
(3 bulan kemudian)
Aiden masih setia berada disampingnya, meskipun gadis itu masih belum kembali dari mimpi-mimpinya. Sudah 3 bulan, namun Luna masih belum kembali dari tidur panjangnya.
Jika saja waktu bisa diputar lagi, Aiden ingin kembali pada waktu sebelum insiden itu terjadi, agar dia bisa lebih melindunginya, agar dia tidak pernah kehilangan canda tawanya , agar ia bisa mengembalikan miliknya, mengembalikan Luna ke sisinya.
"Ai, kau terlihat lelah. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Biar Luna aku dan Eric yang menjaganya," seru Alex yang baru saja datang bersama Henry dan mendapati pemuda itu tengah duduk termenung di depan Luna yang berbaring.
Aiden menggeleng. "Tidak mau," katanya dingin, tanpa memandang sang kakak.
Alex mendengus 'Yang aku takutkan akhirnya menjadi kenyataan, sifat itu kembali lagi dalam dirinya setelah kejadian malam itu,' batin Alex menatap sendu adik bungsunya.
"Ai, apa kau tidak lelah jika harus diingatkan terus setiap hari. Kami saja lelah karena harus mengingatkanmu untuk beristirahat setiap harinya, tubuhmu bukan robot, kau juga butuh istirahat!" ujar Alex mencoba bersikap tenang dan sabar menghadapi Aiden yang sangat keras kepala itu.
Aiden mengangkat wajahnya dan menatap datar calon kakak pertamanya tersebut.
"Tidak perlu mencemaskan aku. Aku baik-baik saja," ujar Aiden tanpa bergeming sedikit pun dari tempatnya.
Habis sudah kesabaran Alex menghadapi sikap keras kepala Aiden selama tiga bulan ini dan sekarang sudah sampai puncaknya.
Sifat keras kepala Aiden membuat Alex benar-benar tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, dengan kasar dia menarik bahu Aiden dan memaksanya untuk berdiri, posisi mereka kini saling berhadapan. Alex mencengkram pakaian Aiden yang sejak kemarin tidak ia tanggalkan dari tubuhnya.
"Brengsek, berhentilah bersikap keras kepalanya. Kau pikir dengan sikapmu seperti ini kau bisa segera mengembalikan Luna? Berhentilah bersikap jika dia telah meninggal," ujar Alex penuh amarah yang kemudian hanya disikapi dingin oleh Aiden.
Alex benar-benar tidak tau lagi harus dengan cara apa menghilangkan sifat keras kepala Aiden, itu adalah musibah dan bukan salah dia atas apa yang menimpa gadis itu. Alex lebih dari tau jika Aiden sangat menyayangi Luna, tapi ia tidak suka dengan cara dia yang begitu keras kepala. Ia tidak ingin Aiden terus saja menyiksa dirinya, terlebih lagi di depan Luna yang masih belum bagun dari tidur panjangnya.
Bukan hanya senyum Aiden yang menghilang, namun semua orang yang dekat dan mengenal Luna dengan sangat baik. Bahkan Kai yang jahilnya kelewatan pun akhir-akhir ini lebih sering melamun dan menjadi pendiam.
"Apa kau berniat untuk membunuhku? Sedangkan aku tidak berniat untuk mati di tanganmu , aku ingin tetap hidup dan menunggu dia untuk bangun!" ujar Aiden terlewat dingin, tidak ada emosi atau intonasi dari setiap kata yang diucapkan olehnya. Aiden hanya memasang wajah stoic-nya selama 3 bulan ini.
"Aku hanya ingin kau mengakhiri sikap menyebalkan mu itu, Ai. Aku tau kau sedih melihat keadaan Luna saat ini, kau pikir hanya kau saja yang terluka dengan keadaannya? Berhentilah bersikap menjadi orang yang paling tersakiti. Jika kau tidak bisa menghilangkan sifat keras kepalamu itu , jangan salahkan aku jika aku membawanya pergi dari negara ini agar kau tidak pernah bisa lagi bertemu dengannya." Ujar Alex masih dengan nada marah yang terdengar jelas dari intonasinya.
Aiden tidak memberikan jawaban apa-apa. Dia menatap Alex tak suka, ia tidak tau apa maksud dari ancaman itu. Tapi Aiden tidak akan pernah membiarkan Luna dibawah pergi jauh darinya dan dia tidak akan segan-segan untuk menghabisi orang itu, bahkan Alex sekali pun.
"Kembalilah Luna," pinta Aiden lalu mengambil jaketnya yang tersampir di sandaran kursi yang ia duduki. "Jagalah dia selama aku tidak ada, aku akan beristirahat sejenak dan kembali lagi kemari!"
Alex menghampiri Aiden lalu memeluknya, sungguh ia tidak ingin bersikap keras padanya. Meskipun mereka bukan saudara kandung tapi kenyataannya mereka tumbuh bersama, dan ia bersikap keras karena Alex peduli pada Aiden. "Aku pergi,"
Alex kemudian menghampiri Luna kemudian duduk di kursi yang semula ditempati oleh Aiden. "Berapa lama lagi kau akan tidur, Luna? Apa kau tidak merasa lelah tidur selama itu? Apakah mimpimu begitu indah sampai-sampai kau tidak ingin kembali?"
__ADS_1
"Kau dimana saat ini, apa kau tidak merindukan kami? Padahal aku sudah sangat merindukanmu, kau tau? Kakak tersayang mu itu sudah seperti mayat hidup sejak tidur pertamamu. Kau tidak mencemaskannya? Segeralah kembali dan kembalikan senyum yang hilang diwajahnya," pinta Alex seraya menatap Luna dengan sendu.
Eric hanya mampu diam 1000 bahasa, tidak ada yang dapat ia katakan. Yang jelas ia sangat memahami dan mengerti bagaimana perasaan Alex saat ini. Semua orang menjadi sangat sensitif dan mudah tersulut emosi hingga ia juga harus berhati-hati dalam berbicara.
Alex membelai rambut panjang Luna dengan lembut, ia begitu merindukan adiknya. Ia ingin Luna segera bangun dan membuat ketakutannya berhenti, Alex takut kehilangan Luna. Ia sungguh-sungguh takut kehilangan satu-satunya saudara wanita dalam keluarganya. Dan air mata yang mengalir dari matanya adalah saksi bisu betapa ia sangat menyayangi Luna.
xxx
Viona terus memperhatikan putra bungsunya yang menjadi lebih banyak diam selama 3 bulan ini, dan ia tau apa alasannya hingga Aiden bersikap seperti itu. Viona kemudian meninggalkan tempatnya dan berjalan menghampiri putranya.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Nak? Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri, Aiden?"
Mendengar suara yang begitu familiar berkaur didalam telinganya sedikit mengalihkan perhatian Aiden, laki-laki itu mengangkat wajahnya dan menatap datar wanita yang berdiri dihadapannya
"Apa yang Mama lakukan disini?" katanya datar dan dingin.
"Anak bodoh, sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Luna justru akan merasa sedih. Dia pasti tidak senang melihatmu seperti ini. Aiden, hentikan kebodohanmu ini, jangan menyiksa dirimu lagi. Kami tau apa yang kau rasakan, Nak. Tapi tidak seharusnya kau bersikap seperti ini. Aiden, jika kau terus seperti ini dan menyiksa dirimu. Jangan salahkan Mama jika terpaksa memisahkan mu darinya."
"MAMA!!" Bentak Aiden dengan nada meninggi. Dia bangkit dari duduknya dan menatap sang ibu tajam. "Jangan coba-coba melakukannya atau aku akan pergi selamanya dari hidupmu! Jangan membuatku semakin hancur," pinta Aiden dengan suara parau.
Memangnya ibu mana yang sanggup melihat putranya hancur seperti ini. Viona seperti tidak mengenali putranya lagi. Banyak sekali perubahan pada Aiden sejak Luna tidur untuk pertama kalinya, dan sekarang sudah berlangsung selama tiga bulan. Dan Viona hanya bisa berharap semoga Luna segara bangun lalu mengembalikan Aiden seperti dulu lagi.
"Nak, Mama memahami betul apa yang kau rasakan. Tapi Aiden, kau tidak boleh seperti ini terus, kau harus bangkit. Mama, mohon Nak, jangan menyiksa dirimu lagi. Karena Luna pasti sedih saat melihatmu seperti ini." Ujar Viona dengan parau.
Aiden menutup matanya lalu membalas pelukan ibunya. Dan dalam perlukan Viona tangisnya pecah. Dalam pelukan sang ibu dia ingin melepaskan semua rasa takut yang selama tiga bulan ini menggerogoti perasaannya. Dan benar, hanya di pelukan ibunya dia merasa tenang.
xxx
Menyesali yang terjadi memang tidak akan pernah habisnya, disesali pun percuma karna ia tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu dan kembali pada masa lalu.
Semua perasaan itu tertahan di hati Aiden, apa yang ia katakan, apa yang ia sampaikan semua terlupakan saat mata hitam dingin itu melihat sepasang mutiara Hazel milik Luna yang masih tertutup rapat.
Wajahnya terlihat begitu damai seperti tidak ada beban sedikit pun, rasa takut kembali memenuhi perasaan Aiden mengetahui jika keadaan Luna kembali memburuk setelah beberapa hari ini di nyatakan baik-baik saja.
Aiden meraih tangan Luna yang terasa dingin dan menggenggamnya dengan erat. Mata hitamnya menatap sendu, wajah damai yang terlelap itu.
"Luna, aku sungguh-sungguh merasa takut," gumam Aiden di depan tubuh Luna yang masih terbaring komaa.
Tidak ada sahutan selain kesepian yang menjawab ucapan Aiden. Namun Aiden tidak peduli, ia juga tidak peduli disebut gila karena berbicara sendiri. Ia merasa kosong dan hampa tanpa kehadiran Luna disisinya. Aiden ingin semua kembali, ia merindukan kehadiran gadis itu, sifat manjanya dan canda tawanya.
__ADS_1
"Apa kau puas setelah menyiksaku selama ini? Inilah kehidupanku sebelum kita bertemu kembali Luna, sepi, kosong dan hampa. Aku memiliki teman-teman yang peduli dan selalu ada untukku, tapi aku tetap tidak bisa merasakan kehangatan. Ini begitu berbeda, sebelum kau datang dan kau pergi. Rasanya lebih dingin dan sepi," gumam Aiden seraya mengusap kepala Luna dan menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya.
Aiden tak pernah bosan memandang wajah itu, dia tidak pernah letih menemani gadis itu, dia tidak pernah lelah menunggu gadis itu kembali ke dalam pelukannya, padahal menunggu adalaj hal yang paling ia benci didalam hidupnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seseorang dari arah belakang. Eric datang bersama Logan dan Max, kedua teman Aiden.
"Dia masih terlihat cantik meskipun sedang tertidur," kata Max dengan senyum pilunya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau mimpikan, Luna? Sampai-sampai kau begitu betah dan tidak ingin segera kembali. Kami semua merindukanmu, jadi segeralah bangun!" Eric sendu sambil menatap Luna penuh rindu.
Hati Aiden terenyuh mendengar ucapan mereka mereka begitu peduli pada Luna. Bahkan mereka dengan setia menemani dirinya selama gadis itu terbaring koma.
Dan mereka pula salah satu kekuatan Aiden hingga ia mampu bertahan sampai dititik ini. Jika tidak ada mereka, dan keluarganya yang selalu menyemangatinya. Pasti Aiden sudah lama jatuh dalam keterpurukan.
Tidak ada lagi percakapan lagi antara mereka berempat. Yang tersisa hanya Aiden bersama semua kenangannya, dan mereka bertiga bersama kerinduannya akan sosok Luna.
xxx
Hari-hari berikutnya masih saja sama seperti hari kemarin. Tidak ada yang berubah, dan Luna masih belum kembali dari tidur panjangnya. Aiden pun masih setia menantinya, hari ini suasana di rumah sakit lebih ramai dari sebelumnya.
Karena Orang tua kandung Aiden serta kedua Ailee sengaja meluangkan waktunya untuk menjenguk gadis itu, ini bukanlah kedatangan pertama mereka. Mereka sudah sering datang untuk menjenguk Luna, dan menunggunya kembali.
Semua orang berusaha untuk membuat suasana menjadi ceria, setelah 3 bulan ini selalu hidup dalam kesedihan, bahkan Tao dan Kai membuat lelucon namun hal itu tidak membuat Aiden terpengaruh. Aiden duduk di depan Luna dengan gumaman-gumaman yang sering ia katakan selama gadis itu terbaring koma.
"Kembalilah sebelum musim panas tiba, karena aku ingin menikahi mu di awal musim panas! Luna, aku mencintaimu."
Aiden masih menggenggam jemari-jemari Luna yang terasa dingin dengan begitu erat. Meskipun lemah, dan hanya sesaat saja namun dia dapat merasakan jemari gadis itu membalas genggamannya. Membuat harapan Aiden yang setinggi langit sebelum akhirnya dihempaskan kembali ke bumi.
'Sayang,'
'Kembalilah, aku mohon'
.
.
.
Bersambung
__ADS_1