Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kedatangan David Lu


__ADS_3

"Ge, ayo pergi ke China, aku rindu Frans dan Hwan Gege..."


Kevin menoleh seketika setelah mendengar permintaan yang baru saja terlontar dari bibir Viona. "China?" wanita itu mengangguk. Kenapa harus pergi ke China? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak mengajak pergi kemanapun lagi setelah dari Swiss?"


Viona menghela nafas. "Ini bukan keinginanku, tapi keinginan janin yang ada di dalam perutku. Kau mau menurutinya atau tidak? Kalau tidak biar aku pergi sendiri saja. Lagipula yang minta dia, tapi kenapa kesalnya malah padaku? Dasar menyebalkan!!" Viona menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar sebal dengan tanggapan dingin Kevin.


Kevin menutup matanya dan mendengus kasar. "Baiklah, kita ke China!!" Kevin bangkit dari duduknya dan menyetujui ajakan Viona.


Senyum di bibir Viona mengembang seketika setelah mendengar jawaban Kevin. Sekarang Dia memiliki senjata ampuh untuk membuat kevin menuruti semua permintaannya, dan dengan senjata ampuh itu dia tidak pernah bisa menolak keinginan Viona, apalagi jika dia sudah menggunakan janin di dalam perutnya.


"Ge, kau memang yang terbaik. Nak, kau dengar itu. Papa, memang sangat menyayangi kita. Oya, Nak. Saat lahir nanti kau harus menatapnya dengan penuh cinta karena Papa sangat menyayangimu dan Mama." Ujar Viona sambil mengusap perutnya. Senyum tampak di sudut bibirnya.


Kevin menghela napas untuk kesekian kalinya. Ternyata menghadapi wanita hamil benar-benar sangat menguras emosinya, dan dia harus banyak-banyak bersabar untuk menghadapi Fiona yang sedang berbuat dan dua. Lagipula jika bukan padanya, pada siapa Viona akan bergantung dan meminta. Meskipun terkadang itu sangat menguji kesabarannya.


"Sudah, jangan memuji lagi. Cepat siap-siap kita harus segera berangkat." Pinta Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


Untuk kesekian kalinya Kevin menghela nafas dan menggelengkan kepala. Pening melanda, membuat luka di pelipisnya akibat kecelakaan tunggal beberapa hari yang lalu kembali berdenyut nyeri. Ternyata dibalik kebahagiaan yang dia rasakan ada penderitaan yang tersimpan, entah apa rencana Tuhan yang sebenarnya untuk mereka berdua.


"Ge, aku sudah siap, ayo pergi." Viona datang dengan balutan dress cantik berwarna biru laut bermotif bunga sepanjang lutut. Dia tampak sangat cantik dan elegan, sementara Kevin tidak berniat untuk mengganti pakaiannya, dia masih memakai kemeja warna gelap lengan terbuka dan celana panjang berwarna hitam.


"Pelan-pelan saja, tidak usah lari-lari," seru Kevin memperingatkan.


"Jangan buang-buang waktu, Ge, kita harus bergegas." Ucapnya menimpali.


Viona mendekati Kevin lalu memeluk lengan terbukanya, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera tiba di China. Sebenarnya bukan karena merindukan Frans ataupun Hwan, tetapi karena Viona ngidam ingin mendandani Frans seperti seorang gadis. Benar-benar keinginan yang menyesatkan.


Lagi dan lagi Kevin mendengus dan menggelengkan kepala. Dengan lembut dia mengusap helaian coklat panjang Viona yang terurai dan jatuh diatas punggungnya. Senyum tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Membuat Kevin ikut tersenyum juga, meskipun senyum itu tidak lebih tebal dari sehelai kertas.


"Oya, Ge. Kita agak lama ya di sana, kau tidak keberatan bukan? Bukankah sudah ada Rico yang bisa kau percaya untuk mengurus perusahaan? Mau, ya? Di rumah sangat sepi, meskipun banyak pelayan tapi mereka semua selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kalau di China kan masih ada Frans, mau ya." Rengek Viona memohon.


Melihat tatapan memohonnya membuat Kevin tidak tega. Dia hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala. Viona tersenyum lebar, dia tahu Kevin pasti akan menurutinya. Dia memang suami terbaik yang ada di dunia ini , dan Viona sangat beruntung memiliki suami seperti dia, meskipun terkadang sikapnya agak menyebalkan.


xxx


"Aku dan Viona sedang dalam perjalanan menuju China, beritahu Hwan Gege jika malam ini kita berdua akan tiba."


Pupil mata Frans membulat setelah membaca pesan singkat yang dikirim oleh Kevin. Dia buru-buru menghampiri Hwan di ruangannya, Frans sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar menggembirakan yang baru saja dia terima padanya.


Karena terlalu bersemangat dan terburu-buru, sampai-sampai Frans jatuh tersungkur di lantai karena terjegal kakinya sendiri dengan posisi tengkurap. Alhasil dia menjadi pusat perhatian, semua karyawan yang melihatnya terjatuh tertawa terbahak-bahak, tidak sedikit pula yang merasa kasihan padanya.


Bukannya marah, dia malah ikut tertawa juga. Sambil menahan rasa malu, Frans segera berdiri dari posisinya lalu melenggang pergi. Rasanya dia benar-benar seperti tidak memiliki muka sekarang, itu tadi terlalu memalukan.

__ADS_1


"GE..." dobrakan keras pada pintu mengejutkan Hwan yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya. Lantas dia mengangkat kepalanya dan mendapati Frans menghampirinya dengan wajah yang terlihat begitu gembira.


"Ada apa, Frans? Suara ribut-ribut apa di luar?" tanya Hwan penasaran.


"Itu tidak penting, ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku sampaikan padamu. Ge, Kevin Gege dan Vio Nunna sedang dalam perjalanan kemari, kira-kira malam nanti mereka baru tiba, untuk itu kita harus segera membuat persiapan untuk menyambut mereka berdua." Tutur Frans dengan hebohnya.


Hwan mengangkat kepalanya dan menatap Frans dengan pandangan memastikan. "Kau yakin?" Frans mengangguk. "Kalau begitu kita harus segera pulang dan menyiapkan penyambutan untuk mereka berdua." lanjut Hwan.


Sekarang Hwan tahu kenapa Frans tampak begitu gembira, itu Karena Kevin dan Viona akan datang. Dan tentu saja kabar itu membuat Hwan sangat senang. Dia begitu antusias menyambut kedatangan mereka berdua, bahkan Hwan berencana untuk memulangkan karyawannya lebih awal.


"Ge, kalau begitu aku akan pulang lebih dulu. Aku akan meminta pelayan menyiapkan jamuan makan malam untuk menyambut kedatangan mereka berdua, aku tidak ingin mereka berdua sampai kelaparan saat tiba di sini, apalagi Vio Nunna yang sekarang sedang berbadan dua." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Hwan.


Hwan membiarkan Frans pulang lebih dulu dan menyiapkan semuanya, sementara dirinya akan menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lalu menyusulnya pulang. Dia tidak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja tanpa menyelesaikannya.


Ponsel milik Hwan tiba-tiba berdering. Nomor asing tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Meskipun nomor itu tanpa nama, tentu saja Hwan tahu siapa yang menghubunginya. Alih-alih menerimanya, dia malah mengabaikannya. Hwan tidak ingin lagi berurusan dengan pemilik nomor tersebut dan seluruh keluarganya.


"Mengganggu saja,"


Ponselnya kembali berdering. Lagi-lagi dia mengabaikannya. Tidak ada keinginan untuk Hwan menerimanya. Kali ini hanya getar tanpa dering, jadi itu tidak terlalu mengganggu pekerjaannya. Hwan tidak tahu untuk apa lagi orang itu menghubunginya, jelas-jelas dia sudah memutuskan semua hubungan dengan keluarganya. Karena Hwan tidak ingin terikat apapun lagi dengan mereka.


Xxx


Sebuah mobil mewah berhenti di halaman luar kediaman Lu. Seorang lelaki tua terlihat keluar dari mobil tersebut, dia memperhatikan bangunan bertingkat yang berdiri kokoh di hadapannya. Seringai tampak tercetak di sudut bibirnya.


Sambil memegang sebuah tongkat pendek ditangan kanannya, lelaki tua itu melangkahkan kakinya memasuki mansion mewah tersebut. Namun sayangnya kedatangannya tidak disambut baik oleh beberapa penjaga yang berada di kediaman Lu, mereka tidak mengenalinya.


"Maaf Tuan, Anda siapa dan untuk apa datang kemari?" tanya salah seorang dari ketiga penjaga itu.


"Aku David Lu, adik kandung dari Joseph Lu. Aku datang untuk mengambil warisan yang ditinggalkan oleh kakakku," jawab pria itu yang ternyata bernama David Lu, adil dari Tuan Lu.


Bukannya mengijinkannya masuk. Kedua penjaga itu malah menghalanginya dengan mengulurkan tangan kanannya ke arah pintu. "Maaf Tuan, siapapun Anda.. Tetapi kami tidak bisa mengijinkan mu masuk tanpa persetujuan dari, Tuan Muda,"


David menatap penjaga itu dengan mata memicing. "Tuan Muda, siapa maksudmu?" tanya David memastikan. Dia benar-benar penasaran dengan Tuan Muda yang dimaksud oleh penjaga tersebut.


"Cucu kandung, Almarhum Tuan Besar!! Beliaulah yang berhak menentukan apakah Anda boleh masuk atau tidak, karena tanpa ijin dari Tuan Muda kami tidak berani membiarkan orang lain masuk ke rumah ini." Jawab pria itu menegaskan.


"Cucu kandungnya? Apa dia sudah menemukan mereka?" tanya David memastikan.


Penjaga itu mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.


Tangan David terkepal kuat. Bagaimana bisa dia menemukan mereka berdua? Bukankah mereka berdua sudah menghilang selama puluhan tahun, lalu bagaimana cara Joseph Lu menemukannya? Itu menjadi tanda tanya besar bagi David. David menggeleng, tidak bisa... Dia tidak bisa membiarkan mereka menguasai seluruh harta milik mendiang kakaknya.

__ADS_1


David dan Joseph adalah saudara kandung. Namun sayangnya mereka memiliki hubungan yang kurang baik. Karena kesalahannya sendiri, David diusir keluar oleh ayah mereka dan namanya dicoret dari ahli waris. Sejak saat itu David tidak pernah lagi muncul di kediaman Lu, apalagi menampakkan batang hidungnya bahkan ketika ayah mereka tiada.


Bukan tanpa alasan dia melakukannya, diam-diam David melakukan penggelapan pada dana perusahaan yang berujung kerugian yang sangat besar pada Lu Corp. Uang-uang itu David gunakan untuk membiayai dan memfasilitasi kucing-kucing liar peliharaan mulai dari pakaian sampai semua kebutuhannya. Dan hal itu membuat Lu Yang marah besar.


"Tuan Muda," ketiga penjaga itu segera membungkuk saat melihat kepulangan Frans.


Sontak David menoleh kebelakang lalu menghampiri laki-laki itu. "Oh, jadi ini Cucu keluarga Lu yang hilang selama puluhan tahun. Kau sudah besar sekarang," ucap David menyeringai.


Frans memicingkan matanya dan menatap David penasaran. "Kakek ini siapa, dan Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Frans. Dia tidak merasa mengenalnya, dan ini pertama kali mereka bertemu.


"Oh iya, aku sampai lupa. Aku belum memperkenalkan diri padamu, aku adalah David Lu, adik kandung dari Kakekmu." Jawab David memperkenalkan.


Frans tersenyum lebar. "Jadi Kakek adalah adik dari ,Kakek Joseph? Itu artinya kakek adalah Kakekku?" ucap Frans dengan mata berbinar-binar. "Kakek," Frans membuka kedua tangannya dan bermaksud untuk memeluk David Lu. Namun sayangnya hal itu di tolak olehnya.


David mendorong Frans menjauh darinya, lalu membersihkan jasnya seolah-oleh Frans adalah barang kotor dan menjijikkan.


"Jangan sembarangan menyentuhku, dan asal kau tahu saja aku bukan kakekmu!! Dan maksud kedatanganku ke sini adalah untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, yakni seluruh harta milik mendiang Kakakku!! Karena dibanding dirimu, jelas aku yang lebih pantas memilikinya." Ujar David Lu.


Frans menatap pria itu dengan sebal. "Oh, jadi kau datang kemari karena niat yang tidak baik. Maaf, tapi Anda telah datang ke tempat yang salah. Dan sebagai cucu kandungnya, aku tidak akan menyerahkan harta itu padamu, walau hanya satu sen saja!! Jadi sebaiknya silakan pergi dari rumah ini, kedatanganmu tidak diterima di sini!!" ucap Frans dengan tegas.


David mengangkat tongkatnya lalu memukulkan ke kepala Frans dengan lumayan keras. "Sombong sekali kau. Kau pikir dirimu siapa bisa mengaturku?! Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan hakku di rumah ini. Jika ada yang harus pergi, orang itu bukan aku tapi dirimu!!"


"Bermimpi saja!! Karena sampai kambing beranak domba, Aku tidak akan keluar dari rumah ini karena rumah ini adalah milik Kakekku, dan aku adalah ahli warisnya yang sah, jadi kau saja yang silahkan pergi!!" Frans tidak mau kalah, dia beradu argumen dengan David Lu.


Meskipun David adalah adik kandung dari Joseph Lu , namun dia adalah cucu kandungnya dan orang yang lebih berhak atas semua harta milik kakeknya. Seperti Frans, David juga tidak mau kalau apalagi mengalah, dia tetap bersikeras untuk mendapatkan harta itu yang jelas-jelas adalah milik Frans, Kevin dan Hwan sebagai ahli warisnya yang sah.


Frans tidak menunjukkan rasa sungkannya sedikit pun pada David Lu meskipun dia jauh lebih tua darinya. Untuk apa Frans harus bersikap sopan pada seseorang yang tidak bisa menghargainya. Lebih baik melawannya untuk menegakkan keadilan, begitulah yang Frans pikirkan.


"Kau~!!"


"Kakek, jangan menguji kesabaranku. Jangan hanya karena kau lebih tua dariku maka aku akan menghormatimu, kau saja tidak bisa menghormati ku sebagai yang lebih mudah jadi untuk apa aku menghormatimu sebagai orang tua?! Dan Karena aku adalah anak muda yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, aku akan mengijinkan mu untuk masuk ke dalam, kebetulan di dalam ada makanan sisa bekas sarapan tadi pagi. Kau pasti lapar kan, jadi silakan masuk ke dalam.." Pinta Frans mempersilahkan.


Alhasil tongkat itu kembali mendarat di kepala Frans dengan kerasnya. Membuat laki-laki itu berteriak karena rasa sakit. "Yakk!! Kenapa kau malah memukulku?!" teriak Frans dengan kesal.


"Siapa suruh kata sembarangan, aku ini bukan pengemis dan peminta-minta, jadi jangan memperlakukanku seperti orang yang kesusahan..."


"Jika bukan peminta-minta lalu apa namanya? Kau datang kemari untuk meminta harta milik Kakekku yang jelas bukan hakmu, kau ini sangat lucu Kakek!! Ayo masuk, jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri. Tenang saja, Kakek. Di sini banyak makanan mewah dan mengenyangkan, aku jamin kau akan kenyang. Satu lagi, kalau kau ingin menginap di sini banyak kamar kosong yang bisa kau tempati, salah satunya adalah gudang. Jadi kau tenang saja, oke." Frans menepuk bahu David Lu dan pergi begitu saja.


Frans pikir David bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Sebagai ahli warisnya yang sah, Frans tidak akan membiarkan David mendapatkan apa yang dia inginkan.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2