
Kevin mengusap kabut tipis yang menutupi cermin di kamar mandi. Dengan perlahan, jari-jari besarnya menarik turun benda hitam bertali yang menutup mata kirinya dan menghela napas. Padahal dulu mata itu begitu indah sebelum tragedi itu terjadi. Tiba-tiba terbesit di hati kecil Kevin untuk mengembalikan mata yang telah cacat itu kembali seperti sedia kala.
Viona memang tidak pernah mempermasalahkan keadaannya yang tidak lagi sempurna, bahkan dia menerima dirinya apa adanya. Namun belakang ini dia mulai merasa cemas dengan keadaannya sendiri. Bukan karena Kevin merasa malu dengan keadaannya sendiri, bahkan dia tidak pernah peduli meskipun orang-orang menyebutnya cacat.
Yang menjadi kecemasannya sekarang adalah anaknya nanti. Kevin tidak ingin anak-anaknya mendapatkan hinaan dari orang lain hanya karena memiliki seorang ayah yang cacat fisik.
Kevin mengeluarkan ponselnya yang tersimpan di saku celananya lalu menghubungi seseorang. "Michel, siapkan mata bionik untukku. Malam ini juga aku akan terbang ke Jerman!!" setelah mengatakan itu. Kevin mengakhiri sambungan teleponnya begitu saja. Bahkan sebelum orang yang dia hubungi menjawab ucapannya.
Dia telah menetapkan hatinya. Kevin akan melakukan operasi mata. Bukan untuk dirinya sendiri, namun untuk anak-anaknya di masa depan. Dan kali ini dia akan pergi sendirian , bahkan dia tidak memberitahu Viona tentang rencananya.
xxx
Pagi yang indah di kota Beijing. Mentari bersinar dengan cerah, secerah langit biru yang membentang luas tanpa ada noda yang menyelimuti. Awan-awan putih yang biasanya selalu menghiasi langit pagi ini tidak nampak dan entah pergi ke mana.
Sang mentari tersenyum cerah dan menyapa seksi bumi yang dinaungi. Burung-burung berkicau dengan merdunya diiringi hembusan Bayu yang berhembus pelan. Suasana pagi yang sangat menyenangkan.
Akan tetapi, cerahnya langit pagi ini tidak mampu membuat Viona tersenyum lebar. Dia sedang dilanda gundah gulana akibat Kevin menghilang tanpa kabar.
"Maaf, nomor yang ada hubungi nggak aktif atau berada~"
Viona memutuskan sambungan teleponnya begitu saja saat yang menerima panggilannya adalah operator. Ini sudah yang kesekian kalinya nomor ponsel Kevin tidak bisa dihubungi, setiap kali dia menghubunginya hanya operator yang menjawabnya. Dan hal itu membuat Viona semakin frustasi.
__ADS_1
"Ge, di mana kau sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar? Ge, aku sangat merindukanmu," lirih Viona bergumam.
Sudah tiga hari Kevin tidak ada kabar. Tidak ada yang tahu dia pergi ke mana, termasuk Tuan Lu. Bukan hanya Viona saja, semua orang juga mencemaskannya. Bahkan Frans sampai tidak mau makan karena kakaknya menghilang, dia terus menangis mencari Kevin yang hilang tanpa kabar. Sampai-sampai mereka melapor ke polisi, namun belum ada hasil sama sekali.
"Nak," seruan itu mengalihkan perhatian Viona. Wanita itu menoleh dan mendapati Tuan Lu menghampirinya. "Jangan terlalu bersedih. Kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja, kita sama-sama tahu jika Kevin orang seperti apa. Jangankan orang, maut saja tidak berani menghampirinya. Jadi tetap berpikir positif,"
"Tapi, Kakek. Kenapa dia tega sekali padaku, seharusnya dia memberitahuku jika ingin pergi, bukannya malah menghilang tanpa jejak begini? Apa dia tidak tahu jika aku sangat mencengangkannya." Ujar Viona dengan suara parau.
Kakek, memahami betul apa yang kau rasakan. Karena kita sama-sama merasakan hal yang sama, tapi yakin saja jika Kevin baik-baik saja dimana pun dia berada sekarang. Tuhan, pasti melindunginya. Jadi jangan terlalu di cemaskan, oke." Ujar Tuan Lu menenangkan. Jari-jari keriputnya mengusap kepala Viona naik-turun. Dia tidak ingin Viona bersedih lagi.
Sebenarnya Tuan Lu juga sangat mencemaskan keadaan Kevin sekarang. Dia terus bertanya-tanya kemana perginya cucu sulungnya tersebut. Tuan Lu sampai mengirim orang untuk mencarinya. Namun tidak ada hasil sampai sekarang, hanya saja dia tidak ingin terlalu menunjukkan kecemasannya di depan frans dan Viona dan membuat mereka berdua semakin khawatir.
"Sebaiknya sekarang kau makan dulu. Kau tidak boleh sakit karena Kevin akan marah. Kau tidak ingin membuat Kevin cemas dan marah kan?" tanya Tuan Lu dan di balas gelengan oleh Viona.
"Baiklah, Kek. Aku akan makan sekarang." Ucap Viona. Dia bangkit dari duduknya lalu melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Tuan Lu tersenyum lebar karena dia berhasil membujuk Viona untuk makan.
Tuan Lu menghela napas panjang. "Kevin, di mana kau senarnya? Nak, cepatlah pulang, semua orang menunggumu."
xxx
Puluhan panggilan tidak terjawab dan ratusan pesan belum terbaca. Kevin hanya bisa menghela napas. Dia sudah memperkirakannya jika semua orang akan mencari dan mencemaskan, terutama Frans dan Viona.
__ADS_1
Dia memang sengaja tidak memberitahu siapapun tentang operasi itu dan keberangkatannya ke luar negeri. Bukan karena Kevin ingin bersikap kejam pada mereka, namun karena dia ingin operasinya berjalan lancar. Sebenarnya operasi Kevin sudah selesai sejak dua hari yang lalu, namun dia masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan mata bionik nya. Dan Kevin berencana kembali ke China akhir pekan ini.
"Apa yang sedang kau lamun kan?" perhatiannya teralihkan. Seorang pria berwajah kebarat-baratan terlihat menghampirinya.
Kevin menggeleng. "Tidak ada. Aku pikir kau pergi ke luar. Bukankah hari ini kau free, ku pikir kau akan memanfaatkan waktumu ini untuk bersenang-senang dengan kucing-kucing liar mu." Ujar Kevin tanpa menatap lawan bicaranya.
Michel menggeleng. "Aku sudah lama meninggalkan dunia gila ku dan ingin fokus mencari jodoh. Oya, Key. Sepertinya asisten pribadiku tertarik padamu. Bagaimana kalau aku jodohkan kau dengannya? Kau jomblo dan dia juga jomblo, bagus kan?" Michael memberi usul.
"Aku tidak tertarik. Lagipula aku sudah memiliki istri!!" jawab Kevin dan membuat Michael nyaris tersedak minuman yang ada di dalam mulutnya.
"What?! Kau sudah menikah dan memiliki istri?!" Michel memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar jawaban Kevin. "Kapan? Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?!"
"Beberapa bulan yang lalu. Tidak ada resesi apalagi pesta, hanya pernikahan sederhana."
Membicarakan istrinya. Kevin teringat pada Viona. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana wanita itu sangat mencemaskannya. Pasti dia kebingungan mencarinya saat bangun dan mendapati dirinya tidak ada. Beberapa hari tanpa dia membuat Kevin sangat merindukannya, dia merindukan segala sesuatu yang ada pada wanitanya itu. Kevin ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengannya.
"Key, kau mau ke mana?" seru Michael melihat Kevin bangkit dari kursinya.
"Kamar," jawabnya singkat dan pergi begitu saja. Michael menghela napas. Dia tidak tahu karma buruk apa yang dia alami sampai-sampai memiliki sahabat seperti kutub Utara.
xxx
__ADS_1
Bersambung