Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Setelah selesai melaksanakan fitting gaun pengantin. Aiden dan Luna melanjutkan acara mereka dengan melakukan foto pre wedding. Mereka bergegas menuju air terjun Yangso. Tempat mereka akan melaksanakan foto Prewedding.


Viona Lah yang telah menyiapkan semuanya. Dan kemarin Aiden sudah membuat janji dengan salah satu fotografer terkenal bernama Ren Kim. Begitu sampai di lokasi. Ternyata Ren dan timnya sudah sampai terlebih dahulu. Setelah berbasa-basi sedikit, dan Ren Kim juga sudah menjelaskan konsep fotonya. Prewedding itu pun di mulai.


Sesi awal, Luna mengenakan dress putih setengah lengan dengan hiasan tiara di bagian pinggangnya serta terbuka di bagian dadanya. Sedangkan Aiden hanya mengenakan Vest V-Neck warna putih terdapat garis warna hitam pada bagian kerahnya. Untuk bawahannya Aiden mengenakan celana panjang yang senada dengan Vest-nya.


Foto pertama, Luna duduk di sebuah batu besar dan Aiden datang menghampiri sang dara dengan membawa setangkai bunga mawar. Dan Luna menerima mawar itu sambil tersenyum lebar.


Foto kedua, mengambil pose mereka yang berdiri saling memunggungi dengan wajah mendongak dan bergandengan tangan. Konsep ini diambil atas keinginan Luna


Foto ketiga, Luna dan Aiden duduk saling membelakangi di sebuah batu besar yang tadi di duduki Luna. Bedanya tadi berdiri dan sekarang duduk. Sehingga Luna dapat bersandar pada punggung Aiden. Gadis itu l membawa setangkai mawar yang tadi di berikan oleh pria itu.


Mereka sama-sama memandang langit. Seakan-akan mereka tengah membayangkan bagaimana kehidupan pernikahan mereka yang sudah ada di depan mata. Dengan arahan Ren pose berubah. Aiden dan Luna yang tadinya memandang langit kini memandang satu sama lain.


Raut muka mereka berdua saat ini seperti dua orang yang tengah jatuh cinta. Namun masih malu jika bertemu orang yang di sukainya. Terutama Luna.


"Luna, sekarang letakkan tanganmu di dada Aiden..." ucap Ren.


Luna pun melakukan apa yang di arahkan oleh Ren Kim. Setelah sesi pertama selesai, foto dilanjutkan dengan sesi terakhir.


Pada sesi ini Luna dan Aiden sudah berganti kostum. Lina mengenakan gaun mewah nan indah berwarna putih dan Aiden mengenakan tuxedo warna putih juga. Background yang di ambil adalah muara air terjun itu. Mereka berdua kemudian berfoto tepat di bawah air terjun Yangso.


Dan suara kamera Teh pun kembali terdengar. Ren mengambil beberapa lembar foto untuk satu pose. Setelah itu mereka berdua kembali berganti pose. Aiden memeluk Luna dari belakang dan satu tangan gadis itu membelai pipi sang pria.


"Aiden, angkat sedikit kepalamu..." seru Ren mengarahkan. Aiden pun mengangkat sedikit kepalanya. "Nah begitu..."


Mereka lalu berpindah pada batu besar yang ada di sisi kanan itu. Aiden duduk di batu itu dengan satu kaki di tekuk. Dan Luna pun duduk di depan Aiden, ia bersandar pada dada sang pria. Keduanya tersenyum. Menanti kebahagiaan yang sudah di depan mata.


"Hasilnya nanti akan aku kirim ke Ibumu, kau bisa melihatnya di sana..." kata Ren begitu foto prewedding itu sudah selesai.


Aiden mengangguk. "Baiklah, aku tunggu... Terima kasih Ren." Jawab Aiden.


"Terima Kasih..." ucap Luna membungkuk. Kemudian Ren meninggalkan pasangan itu.


Pandangan Luna bergulir pada Aiden. "Ge, aku lapar. Bisakah sekarang kita makan siang dulu?" mohon Luna.


Aiden mengangguk. "Baiklah." Jawabnya dan membuat senyum Luna mengembang lebar. Dia memeluk lengan Aiden dengan mesra. "Kita ganti pakaian dulu." Ucap Aiden dan dibalas anggukan oleh Luna. Keduanya kemudian pergi untuk mengganti pakaiannya.


Dengan lembut Aiden mengusap kepala Luna. Tidak pernah dia merasakan kebahagiaan seperti yang ia rasakan saat ini. Aiden bahagia.


xxx


"Ma, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau sibuk sekali? Apa ini ada hubungannya dengan pernikahan Aiden dan Luna?" Ailee menghampiri ibunya dan menatapnya penasaran.


Viona mengangguk. "Ya. Ini adalah pernikahan pertama dalam keluarga kita, jadi Mama ingin pernikahan tersebut berlangsung dengan meriah. 2000 undangan telah Mama siapkan, pokoknya semua orang harus tahu tentang pernikahan ini." Ujar Viona bersemangat.


Ailee menggeleng. "Aku tidak setuju. Ma, kau seperti tidak mengenal putramu itu dengan baik. Dia kan persis seperti Papa, yang tidak suka pesta dan acara meriah semacam itu. Aku yakin Aiden pasti akan menolaknya. Saranku sebaiknya bicarakan dulu dengan Aiden , jika dia setuju baru kau bisa mengadakan pesta meriah seperti keinginanmu." Tutur Ailee panjang lebar.


"Benar juga. Kenapa Mama tidak berpikir ke sana. Baiklah, setelah mereka tiba disini Mama akan membicarakan hal ini dengan mereka. Kalau Aiden setuju baru Mama akan mencetak undangannya." ucap Viona yang menyetujui saran Ailee. Memang sebaiknya membicarakan hal ini dengan mereka berdua terlebih dulu.


xxx


Luna menceritakan banyak hal pada Aiden. Dia teringat pada semua hal yang ia lalui selama dirinya koma. Dan Aiden menjadi pendengar yang baik bagi gadis itu. Saat Luna menceritakan dirinya yang berada di tempat asing nan indah, dia yang bertemu dengan kakek dan nenek mereka. Semua ingatan-ingatan itu masih terpatri jelas di memori Luna.


Sekarang ini mereka sedang menikmati makan siang di salah satu tempat favorit mereka dulu. Ya, dulu. Satu tahun yang lalu sebelum tragedi itu terjadi dan Luna mengalami tidur panjang. Mereka berdua sering sekali datang ke cafe ini.


setelah penantian panjang dan melelahkan. Akhirnya Luna bangun kembali setelah dia dinyatakan meninggal oleh dokter. Dan itu sebuah Keajaiban yang tidak disangka-sangka. Membuat tangis sedih dan kehilangan berubah menjadi tangis haru penuh kebahagiaan.


Awalnya Aiden tidak percaya jika Luna meninggalkannya. Dia memiliki keyakinan jika gadis itu pasti mampu bertahan, namun semua kepercayaan nya hancur berantakan setelah dokter sendiri yang mengatakan Luna tidak mampu lagi bertahan. Aiden menangis, semua orang menangis melihat kepergiannya. Dan apa yang menimpa Luna seperti mimpi buruk yang terjadi disiang bolong


Seperti mendapat kesejukan di padang pasir yang tandus. Ketika melihat Luna membuka kembali matanya dan menyapanya dengan senyum lebarnya. Senyum lebar yang begitu ia rindukan.


Aiden sangat merindukan Luna, bahkan sampai detik ini rasa rindu itu belum mampu terobati. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu dia kehilangan lentera dan pelita dalam hidupnya. Saat Luna tidak ada. Aiden begitu Merindukan saat-saat indah bersama gadis itu. Dan ketiadaan Luna akhirnya membuat Aiden menyadari satu hal, jika dia telah jatuh cinta padanya.


Luna pun tak menolaknya ketika Aiden menyatakan cintanya dan mengajaknya untuk menikah. Bahkan dengan senyuman lebarnya yang begitu khas, ia menerima pinangan Aiden yang tak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.


Aiden menggenggam tangan Luna dengan lembut, senyum tipis tampak terpatri disudut bibirnya. "Ada apa, Ge? Kenapa kau tampak begitu bahagia?" tanya gadis itu penasaran..


"Tanpa aku harus menjawabnya. Aku yakin kau sudah tahu jawabannya," jawab Aiden.


Luna tertawa dan mengangguk. "Ya, tentu saja aku tahu. Ge, sejak kapan kau jatuh cinta padaku?" tanya Luna sambil mengunci sepasang biner mata hitam milik pria itu.


Aiden menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Namun aku baru menyadari perasaan itu ketika kau mengalami koma, aku begitu ketakutan akan kehilanganmu Luna. Tidur panjang mu yang sangat lama itu membuatku ketakutan. Aku benar-benar takut kau akan meninggalkanku begitu saja, tanpa ada ucapan ataupun salam perpisahan. Kau membuatku hampir gila. Dan dari situlah aku menyadari satu hal, jika sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu." Tukas Aiden panjang lebar.


Luna tersenyum. Dia meletakkan tangan kanannya diatas tangan Aiden yang menggenggam jari-jari tangan kirinya. "Ge, itu semua sudah berlalu, dan sekarang Aku sudah kembali. Mulai sekarang kita akan bersama-sama kembali, dan tidak akan terpisahkan lagi. Aku janji, tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." Ujar Luna sambil mengunci mata hitam Aiden.


Melihat senyum lebar Luna membuat Aiden ikut tersenyum juga. Senyum yang langka, yang jarang sekali dia perlihatkan sebelumnya. Senyum yang pernah menghilang satu tahun penuh karena Luna yang tidak segera bangun dari tidur panjangnya.


"Ya, dan kali ini aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkanku lagi. Apapun alasannya, jangan coba-coba untuk pergi lagi. Karena aku benar-benar tidak sanggup menjalani hidup tanpamu, Luna. Satu tahun tanpa senyum dan canda tawamu, membuat hidupku Hampa. Aku benar-benar kesepian tanpa kehadiranmu," ujar Aiden menyampaikan isi hatinya.


Luna menatap pria itu dengan Sendu. Terbesit penyesalan di hatinya karena sudah membuat Aiden menunggu begitu lama. Namun semua itu telah berlalu, anggap saja apa yang terjadi sebagai ujian cinta mereka berdua.


"Ge, terimakasih sudah menungguku kembali."


"Sudah selayaknya, meskipun menunggu adakah hal yang sangat menyebalkan. Namun aku rela melakukannya demi dirimu, karena aku mencintaimu." bisik Aiden.


Luna sampai Kehilangan kata-katanya, dia tidak tahu lagi harus berbicara apa, kata demi kata yang Aiden ucapkan membuatnya terharu. Dan jika saja mereka tidak berada di tempat umum, pasti Luna sudah menangis di dalam pelukan pria itu.


"Sudah, segera habiskan makan siangmu. Setelah ini kita pergi ke rumah Mama untuk membicarakan tentang pernikahan kita dengan mereka."Ucap Aiden dan dibalas anggukan oleh Luna.


"Baiklah." dalam


Usai makan siang, mereka pergi ke kediaman Zhang untuk membahas mengenai pernikahan mereka dengan Viona. Viona meminta mereka berdua untuk datang karena ada sesuatu yang harus dibahas, dan Aiden menyanggupinya, Luna pun tidak keberatan untuk datang ke sana.


Hampir tiga puluh menit berkendara. Mereka tiba di kediaman Zhang. Kedatangan mereka berdua disambut dengan baik oleh Viona yang memang sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi.


"Kalian sudah datang. Ayo, masuk." Ucap Viona mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.


Dan inilah yang Aiden benci ketika datang ke kediaman orang tuanya. Pasti ibu dan kakaknya menjadikan Luna sebagai sandera mereka dan tidak membiarkannya untuk bersamanya, meskipun hanya satu detik saja.


Namun kali ini Aiden tidak mau kalah dari ibunya. Aiden menahan pergelangan tangan Luna, membuat langkah keduanya terhenti. Viona menoleh kebelakang dan menatap Aiden dengan bingung begitupun dengan Luna.


"Dia calon istriku , tidak seharusnya Mama menahannya apalagi menjadikannya sebagai sandera!!" ucap Aiden seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh ibunya.


Seketika tawa Viona meledak mendengar apa yang diucapkan oleh putranya tersebut. Aiden yang dinginkan seperti kutub Utara, bisa-bisanya bersikap begitu protektif pada pasangannya. Namun hal tersebut tidak mengherankan sama sekali, mengingat jika Aiden adalah keturunan Kevin.


"Apa yang Maka tertawakan? Apa ada yang lucu?" Aiden menatap ibunya dengan sebal.


Viona menggeleng. "Tidak. Baiklah, kau boleh memiliki Luna. Tapi tidak perlu memasang muka sangar begitu di depan ibumu sendiri, dasar kau ini. Duduklah, Mama ingin menunjukkan sesuatu padamu." Kemudian Viona beranjak dari hadapan mereka berdua.


Apa tidak berselang lama setelah kepergian Viona, Ailee datang membawa dua gelas orange jus yang untuk Luna dan Aiden pastinya. "Kalian jangan terkejut dengan apa yang hendak Mama tunjukkan," ucap Ailee sambil meletakkan minuman tersebut diatas meja.


Aiden memicingkan matanya dan menatap sang kakak penuh tanya. "Apa? Kau Jangan membuat ku penasaran."


"Bersabarlah, kalian akan segera tahu. Aku ada janji dengan seseorang, aku pergi dulu. Adik ipar, sampai jumpa lagi." Ailee memeluk Luna sesaat sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


Viona datang dengan membawa beberapa contoh undangan yang kemudian dia tunjukkan pada Luna dan Aiden. "Ini adalah desain undangan yang telah Mama siapkan. Kalian bisa berunding untuk menentukan undangan mana yang cocok." Ucap ibu dua anak itu menjelaskan.


Bahkan undangan pun telah disiapkan. Luna merasa sangat terharu. Tidak hanya itu sangat. Viona juga memberinya gaun yang sangat cantik, dan gaun itu adalah gaun yang dia pakai di prewed nya tadi. Begitu besar rasa peduli dia sebagai seorang Ibu.


Luna tersenyum miris. Bolehkah dia merasa iri pada Aiden karena memiliki ibu yang begitu luar biasa? Sementara dirinya, rasanya tidak perlu diceritakan lagi. Karena membahas tentang ibunya hanya akan membuat hatinya sakit. Karena ibu Luna tidaklah sebaik ibu Aiden.


"Luna, apa yang kau lamunkan?" tegur Viona melihat kediaman Luna.


Gadis itu menggeleng. "Tidak ada, Bibi. Aku tidak melamun." Jawabnya tersenyum.


"Bibi, kau masih memanggilku bibi, sementara kau dan Aiden akan segera menikah. Mama, panggil aku Mama Luna." Pinta Viona sambil tersenyum lembut.


Luna menyeka air mata harunya. Dengan penuh keyakinan dia memanggil Viona dengan sebutan."Mama," Aiden dan Viona saling bertukar pandang. Keduanya sama-sama tersenyum lebar. Kemudian Viona membawa gadis itu ke pelukannya.


Melihat pemandangan itu membuat hati Aiden menghangat. Dia lega karena keluarganya menerima Luna dengan baik. Dan bagi Aiden, kebahagiaan Luna adalah yang paling utama.


"Mama, hampir saja lupa. Bagaimana kalau pernikahan kalian berdua digelar dengan sangat meriah? Mama, ingin mengadakan pesta selama 7 hari 7 malam dengan ribuan tamu undangan. Bagaimana menurut kalian?" Viona menatap mereka berdua dengan antusias.


Aiden menggeleng. "Aku rasa itu tidak perlu. Meskipun ini adalah moment berharga satu kali seumur hidup. Tapi pernikahan sederhana dengan dihadiri orang-orang terdekat saja aku rasa sudah lebih dari cukup. Aku sudah membahasnya dengan Luna." Ujar Aiden.


Viona mengangguk. "Baiklah jika itu keputusan kalian. Mama, tidak keberatan. Karena kalian yang menjalaninya dan kalian juga yang berhak menentukannya. Mama, hanya memberikan sedikit saran saja." kata Viona.


Benar kata Ailee, untung saja Viona belum melakukan kesalahan fatal yang akan dia sesali seumur hidupnya. Meskipun agak sedikit kecewa namun dia tetap tidak bisa memaksa, karena keputusan berada di tangan mereka berdua. Bukan ditangannya.


"Sebaiknya kalian jangan pulang dulu. Mama, akan memasak makan malam special untuk kalian berdua. Kita makan malam bersama, pasti Kevin bahagia karena kalian makan malam disini bersama kami." ujar Viona


Aiden mengangkat bahunya. "Hm, aku rasa tidak buruk juga."


.


.


Makan malam bersama seluruh keluarga Zhang baru saja selesai. Sekarang Luna sedang bersama calon ibu mertuanya. Viona ingin memberikan sesuatu pada calon menantunya tersebut. Sedangkan Aiden sedang berbincang dengan ayahnya di ruang keluarga.


Viona menghampiri Luna sambil membawa beberapa kotak perhiasan yang kemudian dia buka di depan calon menantunya tersebut. "Nah, Luna. Ini adalah perhiasan koleksi Mama. Pilihlah manapun yang kau sukai, dan Mama akan memberikannya padamu."

__ADS_1


Luna menggeleng. "Aku tidak bisa, Ma. perhiasan-perhiasan ini terlalu berharga, aku benar-benar tidak bisa menerimanya." Luna dengan halus.


"Apa yang kau katakan, Luna? Kau ini putri Mama, jadi tidak perlu merasa tidak enak. Lagipula jika bukan kau dan Ailee yang mewarisi semua perhiasan-perhiasan Mama, Lalu siapa lagi? Karena Putri Mama, hanya kalian berdua. Jadi kau tidak boleh menolaknya dan Mama tidak mau mendengar alasan apapun, kau harus menerimanya, titik!!"


Luna tertawa geli melihat ekspresi calon ibu mertuanya tersebut. "Baiklah, aku akan menerimanya tapi Mama jangan ngambek lagi, oke."


Viona menggeleng. "Siapa yang ngambek? Mama, tidak ngambek sama sekali. Bagaimana mungkin Mama bisa ngambek pada Putri Mama yang cantik ini." ucap Viona sambil menangkup pipi Luna.


Luna tersenyum lebar. Dan perolehan mereka berdua terinterupsi oleh kedatangan Aiden. Aiden mengajak Luna untuk pulang karena sudah hampir larut malam. Setelah berpamitan pada Viona dan Kevin, mereka berdua segera meninggalkan kediaman Zhang.


xxx


"Tunggu?? Jadi maksudmu Lolly Adalah Logan?"


Lay tidak bisa menahan keterkejutannya setelah mengetahui fakta yang sangat mengejutkan. Dia memekik kencang setelah mendengar pengakuan Tao dan Kai.


Kedua pria itu merapatkan bibirnya dan mengangguk membenarkan. Lay pun terduduk lemas. Tiba-tiba Lay merasakan mual yang luar biasa pada perutnya, saat ia mengingat ciumannya dengan Logan hari itu.


"Hoek."


"Hoek."


"Hoek."


Lay memegangi perutnya dan bergegas lari menuju toilet mandi untuk menumpahkan semua isi di dalam perutnya. Perut Lay terasa mual, di dalam toilet Lay memuntahkan semua isi di dalam perutnya.


Tao yang melihat hal itu tidak dapat menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit karna terlalu lama tertawa. Sementara Logan, ia merasa puas melihat pria itu yang suka nyosor sembarangan sampai pucat setelah mendengar kebenaran yang di ungkap Tao dan Kai.


"Oi, sepertinya kau girang sekali?" ucap Logan melihat Tao yang masih belum bisa berhenti tertawa. Bukan hanya Logan dan Tao saja. Tapi hampir semua orang yang berada di kediaman Tuan Williams.


"Hahahha, ada apa Lay? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" tanya Eric pada Lay.


"Rasanya seperti mimpi. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada wanita jadi-jadian. Setelah sebelumnya aku jatuh cinta pada Taemi yang ternyata adalah dirimu, dan setelahnya aku jatuh cinta lagi pada Lolly yang ternyata adalah Logan." tutur Lay .


Tao terkekeh. "Makanya jadi laki-laki jangan mata keranjang." sahut Kai menimpali. Pemuda itu sedang sibuk menonton video laknat di ponselnya.


"Puas kau sekarang." teriak Lay dengan wajah memucat.


Bukannya merasa bersalah kemudian meminta maaf. Logan malah terkikik geli "Salah sendiri. Punya bibir tidak bisa di jaga, main serobot saja." Sahut Logan menimpali.


"Pa kami pulang." seru sebuah suara dari arah depan.


Suara mirip lumba-lumba itu mengalihkan perhatian semua orang yang berada di ruangan itu. Tanpa melihat siapa yang datang, semua orang sudah tau jika itu suara Luna. Karena hanya wanita itu yang memiliki suara lumba-lumba saat sedang berteriak. Luna pulang bersama Aiden pastinya, di kedua tangan wanita itu membawa dua kantong yang penuh dengan makanan dan minuman.


"Kalian sudah pulang, kemarilah biarkan Papa memeluk kalian berdua." Tuan Williams berdiri dan berlari menghampiri Aiden lalu memeluk mereka berdua dengan penuh sayang.


Melihat perhatian yang di berikan sang ayah pada Aiden terkadang membuat Eric kesal, bahkan sekarang dia sedang merenggut kesal. Bagaimana tidak, ia adalah putra kandungnya tapi sang ayah malah memberikan perhatian lebih pada putra angkatnya. Tapi bukan berarti dia iri dalam arti yang sebenarnya. Hanya sekedar iri saja.


Alex terkekeh kecil melihat wajah merenggut adiknya itu. Pria tampan dan mapan itu menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.


Perbincangan hangat dan canda tawa menyelimuti kebersamaan seluruh orang yang saat ini berkumpul di kediaman keluarga Williams. Lay sejak tadi menjadi bahan bulan-bulanan teman-temannya termasuk Henry dan Alex yang ikut membully mereka berdua.


Bahkan Aiden yang biasanya hanya menunjukkan ekspresi datarnya ikut tersenyum melihat kekonyolan mereka. Logan merasa puas karena berhasil membalas dendam pada Lay, terutama karena dia sudah berani mengambil ciuman pertamanya.


"Oya Tomat, bagaimana rasanya bibir Lolly? Apakah rasanya sangat nikmat?" tanya Luna mencoba menahan diri untuk tidak tertawa.


"Yakkk...!! Berhentilah memanggilku Tomat. Nama itu tidak cocok dengan wajahku yang tampan ini, dan lagi, berhentilah membahas sesuatu yang membuatku ingin muntah lagi." protes Lay pada Luna, wanita itu terkekeh.


"Wow. Ge lihatlah, dia marah." aduh Luna pada Alex. Lay adalah asisten pribadi kakaknya.


"Hentikan Luna, apa kau tidak merasa kasihan padanya?? Lihatlah, wajah Lay memerah seperti kepiting rebus." kata Eruc menimpali.


"Hahahh kau benar, Ge. Tapi Lay, Tomat itu nama panggilan kesayangan Alex Gege untukmu. Jadi terima saja." imbuh Luna.


Lay merenggut kesal. Ia benar-benar tidak suka di panggil Tomat oleh semua orang. Rasanya dia ingin sekali memberikan sekilo mentimun pada wanita yang sudah ia anggap seperti saudari perempuannya sendiri.


Tapi Lay tidak sampai hati, dia takut bila Luna tiba-tiba pingsan karena phobia anehnya itu dan dia malah dihajar habis-habisan oleh kakak-kakaknya.


Selain itu Ia bisa terkena masalah dari kakak-kakak Luna dan semua yang sayang padanya. Bisa-bisa anak buah Aiden malah ikut-ikutan turun tangan bila sudah menyangkut masalah gadis itu. Karena Lay tau mereka sangat menyayangi gadis cantik satu itu. Bisa ribet masalahnya kalau merwka sudah bertindak, bisa-bisa ia tidak bisa tidur 7 hari 7 malam karna terkena aksi jahilnya itu.


"Ahhhh, kalian semua nyebelin." teriak Lay yang kemudian melesat meninggalkan kediaman Williams. Lebih baik dia pulang dari pada jadi bahan bully mereka semua. .


"Oya Lun, memangnya kau tidak bosan dari tadi mepet Aiden terus?" tanya Eric.


Luna menggeleng. "Sama sekali tidak. Malahan aku tidak ingin jauh darinya." jawab wanita itu sambil menatap Aiden dan tersenyum lebar.


Tuan Williams mendengus geli mendengar jawaban putri kesayangannya itu. Deen Williams tidak menyangka bila Luna akan semanja itu pada Aiden, Namun di sisi lain lelaki paruh baya itu merasa beruntung karena putri kesayangannya itu di miliki dan di cintai oleh pria sebaik Aiden. Deen Williams juga tau bila Aiden sangat mencintai putrinya itu.


Suasana rumah yang tadinya ramai seketika menjadi sepi setelah kepulangan mereka semua. Satu persatu meninggalkan ruang tamu dan kembali ke kamar masing-masing. Termasuk Luna dan Aiden.


xxx


Luna memeluk lututnya dan menghela napas. Dia merasa kosong, sudah dua hari Aiden tidak ada kabar sama sekali. Dia sudah mencoba menghubunginya berulang kali, tapi panggilannya tidak tersambung. Ponsel Aiden selalu tidak aktif dan itu membuat Luna frustasi.


Entah sudah berapa banyak pesan yang telah Ia kirimkan, tapi tak ada satu pun yang Aiden balas. Luna juga mendatangi rumah pribadi milik pria itu, tapi rumah itu kosong, Aiden tidak ada di tempat dan teman-temannya tidak ada yang tahu kemana perginya Aiden. Luna merasa frustasi, Ia kesepian tanpa lelakinya.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Luna. Seorang wanita menghampirinya. "Nona, sebaiknya Anda makan dulu. Sudah sejak pagi, Nona tidak menyentuh makanan sama sekali." Bibi Ran muncul dengan sebuah nampan yang berisi makan malam untuk Luna serta segelas susu hangat.


Luna menggeleng dan mendorong pelan nampan yang masih berada di tangan Bibi Ran. "Aku tidak lapar, Bibi. Jadi bawa kembali makanan dan susu itu," cicitnya. Bibi Ran tergelak, bagaimana mungkin Luna tidak merasa lapar sedangkan dia tidak menyentuh makanan sama sekali sejak pagi.


"Tapi, Nona. Kau bisa sakit jika tidak makan, saya bisa di marahi oleh Tuan Besar jika Nona tidak mau makan," ucapnya memohon.


Luna mengangkat wajahnya, menatap Bibi Ran yang memandangnya penuh permohonan. Luna merasa kasihan, akhirnya Ia pun mengalah dan mengambil nampan itu dari tangan wanita tersebut.


"Baiklah, aku makam." Pasrah Luna pada akhirnya, Bibi Ran tersenyum lebar. Luna akhirnya luluh dan mau menyantap makan malamnya meskipun dengan sangat terpaksa.


Luna menyerahkan nampan itu pada Bibi Ran setelah Ia menghabiskan makan malamnya, tapi dia tidak menyentuh susunya sama sekali. Itu tidak menjadi masalah, yang terpenting Luna mau memakan makan malamnya. Dengan begitu Ia tidak akan mendapatkan masalah dari Tuan Williams, Eric dan Alex karena gagal membujuk dia untuk makan.


Setelah kepergian Bibi Ran, di dalam kamar hanya menyisakan Luna sendiri dalam keheningan. Tidak hanya Aiden saja, tapi semua orang pun bersikap aneh. Semua mengatakan sibuk dan hanya Ailee yang mau menerima panggilan telfon Luna. Itupun hanya beberapa detik saja, karena Ailee juga memiliki kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan.


Luna menangis dalam diam. Ia benar-benar merasa kosong. Ia merasa sendiri saat ini, Eric dan Alex juga tidak ada bedanya dengan Aiden.


Luna terus menangis pilu, tidak terasa sudah hampir tiga jam gadis itu menangis tanpa henti. Matanya sudah bengkak dan memerah, mungkin karena merasa lelah dan terlalu lama menangis akhirnya bungsu Williams itu pun tertidur dalam posisi yang tidak elit. Tengkurap dengan kaki yang menggantung, menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya.


Dan tepat pukul 12 malam, pintu kamar Luna di buka seseorang. Seorang pria masuk dan menghampiri gadis itu, hati-hati pria itu membalikan tubuh Luna sebelum mengangkatnya dan membaringkan dalam posisi yang benar.


Pria itu menarik selimut bermotif bunga mawar besar dan menyelimuti tubuh Luna sebatas dada, ada jejak air mata di wajah cantik gadis itu yang segera di hapus oleh si pria sebelum mengecup lama keningnya.


Pria itu yang tak lain adalah Aiden merasa bersalah karna sudah membuat Luna seperti ini. Sungguh Ia tidak ada niatan untuk membuat sang gadis yang Ia cintai sedih sampai meneteskan air mata begini.


Dada Aiden terasa sesak, seharian ini Ia dengan di bantu kedua kakaknya, dan teman-teman Aiden tengah menyiapkan pesta ulang tahun Luna yang sekaligus menjadi hari paling bersejarah dalam hidup mereka.


Karena di hari itu juga Aiden akan menikahi gadis tercintanya dan menjadikan dia sebagai pendamping hidupnya. Luna memang tahu ia dan Aiden memang akan menikah, tapi mereka belum menentukan kapan tanggal pastinya.


Aiden melepas coat abu-abu miliknya kemudian meletakkan di hanger, dia merangkak naik lalu berbaring di samping Luna dalam posisi menghadap gadis itu. Aiden melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping Luna dan mulai menutup matanya yang terasa lelah.


Dia butuh Istirahat, setelah satu hari penuh Ia di sibukkan dengan berbagai macam persiapan untuk pernikahannya bersama Luna esok hari. Dan tak butuh waktu lama untuk Aiden pergi ke alam mimpinya menyusul gadisnya.


.


.


Pagi-pagi sekali Aiden bangun dan bergegas meninggalkan kamar Luna, menyisakan gadis itu yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Tapi sebelum pergi, tak lupa Aiden memberikan kecupan hangat pada jidat lebar sang kekasih.


"Sampai jumpa beberapa jam lagi, Sayang. Aku mencintaimu."


Setelah sosok Aiden menghilang, hanya tersisa Luna yang sepertinya masih sangat engan untuk meninggalkan alam mimpinya dan kembali ke dunia nyata sampai suara yang begitu familiar menggema dan nyaris memecahkan gendang telinganya.


BRAKKK ,,!


"ADIK IPAR."


Luna terlonjak kaget dan reflek membuka matanya mendengar dobrakan keras pada pintu dan teriakan keras Ailee dan Sunny yang membuatnya nyaris saja tuli. Tidak hanya Ailee dan Sunny saja yang datang, ada juga Viona yang hanya menggeleng lemah melihat kelakuan mereka berdua.


Sunny menarik kasar selimut tebal yang masih Luna pakai dan Ailee menarik kasar tangannya agar dia segera bangun. Dan kelakuan mereka berdua sontak saja membuat Luna kesal, bagaimana tidak?


Di saat Ia sedang tidur nyenyak tiba-tiba saja mereka datang dan mengacaukan mimpi indahnya, padahal Luna sedang bermimpi tidur dengan dipeluk Aiden. Tapi sayangnya mimpi itu hilang sebelum kelakuan mereka, datang dan mengacaukan usaha Luna untuk melanjutkan mimpi indahnya.


"Luna ayo bangun, cepat bangun." Ailee masih terus menarik-narik lengan Luna membuat si empunya mendecih kesal.


"Ayo adik ipar, cepat bangun. Apa kau lupa hari ini adalah hari ulang tahunmu. Kau harus mentraktirku, Sunny dan Mama makan di hotel berbintang lima." celetuk Ailee.


Dengan enggan Luna bangun dan menatap sebal kedua sahabatnya itu. "Sialan kalian berdua. Apa tidak bisa kalian biarkan aku tenang sebentar saja. Aku pasti akan mentraktir kalian tapi tidak sekarang, soo...? Biarkan aku tidur lagi. Ma, maaf ya tapi aku benar-benar masih ngantuk berat." Luna bersiap menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut kesayangannya jika saja tidak ada tangan lentik Viona yang menghalanginya.


"Sudah tidak ada waktu, Sayang Kau harus bersiap sekarang."


Luna merengut kesal, bisa-bisanya calon mertuanya malah ikut-ikutan mereka berdua. Sebenarnya Luna tidak ingin menyalahkan Viona dia tidak seheboh Ino dan Karin, tapi tetap saja calon ibu mertuanya itu juga terlibat. Berjalan ke kamar mandi dengan enggan. Sambil komat-kamit, Luna masuk ke kamar mandi. Sumpah serapah Ia berikan untuk Ailee dan Sunny


Dan Luna pasti akan mengutuk mereka berdua jika mereka berani menguras dompetnya hanya untuk memenuhi nafsu makan mereka yang liar itu.


xxx

__ADS_1


"Bagaimana, Ai. Apa kau menyukai hasil rancanganku."


Seorang pria dengan penampilan rapi menghampiri Aiden yang sedang memandang puas pakaian hasil rancangannya. Pria itu berdiri di samping Aiden dan ikut memandang hasil rancangannya sendiri.


"Hn."


Sepasang baju pengantin terpajang di dalam lemari kaca hingga mempermudahkan Aiden untuk melihatnya. Gaun pengantin Luna di buat sederhana tapi sangat elegan, perpaduan kain chiffon kualitas terbaik dengan kain renda sebagai variasinya serta taburan batu swarovski.


Sesuai permintaan Aiden, gaun pengantin Luna di buat berlengan panjang dengan punggung terbuka yang serasi dengan pakaian yang akan Aiden kenakan. Kemeja hitam yang dilapisi waistcoat putih kombinasi abu-abu di kedua sisinya, jas dan celana hitam bahan.


"Itu sesuai permintaanmu, Tuan Muda Zhang. Semoga kau puas, kau tidak perlu membayar ku untuk karya terbaikku itu. Anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan kalian dariku."


"Hn." Lagi-lagi Aiden hanya menjawab ucapan pria itu dengan kata ambigu.


"Sebaiknya kau segera bersiap-siap, aku harus pergi. Gaun pengantin Luna, perlu di antar."


Pria itu mengambil setelan jas milik Aiden dan menyerahkan pada sang pemilik. Kemudian Ia mempersiapkan gaun pengantin milik Luna lengkap dengan hells dan perhiasan serta hiasan rambutnya. dia mengedipkan mata pada Aiden sebelum melambai dan melenggang pergi.


Aiden membawa setelan jas itu pulang ke rumah orang tuanya. Ia masih memiliki 3 jam untuk bersiap.


Setibanya dia di kediaman Zhang. Aiden langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Dan Pertama-tama Ia harus membersihkan diri dulu. Bukan berarti pagi ini Ia belum mandi, hanya saja Aiden merasa tidak nyaman jika langsung berganti pakaian.


Melepas satu persatu pakaiannya, Aiden memutar kran shower, air hangat yang mengucur dari shower membasahi rambut serta tubuhnya. Membuat rambut coklatnya yang di pangkas lebih pendek dan ditata poni menyamping jatuh menutupi sebagian wajahnya. Pria memejamkan matanya dalam diam. Menikmati tetes demi tetes air yang membasahi tubuh polosnya.


Setelah memastikan tubuhnya wangi dan bersih dari busa. Aiden mengambil handuknya dan melilitkan pada pinggangnya, lalu mengambil handuk yang lebih kecil untuk mengeringkan rambut basahnya seraya membuka pintu kamar mandi. Berdiri di depan cermin besar di samping kiri tempat tidurnya.


Pria itu memakai kaos hitam polos tanpa lengan kemudian memakai kemeja hitamnya, Aiden berdiri di depan cermin memperhatikan pantulan dirinya seraya memasang satu persatu kancing kemeja dengan rapi.


Satu persatu pakaian Aiden telah terpasang termasuk waistcoat dan celana bahannya, hanya tinggal dasi dan suitnya. Aiden ingin terlihat sempurna di hari spesialnya, karena hari ini adalah hari ini adalah hari paling bersejarah bagi hidupnya dan Luna. Meskipun Luna belum menyadarinya


xxx


Luna hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Sunny dan Ailee. Mereka berdua sedang mendadani nya secantik mungkin. Mereka ingin Luna terlihat berbeda di hari spesialnya, dan membuat Aiden menganga kagum ketika melihatnya. Sunny terkikik geli membayangkan bagaimana ekspresi wajah stoic calon suami Luna saat Ia terkagum-kagum, dan tingkah Sunny membuat Luna merasa bingung.


"Apa kau kehabisan obat pagi ini?" Luna memandang pantulan Ailee dari cermin dengan dahi berkerut.


"Sialan kau, Lun. Kau pikir aku sudah tidak waras heeh." Satu jitakan mendarat di kepala Luna, membuat gadis itu meringis. Mengusap bagian kepalanya yang baru saja di dijitak oleh Sunny.


"Dasar menyebalkan. Kau ingin membuat kepalaku benjol heh." Luna merengut kesal, seenaknya saja calon kakak iparnya ini menjitak kepalanya setelah membuat Ia harus bangun pagi-pagi sekali.


Padahal Luna masih mengantuk dan ingin bermalas-malasan lebih lama di atas kasur empuknya. Tapi Sunny, Ailee dan calon ibu mertuanya tiba-tiba saja datang dan mengacaukan segalanya, semua rencana yang telah Luna susun di otaknya.


"Nah adik Ipar, sekarang buka matamu dan lihatlah dirimu." Ailee mundur setelah melihat hasil karyanya yang begitu memuaskan, wajah polos Luna telah selesai di make up dan rambut panjangnya telah di tata rapi dengan hiasan mahkota kecil di atas kepalanya.


"Ke-kenapa kalian merias diriku seperti ini?? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Ayolah, kita hanya akan makan di hotel bintang lima. Tapi kenapa kalian mendandaniku seolah-olah aku ini calon mempelai wanita." Luna mengeluh dengan hasil make up Sunny dan Ailee, Luna merasa make up nya sedikit berlebihan. Tapi menurut mereka berdua make up Luna biasa saja dan tidak terlalu mencolok.


Viona muncul dengan gaun yang akan di pakai Luna, gaun pengantin berwarna putih gading. Simpel tapi sangat elegan, gaun itu memiliki lengan panjang namun terbuka di bagian punggungnya. Kulit lengan dan bahunya masih dapat terlihat dengan jelas karna renda transparan yang menjadi perpaduan kain chiffon sebagai bahan utama gaun pengantin Luna. Tak lupa taburan batu mulia yang membuat gaun itu terlihat semakin elegan.


Viona membawa gaun itu kehadapan gadis itu lengkap dengan hells dan perhiasan cantik yang akan dia kenakan.


"Nah, Sayang. Sudah saatnya kau berganti baju." Suara lembut Viona mengalihkan perhatian Luna dari Ailee dan Sunny, matanya membulat melihat gaun itu.


"Apa lagi ini, Ma? Apa kalian bercanda? Masa aku harus memakai gaun ini? Bisa-bisa aku di sangka pengantin wanita yang kabur dari acara pernikahanku sendiri. Aku tidak mau, aku mau pilih gaunku sendiri dan make up ini. Aku akan menghapusnya, lebih baik aku merias wajahku sendiri."


Baru saja Luna bangkit dari duduknya, namun dengan sigap Ailee menahan bahu gadis itu dan memaksa gadis itu untuk duduk kembali. Ailee mengambil gaun itu dari tangan Ibunya, dengan bantuan Sunny. Ailee mengganti piyama mandi dengan gaun itu. Bahkan mereka tidak peduli dengan teriakan Luna yang rasanya memekatkan gendang telinga mereka.


"Diamlah, Lun. Jadilah gadis penurut untuk hari ini saja, aku bersumpah. Setelah ini kau akan sangat berterima kasih pada kami."


"Dalam mimpimu." Luna menyela ucapan Sunny sedikit ketus.


"Nah Sayang, sudah selesai. Tinggal pakai sepatu ini, dan kita langsung berangkat." Viona meletakkan sepatu yang Ia pegang di depan kaki Luna, dengan enggan Luna memakai sepatu itu. Dengan berat hati dia mengikuti keinginan mereka bertiga dan pergi dengan mereka.


xxx


Tamu undangan mulai berdatangan, mereka bukanlah orang-orang luar tapi para sahabat Luna dan Aiden. Ini adalah pernikahan tertutup, jadi wajar jika yang datang hanya para sahabat serta orang-orang terdekat mereka berdua.


Dari dalam ruangan, muncul sesosok gadis berambut coklat panjang berbalut gaun pengantin, gadis itu berjalan menghampiri Aiden yang sudah berdiri diatas altar.


Wajah gadis itu tidak terlihat karna tertutup kerudung, dan yang menjadi pertanyaannya?? Apakah gadis ini benar-benar sang mempelai wanita atau bukan? Jika benar, lalu bagaimana dengan Sakura.


Cklekkk ..!!


Pintu terbuka, dan di sana berdiri tiga orang gadis dan seorang wanita paruh baya dengan rambut panjang berbeda warna. Si kepala coklat terang berdiri diantar mereka bertiga, di sadari atau tidak.


Semua mata kini tertuju pada Luna, Luna merasa aneh dengan tempat ini.


Ia terus bertanya-tanya dalam hati, bukankah Ailee dan Sunny mengatakan akan meminta traktir padanya di hotel bintang lima. Lalu kenapa mereka malah membawanya datang ke acara pernikahan?


Luna menyapukan pandangannya. Semua teman dan orang-orang terdekatnya ada di sana termasuk kedua kakaknya 'Alex dan Eric', namun Luna tidak bisa menemukan keberadaan Aiden dan Henry sampai Ia melihat sosok yang sejak kemarin membuatnya hampir gila berdiri di atas altar dengan seorang wanita berbalut gaun pengantin indah.


Deggg ...!!


Jantung Luna seakan berhenti berdetak detik itu juga melihat Aiden berdiri berdampingan diatas altar dengan seorang wanita, matanya mulai memanas dan lututnya terasa lemas. Nyaris saja Luna terjatuh jika Viona dan Ailee tidak sigap menahannya, Luna menatap mereka berdua bergantian.


Mereka terlihat tenang meskipun mengetahui jika di depan sana Aiden akan segera menikah, apakah mereka tidak merasa marah pada pemuda sialan itu karna berhasil mematahkan hatinya.


"Apa maksudnya semua ini?" Luna memandang ketiga gadis itu dengan berderai air mata,


Mereka tercekat melihat Luna mulai menitihkan air mata, bukan seperti ini yang mereka inginkan. Mereka hanya mengikuti alur skenario yang di ciptakan oleh Aiden, Alex dan Eric. Sungguh mereka tidak tau apa-apa, jika ingin mengutuk. Sebaiknya Luna mengutuk ketiga pemuda itu saja.


Lalu pandangan Luna bergulir pada Aiden, di depan sana, pria itu berdiri berhadapan dengan wanita itu dengan senyum terkembang. Aiden sempat melihat kearahnya dan hanya menatapnya datar, Luna ingin sekali bunuh diri di sini, saat ini juga. Ia merasa telah di permainkan oleh orang yang sangat Ia cintai setelah semua yang Ia berikan untuknya.


Cinta, kasih sayang. Luna berpikir jika Aiden adalah orang baik, tapi nyatanya Ia adalah pria brengsekk yang tidak memiliki hati. Lalu apa maksud dari ucapannya kemarin malam?? Jika Ia ingin menikahi Luna dan membahagiakannya, apakah Aiden hanya mempermainkannya. Sungguh, betapa Luna merasa bodoh karena telah percaya pada pria brengsek seperti Aiden.


"Lepaskan aku, biarkan aku pergi." Luna meronta meminta agar Ino dan Karin mau melepaskannya. Kedua gadis itu menggeleng.


"Tidak, Luna. Kau harus ikuti acara ini sampai selesai, atau kau akan menyesal seumur hidup." Kata Ailee menegaskan.


Luna tertawa remeh. "Justru aku menyesal karena mau mengikuti kalian dan datang ketempat terkutuk ini." Jawabnya berapi-api.


Luna pikir Ia akan mendapatkan kado terindah di hari jadinya yang keduapuluh empat, tapi Ia justru mendapatkan rasa sakit yang tidak akan pernah tersembuhkan meskipun seorang Aiden Zhang berlutut dan berderai air mata darah.


Ya, Luna tidak akan pernah memaafkannya. Tidak akan pernah, tapi masih mampukah Luna memegang kata-katanya jika Ia tau jika yang saat ini Ia lihat hanyalah sebuah skenario yang di ciptakan oleh Aiden beserta kedua kakaknya?


"Sebelum upacara ini berlangsung, apa ada yang keberatan dengan pernikahan ini? Jika ada, boleh berbicara atau menutup mulut untuk selamanya." Ucap seorang pria yang akan memimpin upacara pernikahan itu. menyapukan pandangannya pada seluruh tamu undangan yang hadir.


'AKU SANGAT KEBERATAN.' Luna menjerit dalam hati. Ia sungguh-sungguh tidak rela jika Aiden menikah dengan orang lain, karena Ia sangat mencintai Aiden.


"Aku keberatan." Aiden berkata dengan lantang, dan berbalik menghadap Luna. Membuat onyx dan hazel mereka bertemu. Sementara Luna hanya bisa terheran-heran dengan ucapan Aiden.


"Apa maksud anda , Tuan Muda?" Pria itu menatap Aiden dengan bingung.


"Ya aku sangat keberatan, bagaimana mungkin aku menikah jika mempelai wanitaku sedang menyusut air matanya di belakang sana. Dan lagipula aku tidak akan menikah dengan mahluk jadi-jadian seperti dia." Aiden tersenyum misterius sambil menepuk bahu sosok di sampingnya sedikit keras, orang itu pun lekas berdiri. Dengan sekali tarikan, gaun itu terlepas dari tubuhnya dan melihat sosok itu membuat mata Luna membulat sempurna.


"HENRY!!" Pekiknya tak percaya.


"Maaf, Luna. Kami hanya menjalankan apa yang Aiden katakan." Ailee berkata sedikit menyesal.


"Tu-tunggu, aku masih tidak mengerti. Bisakah kalian jelaskan apa yang terjadi?" Luna menatap semua orang yang ada di ruangan itu bergantian. Aiden tersenyum lebar.


Pemuda itu meninggalkan altar dan berjalan menghampiri Luna, memeluk tubuh sang gadis sebelum ******* singkat bibirnya. "Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku yang merencanakan ini semua, dengan bantuan mereka berdua dan semua yang disini tentunya. Ini adalah acara pernikahan kita, aku juga yang meminta Ailee Jie, Mama dan sahabatmu untuk mendatangimu pagi ini. Gaun pengantin yang kau kenakan hari ini temanku yang merancangnya untukmu dan itu juga atas permintaanku."


"Maaf karena kemarin aku membuatmu sedih, aku juga yang meminta teman-temanmu untuk mengabaikan mu. Mereka membantuku menyiapkan pernikahan kita, dan hari ini aku akan menebus semua yang kulakukan padamu kemarin. Maka dari itu, Luna Williams menikahlah denganku." Aiden berkata panjang lebar, menjelaskan semua yang terjadi pada Luna. Kemudian dia mengulurkan tangan padanya.


Air mata gadis itu semakin tak terbendung dan tumpah membasahi wajah cantiknya. Luna meninju pelan dada Aiden sebelum akhirnya berhambur memeluknya.


"Kau jahat, Ge. Kau benar-benar jahat. Tega-teganya kau melakukan ini padaku. Apa kau tau, hampir saja aku tadi mengutuk mu jadi jelek karena aku pikir kau telah mengkhianati ku." Cicit Luna dan semakin mengeratkan pelukannya.


Aiden tersenyum tipis. Ia juga merasa bersalah karena telah membuat Sakura menangis dan salah paham padanya. Tapi semua ini memang telah Ia persiapkan dengan matang sebagai kejutan untuk ulang tahun Luna.


Aiden menarik tengkuk Luna dan mencium bibirnya, ciuman kali ini sedikit lebih lama dari ciuman sebelumnya. Aiden ******* bibir itu dengan penuh hasrat dan naffsu.


"Hei kalian jangan mesumm terus, nikah dulu sana." Dengan wajah polos tanpa dosa, Eric menarik Aiden hingga ciuman mereka berdua terlepas.


"Dasar pengganggu." Luna menggerutu sambil menatap kakak keduanya itu dengan kesal, bagaimana tidak. Selalu saja dia berhasil menghancurkan moodnya.


Aiden tersenyum tipis melihat ekspresi wajah kesal Luna, Ia semakin tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Jika saja ini bukan tempat suci dan sakral, pasti Aiden sudah langsung menyerang Luna dan memastikan jika gadis itu tidak mungkin bisa jalan esok paginya.


"Takdir tuhan memang indah, cinta memang tidak datang dengan di sangka-sangka. Ohh terimakasih Tuhan, karena telah memberikan kebahagiaan yang sempurna pada mereka berdua." Max berkata bijak saat melihat pasangan itu mengikat janji suci.


"Ya, dan aku berdoa supaya hubungan mereka berlangsung selamanya hingga mereka menua bersama. Aiden, akhirnya dia menemukan pelabuhan terakhirnya. Aku benar-benar bahagia untuknya." Ujar Henry.


Rasanya Henry masih tidak percaya melihat Aiden berdiri diatas Altar bersama Luna. Dia yang dingin dan tak tersentuh hari ini menikah dan memulai kehidupan baru. Sebagai teman yang peduli, Henry turut bahagia untuknya.


Eric, Alex dan Tuan Williams menyeka air matanya. Mereka turut bahagia untuk mereka berdua. Begitulah dengan Viona , Kevin dan Ailee. Mereka juga bahagia. Meskipun kisah cinta Ailee berkahir sad ending. Tapi dia tetap bahagia untuk adiknya.


Semua orang berbahagia, tidak ada lagi kesedihan apalagi duka dan air mata. Yang ada hanya kebahagiaan yang sempurna.


.


.

__ADS_1


SELESAI


__ADS_2