
Luna menggigit bibir bawahnya dengan gusar. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Sean, namun ponselnya malah tidak aktif dan selalu berada di luar jangkauan. Luna tidak tahu ke mana perginya sang kakak, sampai-sampai dia sulit untuk dihubungi. Dia sudah bertanya pada beberapa orang yang tinggal di rumah Sean, namun tak ada seorangpun dari mereka yang tahu kemana perginya pria itu.
Gadis itu terus mondar-mandir tidak jelas di kamarnya. Perasaannya mulai tidak enak, dia berpikir mungkin sesuatu menimpanya? Luna menggeleng, dia berharap tidak ada hal buruk yang Sean.
"Nona, apakah beliau masih belum bisa dihubungi?" tegur seorang pria pada Luna.
Luna menggeleng. "Belum. Apa kira-kira kau tahu kemana perginya dia?" Luna balik bertanya sambil menatapnya penasaran.
"Maaf Nona, Saya tidak tahu. Sebaiknya Anda jangan terlalu mencemaskannya,Tuan pasti baik-baik saja. Mungkin saja beliau sedang ada urusan di luar sana dan tidak bisa diganggu makanya beliau sulit sekali dihubungi." Ujar pria itu berusaha menenangkan Luna.
Luna mengangguk. "Aku mau keluar sebentar. Jika Sean Gege pulang dan aku belum kembali, bilang saja padanya aku pulang untuk mengambil sesuatu." Ucap Luna dan dibalas anggukan oleh pria itu.
__ADS_1
Dia berniat untuk pulang ke kediaman Williams. Masih banyak barang-barangnya yang tertinggal di sana dan Luna berencana untuk mengambilnya sebagian. Untuk sementara, Luna ingin tinggal di kediaman kakak ketiganya, setidaknya sampai orang tuanya tidak lagi memperebutkan dirinya untuk ikut dengan siapa.
Tidak hanya meninggalkan pesan pada orang lain agar menyampaikan pada Sean tentang kepergiannya, namun Luna juga mengirim pesan singkat pada kakaknya tersebut, bisa saja pria itu lupa dan tidak menyampaikan pesannya pada sang kakak dan membuatnya cemas.
xxx
Sean, atau mungkin Aiden? Dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Meniti setiap inci di sebuah kamar bernuansa putih biru yang tampak begitu mewah.
Kamar ini satu kali lebih luas dari kamarnya di kediaman Williams. Ada beberapa foto bayi berukurang besar terpajang di dinding dan sebuah bingkai foto berukuran kecil terletak di atas meja. Foto itu sama persis dengan foto yang dia miliki ketika dirinya masih bayi.
Sean, bukan... tapi Aiden menoleh dan menatap Viona dengan pandangan datar. Dia tidak bisa berpura-pura di depan orang lain dan menunjukkan sikap hangat yang palsu, meskipun itu ibu kandungnya sendiri. Aiden lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.
__ADS_1
Viona mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah putranya. Kedua mata indahnya tampak berkaca-kaca, kemudian sebuah senyum terpatri di sudut bibirnya.
"Putraku, kau telah tumbuh menjadi pria yang sangat tampan, Nak. Lihatlah dirimu, kau benar-benar Papamu versi muda. Aiden, Mama sangat-sangat merindukanmu." Ujar Viona dengan suara parau menahan tangis.
Aiden mengangkat tangan kanannya lalu jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Viona. "Apa yang tangisi? Aku sudah kembali, jangan menangis lagi." Pinta Aiden dengan suara rendah.
Viona menggelengkan kepala. "Tidak, Mama tidak menangis. Bagaimana bisa Mama menangis di moments bahagia ini. Mama, hanya tidak percaya jika akhirnya kau kembali ke pelukan kami, Nak. Aiden, putraku." Viona memeluk Aiden dengan erat dan menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua perasaan yang dia rasakan saat ini.
Dengan ragu. Aiden mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Viona. Aiden sempat berpikir jika kedua orang tuanya tidak menginginkannya dan memilih untuk membuangnya setelah dia mendengar cerita dari Tuan Besar Williams tentang asal usulnya.
Namun fakta Baru terungkap, jika ternyata dia bukannya anak yang tidak diinginkan melainkan dia hilang ketika masih bayi. Dan akhirnya Aiden bisa bertemu serta berkumpul kembali dengan keluarga kandungnya. Ini benar-benar moment yang sangat mengharukan sekaligus mendebarkan.
__ADS_1
xxx
Bersambung