
"Ge," panggil Viona setibanya Kevin di kamar mereka.
Kevin melepas kemejanya, menyisakan singlet hitam yang mengikuti lekuk tubuhnya. Kemudian Kevin berbaring di samping Viona. Wanita itu merubah posisinya, dia duduk menghadap Kevin yang berbaring.
"Apa?" Kevin menatapnya dengan curiga. Dia yakin pasti ada apa-apanya melihat tatapannya.
"Ge, aku ingin makan stroberi tapi langsung dari kebunnya." Rengek Viona.
"Tapi ini sudah malam, mana ada kebun strawberry yang masih buka. Besok saja ya, aku benar-benar lelah," jawab Kevin.
Kedua matanya tampak berkaca-kaca setelah mendengar jawaban Kevin. Kevin menutup matanya dan menghela nafas. Jika sudah begini, tidak mau dia harus menurutinya, jika tidak karena jika tidak di turuti pasti Viona akan menangis dan merengek seperti anak kecil.
"Baiklah, ayo pergi."
Air matanya berubah menjadi senyum lebar setelah mendengar jawaban Kevin. Dia tahu Kevin pasti akan menurutinya dan tidak bisa menolak permintaannya. Itu bukan keinginannya melainkan keinginan janin yang ada di dalam perutnya. Meskipun dengan terpaksa, kevin tetap mengabulkannya.
"Ge, kau memang suami dan ayah terbaik di dunia. Nak, ayo kita pergi." Viona tersenyum lebar sambil mengusap perutnya dengan bahagia. Melihat pemandangan di depannya membuat Kevin yang semula kesal menjadi tersenyum lebar.
Tidak seharusnya dia kesal ataupun marah atas permintaan Viona. Dia harus lebih memahaminya dan mengerti keadaannya. Lagi pula jika bukan dirinya yang mengerti dan memahaminya, siapa lagi?!
"Ayo pergi," ajak Kevin dan di balas anggukan oleh Viona. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.
.
.
Uang berkuasa, dengan uang Semua menjadi mudah. Berkat uang banyak yang Kevin tawarkan pada pemilik kebun, akhirnya Kevin dan Viona diijinkan untuk masuk serta memetik strawberry sepuas mereka. Dan Mereka berdua adalah satu-satunya pengunjung yang ada di sana.
Viona tampak begitu antusias memilih strawberry berukuran besar yang dia inginkan. Sedangkan Kevin hanya mengikuti kemana pun dia melangkahkan kakinya.
"Ge, kau ingin mencobanya?" tawar Viona sambil menyodorkan strawberry berukuran besar pada Kevin.
Kevin menggeleng. "Kau saja yang memakannya. Petik yang besar saja, jangan yang kecil. Takutnya malah tidak kau makan, jika sudah puas kita pulang saja. Aku benar-benar lelah, Viona." Ucap Kevin sedikit memelas.
Viona memperhatikan wajah Kevin. Kedua matanya tampak Sayu dan lelah terlihat dari raut mukanya. Sepertinya dia benar-benar keterlaluan kali ini, tapi Viona tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri karena itu murni keinginan janin di dalam perutnya.
"Ge, aku sudah selesai. Ayo pulang." Kali ini Viona tidak bisa bersikap egois. Tidak seharusnya hanya Kevin yang terus-terusan mengalah padanya, tapi dirinya juga. Lagi pula sudah terlalu banyak Strawberry yang dia petik dan dia makan, dan itu sudah lebih dari cukup untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Kevin menatap Viona. "Kau Yakin?" tanyanya memastikan.
Viona mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat. Kemudian mereka berdua meninggalkan perkebunan tersebut dan menuju parkiran di mana Kevin memarkirkan mobilnya.
.
.
Jalanan yang tadinya sepi berubah menjadi ramai karena sebuah tragedi. Kevin memperlambat laju mobilnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. dia menghentikan seorang pejalan kaki yang melintas di depan mobilnya untuk mengetahui apa yang terjadi sampai-sampai banyak orang berkerumun di satu titik.
"Apa yang terjadi di sana? Kenapa banyak sekali orang berkerumun? Apa terjadi kecelakaan?" tanya Kevin memastikan.
"Terjadi tabrak lari dan korbannya seorang wanita hamil. Wanita itu meninggall seketika di tempat kejadian dan janiin di dalam perutnya sampai keluar akibat terllindas di bagian peruttnya." Jawab orang itu.
Sontak pandangan Kevin bergulir pada Viona yang sedang tertidur di sampingnya. Dan Kevin tidak bisa membayangkan jika peristiwa itu sampai menimpa Viona. Entah hal buruk apa yang akan dia lakukan jika dia sampai kehilangannya. Jangankan benar-benar terjadi, membayangkannya saja sudah membuatnya sangat ketakutan.
Dan ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah Kehilangan orang yang paling dia cintai. Kevin mengusap kepala Viona dengan lembut dan penuh sayang, Kevin menghidupkan kembali mesin mobilnya, dan sedan hitam itu kembali melaju kencang pada jalanan yang legang.
Kevin mempercepat laju mobilnya supaya cepat sampai di rumah. Dia benar-benar lelah dan ingin segera beristirahat.
xxx
Setelah mendapatkan semua data-datanya. Kemudian Rico mengirimkan sebuah email pada sang majikan, dia harus melaporkan tentang hasil penyelidikannya pada Kevin.
"Tuan, apakah anda sudah melaporkan tentang hasil penyelidikan kita pada Tuan Muda?" seorang laki-laki yang merupakan tangan kanan Rico.
Rico mengangguk. "Ya, dia belum membaca email yang aku kirimkan."
"Tidak masalah, yang penting kita sudah melaporkannya Pada Tuan Muda. Sebaiknya anda segera beristirahat, ini sudah larut malam." Pinta laki-laki itu pada Rico.
"Kau juga, Eric. Sebaiknya kau juga segera beristirahat, kau pasti lelah setelah bekerja seharian. Jangan sampai kau jatuh sakit dan membuat cemas orang tuamu," laki-laki itu, Eric menganggukkan kepalanya.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Eric membungkuk pada Rico dan pergi begitu saja.
Rico menghela napas. Dia beranjak dari depan dinding kaca dan melenggang menuju tempat tidurnya. Rico lelah, tubuhnya benar-benar mengajak untuk istirahat. Karena jika tidak pergi tidur sekarang, dia akan kehilangan waktu istirahatnya yang berharga.
xxx
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Kevin sudah pergi ke Inggris, dia berniat untuk mencari dan menemukan keberadaan anak-anak David Lu. Kevin ingin memberitahu mereka jika sebenarnya ayahnya tidak bersalah dan hanya korban dari keegoisan orang lain. Dan kebenaran harus di ungkap sampai sejelas-jelasnya.
Setelah menempuh perjalanan 10 jam lebih, akhirnya Kevin tiba di London Airport, kali ini dia pergi sendirian tanpa Viona. Kevin tidak ingin mengambil resiko dengan mengajaknya untuk ikut pergi dengannya, terlalu berbahaya bagi Viona yang sedang hamil muda. Dan tentu saja kepergian Kevin sudah di ketahui oleh Viona.
Dari sedikit informasi yang dia miliki. Tidak sulit bagi Kevin untuk menemukan mereka berdua. Anak sulung David Lu bekerja di sebuah perusahaan tekstil sebagai manager pemasaran, sedangkan anak keduanya menjadi bos geng preman dan sudah tidak tertolong lagi.
"Tuan, apa tidak sebaiknya Anda istirahat dulu?" tanya sopir yang datang menjemput Kevin di bandara, sopir itu 'Neo'
Kevin menggeleng. "Langsung saja antarkan aku ke sana, karena waktu yang aku miliki tidak terlalu banyak." Jawab Kevin.
Dia tidak bisa meninggalkan Viona terlalu lama, dia sangat bergantung padanya apalagi saat-saat ini yang sedang hamil muda. Dia harus segera menyelesaikan urusannya dan cepat-cepat kembali ke China.
"Baik, Tuan Muda." Neo mengangguk dan menjawab singkat.
Tujuan pertama Kevin adalah kantor tempat putra pertama David Lu bekerja, baru malamnya dia akan anak keduanya. Dari informasi yang Kevin perolehan, setiap malam dia bersama gengnya berkumpul di Lion Bar.
.
.
Dua puluh menit perjalanan yang Kevin tempuh menuju King Group. Dan tidak sulit bagi Kevin untuk bertemu dengan CEO dari perusahaan terbesar keempat di Inggris tersebut, karena pemilik perusahaan itu adalah rekan bisnisnya.
Kedatangan Kevin di King Group begitu menarik perhatian banyak pasang mata karyawan yang bekerja di sana. Mereka seperti mendapatkan angin segar di tengah Padang pasir yang tandus, akhirnya mereka mendapatkan asupan vitamin mata di tengah gempuran pekerjaan yang menumpuk.
"Apa kau yang bernama, Terasa?" tegur Kevin pada seorang wanita berusia pertengahan empat puluh tahunan. Wanita berkacamata berhelaian hitam pendek.
Lantas wanita itu menoleh dan menatap Kevin penuh tanya. "Ya, memangnya kau ini siapa dan bagaimana kau bisa mengetahui namaku?" Teresa balik bertanya sambil menatap Kevin penasaran.
"Tidak penting siapa aku, tapi ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dan dia sudah menunggu selama lebih dari tiga puluh tahun hanya untuk bertemu denganmu!!"
Teresa menatap Kevin penasaran. "Siapa?" dia bertanya dan menatap Kevin penasaran.
"David Lu, ayahmu!!"
xxx
Bersambung
__ADS_1