
Akhir-akhir ini Viona merasa jika mood-nya sangat mudah berubah, dia tahu betul kenapa ia cepat lelah, dan menjadi sangat sensitif. Semua itu karena ia sedang mengandung. Kehamilannya ini juga membuatnya menyadari hal yang paling aneh dalam dirinya. Ia tidak ingin berjauhan dengan ayah dari janinnya itu, bahkan hanya satu detik saja.
Sesak memenuhi rongga dadanya, untuk menarik napas saja Viona merasa sangat sulit. Ia begitu tersiksa akan kebutuhannya akan Kevin yang tentu tidak bisa setiap detik dan waktu berada di sampingnya. Yang Viona inginkan Kevin berada di sini, saat ini juga. Sesak ini semakin pekat saat ia menyadari jika suaminya sedang tidak ada.
Ia begitu ingin menenggelamkan diri dalam pelukan pria bermata sehitam jelaga itu, menyandarkan kepala pada dada bidangnya, merasakan tangannya membelai rambut panjangnya dengan lembut. Namun hal itu hanya menjadi angan-angan saja karena Kevin sedang bekerja.
"Ge, aku ingin dirimu, aku merindukanmu." Bisik Viona bergumam. Kemudian Viona mencari ponselnya yang lupa di letakkan di mana, setelah berhasil menemukan ponsel tersebut, dia pun segera menghubungi Kevin.
Tut... Tut .. Tut...
Panggilan pun tersambung, namun tidak ada jawaban dan itu membuat Viona kesel setengah mati. Dia terus mencoba dan tidak menyerah sampai Kevin mengangkat teleponnya, dan akhirnya Kevin mengangkatnya.
"Ge, Kau dari mana saja? Kenapa lama sekali angkat telfonnya?" tanya Viona dengan kesal.
"Aku sedang rapat dengan dewan direksi, Memangnya ada apa?"
"Ge, anak ini merindukan Papanya, tapi kau malah tidak ada. Ge, aku ingin bersandar padamu..." Rengek Viona.
Namun Kevin tidak merasa heran ataupun terkejut dengan perubahan drastis pada Viona, dia sedang hamil dan itu adalah hal yang wajar, Kevin tidak lagi merasa heran. Dia hanya berharap dan berdoa supaya Viona tidak ngidam aneh-aneh seperti istri Security di kantornya. Dan permintaannya sering kali membuat suaminya frustasi, bahkan nyaris gila.
"Aku akan meminta Rico untuk menjemputmu. Jadi segera siap-siap,"
Viona tersenyum lebar dengan semangat dia menjawab. "See You My Husband ," Dia akan segera bersiap-siap supaya saat Rico datang menjemputnya tinggal berangkat. Lagipula dia juga tidak berlama-lama karena si jabang bayi ingin segera bertemu dengan ayahnya.
Ponsel milik Viona tiba-tiba berdering, rupanya Kevin yang menghubunginya. Viona pun segera menerima panggilan tersebut karena takut ada hal yang penting. "Iya, Ge. Ada apa?" tanya Viona menjawab telfon Kevin.
"Kau tidak perlu datang kemari, biar aku saja yang pulang. Kebetulan pekerjaanku juga sudah selesai, sekitar sepuluh menit lagi aku tiba di rumah."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, sebenarnya aku juga agak sedikit malas untuk pergi. Kalau begitu aku akan menunggumu di rumah saja," ucap Viona lalu mematikan sambungan teleponnya.
xxx
__ADS_1
Sebuah sedan hitam baru saja mengalami kecelakaan tunggal ketika berusaha untuk menghindari seekor kucing yang tiba-tiba melintas. Si pengemudi terpaksa banting setir ke kanan dan menabrakkan mobilnya pada pohon untuk menghindari kecelakaan yang lebih fatal.
Akibatnya, satu-satunya orang yang berada di mobil tersebut mengalami luka di kening kanannya. Beberapa warga yang berada di sekitar lokasi menghampiri mobil tersebut untuk memastikan keadaan korban.
"Nak, kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria paruh baya memastikan. Tidak terlihat ada luka sampai akhirnya pria itu menoleh dan terlihat sisi wajahnya yang berlumuran darah. "Nak, kau terluka." Seru paruh baya itu.
"Sebaiknya kami antar kau ke rumah sakit, atau ke klinik saja? Kebetulan di dekat sini ada klinik. Lukamu harus segera di obati supaya darahnya cepat berhenti, meskipun hanya luka kecil saja, jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat akan fatal akibatnya." Ujar warga lainnya memberi saran dan nasehat.
Tidak ada penolakan. Pria muda itu kata lain data bukan adalah Kevin setuju untuk dibawa ke klinik. Karena tidak mungkin dia pulang ke rumah dengan keadaan, bisa-bisa Viona histeris dan pingsan. Perubahan signifikan pada Viona sejak dia di ketahui hamil adalah takut pada darah.
.
.
Kevin keluar dari klinik dengan perban membebat keningnya. Darah segar menyembul pada permukaan perban tepat di atas alis kanannya , darah yang merembes menandakan jika lukanya masih baru. Selanjutnya, Kevin pulang dengan menggunakan taksi karena mobilnya mengalami kerusakan yang lumayan parah di bagian depan.
Kurang dari tiga puluh menit. Kevin tiba di kediaman Zhang. Beberapa pria yang berjaga di depan tampak terkejut melihat Bos mereka pulang dengan keadaan terluka. Meskipun penasaran, namun tak seorangpun dari mereka ada yang berani bertanya dan mengungkit tentang luka tersebut.
Cklekk...
Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Viona. Wanita itu bercetak sebal, katanya 10 menit lagi, tapi hampir satu jam Kevin baru sampai di rumah. Viona berniat untuk membuat perhitungan dengan Kevin, dia menoleh dan...
"Ge, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka begini?" kaget Viona melihat perban melingkari kening Kevin, ada luka di atas perban yang membebatkan keningnya dan bukti jika luka itu masih baru.
"Terjadi insiden kecil saat dalam perjalanan." Jawab Kevin. Kevin melepas jasnya, menyisakan kemeja putih lengan panjang dan Vest abu-abu yang senada dengan warna celananya.
"Kok bisa?" Viona menatap Kevin dengan penasaran.
Kevin mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Aku menghindari seekor kucing yang tiba-tiba berlari ke jalan, guna mencegah kecelakaan yang lebih fatal makanya aku banting setir dan menabrakkan mobil ke pohon." Jelas Kevin.
Tiba-tiba kedua mata Viona berkaca-kaca telah mendengar cerita Kevin, membuat pria itu kebingungan dan bertanya-tanya, karena tidak biasanya fiona sampai menangis. Jangan-jangan pembawaan hamil? Kevin berpikir keras.
__ADS_1
"Tidak usah menangis, aku tidak apa-apa dan hanya luka kecil saja," Kevin mengangkat tangannya dan menghapus air mata Viona.
"Bukan kau!!" Viona menjawab cepat. "Tapi kucingnya. Kucingnya tidak kucingnya tidak apa-apa kan? Kucingnya baik-baik saja bukan? Kucingnya tidak mati kan?" tangis Viona semakin pecah, ternyata bukan Kevin yang dia cemaskan melainkan kucing yang menjadi biang kerok di balik kecelakaan Kevin.
Kevin mendengus menatap wanita itu dengan geli. Dia pikir Viona mencemaskan dirinya, ternyata yang dia cemaskan adalah kucing itu. "Kucing itu tidak apa-apa dan baik-baik saja, jadi tidak perlu kau tangisi." Jawab Kevin.
"Syukurlah, aku pikir kuncinya mati. Ge, tapi lukamu benar-benar tidak parah kan?" tanya Viona memastikan. Dia benar-benar takut luka yang Kevin alami parah. Kevin menggeleng, meyakinkan pada Viona jika lukanya tidak parah.
Drama air mata berakhir. Viona berhambur ke dalam pelukan dan Kevin dengan. "Ge, aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu. Sepertinya anak ini tidak pernah mau berjauhan dari Papanya, untuk itu mulai sekarang kau harus membawaku ke manapun kau pergi, termasuk bekerja. Aku tidak mau ditinggal sendirian." Ujar Viona sambil bergelayut manja diperlukan suaminya.
Kevin mendengus berat. Kemudian dia menganggukkan kepala. "Baiklah, mulai besok kau boleh ikut kemanapun aku pergi termasuk saat aku bekerja." Jawabnya.
Viona tersenyum lebar mendengar jawaban Kevin. Kemudian dia melonggarkan pelukannya dan menatap Kevin yang juga menatap adanya. "Ge, aku lapar. Tapi perutku tidak bisa menampung nasi dan teman-temannya."
"Terus kau ingin makan apa?" tanya Kevin dengan lembut.
Viona menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, mungkin buah. Aku rasa itu tidak terlalu buruk," jawabnya.
"Kau ingin makan buah apa?" tanya Kevin lagi.
"Semangka dan Kiwi,"
Kevin memicingkan matanya. Apa dia tidak salah dengar? Viona ingin makan semangka? Karena setahu Kevin, Viona sangat benci pada semangka, dan dia tidak pernah mau memakan buah itu sepanjang hidupnya. Tapi tiba-tiba dia ingin makan semangka, atau mungkin ini adalah pengaruh dari kehamilannya?!
Pria itu kemudian mengangguk. "Ya, sudah. Ayo turun, akan ku potongkan sendiri untukmu." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona, iya tampak begitu antusias. Dengan mesra Viona mengapit lengan Kevin, keduanya kemudian berjalan beriringan meninggalkan kamar.
Kevin tidak keberatan melakukannya, selama itu bisa membuat Viona tersenyum pasti akan dia lakukan. Lagipula jika bukan dia, lalu siapa lagi yang akan memberikan perhatian lebih padanya. Mengingat hanya dirinya satu-satunya yang dia miliki di dunia ini. Dan Kevin akan melakukan apapun untuknya, sebaik mungkin agar Viona bisa tetap tersenyum lebar seperti saat ini. Karena Senyum Viona adalah semangatnya.
xxx
Bersambung
__ADS_1