lima. Baginya saja saja, sama-sama makan dan kenyang. Meski sebenarnya Viona lebih menyukai makanan yang di jual di kedai pinggir jalan.
Meskipun harganya murah dibandingkan cafe dan restoran. Namun rasa makanannya tidak kalah dan dia bisa benar-benar kenyang karena porsinya yang banyak.
xxx
__ADS_1
Bersambung