
Sinar mentari menerobos tanpa ada penghalang. Membuat seorang wanita yang masih terlelap dalam tidurnya mengernyit dan bergerak tidak nyaman dalam posisi berbaringnya.
Viona mengerjap beberapa saat sebelum mata itu akhirnya terbuka sepenuhnya, lalu pandangannya menyapu kesemua penjuru arah.
"Kosong, apa Paman sudah bangun dari tadi?" wanita itu bergumam Lirih.
Mengangkat bahunya acuh. Kemudian Viona menyibak selimutnya dan berjalan lurus ke kamar mandi. Viona merasakan tidak nyaman pada sekujur tubuhnya, mungkin berendam air hangat bisa membuat tubuhnya merasa nyaman dan relaks.
Viona menyibak tirai jendela yang bersebelahan dengan bathtub tempat dia berendam dengan lembut. Berendam sambil menikmati pemandangan pegunungan mungkin bisa membuat pikiran Viona menjadi lebih jernih.
Dan benar saja, matanya langsung mendapatkan asupan Vitamin A. Bukan pemandangan perbukitan, bahkan yang dia lihat lebih indah dari bukit berbunga yang mengelilingi Villa.
"Jika dilihat-lihat ternyata Paman sangat tampan," ucap Viona dengan nada lirih.
Ya, pemandangan indah itu adalah Kevin yang sedang berolahraga pagi. Viona tidak sedikit pun meluputkan pandangannya dari Kevin, kedua tangannya bertumpu pada pinggiran bathtub dengan tatapan lurus padanya.
Tidak bisa Viona pun diri jika Kevin benar-benar tampan. Dia memiliki paras yang bisa dibilang unik, bisa dikatakan jika parasnya seperti bunglon, bisa berubah-ubah. Terkadang terlihat tampan, kadang terlihat cantik,
Dan berkat paras yang dia miliki tersebut, membuat orang yang belum mengenalnya dengan baik pasti akan tertipu oleh penampilannya dan tidak menduga jika sebenarnya Kevin adalah pria yang berbahaya.
"Omo!! Ada apa denganku, kenapa aku malah terpesona pada Paman? Tidak benar, ini benar-benar tidak benar!!" ucap Viona. Wanita itu menggelengkan kepala sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Tidak ingin semakin jatuh dalam pesona Kevin. Viona pun memutuskan untuk menutup kembali tirai disampingnya. Kevin adalah pamannya, jadi tidak mungkin jika dia jatuh cinta padanya, meskipun Kevin hanya seorang Paman angkat.
"Nah, begini kan lebih aman," ucap Viona setengah bergumam. Dan wanita itu pun melanjutkan aktifitasnya, yakni berendam dengan tenang.
.
.
Kevin meninggalkan halaman belakang Villa dan kembali ke dalam untuk membersihkan tubuhnya yang penuh keringat. Dia baru saja menyelesaikan olah raga paginya, rutinitas harian yang selalu dia lakukan ketika pagi hari.
"Tuan Muda, kopi Anda." Sabrina menghentikan langkah Kevin dan menyerahkan secangkir kopi padanya.
"Letakkan saja disitu, aku akan meminumnya nanti." Ucapnya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Sabrina kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Kini dia bisa menjalani aktifitasnya dengan tenang setelah Doori dan Tio ditangkap oleh polisi. Sabrina tidak perlu lagi hidup dibawah tekanan ayah dan anak tersebut, setidaknya sampai tiga puluh tahun ke depan.
Kevin membuka pintu kamarnya dan mendapati ruangan itu dalam keadaan kosong. Tak terlihat batang hidung Viona di manapun, baik itu balkon maupun tempat tidur, awalnya Kevin hendak mencarinya sampai akhirnya dia mendengar suara air dari kamar mandi.
Pria itu berjalan kearah kamar mandi. "Vi, apa kau di dalam?" seru Kevin dengan suara sedikit meninggi.
"Paman, kau kah itu?" bukannya menjawab, Viona malah balik bertanya.
"Hn,"
Dan gumaman itu seolah memberikan Viona sebuah jawaban yang jelas. "Paman, setelah sarapan temani aku jalan-jalan ke bukit ya. Aku ingin melihat bunga Canola." Serunya dari kamar mandi.
"Hn, kalau begitu cepat, jangan lama-lama berendamnya." pinta Kevin dari depan pintu.
"Iya, ini juga hampir selesai," Viona menyahut ucapan Kevin.
Lima menit kemudian Viona keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Dari dada sampai sebatas paha.
Glukkk...
Tubuh Viona terpaku ketika melihat Kevin berjalan ke arahnya. Sekujur tubuhnya mendadak kaku, rasanya Viona ingin sekali mengutuk Kevin yang sudah membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
"Pa...Paman, kau segeralah mandi." Pinta Viona terbata-bata, posisinya memunggungi Kevin, dia tidak ingin Kevin melihat wajahnya yang merona seperti tomat matang.
"Kau nanti bisa masuk angin, cepat pakai pakaianmu," kevin menepuk kepala Viona dan melewatinya begitu saja.
Seketika Viona bisa menghela napas lega. Dia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini. Viona sering merasakan perasaan yang tidak wajar pada Kevin, dia memang sangat mengagumi pamannya itu, tetapi perasaan yang ia rasakan akhir-akhir ini bukanlah rasa kagum yang wajar.
Apa mungkin jika Viona benar-benar sudah jatuh cinta padanya? Entahlah, biar waktu saja yang menjawabnya.
Setelah ber-make up dan berpakaian lengkap, Viona meninggalkan kamarnya dan pergi ke dapur untuk meminum coklat hangat. Dia tidak menyukai teh apalagi kopi, dan minuman yang selalu dia nikmati saat pagi hari adalah coklat panas.
.
.
__ADS_1
Baru saja keluar dari kamar, Viona sudah mendengar suara ribut-ribut dari arah teras depan. Penasaran siapa yang ribut pagi-pagi begini, diapun bergegas turun untuk melihatnya.
Dan setibanya di luar, Viona melihat Bibi Sabrina yang dimarahi habis-habisan oleh seorang wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad.
"Aku tidak mau tahu, kau harus mencabut laporanmu itu atau aku tidak akan segan-segan padamu!!"
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa mencabut laporan itu karena bukan diriku yang melaporkan Doori dan Tio pada polisi, tapi pemilik Villa ini."
"Cari cara dong, supaya mereka mau membebaskan anaknya dan cucuku. Sebenarnya kau ini Ibu dan istri macam apa, kenapa tidak berguna sama sekali?!" bentak wanita itu penuh emosi.
Viona pun segera mendekati mereka berdua dan berdiri disamping Bibi Sabrina. "Jangan pernah menyalahkan orang lain jika yang bersalah adalah putra dan cucumu!! Mereka berdua yang merencanakan perampokan dan pembunuhan pada Pamanku, jadi dimana letak kesalahannya jika Pamanku memenjarakan mereka berdua?!" ucap Viona menegaskan.
"Siapa kau, kenapa ikut campur?" wanita itu menatap Viona dengan sinis.
"Aku adalah pemilik Villa ini, dan jika Nyonya tidak terima karena kami telah memenjarakan mereka berdua, silahkan pergi ke kantor polisi untuk menggantikan mereka. Nyonya bisa membiarkan mereka berdua bebas dengan Anda sebagai penggantinya," pinta Viona.
Viona menyarankan pada wanita itu supaya menggantikan Doori dan Tio di penjara jika memang tidak terima Kevin memenjarakan mereka berdua.
"Kalian benar-benar keterlaluan. Ingat, ini belum berakhir. Aku pasti akan terus mengganggu dan meneror kalian sampai Doori dan Tio dibebaskan!!" ucapan wanita itu memberi ancaman.
"Lakukan saja jika kau ingin berakhir seperti mereka!!" sahut seseorang, ketiganya sontak menoleh dan mendapati Kevin berjalan menghampiri mereka.
"Paman," seru Viona dengan girang.
Tatapan Kevin dingin dan tajam ketika menatap wanita itu. "Jika kau benar-benar tidak terima, aku bisa mengantarkanmu pergi ke sana untuk menemani cucu dan putramu menjalani hukumannya,"
Wanita itu menggeleng. Memangnya siapa yang sudi tinggal di tempat seperti itu. Lupakan saja, anggap tidak mengatakan apapun pada kalian. Sabrina, ingat untuk menjenguk mereka berdua, atau kau akan berakhir di tanganku!!" ucapnya dan pergi begitu saja.
Kevin menghela nafas, ada saja masalah yang tidak pantas, dan dia tidak memperkirakan orang lain akan datang untuk membuat perhitungan. Kemudian Kevin mengajak Viona kembali ke dalam untuk sarapan.
.
.
Bersam
__ADS_1