
Skip Time - 25 Tahun Kemudian
-
Angin yang berhembus dengan syahdu. Mengingatkan Viona pada kenangan buruk masa lalu. Dua puluh tahun telah berlalu, namun dia masih belum bisa melupakan peristiwa menyakitkan itu, peristiwa yang membuatnya kehilangan Aiden untuk selama-lamanya.
Masih sangat segar diingatan Viona, ketika ia dan Kevin mengalami kecelakaan tunggal. Saat itu hujan sedang turun dengan lebatnya, mereka terpaksa menerjang hujan lebat karena Aiden kecil sedang demam. Tidak ingin terjadi sesuatu kepada putranya, mereka berdua pun memutuskan untuk segera melarikan Aiden ke rumah sakit agar cepat mendapatkan pertolongan.
Namun naas menimpa. Mobil mereka hilang kendali ketika tangan Kevin tiba-tiba saja kebas karena dingin. Akibatnya mobil yang dia kemudikan hilang kendali dan terguling. Tubuh Viona sampai terlempar keluar, begitupun dengan Aiden yang ada dalam pelukannya.
Akibat peristiwa tersebut, Viona mengalami koma selama satu Bulan, Kevin terluka parah dan Aiden tidak pernah di temukan hingga detik itu. Saat itu usia Aiden baru genap satu tahun.
"Ma," Viona buru-buru menyeka air matanya saat mendengar suara familiar yang berkaur di telinganya. Dia menyimpan kembali foto itu ke dalam laci kemudian berbalik badan.
Wanita itu tersenyum. "Ailee, kau sudah pulang? Di mana, Papamu?" tanya Viona sambil melangkahkan kakinya menghampiri putrinya tersebut.
Ailee menyeka sisa air mata di pipi Ibunya. "Ma, kau menangis?" tanya Ailee.
Viona menggeleng. "Tidak, Mama tidak menangis hanya sedikit kelilipan saja." Jawabnya berdusta. Tapi sayangnya Ailee tidak semudah itu bisa di bohongi, perempuan tahu jika Ibunya sedang berbohong padanya, dia menangis. "Ma, tidak semudah itu kau bisa membohongiku, aku tahu kau menangis, jadi jangan berbohong lagi."
"Mama, hanya merindukannya. Jika saja dia masih ada, pasti Aiden tumbuh menjadi pria yang sangat tampan seperti, Papamu," ucapnya dengan parau.
Ailee mendekati ibunya lalu memeluknya. Dia memeluknya tanpa bersuara. Ailee paham betul dengan apa yang Ibunya rasakan, dia sangat berharap jika saudara kembarnya itu masih hidup dan hidup dengan sehat di suatu tempat.
Kemudian Ailee melepaskan pelukannya. "Ma, aku lapar, bisakah kau menyiapkan makan malam untukku?" rengek Ailee memohon. Dia mencoba untuk mengalihkan perhatian Viona supaya tidak sedih lagi.
__ADS_1
Viona mengangguk. "Ayo ke dapur." Ailee mengangguk. Ailee pun segera menyusul ibunya dan mereka berdua pergi ke dapur untuk membuat makan malam.
xxx
"Luna, darimana saja kau?!"
Pertanyaan itu menghentikan langkah seorang wanita muda yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dua kediaman Williams. Dengan kaku gadis itu menoleh, senyum tampak di bibir tipis ranumnya.
"Ge," gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian dia menghampiri laki-laki itu dan memeluk lengannya. "Kapan kau pulang? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya wanita itu.
"Siang tadi. Jika bukan karena Papa yang memintaku untuk pulang, mungkin aku akan menetap lebih lama di Inggris." Jawabnya.
Sontak Luna mengangkat wajahnya dan menatap pria itu penasaran. "Memangnya untuk apa Papa memintamu pulang?" tanya Luna.
"Untuk mendidik mu. Papa, bilang sudah tidak sanggup lagi mendidik mu yang semakin hari semakin liar. Kau suka membuat onar sampai pulang hingga larut malam." Ujar pria itu.
"Itu bukan sepenuhnya salahku, tapi salah, Papa!! Jika saja Papa tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan bisa sedikit memperhatikanku. Mungkin aku tidak sampai seperti ini. Yang aku butuhkan bukanlah materi, tetapi waktu dan perhatian, namun sayangnya itu semua tidak pernah aku dapatkan sama sekali." Luna menundukkan kepalanya. Sedih terlihat di kedua matanya.
Pria itu 'Sean' menghampiri Luna kemudian memutar tubuh gadis itu supaya menghadap padanya. Posisi mereka saling berhadapan. Tanpa mengatakan apapun, Sean membawa Luna ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Dia memahami betul apa yang Luna rasakan, sejak orang tua mereka berpisah, Luna menjadi kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian.
"Tidak perlu bersedih lagi, sekarang sudah ada Gege. Gege, janji tidak akan meninggalkanmu lagi apapun alasannya, kau tidak akan kesepian lagi." Ujar Sean sambil mengusap punggung Luna dengan gerakan naik turun.
Sean melepaskan pelukannya. Matanya terkunci pada mata Hazel milik Luna. "Jangan menangis lagi, kau terlihat sangat jelek saat menangis." Ucapnya sambil menghapus air mata Luna.
"Ge, kau harus berjanji tidak akan meninggalkanku lagi. Papa tidak peduli lagi padaku, Mama tidak menginginkanku lagi, jika kau pergi juga lalu bagaimana denganku? Kau adalah satu-satunya orang yang peduli padaku, untuk itu berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku." Pinta Luna dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Sean menangkup wajah Luna. Jari-jarinya menghapus lelehan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. "Baiklah, aku berjanji padamu. Sekarang cepat pergi ke kamarmu, mandi dan ganti pakaianmu. Kau bau alkohol." Pinta Sean dan di balas anggukan oleh Luna.
Luna beranjak dari hadapan Sean dan pergi begitu saja. Pria itu menghela napas. Dia beranjak dan melenggang pergi, di sangat lelah dan Sean ingin segara beristirahat. Perjalanan London-Seoul begitu panjang dan melelahkan, itulah kenapa Sean ingin istirahat lebih awal.
Ponsel milik Sean tiba-tiba berdenting, menandakan ada pesan masuk. Dia pun segara membuka pesan tersebut.
"Sean, aku dengar kau kembali hari ini. Bagaimana kalau kita berkumpul dan meratakannya?"
Kurang lebih begitulah isi pesan tersebut. Kemudian Sean mengetik pesan balasan untuk temannya. "Aku sangat lelah, mungkin lain kali saja." Dia mematikan ponselnya setelah mengirim pesan balasan tersebut. Untuk sekarang dia tidak ingin pergi kemana pun, Sean berencana untuk istirahat di rumah dan baru menemui mereka esok hari.
xxx
Luna memagut dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan gaun tidur berbahan sutera terbaik. Gadis itu melenggang keluar meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar sang kakak. Luna hendak meminta oleh-olehnya, karena dia yakin Sean pasti membelikan sesuatu untuknya.
"Ge..."
BRAKKK...
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan Sean yang hendak membuka kemejanya. Sontak dia menoleh dan mendapati Luna menghampirinya. Sean mengancingkan kembali kemejanya lalu bangkit dari duduknya. "Ada apa? Bukannya aku memintamu untuk tidur," ucap Sean sambil menghampiri Luna.
"Mana oleh-oleh untukku? Jangan bilang jika kau melupakannya." Luna mengulurkan tangannya pada Sean dan menagih oleh-oleh pada pria tersebut.
"Besok saja, sekarang aku sangat lelah. Kau tenang saja, aku tidak melupakan oleh-olehmu, sekarang kembali ke kamarmu dan tidur." Pinta Sean. Luna mengangguk, kemudian dia beranjak dari hadapan kakaknya dan pergi begitu saja.
Sean menghela napas. Menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. Kemudian dia berbaring dan pergi tidur. Dan tak butuh waktu lama bagi Sean untuk segara terlelap.
__ADS_1
xxx
Bersambung