Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Pelayan Menyebalkan


__ADS_3

Luna membuka matanya dan ternyata hari sudah petang. Langit mulai menghitam dan suasana di luar tampak gelap. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu menunjuk angka 18.00 petang. Yang artinya dia sudah tidur lebih dari dua jam.


Suara pintu di buka dan derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatiannya. Luna menoleh, seorang lelaki tampan memasuki kamar sambil membawa segelas susu hangat yang kemudian di berikan padanya.


"Ge, aku tidak membangunkan ku?!" Luna melayangkan protesnya pada orang itu yang pastinya adalah Sean, bisa-bisanya dia tidak membangunkannya padahal hari sudah beranjak petang.


"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkan. Aku bawakan susu hangat untukmu, sebaiknya segera di minum sebelum dingin." pinta Sean.


Luna tersenyum lebar lalu sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil susu itu dari tangan Sean. "Terimakasih, maaf harus merepotkanmu." Ucapnya penuh sesal.


Sean menggeleng. "Bukan masalah. Sebaiknya segera mandi, setelah ini kita mau sarapan sama-sama." Ucap Sean dan dibalas anggukan oleh Luna.


Selepas kepergian sang Kakak, Luna segera turun dari tempat tidurnya lalu pergi menuju kamar mandi. Dia buru-buru karena tidak ingin membuat Sean menunggu terlalu lama, karena Luna tahu betul jika Sean paling benci dengan yang namanya menunggu.


xxx


Sean membuka laci kecil disamping tempat tidurnya dan mengelukan sebuah liontin dari dalam laci tersebut. Liontin itu merupakan satu-satunya jembatan yang bisa membuatnya menemukan siapa keluarga kandungnya.


Diam-diam Sean telah mengetahui jika dia bukanlah putra kandung dari Dean Williams, melainkan hanya anak angkat. Kebenaran itu Sean ketahui sebelum Tuan Besar Williams, yang tak lain dan tak bukan adalah Kakek Luna meninggal dunia. Dia mengatakan sebuah kebenaran pada Sean jika sebenarnya dia bukanlah putra kandung Dean Williams, melainkan anak angkat.

__ADS_1


Kakek Luna juga memberitahunya tentang awal mula bagaimana dirinya bisa menjadi bagian dari keluarga Williams. Dan selain memberitahu tentang kebenaran tersebut, Tuan Besar Williams juga berpesan supaya Sean menjaga Luna dengan baik.


"Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan kebenaran tentang asal usulku." Sean mengepalkan tangannya dan berkata dengan penuh keyakinan.


Sean meletakkan kembali liontin tersebut di tempat semula kemudian melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Mungkin saja Luna sudah selesai mandi, dia hendak menghampiri gadis itu di kamarnya


"Ge," sosok Luna baru saja keluar dari kamarnya ketika Sean tiba di depan kamar gadis itu.


Sean memperhatikan penampilan Viona dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak bisa dia pungkiri jika penampilan gadis itu selalu sempurna. "Baru saja aku mau menjemputmu untuk makan malam. Tapi kau sudah keluar, ayo kita turun dan makan malam sama-sama." Ucapnya dan di balas anggukan oleh Luna.


Dari lantai dua. Luna melihat beberapa pelayan yang sedang sibuk menyusun makanan di atas meja. Tidak hanya ada satu-dua menu saja, hampir sepuluh menu yang tersusun di sana. Dan hampir semua makanan-makanan itu adalah makanan kesukaan Luna.


"Ge, Memangnya ada berapa pelayan di sini?" tanya Luna penasaran. Jumlah bodyguard Luna sudah tahu, tapi jumlah pelayan belum.


Luna benar-benar tidak habis pikir. Di rumah ini mereka di perlakukan layaknya ratu dan raja, tapi bukan berarti di kediaman Williams mereka tidak di perlakukan dengan baik. Hanya saja sedikit berbeda karena jumlah pelayan di sini jauh lebih banyak.


"Ge, ini benar-benar mengejutkan. Kau memiliki rumah semegah ini, memiliki banyak bodyguard dan pelayan. Kau benar-benar membuatku kagum." Ucap Luna di tengah kesibukannya menyantap makan malamnya.


"Ini adalah pencapaian terbesar dalam hidupku. Untuk bisa di titik ini sangatlah sulit dan tidak mudah. Dan ini adalah hasil akhir dari semua usaha dan kerja kerasku selama ini." Ujar Sean.

__ADS_1


Luna mengangguk. Karena memang tidak ada keberhasilan tanpa adanya usaha dan kerja keras. Dan Luna sangat bangga pada kakaknya satu ini. Dia memang berbeda dengan kedua kakaknya yang lain, yang tidak pernah serius dalam hidup. Mereka suka bersenang-senang dan selalu menghamburkan uang untuk hal-hal yang menurut Luna tidak berguna sama sekali.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka berdua. Dia membawa satu gelas jus yang kemudian di letakkan di depan Sean. "Kenapa hanya satu, mana untuk Luna?" Sean mengangkat kepalanya dan menatap pelayan itu.


"Aku tidak membuatnya. Dia bukan Nyonya besar di sini, jadi untuk apa aku melayaninya seperti seorang, Tuan Putri?!" ujar wanita berpakaian pelayan tersebut sambil menatap Luna dengan tatapan tidak suka.


Wanita itu bersama Yunna, dia rela menjadi pelayan di kediaman Sean hanya supaya bisa selalu dekat dengannya. Bahkan dia rela mengikuti Sean kemana pun dia pergi, termasuk ke luar negeri. Dan dia ikut kembali ketika Sean memutuskan untuk kembali ke Korea.


"Jangan memancing emosiku, Shin Yunna. Luna, adalah adikku, dan sudah seharusnya kau memperlakukannya dengan baik. Siapkan satu jus lagi untukku. Luna, jus ini untukmu saja." Sean memberikan jus itu pada Luna.


"Sean, kenapa kau malah memberikan jus itu padanya?! jelas-jelas aku membuatkannya untukmu, bukan untuknya. Aku tidak terima karena kau memberikan jus itu untuknya!!" ujar Yunna. Yunna benar-benar tidak rela jus yang special dia buatkan untuk Sean malah diberikan pada orang lain.


"Jangan ribut lagi. Buatkan sekarang juga atau angkat kakimu dari rumah ini! Kau pikir kau itu siapa, ingat Shin Yunna, kau itu bukan siapa-siapa!!" ucap Sean.


Sean memberikan ancaman dan peringatan tegas pada Yunna agar dia tidak macam-macam. Dan Sean tidak akan ragu untuk menendangnya keluar dari kediamannya jika dia tidak patuh padanya.


Yunna mengepalkan tangannya, sambil menghentakkan kakinya dia meninggalkan meja makan. Dengan terpaksa dia membuat lagi jus yang baru untuk Sean,arena dia memberikan jusnya pada Luna.


"Dasar wanita sialan. Lihat dan tunggu saja bagaimana aku akan menghancurkan mu!!"

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2