Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Bingkisan Misterius


__ADS_3

"Paman, apa kau ada di dalam?"


Seruan dan ketukan pada pintu menyita perhatian Kevin yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Pria itu kemudian bangkit dari posisi berbaringnya sambil berseru, dan mempersilakan Viona untuk masuk.


"Ya, masuklah." Ucapnya menyahuti.


Tiba-tiba Kevin memicingkan matanya. Tumben Viona meminta ijin dulu sebelum masuk ke kamarnya? Karena biasanya dia asal nyelonong tanpa mengetuk pintu, apalagi meminta ijin terlebih dulu. Mungkinkah pagi ini dia salah minum obat? Begitulah yang Kevin pikirkan.


"Paman, lihatlah apa yang aku bawakan untukmu." Ucap Viona sambil mengangkat sebuah paper bag di tangan kanannya.


"Apa ini?" Kevin menatapnya dengan bingung.


"Aku melihatnya saat berbelanja tadi. Dan aku rasa kemeja ini sangat cocok untukmu." ujar Viona.


Kevin menerima paper bag itu sambil tersenyum kecil. "Terimakasih, aku menyukainya." ucapnya dengan senyum yang sama.


Viona menangkupkan kedua tangannya. "Syukurlah kalau Paman menyukainya. Oya, Paman. Akhir pekan ini bagaimana jika kita pergi jalan-jalan? Aku ingin pergi ke bukit angin, kita pergi kesana, ya." Rengek Viona sambil mengayun-ayunkan lengan Kevin. Memohon supaya Kevin mau membawanya pergi ke sana.


Kevin menatap Viona yang terus mengedipkan matanya dan menghela napas. "Entah, Paman tidak bisa janji. Semoga hari itu free, Minggu-minggu ini Paman harus ke luar negeri untuk perjalanan bisnis."


"Berapa hari?" tanya Viona.


"Mungkin satu Minggu," jawab Nathan.


"Ikut!!" seru Viona bersemangat. "Paman, biarkan aku ikut bersamamu, ya." Rengek Viona memohon.


Kevin menggeleng. "Paman pergi untuk sebuah pekerjaan, bukan jalan-jalan . Nanti saja kita pergi berlibur secara pribadi." Ucap Kevin sambil menepuk kepala Viona. Dia tidak mungkin membawa Viona pergi bersamanya, itu akan sangat beresiko dan berbahaya.


Wanita itu memanyunkan bibirnya dan menghela napas. "Paman menyebalkan!!" Viona menyingkirkan tangan Kevin dari kepalanya dan pergi begitu saja. Kevin sudah membuatnya kesal dan moodnya menurun drastis karenanya.


"Viona, tunggu. Kau mau kemana?" seru Kevin menghentikan Viona dengan menahan pergelangan tangannya."Baiklah, kau boleh ikut tapi jangan marah lagi." mohon Kevin, dia mencoba membujuk Viona supaya tidak marah lagi.


"Beneran boleh ikut?" tanya Viona memastikan. Kevin menganggukkan kepala. "Asik... Paman, kau memang yang terbaik. Aku semakin mencintaimu." Ucapnya dan berhambur memeluk Kevin ."Jika boleh tau, memangnya Negara mana yang akan kau datangi dalam perjalanan bisnismu kali ini?" tanya Viona penasaran. Dia melonggarkan pelukannya dan menatap Kevin.


"Dubai,"


Mata Viona langsung berbinar setelah mendengar jawaban Kevin. "Dubai. Sungguh?" ucapnya memastikan. Kevin menganggukkan kepala. "Bagus sekali, sudah sejak lama aku ingin pergi melihat dan mengunjungi Burj Khalifa. Dan akhirnya memiliki kesempatan juga," ujar Viona.


Bagaimana mungkin dia tidak gembira, karena Burj Khalifa adalah satu tempat yang paling ingin dia kunjungi. Dan negara Dubai adalah negara kedua setelah Jerman, sudah sejak lama Dubai masuk ke dalam liat negara yang ingin dia datangi. Sekarang ada kesempatan jadi mana mungkin Viona tidak bahagia?!

__ADS_1


Duuaarrr...


"Ayam ayam ayam!!" Viona terlonjak kaget setelah mendengar suara ledakan dari luar. Ledakannya memang tidak begitu kencang, tapi cukup untuk membuat orang jantungan. "Paman, suara apa itu?" tanya Viona pada Kevin.


Kevin menggeleng. "Paman, juga tidak tahu. Sebaiknya kita keluar untuk melihatnya," jawab Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


Dan suara ledakkan itu menghancurkan angan-angan indah Viona tentang, Burj Khalifa. Rasanya dia ingin sekali mengutuk orang yang menyebabkan ledakan tersebut, karena dia angan-angan indahnya buyar begitu saja.


Kevin dan Viona bergegas keluar untuk melihat yang terjadi. Dan setibanya di luar, sedikitnya ada lima orang yang terluka akibat ledakan tersebut. Meskipun ledakannya tidak terlalu besar, tetapi lebih dari cukup untuk membuat orang terluka.


"Frans, apa yang terjadi?" tanya Kevin.


"Seseorang yang tidak dikenal melemparkan bingkisan ke dalam pagar. Dan ketika kami membukanya, bingkisan itu malah meledak dan melukai mereka berlima." Jelas Frans menuturkan.


"Paman, aku rasa itu adalah teror yang dikirimkan oleh seseorang dengan sengaja." Ucap Viona setelah mendengar penjelasan Frans.


Kevin mengangguk. "Itu juga yang aku pikirkan. Segera obati yang terluka, ganti yang jaga. Jika ada bingkisan misterius lagi sebaiknya jangan dibuka sembarangan, aku tidak ingin hal seperti ini terulang kembali." Ujar Kevin. Dia tidak ingin ada korban lagi.


Semua mengangguk mengerti. "Baik, Tuan!!"


Kevin memperhatikan sekelilingnya. Dia sangat yakin jika orang itu masih ada disekitar Mansion. Tidak mungkin dia pergi begitu saja, pasti dia masih bersembunyi di suatu tempat untuk mengawasi keadaan.


Lalu pandangan Kevin bergulir pada Viona. "Kau masuk dulu, aku akan berjaga disini dengan Frans dan yang lain. Mungkin orang itu masih belum pergi, untuk memastikan semua aman aku akan ikut berjaga disini." Ujar Kevin menuturkan.


"Paman, kau harus berhati-hati, ya." Kevin menganggukkan kepala.


"Ya sudah, masuk sana." Pinta Kevin sekali lagi. Kemudian Viona meninggalkan Kevin dan kembali ke dalam rumah.


Sebenarnya Viona tidak ingin pergi dan tetap diluar bersama Kevin. Tapi dia tidak mau berdebat dengannya jadi Viona memilih untuk menurut dan mengalah. Karena jika tidak pasti akan ada perdebatan panjang diantara mereka berdua, namun ini adalah situasi yang cukup genting, jadi Viona tidak ingin mengambil sebuah resiko.


"Sial!! Jika begini terus bagaimana aku bisa pergi," sebuah umpatan keluar dari bibir Marco.


Marco terjebak, dia tidak bisa pergi. Kevin menyebar anak buahnya untuk berjaga-jaga. Dan tidak hanya di satu titik saja. Dan itu membuat dia kehilangan akses untuk meninggalkan Mansion Xi. Beruntung Marco memarkirkan mobilnya jauh dari kediaman Xi, jadi itu tidak akan terlalu mencolok.


Ponsel Marco tiba-tiba berdering, dan itu membuatnya panik setengah mati. Bagaimana tidak panik, mereka bisa menemukannya dan bisa-bisa nyawanya dalam bahaya.


"Suara ponsel siapa itu?" seru salah satu anak buah Kevin. Dia memperhatikan teman-temannya, tapi tak ada satupun ponsel mereka yang berbunyi.


"Bukan punya kami." Jawab mereka dengan kompak.

__ADS_1


"Penyusup!! Dia ada disekitar sini." Seru orang yang mendengar dering ponsel itu pertama kali.


Marco mengumpat tanpa suara. Keadaannya benar-benar tidak bagus , buru-buru dia mematikan ponselnya lalu berpindah tempat ketika melihat beberapa orang mendekati tempat persembunyiannya.


"Sial!! Sesuatu masuk ke dalam celanaku." teriak Marco membatin.


Marco membulatkan matanya , dia merasakan gigitan pada daerah sosis beruratnya. Mati-matian Marco menahan rasa sakit akibat gigitan tersebut dengan mengepalkan tangannya dan menutup rapat-rapat kedua matanya.


"Sial!! Aku hampir tidak bisa menahannya lagi," teriaknya membatin.


Marco memasukkan tangannya ke dalam celananya. Seekor semut api , dan semut itulah yang menggigit ujung sosis beruratnya. "Semut sialan, gara-gara dirimu aku hampir ketahuan." Seru Marco dengan lirih.


Beberapa orang terus berputar disekitar tempat persembunyian Marco. Mencari asal suara itu. Namun mereka tidak menemukan siapapun di sana, hanya semak-semak dan parit yang dalam. Mereka saling menggeleng, memberitahu rekannya jika orang itu tidak ada.


"Untung saja, orang-orang bodoh itu tidak menemukan keberadaan ku." Ucapnya menghela napas lega.


"Benarkah?" sahut seseorang dari belakang. Marco merasakan sesuatu menempel pada kepala bagian belakangnya. Dengan perlahan-lahan dia menoleh dan...


Sebuah gagang senjata menghantam tengkuknya. Membuat Marco tidak sadarkan diri. Kemudian orang itu memanggil beberapa orang supaya membawa Marco dan mengurungnya di ruang bawah tanah, dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Kevin.


Kevin adalah orang yang sangat jeli, dengan bermodalkan indera pendengarannya yang tajam, dia berhasil menemukan keberadaan Marco meskipun perlu sedikit waktu.


"Kurung dia di ruang bawah tanah, jangan beri makan atau minum selama dua hari dua malam." Perintah Kevin pada beberapa anak buahnya.


Mereka mengangguk dengan kompak. "Baik, Tuan."


Masalah telah teratasi. Kevin mengenali siapa laki-laki itu. Dia adalah orang yang hari itu tidak sengaja bertabrakan dengan Viona. Rupanya dia memiliki niat dan maksud terselubung. Untung saja dia tidak berhasil mendekati Viona sehingga dia tidak berada dalam bahaya.


Kevin menoleh mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Terlihat Frans menghampirinya. "Tuan, mungkinkah ini ada hubungannya dengan orang yang menghubungi Anda hari itu?" tanya Frans memastikan.


Kevin menggeleng. "Aku sendiri tidak tau. Tapi yang jelas ada yang mengendalikan dia di belakang. Sebaiknya tetap waspada dan hati-hati karena bahaya belum selesai," ujar Kevin tanpa melepaskan pandangannya dari Frans.


Laki-laki itu mengangguk. "Baik, Tuan. Saya mengerti. Sebaiknya Tuan kembali ke dalam untuk istirahat. Disini biar kami yang berjaga." Pinta Frans dan dibalas anggukan oleh Kevin. Kebetulan dia juga sangat lelah dan ingin beristirahat.


"Jangan memaksakan diri, jika kau lelah sebaiknya pergi istirahat juga." Kevin menepuk bahu Frans dan pergi begitu saja.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2