
Viona terbangun di tengah malam karena haus. Wanita itu terkejut ketika hendak turun dari tempat tidur dan mendapati Kevin tidur di sofa tanpa selimut , padahal pakaian yang melekat di tubuhnya sangat kontras dengan suara malam ini.
Jari-jari lentiknya menyibak selimut yang menutupi setengah badannya, lalu menghampiri Kevin."Paman bangun, mengapa kau tidur di sini? Sebaiknya pindah ke ranjangku saja, badanmu bisa sakit semua jika semalaman tidur di sofa." Ucap Viona sambil mengguncang pelan Kevin.
Mata itu perlahan terbuka, dan yang pertama kali tertangkap oleh netranya adalah wajah cantik Viona. "mengapa kau bangun?" Kevin bertanya lalu bangun dari berbaringnya.
"Aku haus. mengapa Paman tidur di sofa? Badan Paman bisa sakit semua, sebaiknya pindah ke ranjangku saja. Sebenarnya tidur sendirian juga tidak masalah, aku sudah tidak apa-apa," Tutur Viona.
Kevin menggeleng. "Paman, yang tidak tega jika harus membiarkanmu tidur sendirian. Bagaimana jika tiba-tiba luka jahitan di perutmu tiba-tiba sakit, kau mau mengeluh pada siapa? Jadi sebaiknya Paman menemanimu tidur di sini," ujar Kevin.
Viona mengangguk. "Baiklah, terserah Paman saja." Jawabnya tersenyum.
"Kembali ke tempat tidur, biar Paman saja yang mengambilkan air minum untukmu." Ucap Kevin kemudian melenggang keluar meninggalkan kamar Viona.
Wanita itu tersenyum kecil. Hatinya menghangat melihat semua perhatian Kevin padanya, Viona benar-benar bahagia. Dan dia berharap semoga Kevin tidak memiliki pasangan hidup nantinya, supaya dia bisa terus bersamanya, menjaga dan melindunginya.
tak lama berselang, Kevin kembali dengan membawa air putih untuk Viona. "Ini, minumlah lalu tidur lagi." Ucap Kevin sambil menyerahkan gelas berisi air putih itu pada Viona.
"terima kasih, Paman." Jawabnya singkat.
"Kembali tidur, ini masih malam." Pinta Kevin sambil menepuk kepala Viona.
"Paman, sebaiknya jangan tidur di sofa lagi. Ranjangku terlalu besar untuk aku tiduri sendirian." Tukas Viona. Dia ingin supaya Kevin ikut tidur di ranjangnya.
Kevin menganggukkan kepala. "Baiklah," Ucap Kevin. Mereka berdua kemudian tidur di satu ranjang yang sam.
Jantung Viona tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya ketika tangan besar Kevin melingkari perutnya. Punggungnya berbenturan dengan dada bidang yang tersembunyi dibalik singlet putihnya.
Hangat napas Kevin yang berhembus pelan menerpa lehernya , memberikan sensasi geli pada Viona, membuat area sensitifnya berkedut nyeri. Viona menoleh ke belakang dan pria itu sudah tertidur pulas. Perlahan Viona mengubah posisinya, dia dan Kevin saling berhadapan.
Viona mengangkat tangan kanannya lalu mengarahkannya pada wajah Kevin. Menyusuri setiap lekuk wajah tampan itu mulai dari hidung sampai bibirnya. Viona tidak bisa menggambarkan paras Kevin yang luar biasa tampan dimatanya. Meskipun fisiknya tidak lagi sempurna, tetapi hal itu tidak mengurangi sedikit pun penampilannya.
"Paman, mengapa kau harus melakukan tindakan bodoh hanya demi melindungiku? Jika kau boleh melindungiku, lalu mengapa aku tidak boleh melindungimu." Ucap Viona sambil mengusap benda hitam bertali yang menutup mata kiri Kevin, ya.. mata itu tidak lagi sempurna.
__ADS_1
Genggaman tangan Kevin pada jari-jarinya membuat Viona terkejut. Kelopak mata yang sebelumnya tertutup rapat, sekarang terbuka lebar. Mata dingin itu terkunci pada mata Hazel milik Viona.
"Pa..Paman." Ucap Viona terbata-bata. "Maaf," bisiknya penuh sesal.
"Kau sudah tahu apa penyebab mataku ini jadi cacatt?" tanya Kevin memastikan.
Viona menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat.
"Bagaimana bisa? Memangnya siapa yang memberi tahu?" tanya Kevin memastikan.
Viona menggelengkan kepala. "Tidak ada, aku tahu karena semua memoriku tentang malam itu telah kembali, dan aku ingat semuanya." Jawab Viona.
"Kau sudah mendapatkan kembali semua ingatanmu yang hilang?" Kevin menatap Viona tidak percaya."Bagaimana bisa?" dia berkata lirih.
"Mengapa Paman? Mengapa kau harus menghapus semua Ingatanku tentang kejadian malam itu? Apa alasanmu sebenarnya?" tanya Viona meminta penjelasan.
Tidak ada punyanya lagi Viona berpura-pura tidak tahu apa-apa datang kejadian malam itu, dan apa yang menyimpan lebih dia mengalami kecacattan permanen.
Kevin memalingkan wajahnya dari Viona, dia tidak ingin memberikan penjelasan apa-apa perihal yang terjadi malam itu. "Tetap aku, Paman." Pinta Viona sambil menuntun Kevin supaya menatapnya. Mata mereka saling mengunci.
"Karena aku tidak ingin kau terluka demi diriku, Viona," Jawab Kevin tanpa mengakhiri kontak mata di antara mereka berdua.
"mengapa harus begitu? Jelas-jelas itu tidak adil," ucap Viona.
"Karena bukan kau yang bertugas melindungiku, tetapi aku yang bertugas untuk melindungimu. Karena selain menjadi Pamanmu, aku juga berperan sebagai ayah dan ibumu. Dan tugas seorang ayah adalah memastikan putrinya baik-baik saja, seorang ayah juga tidak akan membiarkan putrinya berkorban untuknya." Tutur Kevin panjang lebar.
Mata Viona berkaca-kaca mendengar apa yang baru saja Kevin katakan. Ya, yang dia katakan memang benar. Sejak orang tuanya meninggal, Kevin mengambil tiga peran sekaligus. Tidak hanya berperan sebagai Paman, tetapi juga berperan sebagai ayah dan ibu untuk Viona.
Viona menghambur ke dalam pelukan Kevin."Paman, maafkan aku. Karena selama ini aku selalu menyusahkan, sering bersikap keras kepala dan membuatmu marah. Aku benar-benar minta maaf," lirih Viona dengan parau, dia menahan diri untuk tidak menangis.
Kevin menggeleng. "Tidak seharusnya kau meminta maaf, Paman hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan menangis lagi, karena kau sangat jelek saat menangis. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur sekarang dan Paman tidak ingin mendengar kata tidak atau alasan apa pun!!"
Viona mengangguk. "Baiklah,"
__ADS_1
Mereka tidur dengan guling sebagai pembatasnya. Dan dalam hitungan detik, mereka berdua sudah tertidur pulas.
.
.
Malam berlalu dengan cepat. Sang Surya telah menempati singgasananya menggantikan posisi sang Dewi malam. Bulan telah kembali ke peraduannya dan istirahat, sebelum kembali melakukan tugasnya untuk mendampingi bumi di malam hari.
Viona membuka matanya yang masih terasa berat. Jam dinding telah menunjuk angka 06.00 pagi, lalu pandangannya bergulir kesisi kanannya. Tempat itu telah kosong, dan orang yang semalam berbaring di sampingnya sudah tidak ada, Kevin sudah bangun rupanya.
Kemudian Viona turun dari tempat tidurnya dan berjalan lurus kearah kamar mandi. Dan tidak lama setelah Viona masuk ke dalam kamar mandi, pintu kamarnya dibuka dari luar. Kevin memasuki kamar itu sambil membawa sepotong roti, segelas susu hangat dan beberapa butir obat.
Kamar dalam keadaan kosong, tak terlihat batang hidung Viona berbaring di tempat tidurnya. Dan Kevin tahu di mana wanita itu sekarang. "Vi, sarapanmu Paman letakkan di sini. Setelah mandi sebaiknya segara makan sarapanmu lalu minum obat," seru Kevin berpesan.
"Paman, jangan pergi hulu. Aku butuh bantuanmu," seru Viona dengan suara meninggi.
"Bantuan apa?" tanya Kevin.
"Masuklah kemari, pintunya tidak aku kunci." Balas Viona.
Kevin tidak langsung masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan dia ragu untuk membuka pintu itu. Kevin mengambil napas panjang dan menghelanya, kemudian dia membuka pintu tersebut lalu masuk ke dalam.
Mata Kevin sedikit membulat melihat punggung terbuka Viona yang tanpa tertutup sehelai benang pun. Jantung Kevin berdetak lebih cepat dari sebelumnya, melihat punggung polos Viona. Viona menoleh ke belakang dan menatap Kevin dari ekor matanya.
"Paman, bantu aku untuk menggosok punggungku. Aku tidak tidak bisa melakukannya sendiri, jahitannya terasa ngilu saat aku menarik tanganku ke belakang." Ucap Viona.
Kevin mengangguk. Tanpa suara dia menghampiri Viona lalu mengambil sabun mandi yang dia ulurkan padanya. Tubuh Viona langsung membeku ketika tangan Kevin menyentuh kulit punggungnya yang terbuka.
Keheningan seketika menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak ada obrolan antara Kevin dan Viona, mereka berdua sama-sama diam dalam keheningan. Viona mencoba megatur detak jantungnya yang tidak baik-baik saja, dan Viona tidak mengerti perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Dan perasaan yang sama juga Kevin rasakan pada Viona, dan jantung Kevin saat ini juga tidak baik-baik saja.
.
.
__ADS_1
Bersambung