
Angin berhembus perlahan. Langit jingga menghampar megah. Ilalang yang menguning tersebar sepanjang mata memandang. Ini padang ilalang. Aiden mendaratkan pantatnya di satu-satunya bangku kayu yang terdapat di tengah padang ilalang. Menyandarkan punggung lelahnya pada sandaran. Mengatupkan mata perlahan.
Hari ini genap lima belas tahun sejak pertama kali dia berjanji pada Luna. Di tempat ini, di tengah padang ilalang kala senja menyapa disertai hembusan angin musim semi. Ilalang bergoyang pelan. Aiden tersenyum lembut.
Aiden kembali membuka maniknya. Menatap jingga yang mulai kemerahan. Tempat ini adalah saksi bisu ketika Aiden mengucapkan sumpahnya untuk selalu menjaga dan melindungi adik tercintanya, Luna.
"Ge, bangku ini sudah tampak usang. Bagaimana kalau kita mengecatnya saja? Aku yakin Papa dan Mama tidak akan keberatan."
"Kita tunggu Alex dan Eric, sama-sama kita melakukannya."
"Tidak perlu libatkan mereka berdua, cukup kita saja. Aku ingin tempat ini menjadi tempat yang penuh dengan kenangan dan bersejarah bagi kita berdua."
"Baiklah, terserah kau saja."
Aiden kembali tersenyum. Ini tempat rahasia. Benaknya memutar rekaman suara gadis kecil yang tengah sibuk mengecat bangku panjang. Tangannya yang berlumuran cat tak dihiraukan.
Aiden meraih saku Leather Vest-nya. Tiba-tiba udara menjadi sedikit lebih dingin. Dia benar-benar menyesal kenapa memakai pakaian lengan terbuka tadi. Tapi tidak masalah, seharusnya dia sudah terbiasa.
__ADS_1
Pria itu membenamkan tangannya di saku rompi kulitnya, berusaha mencari kehangatan. Saat ia mulai menggerakkan jemarinya menuju saku, sebuah tangan menghentikannya. Meraih tangan Aiden dan membalut tangan pria itu dengan jari-jari lentik miliknya.
Aiden menoleh dan Luna sedang tersenyum manis padanya. "Ge, apa kau merasa kedinginan? Kemarilah, biar aku memelukmu. Dulu kau sering melakukannya ketika aku sedang kedinginan, dan sekarang biarkan aku yang melakukan hal itu padamu." Ujar Luna sambil melepaskan genggamannya pada jari-jari Aiden lalu beralih memeluk tubuhnya.
"Apa sudah puas bermainnya?" tanya Aiden dan dibalas anggukan oleh Luna.
Mereka kembali memandang hamparan ilalang yang menguning. Ini pertama kalinya mereka datang kembali ke tempat ini setelah puluhan tahun berlalu.
Terakhir Aiden dan Luna datang ke tempat ini adalah saat Kakek mereka tiada, dan di tempat ini pula Aiden mengucapkan janjinya untuk selalu menjaga dan melindungi Luna. Dan sejak saat itu Luna menjadi prioritas utamanya.
"Ge, apa kau seorang Mafia?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir Luna. Dia benar-benar penasaran dengan profesi yang dijalani oleh kakaknya saat ini.
Namun tidak ada jawaban, Aiden memilih untuk diam karena dia sendiri bingung harus menjawab apa. Dan kediaman Aiden Luna anggap sebagai jawaban. Dia tidak memerlukan jawaban lagi untuk pertanyaannya.
"Kenapa kau memilih jalan ini? Apa yang membuatmu akhirnya tersesat di dalam kegelapan?" tanya Luna ingin tahu.
"Supaya aku bisa memenuhi janjiku untuk selalu melindungimu. Karena hanya ini satu-satunya cara supaya aku menjadi orang yang kuat dan berguna. Karena jika aku tetap Aiden yang dulu, lalu bagaimana aku bisa melindungimu?" tukas Aiden.
__ADS_1
Luna semakin tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ternyata benar-benar demi dirinya, sebesar itu rasa sayang yang Aiden miliki untuknya, Luna benar-benar terharu. Andaikan saja Aiden mencintainya bukan sebagai seorang adik, tetapi sebagai wanita dewasa, mungkin kebahagiaan Luna akan semakin sempurna.
"Ge, aku ingin bermalam di hotel. Aku tidak ingin pulang ke rumah ataupun ke rumahmu. Kau mau menemaniku bukan?"
Aiden memicingkan matanya. "Untuk apa? Dan kenapa harus hotel?" dia menatap Luna penuh tanya.
"Tentu saja untuk mendapatkan fasilitas yang memadai. Karena hanya hotel bintang lima satu-satunya tempat yang memiliki fasilitas bagus. Karena yang aku butuhkan adalah kenyamanan. Omo!! Jangan bilang kau sudah berpikir macam-macam?" tebak Luna sambil menatap Aiden tak percaya.
"Sudah , jangan ngoceh lagi. Cepat habiskan makananmu setelah ini kita cari hotel yang kau inginkan itu."
Luna tersenyum lebar. "Oke," dan menjawab dengan semangat. Luna memang sangat malas untuk pulang. Dia ingin merasakan ketenangan meskipun hanya sekejap saja. Suasana rumahnya terlalu ramai, apalagi rumah Aiden lebih mirip pasar dari pada tempat tinggal. Itulah kenapa dia lebih memilih untuk bermalam di hotel.
Aiden mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah adik angkatnya tersebut. Selama dia mampu, apapun yang Luna minta pasti akan Aiden kabulkan. Karena tidak ada yang lebih penting darinya selain kebahagiaan Luna.
xxx
Bersambung
__ADS_1