Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Bukan Anak Haram


__ADS_3

Kevin menoleh saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Terlihat Tuan Lu menghampirinya. Senyum tersungging dibibir lelaki tua itu, sedangkan Kevin hanya memasang ekspresi wajah datar seperti biasanya.


Langkah Tuan Lu terhenti saat netra hitamnya tanpa sengaja melihat sebuah tanda lahir yang Kevin miliki, dan tanda lahir itu mengingatkan Tuan Lu pada cucunya yang selama ini ia cari.


"Nak, bolehkah Kakek melihat tanda lahirmu itu?" tanya Tuan Lu sambil menunjuk tanda lahir Kevin.


"Untuk apa?" Kevin bertanya dengan datar.


"Untuk memastikan kau orang yang Kakek cari atau bukan. Karena tanda lahirmu itu mirip dengan tanda lahir yang dimiliki oleh cucuku yang selama ini aku cari." Jawab Tuan Lu.


Kevin menatap lelaki tua itu dan mengangguk. Setelah mendapatkan ijin dari Kevin, Tuan Lu melihat tanda lahir itu dan mencocokkannya dengan tanda lahir milik cucunya yang ada di foto. Benar-benar sama , termasuk bentuk dan letak tanda lahir itu.


"Ini benar-benar sulit di percaya, dua orang yang berbeda namun memiliki tanda lahir yang sama persis termasuk bentuk dan letaknya. Rasanya Kakek ingin sekali mengakuimu sebagai orang yang selama ini kucari. Namun takdir menampar Kakek dengan kenyataan jika kau dan dia adalah orang yang berbeda. Tidak mungkin orang itu adalah dirimu, karena kau terlahir di keluarga Zhang." Tutur Tuan Lu panjang lebar.


Kevin terdiam selama beberapa saat setelah mendengar apa yang Tuan Lu katakan. Kemudian dia mengambil foto yang ada di tangan lelaki tua tersebut, dan dia kenal betul dengan bayi di dalam foto tersebut.


"Bagaimana jika aku hanya anak adopsi di keluarga Zhang? Apa kau akan mempercayainya? Ibu kandungku bernama Alexa, tapi sayangnya dia sudah meninggal puluhan tahun yang lalu akibat kebakaran. Dan ini adalah satu-satunya peninggalan darinya yang aku miliki." Ujar Kevin lalu menunjukkan kalung miliknya pada Tuan Lu.


Dengan tangan gemetar. Tuan Lu mengambil kalung itu dari tangan Kevin lalu membuka liontinnya. Pupil matanya membulat sempurna setelah melihat foto yang ada di dalam liontin tersebut. "Tidak salah lagi, kau benar-benar orang yang aku cari selama ini. Kau adalah putra Alexa." Ucap Tuan Lu dengan suara gemetar.


Tanpa perlu melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah Kevin benar cucunya atau bukan. Liontin dan foto itu telah membuktikan jika Kevin benar-benar cucunya yang hilang. Setelah pencariannya selama dua puluh tahun lebih, akhirnya dia berhasil menemukan cucunya.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Apa benar jika aku dan adikku adalah anak haram?" tanya Kevin memastikan.

__ADS_1


Tuan Lu menggeleng. "Tentu saja bukan. Memangnya siapa yang mengatakannya padamu? Kau memiliki seorang ayah. Jika ada yang mengatakan kalian adalah anak haram, maka orang itu salah besar dan hanya asal bicara." Jawab Tuan Lu.


"Lalu dimana Dia sekarang? Terus kenapa dia dan Mama bisa sampai berpisah hingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan China?" tanya Kevin lagi. Dia benar-benar ingin mengetahui kebenarannya.


Tuan Lu menghela napas. "Sangat panjang ceritanya. Jika di ceritakan tidak akan cukup satu malam. Tapi Kakek akan mengatakan intinya saja. Sebenarnya ayahmu tidak pernah ingin meninggalkan Alexa, tetapi kematianlah yang memisahkan mereka berdua. Saat itu kau masih kecil ketika kecelakaan maut itu merenggut semua keluarga ayahmu, termasuk nenek dan kakekmu."


"Selama berbulan-bulan ibumu terpuruk atas kepergian orang yang dia cintai. Karena tidak ingin dia sampai depresi, akhirnya Kakek memintanya pergi ke Korea untuk menenangkan diri. Pada saat itu dia sedang hamil dua bulan."


"Selama di Korea, Alexa tinggal bersama dengan sahabatnya yang bernama Roy, dia menjaganya dengan sangat baik kemudian satu tahun kemudian mereka menikah. Roy menyembuhkan Ibumu dari keterpurukan dan luka kehilangan. Dia kembali menemukan semangat hidupnya setelah menikah dengan Roy."


"Sampai tragedi itu terjadi, Alexa meninggal dan kalian menghilang. Roy juga menghilang dan tidak ada jejaknya sampai sekarang. Jadi intinya kau dan adikmu bukanlah anak haram seperti yang kau ketahui." Tutur Tuan Lu panjang lebar.


Akhirnya Kevin mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Dia dan Frans rupanya bukan anak haram seperti yang Roy katakan, tetapi mereka kehilangan ayahnya dalam sebuah kecelakaan.


"Darah yang mengalir di dalam tubuhmu adalah darah bangsawan. Karena ayahmu adalah seorang bangsawan China, banyak kejanggalan di balik kematiannya. Ada yang mengatakan itu murni kecelakaan, tetapi ada juga yang mengatakan jika kematiannya adalah sebuah konspirasi keluarga untuk memperebutkan kekuasaan dan kedudukan."


Tuan Lu mengangguk. "Ya, begitulah kemungkinannya."


Kevin mengepalkan tangannya. "Sepertinya aku memang harus menyelidiki masalah ini. Meskipun kejadiannya sudah lama sekali, tetapi aku akan membuka kembali kasusnya dan menemukan siapa pelakunya. Aku akan menghukum mereka seberat-beratnya!!" ujar Kevin dengan mata berkilat tajam.


Kevin bersumpah akan menemukan mereka, para pelaku di balik kematian keluarganya dari pihak ayah. Kevin memang tidak mengingat apapun tentangnya karena saat ditinggalkan ia masih kecil. Namun Kevin memiliki tanggung jawab untuk menemukan siapa pelakunya dan orang-orang yang terlibat di balik kematian mereka.


xxx

__ADS_1


Cklekkk...


Viona menoleh setelah mendengar suara decitan pintu di buka dari luar Terlihat Kevin memasuki kamar. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Wanita itu beranjak dari posisinya lalu menghampiri Kevin.


"Paman, aku tadi tidak sengaja mendengar obrolanmu dengan Kakek Lu. Apa kau benar-benar cucunya yang hilang?" tanya Viona memastikan. Saat hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum, tanpa sengaja Viona mendengar obrolan Kevin dan Tuan Lu.


Kevin mengangguk. "Ya. Ternyata aku dan Frans bukanlah anak haram. Bajingan itu telah berbohong dan dia juga mengatakan hal-hal buruk tentang Mama."


"Lalu di mana ayah kandungmu sekarang? Apa dia bukan pria yang bertanggung jawab sampai-sampai meninggalkan ibumu?" Viona semakin penasaran.


Kevin menggeleng. "Baik tidaknya aku tidak tahu karena diriku tidak mengingat apapun tentang masa kecilku bersama mereka, karena pada saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengingatnya. Dari cerita Kakek, dia adalah pria yang sangat baik dan penuh kasih sayang. Dan dia sudah meninggal," tutur Kevin panjang lebar.


Pupil mata Viona membulat sempurna. "Apa? Meninggal?!" serunya terkejut.


Kevin mengangguk. "Ya, dan ada kemungkinan jika dia meninggal karena di bunuh. Untuk itu aku berniat untuk menyelidikinya dan menemukan penyebab kematiannya." Tutur Kevin.


Viona meraih tangan Kevin lalu menggenggamnya. Netra berbeda warna milik mereka saling bertemu dan bersirobok. "Tapi bisakah Paman menundanya dulu? Kita baru saja menjalani hidup yang tenang, aku ingin hidup kita berjalan dengan damai tanpa ada pertumpahan darah apalagi gencatan senjata dan saling membunuh. Karena dendam , kita kehilangan dia dan aku tidak ingin hal serupa terjadi kembali jika suatu saat nanti aku hamil kembali."


Kevin melihat ketakutan dan keputusasaan di mata Viona. Dia masih trauma dengan tragedi yang baru saja menimpa mereka. Kevin maju satu langkah kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Maaf, Viona. Karena mengingatkanmu pada luka lama. Paman, berjanji padamu tidak akan macam-macam lagi kali ini. Kita akan menjalani hidup ini dengan tenang, seperti yang kau inginkan." Ujar Kevin setengah berbisik.


Viona mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Kevin. Membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Kali ini Viona hanya ingin menjalin hidupnya dengan damai bersama Kevin dan anak-anak mereka kelak, tanpa ada masalah apalagi bahaya.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2