
xxx
Luna menoleh kebelakang ketika dia menyadari sedang diikuti. Ada sebuah Van hitam yang sedari tadi melaju tepat di belakang mobilnya. Awalnya Luna mengabaikannya, karena dia tidak terpikirkan sampai sana, tapi semakin lama mobil itu semakin mencurigakan hingga dia sadar jika sedang diikuti.
Pria yang duduk dibalik kemudi itu menoleh dan menatap Luna dengan bingung. Dia melihat dari spion depan beberapa kali gadis itu menikah ke belakang.
"Nona, ada apa?" tanya sopir itu penasaran.
"Sepertinya kita sedang diikuti. Coba perhatikan Van hitam itu, aku sudah memperhatikannya dan kurasa mobil itu sedang mengikuti kita." Ujar Luna. Luna tidak mungkin salah, dia benar-benar yakin sedang diikuti.
"Anda benar, Nona. Nona, sebaiknya segera hubungi Tuan lalu beritahu dia jika kita sedang dalam masalah supaya beliau bisa mengirim bantuan. Saya yakin jumlah mereka lebih dari dua orang, dan saya akan sangat kewalahan kita harus menghadapi mereka sendirian." ujar Sopir itu.
"Untuk apa melibatkannya. Kau tidak perlu cemas, masalah ini aku bisa mengatasinya." ucap Luna.
Sopir itu memicingkan matanya dan menatap Luna penasaran. "Caranya?"
"Serahkan saja padaku, aku akan membuat mereka menyesal karena membuntuti kita!!" tandas Luna.
Brian, nama sopir itu. Dia menatap Luna dengan kesal, ini masalah yang sangat serius dan bisa-bisanya dia malah bercanda seperti itu.
__ADS_1
"Nona, kau jangan mengada-ada. Jelas-jelas ini bukan masalah yang sepele, saya saja tidak yakin bisa membereskan mereka. Sebaiknya kita jangan mengambil resiko. Kita minta bantuan saja pada, Tuan." Tukas Brian.
Sebuah pukulan mendarat mulai pada kepala belakang Brian. Luna memukulnya saking gemasnya. Brian meringis sambil mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh gadis itu.
"Jangan meremehkan ku!! Kau pikir karena aku ini wanita yang tampak lemah dan tidak berdaya, maka kalian para pria langsung berpikir jika kaum kami tidak bisa apa-apa. Biar aku buktikan padamu jika aku bukanlah wanita yang bisa kau di remehkan!!" ujar Luna.
Dia agak sedikit tersinggung dengan ucapan Brian. Luna akan buktikan padanya jika dirinya bukanlah wanita yang lemah. Tanpa mengatakan apa-apa, Luna mengambil pistol milik Brian dan membuat pria itu terkejut. Brian hanya menoleh tanpa berani bersuara apalagi melayangkan protesnya.
"Baiklah, kita lihat bagaimana aku akan memberikan pelajaran pada kalian." Ujar Luna.
Pupil mata Brian tiba-tiba membulat sempurna. "Nona, apa yang Anda lakukan?! Turun dan jangan lakukan itu, itu terlalu berbahaya!!" Brian berteriak. Dia terkejut melihat Luna mengeluarkan setengah badannya melalui jendela, sedangkan mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Luna memegang senjata api itu dengan kedua tangannya. Dia menutup satu matanya dan mengarahkan senjata itu ke ban depan Van tersebut. Saat dia rasa sudah pas, Luna membidiknya dan berhasil.
Akibat ulah Luna, mobil itu pun menjadi hilang kendali dan melaju tak terkontrol. Untungnya jalanan dalam keadaan sepi sehingga tidak khawatir akan memakan korban nantinya.
"Wow, amazing. Nona, ternyata kau begitu mahir dalam menggunakan senjata, itu luar biasa." Ucap Brian memberikan pujian setelah sebelumnya meragukan Luna.
"Makanya, jangan menilai sesuatu dari casing luarnya saja." Jawab Luna menimpali.
Luna melepaskan kembali tembakan keduanya pada ban bagian belakang Van tersebut, laju mobil itu semakin tak terkendali dan dua kali terbalik sebelum akhirnya menghantam pohon dengan keras. Dan detik itu juga Brian menghentikan laju mobil yang dia kemudian atas perintah Luna.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan Brian yang belum bergeming. Luna turun dari mobil dan menghampiri Van tersebut untuk memastikan apakah mereka sudah mati semua atau ada yang masih hidup. Luna harus mengetahui siapa yang mengirim mereka dan alasan mengikutinya.
Sebuah tangan berlumur darah terulur pada Luna. Lirih suara dari Van itu terdengar lemah di telinganya. "Nona, tolong saya. Selamatkan nyawa saya," mohon pria itu dengan lirih.
"Aku akan menyelamatkan nyawamu dengan satu syarat, beritahu aku siapa yang mengirim kalian dan untuk apa mengikuti ku. Kau tidak memiliki pilihan, beritahu aku atau mati disini!!"
"Tu...Tuan Dante dan Nyonya Victoria. Mereka berdua yang menyuruh kami untuk menculik Anda, dan mereka memberikan imbalan yang sangat tinggi pada kami." Jawab pria itu terbata-bata.
Gyutt...
Luna mengepalkan tangannya dengan erat. Mata Hazel-nya yang indah dipenuhi emosi dan amarah. Luna benar-benar tidak menyangka jika ibunya akan bertindak sampai sejauh itu, dia dan suami barunya bahkan rela mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk menyewa para penculik supaya menculiknya. Luna pasti akan membuat perhitungan dengan mereka berdua.
"No..Nona, saya sudah memberitahu Anda tentang informasi yang di inginkan. To..Tolong tepati janji anda untuk menyelamatkan nyawa saya," ucap orang itu memohon.
"Ambulans akan segera tiba, jadi bertahanlah sampai pertolongan datang." Ucap Luna dan pergi begitu saja. Setidaknya dia sudah menepati janjinya untuk menyelematkan nyawa pria itu.
Luna kembali ke mobil. Sedan hitam itu pun kembali melaju diatas aspal menuju kediaman Aiden.
xxx
Bersambung
__ADS_1