Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kau Akan Menyesal


__ADS_3

Marco membuka matanya dan mendapati tubuhnya terikat pada kursi usang di dalam sebuah ruangan yang pengap dan minum penerangan. Marco tidak tahu di mana ia berada saat ini, tempat yang begitu asing dan tak pernah dia datangi sebelumnya.


"Sial, dimana ini? Apakah aku tertangkap?" ucapnya bergumam.


Marco mencoba mengingat apa yang terjadi. Yang dia ingat dirinya sedang bersembunyi kemudian seseorang datang dan membuatnya tidak sadarkan diri. Tapi sayangnya Marco tidak melihat wajah orang itu karena suasana dan keadaan di sana yang cukup gelap.


"Kau sudah sadar rupanya!!" seru seseorang dari arah pintu.


Marco menoleh dan mendapati seorang laki-laki memasuki ruangan dimana dirinya ditahan saat ini. Lagi-lagi dia tidak bisa melihat dengan jelas muka orang tersebut, penerangan di dalam ruangan ini sangat minim, sehingga Marco tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa rupanya.


"Siapa kau, dan kenapa kau menahanku disini?" tanya Marco pada orang itu. Orang itu tidak menjawab namun terus melangkah menghampirinya. Dan baru terlihat seperti apa rupanya setelah berdiri berhadapan dengan Marco. Pupil mata Marco membulat sempurna. "Kau~"


"Kenapa kau terkejut melihatku? Apa kau tidak menduga jika aku bisa menangkapmu dengan mudah?!" ucap Kevin sambil menatap Marco dengan pandangan meremehkan.


"Lepaskan aku sekarang juga!!" pinta Marco menuntut.


Kevin menatapnya dengan Seringai remehkan. "Kenapa aku harus melepaskanmu, setelah susah payah menangkapmu?"


"Kau benar-benar bajiingan!! Dia tidak akan diam saja saat mengetahui kalian menahanku disini, jadi lepaskan aku sebelum terjadi masalah yang tidak diinginkan!!" pinta Marco menuntut.


"Aku tidak takut. Jangankan hanya seorang pengecut yang hanya berani bersembunyi dibalik. Punggung orang lain, bahkan Jenderal sekalipun akan aku lawan jika berani mencari masalah dan gara-gara denganku!!" ucap Kevin menimpali.


Tidak ada kata takut dalam kamus hidup Kevin. Tidak ada yang bisa membuatnya takut di dunia ini, kecuali kehilangan orang yang paling ia sayangi. Jadi ancaman kecil seperti itu, tidak mempan baginya.


"Kau benar-benar cari mati rupanya!! Lihat dan tunggu saja bagaimana pria gila itu akan menguliti tubuhmu!!" ucap Marco sambil menatap Kevin penuh kebencian.


"Kita lihat saja, siapa yang akan mati lebih dulu. Dia.... atau aku. Dan untuk sementara waktu. Sebaiknya nikmati saja waktumu dengan baik di tempat ini. Anggap saja kau berada di hotel bintang lima, aku keluar dulu." Kevin melambaikan tangannya pada Marco dan pergi begitu saja.


Marco menggerakkan kursinya terus-menerus. Berharap bisa melonggarkan ikatan pada tubuhnya, tapi yang ada dia malah jatuh tersungkur di lantai dengan posisi menyamping. Ikatan itu terlalu kuat sampai-sampai Marco tidak bisa melepaskan ikatan itu tanpa alat bantu.


"Sial!! Aku malah terjebak disini. Kevin Zhang, lihat saja bagaimana aku akan membalasmu!!"


xxx

__ADS_1


Malam sudah semakin larut, tetapi Frans masih tetap terjaga dan sulit untuk menutup matanya. Dia sedang duduk termenung di beranda depan kediaman Zhang. Menatap langit malam bertabur bintang.


Perhatiannya sedikit teralihkan oleh derap langkah kaki seseorang yang datang. Frans menoleh ke belakang dan mendapati Rico menghampirinya. Dia membawa dua cup kopi, yang salah satunya ia berikan pada Frans.


"Terima kasih, Hyung." ucapkan sambil menerima kopi tersebut.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Frans? Aku perhatikan sedari tadi kau terus melamun. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rico memastikan. Frans menggeleng. "Lantas?" dia bertanya penasaran.


"Tidak ada apa-apa, Hyung." Jawabnya meyakinkan.


Rico menepuk bahu Frans dan menatapnya dengan pandangan serius. "Mungkin kau bisa membohongi semua orang Frans, tapi kau tidak bisa membohongiku. Meskipun kita bukan kakak-adik yang terlahir dari satu rahim ibu yang sama, tapi bagaimanapun juga aku tetap kakakmu. Jadi aku bisa tahu jika kau ada masalah atau tidak. Sebaiknya Katakan ada apa, aku kakakmu jadi terbukalah padaku."


Frans mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Ini mengenai asal usulku, aku benar-benar penasaran Siapa orang tuaku dan alasan kenapa mereka membuangku. Aku ingin tahu dan mengetahui alasannya. Aku sudah mencarinya selama puluhan tahun, tapi sampai sekarang tidak bisa menemukan petunjuk apapun tentang mereka." Ujar Frans sambil menundukkan kepala.


Rico menatap Frans dengan sendu. "Aku mengerti apa yang kau rasakan, Frans. Cepat atau lambat Kau pasti akan segera bertemu dengan mereka, dan mengetahui alasan kenapa mereka sampai menelantarkanmu dan membuangmu di Panti Asuhan." Ucap Rico menenangkan.


Frans mengangguk. "Ya, semoga saja."


"Sebaiknya cepat pergi ke kamarmu. Tuan, tadi memintamu untuk istirahat. Jadi cepat istirahat," pinta Rico dan dibalas anggukan oleh Frans.


Rico menghela napas panjang. Dia sangat berharap semoga Frans bisa segara bertemu dengan keluarga kandungnya. Karena dia juga berhak bahagia.


xxx


"Paman," seru Viona seraya berlari menghampiri Kevin saat melihat kedatangan pria itu.


"Viona Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau belum tidur?" tanya Kevin kebingungan. Viona menunggu di depan kamarnya.


Viona menggeleng. "Bagaimana aku bisa tidur, sementara di luar sana Paman bertaruh dengan bahaya. Apa Paman sudah berhasil menemukan orang itu?" tanya Viona memastikan.


Kevin menganggukkan kepala. "Ya, dan orang itu adalah orang yang bertabrakan denganmu hari itu. Kalau tidak salah namanya Marco,"


Viona membulatkan matanya setelah mendengar jawaban Kevin. "Marco?" Kevin menganggukkan kepala. "Aku sudah menduganya jika dia bulan pria baik-baik. Dan aku merasa jika dia memiliki maksud terselubung ketika bertabrakan denganku hari itu. Dan ternyata benar, dia benar-benar orang yang sedikit berbahaya." Tutur Viona.

__ADS_1


"Ya, untung saja kau tidak meladeninya. Ini sudah larut malam, sebaiknya kembali ke kamarmu dan cepat tidur. Paman, juga mau istirahat." Pinta Kevin sambil menepuk kepala Viona.


Wanita itu mengangguk. "Ya, sudah. Aku tidur dulu. Sebaiknya Paman juga cepat tidur, paman terlihat lelah." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Kevin. Kemudian mereka berdua berpisah dan masuk ke kamar masing-masing.


Viona merasa tenang sekarang setelah melihat Kevin kembali dengan selamat tanpa ada yang kurang satu pun. Dia tadi sempat merasa cemas, takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi syukurlah ternyata Kevin baik-baik saja.


.


.


Sudah lewat malam tetapi Viona tetap terjaga dan sulit untuk menutup matanya. berkali-kali Viona mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa meskipun kedua matanya sudah memberat. Dia baru saja bermimpi buruk tentang Kevin. dalam mimpinya itu, Viona bermimpi Kevin meninggalkannya demi wanita lain.


Dan dia mengenal betul siapa wanita yang berada di mimpinya tersebut. dia adalah mantan kekasih Kevin ketika kuliah dulu


Viona bangkit dari berbagai lalu melenggang menuju balkon kamarnya. Balkon adalah tempat utama yang dia datangi jika tidak bisa tidur di malam hari. Malam ini langit begitu cerah jadi dia bisa melihat bulan dan bintang dengan bebas tanpa penghalang.


"Aku tahu, pastikan data-data itu sampai padaku besok siang!!"


Perhatian Viona teralihkan oleh suara dingin dan familiar yang berasal dari sebelah kirinya. Dia menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di balkon kamarnya dalam posisi. Meskipun tidak terlihat seperti apa rupanya, tetapi Viona tahu siapa orang itu.


Pandangan Viona tidak lepas sedikitpun darinya. Mata Hazel-nya terus menatap punggung lebar yang tersembunyi di balik kemeja kelabu lengan terbuka itu. Viona tidak tahu siapa yang dihubungi oleh Kevin tapi sepertinya sangat penting.


"Paman, Kenapa kok belum tidur?" tanya Fiona saat Kevin berbalik badan.


"Viona, Kenapa kau belum tidur?" alih-alih menjawab, Kevin malah balik bertanya.


"Aku tidak bisa tidur, Paman sendiri bagaimana? Kenapa belum tidur? Tadi kau bilang lelah dan ingin beristirahat. Pasti alasan Paman saja supaya tidak aku ganggu kan?" tebal Viona sambil menatap Kevin lebih selidik.


Kevin menggelengkan kepala. "Tentu saja bukan, kenapa kau bisa berpikir demikian? Aku lupa jika masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan." Jelas Kevin.


"Hm, aku pikir karena Paman tidak ingin berlama-lama denganku." Ucapnya menimpali. "Itu tidak penting lagi. Paman, temani aku melihat bintang." Pinta Viona dan dibalas anggukan oleh Kevin.


"Baiklah,"

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2